Warisan Sugar Daddy

Warisan Sugar Daddy
Pertemuan Disengaja


__ADS_3

Vania memulihkan kembali tenaganya setelah bertemu Aileen dan mamanya. Dua malaikat tak bersayap yang membuat kekuatannya pulih. Aileen begitu senang menerima hadiah yang dibawa Vania dari Istanbul. Anak berusia delapan tahun itu terus berceloteh riang membuat Vania tak berhenti memeluk dan menciuminya, melepaskan kerinduannya yang bertumpuk selama sepekan.


“Mama, boneka yang ini nanti  boleh aku perlihatkan pada Om Avan, dia pasti suka.”


“Oh ya? Om Avan suka boneka?”


“Suka, Mah. Kemarin Om Avan ajak Aileen ke Dufan, trus Aileen dibelikan boneka ini.” Aileen mengeluarkan sebuah boneka badut maskot dufan berbaju biru dari dalam laci mainannya.


“Aileen senang kemarin jalan sama Om Avan?”


“Senang, Mah. Tapi Aileen lebih senang ditemani Papa Dino.”


Mata lebar Aileen berbinar saat menyebut nama Dino. Hati Vania  teriris menyaksikan kasih sayang Aileen yang begitu besar kepada Dino. Hal yang sama dilakukan Dino sebelum ia tahu bahwa Aileen bukan anak kandungnya. Meski setelah Dino tahu kebohongan Vania, setidaknya di depan Aileen, Dino masih bersikap baik dan tidak berubah hingga sekarang.


Perlahan Vania mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes. Ah, dia merasa sangat berdosa kepada Dino. Rasanya lelaki itu tak pantas menerima perlakuan buruk berupa kebohongan besar, hanya untuk memnuhi ambisinya. Mama mengusap pundaknya, ketika menyadari Vania sedang menangis.


“Kamu istirahat dulu, Sayang, biar Aileen sama Mama.”


“Aileen kangen Vania, Ma. Enggak papa kok, Vania baik-baik aja.”


“Vania, dari dulu Mama tahu kamu perempuan tegar. Maafkan Mama, dulu  tak punya banyak waktu untuk mendampingimu. Sekarang Mama ingin menebusnya dengan menjaga dan mendampingi Aileen.”


Vania menyandarkan kepalanya di dada Mamanya. Dia tak ingin lagi mengingat semua kepedihan masa remajanya. Hidupnya adalah untuk sekarang dan esok, bersama Mama dan Aileen. Ada satu nama lagi yang ingin dia masukkan ke dalam ikatan yang ia sebut keluarga.


Avan. Namun, nama itu sepertinya masih terlalu jauh di luar jangkauan, meskipun secara fisik mereka berdekatan dan bersentuhan.


***


Rutinitas pekerjaan di Barlian Mediacom berjalan seperti biasa. Vania mendampingi Barlian sebagai sekretaris pribadi yang profesional. Hari demi hari ia menelisik semua data yang masuk ke meja bosnya, serta berkas-berkas penting yang harus ditandatangani Barlian. Sebelum dan sesudah ditandatangani, semua berkas itu ia foto menggunakan kamera HP lalu ia kirimkan kepada Avan. Hanya itu yang diminta oleh Avan.

__ADS_1


Rencana selanjutnya Avan yang menyusun, entah akan diapakan semua berkas itu, Vania tak peduli.


“Tugasmu hanya memberikan semua berkas sebelum dan sesudah ditandatangani oleh Barlian. Selanjutnya biar aku yang kerjakan. Terutama untuk pekerjaan besar, kontrak dengan perusahaan luar negeri, itu bagianku.”


Vania hanya terdiam. Sungguh ia tak peduli dengan semua itu. Bahkan sekarang segala janji Avan rasanya sudah tak semenarik dulu. Satu-satunya yang tidak bisa dihapus adalah ada darah Avan pada tubuh Aileen. Hubungan darah ini yang harus ia ikat dengan kuat, supaya Aileen merasa lebih nyaman. Kata dokter, dengan kondisi psikologis yang nyaman, bisa membuat imun Aileen lebih kuat melawan penyakitnya.


“Vania, sudah siap semua untuk acara Gala Dinner kita?” Barli menanyakan kesiapan acara spektakuler yang digelar tahunan di Bali.


“Sudah saya cek semua persiapan kepada EO acara. Nanti siang jam dua ada meeting khusus pembahasan acara di Bali, sudah masuk schedule, Pak,” jawabnya mengangguk hormat.


Barli merasa sedikit aneh dengan sikap Vania. Mereka hanya berdua di dalam ruangannya. Biasanya Vania bersikap sedikit lebih rileks bahkan terkadang nakal. Hari ini sekretarisnya bersikap seperti sekretaris pribadi yang professional.


“Vania, kamu baik-baik saja?”


“Tentu saja, Pak.”


“Aku agak aneh dengan sikapmu hari ini.”


Vania kembali ke ruangannya. Tangannya sibuk mengetik Special Invitation. Penerimanya juga special. Sebuah nama yang selama dua minggu ini memenuhi HP-nya, karena ia terus mencarinya di kotak pencarian. Semoga dia beruntung kali ini.


***


Acara gala dinner digelar sangat meriah di sebuah hotel bintang lima. Acara tahunan ini digelar untuk selebrasi pencapaian target kantor sekaligus pemberian penghargaan bagi karyawan-karyawan berprestasi. Vania menemani Barli duduk di kursi bisnis, sedangkan karyawan lain duduk di kursi ekonomi. Fasilitas semacam ini selalu ia dapatkan ketika menemani Barli. Dulu semua terasa istimewa, Vania merasa menjadi orang istimewa. Sekarang semua terasa hampa, biasa saja.


Lokasi hotel tempat acara sekaligus mereka menginap sekitar empat puluh lima menit dari Bandara. Barli merasa keheranan dengan sikap Vania yang lebih banyak diam. Iya, sejak kepulangan mereka dari Turki, Vania seperti sedang menjaga jarak dengannya. Bukan hanya di kantor tetapi juga saat mereka berdua seperti sekarang. Biasanya mereka bertukar ciuman serta cumbuan panas yang nanti akan dituntaskan di ranjang hotel.


Malam yang dinantikan tiba, semua tamu undangan memakai busana terbaik mereka. Tak terkecuali Vania. Perempuan langsing nan seksi ini memakai dress tanpa lengan dengan potongan dada rendah. Aksen renda dihiasi payet berkilauan menambah kesan mewah gaun yang dipesannya pada desaigner langganan. Vania selalu tahu apa yang bisa membuat pesonanya berkilap di balik panggung gala dinner.


Tangannya memegang segelas wine dengan anggun. Rambutnya diurai bergelombang menampilkan wajahnya yang tirus memukau banyak mata lelaki di tengah pesta. Malam semakin larut, Vania melangkah agak gontai, tak sengaja tubuhnya menabrak seseorang.

__ADS_1


“Maaf… maafkan saya, Anda tidak apa-apa? Tolong jangan sampai bos saya tahu saya melakukan kesalahan, saya minta maaf Bapak,” ucap Vania sembari menyeka minuman yang tumpah di jas seorang pria yang rambutnya mulai memutih.


“Tidak perlu seperti itu Nona, memangnya bosmu segalak itu, sampai Anda tak berani melakukan kesalahan kecil seperti ini?”


Pria matang itu tersenyum dan memandang Vania.


“Ah, bos saya memang galak, haha, maksudnya, saya memang tidak terbiasa melakukan kesalahan seperti ini, mohon maafkan saya Pak ….” Vania sengaja menggantung suaranya.


“Panggil saja Pak Johan.” Johan mengulurkan tangannya.


“Vania, sekali lagi saya minta maaf karena membuat jas mahal Anda kotor Pak Johan. Tunggu, Pak Johan? Apakah bapak adalah Johan Baroto pemilik Barlian Mediacom? Ya Tuhan! Oh ****! Baiklah sepertinya saya harus segera mencari pekerjaan baru.” Vania seperti hendak tergesa meninggalkan Johan Baroto.


“Nona, mau kemana? Ke sini dulu, apakah saya sudah setua itu, sehingga Anda meninggalkan saya di tengah pesta seperti ini?” tanya Baroto dengan raut wajah kecewa.


“Oh tentu saja tidak, Bapak. Bukan begitu maksud saya, ehm … mungkin saja bos saya akan memecat saya, kalau tahu saya telah menumpahkan minuman kepada orang nomor satu di Barlian Mediacom.” Vania terlihat panik.


“Haha, sudahlah Nona, jangan panik, bagaimana kalau Anda membersihkan kekacauan yang Anda buat ini di tempat lain? Saya yakin Anda orang yang bertanggungjawab.”


“Tentu saja saya akan membersihkannya, di manapun Anda mau, Pak.”


Johan Baroto memberikan kode supaya Vania mengikutinya. Vania hanya tersenyum dalam hati, rencananya berhasil. Kecantikannya selalu berhasil menolongnya dalam situasi seperti ini.


Johan Baroto ternyata membawanya ke lantai dua belas, di area swimming pool. Hotel ini cukup romatis jika malam tiba. Arena Swimming pool dilengkapi mini cafe dengan sajian live musik. Vania tertegun melihat pemandangan Bali di malam hari yang terlihat sangat indah.


“Anda mau pesan apa Nona Vania? Kita bicara santai di sini, membahas bos Anda yang galak itu, Anda sekretarisnya, bukan?”


Degh! Jantung Vania hampir lepas rasanya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2