Warisan Sugar Daddy

Warisan Sugar Daddy
Badai Belum Berlalu


__ADS_3

Sekuat apa pun Barli mencoba menahan diri menyimpan rahasia kejahatan yang dilakukan Liana dan Revan, hati nuraninya mulai terusik. Pria itu tak tega melihat Aileen yang terus berteriak-teriak memanggil mamanya.


Saat itu Barli tak sengaja melihat mama Vania dan Aileen yang sedang menunggu jam kunjungan tahanan. Barli juga akan menemui Vania, jadi mereka menunggu di ruangan yang sama. Ternyata suara tangis keras seorang anak berwajah pucat dengan gurat wajah milik Vania berhasil menyadarkan Barli bahwa ketika Vania harus menebus sesuatu yang tidak ia lakukan, maka akan ada anak yang dikorbankan.


Leon tersentak kaget mendengar ucapan Barli yang ingin memberi tahu sebuah rahasia kepadanya.


“Kita bicara di luar,” ucap Leon sembari bergegas pergi. Kini ia mendapatkan kartu As untuk membela Vania.


Setelah fakta-fakta di persidangan yang selalu menemui kebuntuan untuk kliennya, Leon memang terus berusaha menggali fakta-fakta yang ada. Namun ia hanya bisa memperjelas fakta bahwa Vania sama sekali tak punya motif untuk melakukan pembunuhan itu.


Yang memberatkan Vania adalah hubungannya dengan Johan Baroto dan fakta bahwa dia adalah orang yang terakhir bersama korban. Semua bukti dan petunjuk seolah mengarah kepadanya.


“Bagaimana caranya agar Liana bisa terbebas dari hukuman meskipun itu terasa mustahil?” tanya Barli.


Leon bukan pengacara kemarin sore. Dia berjanji kepada Barli untuk membela Liana sebisa mungkin, apalagi Liana merupakan korban dari Revan. 


“Satu-satunya yang harus mendapat hukuman berat adalah Revan, karena Liana melakukan semuanya atas perintah suaminya,” ucap Leon membuat Barli sedikit merasa lega. 


“Anda yakin ingin membuat kesaksian ini Pak Barli?” tanya Leon setelah Barli mengatakan semuanya.


“Saya hanya ingin menyelamatkan adik saya bisakah kita buat Revan yang sengaja memaksa Liana untuk melakukan semua ini?”


“Tentu saja kalau Anda menunjuk saya sebagai pengacara, saya akan membelanya apalagi dari bukti-bukti yang anda punya bahwa selama ini nyonya Liana hidup di bawah tekanan suaminya."


"Saya juga menyimpan beberapa bukti KDRT yang dilakukan Revan, hanya saja Liana masih buta untuk mengakui bahwa suaminya itu seorang pecundang dan penganiaya."


"Baiklah kita akan lakukan seperti seharusnya. Memang Vania tidak bersalah jadi kita harus mengeluarkannya. Terima kasih Pak Barli atas kerjasamanya."


Leon menyalami Bali pria itu tak menduga di detik-detik putusan sidang ternyata Barli mau bersaksi untuk Vania. 


Suasana sidang sangat tegang saat Barli mulai maju pria itu terlihat gugup karena sorot mata jaksa dan hakim serta para penasehat hukum seolah-olah tertuju kepadanya.


“Mungkin ini sudah sedikit terlambat tetapi nurani saya terus berontak melihat ketidakadilan. Vania tidak bersalah, Yang Mulia. Saya siap bersaksi untuknya.”


Vania tersentak mendengar kata-kata Barli mamanya sontak membekap mulutnya sendiri. Wanita itu tidak menduga Kalau pria yang dulu pernah mengobrol dengannya di ruang tunggu ternyata mengenal Vania. 

__ADS_1


Karena agenda sidang adalah menghadirkan saksi tambahan Liana dan Revan juga diminta hadir tetapi mereka ditempatkan di ruang terpisah hingga setelah Barli mengatakan semuanya polisi bergerak cepat melakukan penahanan kepada Revan.


Pria itu mengelak tetapi dia tidak berkutik saat Barli menyerahkan bukti rekaman percakapan mereka. Barli memang sudah menyiapkan semuanya. Pria itu sudah menyiapkan rekaman pada ponselnya saat mengunjungi Liana. Apa pun ia lakukan demi untuk membebaskan Vania dari tuduhan keji pembunuhan itu.


“Kamu jangan takut Liana, Leon pengacara hebat, dia akan membantu kamu. Dengan cara ini kamu juga akan terbebas dari suami gilamu itu.”


“Kalau memang aku harus menjalani hukuman ini, aku ikhlas karena aku juga ingin menebus kesalahanku kepada Papi,” ucap Liana.


Butuh waktu berjam-jam bagi Barli untuk menyadarkan adiknya itu, bahwa Revan bukan sosok yang tepat dan tidak pernah mencintainya seperti yang ia pikirkan.


Perempuan itu akhirnya terisak-isak mengingat kata-kata papinya. ‘Revan hanya akan memberinya masalah’ dan ternyata apa yang diucapkan papinya itu benar adanya. 


Barli harus menghadirkan seorang psikiater untuk menemani proses penerimaan Liana atas situasi yang terjadi. Barli sangat mengkhawatirkan kondisi psikis Liana yang terkadang terlihat baik-baik saja, tetapi tatapan kosongnya itu tak bisa berbohong bahwa Liana menyimpan dukanya sendiri. 


***


“Akhirnya kamu bebas silakan keluar, ini ponsel dan barang-barangmu,” ucap Leon mempersilakan Vania keluar setelah mengurus masalah administrasi. Tak berapa lama kemudian saat Vania sudah memegang ponselnya sendiri, ada panggilan masuk dari sang mama.


“Vania sayang, kalau hari ini kamu sudah bebas segera ke rumah sakit Pelita Kasih, Aileen dirawat di sana.”


“Aileen tunggu Mama, Nak."


Vania terus menguatkan dirinya sendiri. Perempuan itu diantarkan oleh Leon yang selalu setia. Leon paham saat ini Vania sedang butuh pundak untuk bersandar. Rasa cinta yang begitu besar dalam dirinya tak membutuhkan balasan jika wanita itu tak menginginkannya.


Kini Leon telah menjadi salah satu pengacara muda yang mempunyai track record bagus, memenangkan sejumlah perkara. Hal itu sudah lebih dari cukup. Ia hanya ingin memberi yang terbaik untuk wanita yang ia cintai. 


Sesampainya di rumah sakit Vania langsung diminta dokter untuk datang ke ruang IGD.


“Kita bertemu lagi Vania. Sayangnya harus di sini lagi,” sapa dokter Singgih.


“Bagaimana dengan Aileen? Apakah kondisinya buruk?”


Dokter Singgih adalah dokter yang menangani Aileen sejak pertama kali ia divonis menderita penyakit leukemia. Dokter yang setia bertahun-tahun selalu memberi kabar kepada Vania tentang perkembangan putrinya.


Pada akhirnya dokter Sinngih hanya mengatakan jika seluruh proses pengobatan sudah dilakukan, selanjutnya mereka harus berserah dan menunggu keajaiban dari Tuhan.

__ADS_1


“Saya sudah pernah mengatakan kemungkinan terburuknya kepada Anda. Sekarang teruslah berdo’a dan dampingi Aileen. Mungkin ini untuk terakhir kali.”


“Tidak, ini tidak mungkin Dok! Saya sudah mengikuti semua prosedur pengobatan yang dokter sarankan. Semua biaya juga sudah saya bayar. Aileen pasti bisa sembuh, kan, dok?”


Vania masih terus menangis sementara dokter Singgih hanya bisa menggelengkan kepalanya.


“Kita tunggu keajaiban, karena kondisi Aileen dari waktu ke waktu terus menurun, dan tidak menunjukkan gejala kesembuhan yang berarti. Aileen hebat sudah berjuang sejauh ini.” Dokter Singgih menepuk punggung Vania lalu keluar dari ruangan. 


Avan terburu-buru masuk ke dalam ruangan. Pria itu juga baru mendapatkan kabar dari mama Vania bahwa putrinya sekarang dalam keadaan kritis.


“Aileen, sayang, ini papa, Nak. Vania beritahu dia kalau aku adalah ayah kandungnya,” ucap Avan dengan kepanikan di wajahnya.


Vania sudah mulai bisa menguasai diri, wanita itu menekan kuat-kuat nyeri yang menyerang dadanya melihat kondisi Aileen yang lemah tak berdaya, dengan banyak peralatan medis menempel di tubuhnya.


“Aileen Sayang, buka matamu, Nak. Papa mau di sini, mama juga sayang.”


Aileen membuka matanya yang sendu tapi tetap indah. Gadis kecil itu menatap Vania dan sesungging senyum di bibirnya.


“Mama …,” ucapnya lirih. “Iya ini Mama sayang, Mama sudah keluar. Mama tidak bersalah, kita akan bermain bersama lagi."


Vania mengelus pipi putrinya.


“Ini papa, Nak, papa kandungmu,” ucap Avan sembari mengelus kening Aileen dengan lembut.


Mereka bertiga bertangisan, hanya sesaat karena perlahan-lahan detak jantung Aileen di layar monitor mulai melemah, lalu bunyi tuuut panjang terdengar, tanda bahwa aktivitas jantung Aileen telah berhenti berdetak untuk selamanya. 


Tubuh Vania luruh tak sanggup menopang dirinya sendiri. Vania jatuh pingsan meskipun Avan begitu cepat menangkap tubuhnya. Vania tak berdaya ketika raga lemahnya terus melorot ke lantai. 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2