Warisan Sugar Daddy

Warisan Sugar Daddy
Titik Terendah


__ADS_3

Hendrik duduk terpekur memandangi foto-foto yang diambil petugas di kamar hotel tempat korban ditemukan. Kondisi kamar itu berantakan. Piring-piring pecah, makanan berserakan di lantai, seperti pernah terjadi pergumulan seru di sana. Ada yang tidak beres.


Dia lalu memutar kembali rekaman CCTV. Semua yang dikatakan Vania dibuktikan dengan rekaman itu. Vania terlihat ada di lobi dan menemui seseorang, Barli. Percakapan di antara keduanya tampak tidak berjalan mulus. Beberapa kali Barli terlihat menunjuk-nunjuk Vania. Tak berapa lama, Barli pergi meninggalkan hotel lalu Vania kembali masuk ke dalam lift. Cinta segitiga? Hendrik menduga-duga dalam hati.


“Arman, apa benar ini semua rekaman CCTV pada malam itu?” Dahi Hendrik berkerut, matanya tetap terpaku pada layar, sambil tangannya menggerak-gerakkan kursor.


“Ya, Pak Hendrik. Itu sudah semuanya.”


“Kenapa tidak ada rekaman di lorong depan kamar yang disewa korban?”


Arman, rekan kerja Hendrik menarik kursi, mendekat ke sisi Hendrik. Wajahnya berubah menjadi serius. Katanya, "kamera CCTV di tempat itu rusak beberapa saat setelah korban check in.”


Hendrik menyapu wajahnya dengan kedua tangannya yang besar. Kasus ini ternyata tidak sesederhana yang terlihat. “Itu pasti bukan kebetulan,” gumamnya.


“Entahlah dan anehnya mereka bahkan tak mau repot untuk segera memperbaikinya," timpal Arman.


“Aku harus bicara sendiri dengan petugas keamanan di sana.” Hendrik berdiri dan meraih kunci motornya.


Sesampainya di hotel, kecurigaan Hendrik semakin bertambah besar saat resepsionis di sana berkata bahwa petugas keamanan yang bertugas pada malam kejadian mendadak mengundurkan diri dari pekerjaan hanya dalam waktu selang sehari.

__ADS_1


Hendrik lalu mencoba menghubungi telepon dan alamat terakhir si petugas keamanan, sia-sia! Orang yang dia cari menghilang tanpa jejak. Hendrik memaki dirinya sendiri yang terlambat satu langkah.


Sementara itu, Vania menghabiskan malamnya yang pertama di penjara Markas Besar Kepolisian. Sel yang dia tempati seorang diri sangat kecil, ukurannya bahkan tidak mencapai setengah dari kamar mandi di rumahnya sendiri. Dia tidur beralaskan kasur busa tipis di lantai yang baunya sudah tidak keruan. Udara di ruangan itu terasa pengap dan panas. Tidak ada jendela sama sekali. Suara nyamuk berdenging di telingannya sepanjang malam dan dengan buasnya menyerang kulit Vania. Dia tidak dapat memejamkan matanya barang sedikit pun.


“Kau harus makan. Pemeriksaanmu masih sangat panjang. Kasusmu bukan main-main. Pembunuhan! Pembunuhan salah satu orang terkaya di negeri ini pula.”


Seorang polisi wanita mengangsurkan nampan berisi makanan padanya. Vania langsung saja tidak menyukai petugas itu. Dia terlalu banyak bicara hal yang tidak penting.


Vania kelelahan dan kelaparan, tapi jangankan menelan makanan, menyentuhnya saja dia tidak kuasa. Sekali lihat, makanan itu tidak akan dapat menggugah selera siapa pun. Nasinya keras dan dingin, lauknya hanya sekerat tempe, disajikan bersama mangkuk berisi air keruh dengan secabik sayuran mengambang di atasnya. Vania menyingkirkan makanannya ke sudut, memilih untuk menikmati bunyi keroncongan di perutnya.


Berapa lama dia akan berada di tempat ini? Vania memandang langit-langit penjara yang kusam dan bernoda kuning bekas rembesan air. Dia menduga akan tetap berada dalam penjara itu setidaknya sampai persidangan digelar dan setelah itu entah apa yang akan terjadi nanti. Dia tidak mengerti kenapa akhirnya malah dirinya yang berada dibalik jeruji dingin ini.


Vania merasa hidupnya telah dikutuk. Setiap kali dia mengira kebahagiaan akhirnya datang, selalu saja muncul kemalangan, menyergapnya tiba-tiba, tanpa peringatan. Dulu Julian, sekarang Johan. Dan sekarang keadaannya jauh lebih parah dari pada sebelumnya. Satu nyawa telah melayang, teregut dengan paksa. Vania tidak tahu bagaimana dia akan melanjutkan hidupnya nanti.


Hidup? Kehidupan? Vania tidak lagi merasa dirinya hidup. Terkurung di dalam ruangan sempit seperti ini, semakin membuatnya terpuruk. Apakah kematian akan terasa lebih buruk dari ini?


Daddy, katakan padaku apa itu kematian? Daddy, kembali lah padaku dan katakan padaku kalau ini semua hanya tipuan, hanya sebuah prank! Daddy, kau akan muncul dari balik pintu besi itu, tersenyum lebar seperti biasanya, lalu memelukku, membawaku pergi, dan menjelaskan pada mereka semua di sana bahwa ini semua hanyalah kesalahan. Bahwa kau tidak mati. Kau masih hidup! Vania menjerit dalam hati.


Keesokan hari, ibunya datang dan membawakannya makanan kesukaannya. Vania merasa terharu sekaligus merasa geli dengan dirinya sendiri karena tanpa sungkan melahap habis semua makanan yang disediakan untuknya. Perutnya terlalu jujur. Hatinya mungkin berteriak ingin mati, tapi tubuhnya memiliki nalurinya sendiri.

__ADS_1


Vania berpaling sedih pada ibunya yang kini terlihat ringkih dan lelah, seakan hanya dalam semalam usianya sudah bertambah belasan tahun. "Ma, bagaimana kabar Aileen?” tanya Vania. Dia begitu mengkhawatirkan kondisi putrinya.


“Dia baik-baik saja. Kau jangan khawatir, meski tubuhnya lemah, mental anak itu kuat. Sama sepertimu.” Ibunya berusaha tersenyum sambil menggenggam tangan Vania. “Aku sengaja mencuri waktu untuk datang ke sini saat dia sibuk ke sekolah."


“Mama jangan datang ke sini lagi. Bolak-balik dari rumah ke sini, itu sangat melelahkan. Mama harus cukup kuat untuk mengurusi Aileen. Kalau ada apa-apa, segera telepon Avan. Bagaimana pun dia adalah ayahnya.”


“Baik, Sayang. Kau juga, kuatkan hatimu. Aku yakin mereka pasti akan segera menemukan pembunuhnya dan kau bisa bebas. Apa Avan sudah datang? Aku harap dia juga mau membantumu. Setidaknya kau butuh pengacara yang bagus.”


Vania menggigit bibirnya. Avan! Dia membatin geram, pria itu pasti tahu dirinya menjadi tersangka tapi sekali pun dia tidak pernah menampakkan wajahnya di sini. Apa yang bisa dia harapkan dari Avan? Dari dulu dia memang selalu seperti ini. Tidak pernah ada saat dibutuhkan.


“Mama benar, aku butuh pengacara. Biar aku pikirkan dulu, siapakah yang bisa membantuku? Dia haruslah seseorang yang dapat setulus hati mempercayaiku.”


“Apa tidak ada salah satu dari temanmu yang jadi pengacara? Maafkan aku, Sayang. Aku sama sekali bodoh soal ini. Aku tidak tahu bagaimana harus membantumu.”


Mamanya mulai terisak sedih. Vania meremas tangan ibunya lembut. Dia menyesal harus membuat wanita yang disayanginya itu menderita.


Teman. Vania memikirkan nama-nama teman yang pernah dikenalnya dan segera saja dihantam kenyataan pahit. Selama hidupnya ini, adakah seseorang yang bisa dia sebut teman? Mereka yang ada di sisinya hanyalah orang-orang dengan kepentingan masing-masing. Mau bagaimana lagi? Dirinya sendiri pun tak pernah percaya akan adanya teman sejati. Mereka hanya datang mendekat saat dirinya sukses atau saat menginginkan sesuatu. Siapa yang mau membantunya sekarang? Jangankan membantu, begitu mereka semua tahu dia adalah tersangka kasus pembunuhan, mereka pasti akan lari sejauh mungkin.


“Tenang saja, Ma. Semuanya pasti akan baik-baik saja. Aku pasti akan dapat menemukan pengacara yang bagus.”

__ADS_1


Setelah kunjungan ibunya berakhir, Vania merasa menemukan kekuatan baru untuk bertahan. Dia harus bebas demi Aileen, Mama, dan dirinya sendiri. Kesedihan atas kematian mendadak Johan tidak boleh berlarut-larut.


__ADS_2