Warisan Sugar Daddy

Warisan Sugar Daddy
Kesaksian Barli


__ADS_3

Arman tidak langsung menjawab pertanyaan Hendrik. Dia tahu Hendrik akan bertanya tentang ini. Dia sengaja mengambil waktu sejenak sekedar untuk menyesap secangkir kopi yang sudah dingin di mejanya. Barulah kemudian dia berkata,“ aku sudah menanyakan hal ini padanya. Dia cukup kooperatif menjawab semua pertanyaanku.”


“Apa katanya? Apa menurutmu dia berhubungan dengan kematian Johan?” Hendrik bertanya tidak sabaran.


“Dia ke sana memang sengaja karena ingin mengikuti Vania. Dia ingin mengkonfirmasi hubungan antara Vania dengan Johan, demi kepentingannya sendiri. Dia berharap Vania dapat membantunya mendapatkan akses langsung ke Johan untuk kebaikan perusahaannya. Kurasa dia tidak punya motif yang cukup untuk membunuh Johan. Yang dia incar adalah Barli, bukan Johan. Johan terlalu besar untuk dia jadikan saingan. Lagi pula, CCTV mengkonfirmasi tentang hal itu. Avan hanya sampai di lobi. Dia tidak pernah naik ke atas. Sama seperti Barli, dia hanya berada sebentar di sana.”


“Mungkin kau benar, tapi kita tetap belum bisa menyingkirkan namanya dari daftar.” Hendrik memutuskan untuk mendatangi Barli dan menanyainya sekali lagi.


Dalam pandangan Hendrik, Barli selalu terlihat gelisah, kontras sekali dengan adik perempuannya, Liana. “Apa kau punya nama lain yang dicurigai selain Vania?” tanyanya pada suatu kesempatan pada Barli.


Barli menggeleng lemah. Matanya kuyu dan terlihat sangat lelah. Hendrik menebak Barli pasti tidak dapat tidur nyenyak sejak kematian ayahnya. Dibandingkan dengan Liana, yang tampak lebih dapat menguasai diri bahkan mampu mengatur segala urusan yang berkaitan dengan kematian ayahnya, Barli benar-benar kacau. Dia terpuruk dan menderita.


“Aku tak dapat berpikir tentang apa pun. Kematian Papi terlalu mendadak. Aku menyesal!” Barli berkata dengan suara serak menahan isak.


“Kami turut berduka untuk kehilangan Anda. Tolong, ceritakan pada kami, apa pendapat pribadimu tentang Bapak Johan. Orang seperti apakah dia?”


Barli diam sejenak untuk menghembuskan napas perlahan. Berbicara tentang ayahnya membuat dadanya sesak.


“Dia pria yang hebat. Aku mengaguminya. Aku ingin seperti dia. Papi adalah panutanku dalam hal pekerjaan, kehidupan, semuanya. Dia luar biasa cerdas dalam mengambil keputusan untuk perusahaan. Naluri bisnisnya tidak pernah salah. Kupikir, bukan hanya karena dia sudah berpengalaman, tapi karena memang kecerdasannya dan kepiawaiannya bernegosiasi. Satu lagi, apa ya sebutannya ... passion? Ya, bagi Papi setiap bisnisnya bukan hanya soal mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Dia tahu bagaimana caranya memperlakukan manusia. Dia memahami mereka dan kebutuhannya. Namanya sendiri saja, sudah menjadi sebuah jaminan bahwa setiap usaha yang digandengnya, apa saja, pasti menguntungkan. Semua orang menyeganinya.”


“Termasuk urusan percintaan?”

__ADS_1


Barli berdehem. Wajahnya mengeras. “Itu, itu ranah pribadi, Pak Hendrik. Saya tidak berhak mencampuri masalah percintaan Papi. Tapi, ya, saya akui, di usianya yang sudah tidak lagi muda, pesonanya masih tidak pudar. Dia pria yang menarik dari segala sisi. Saya tahu tak sedikit wanita yang berusaha mendekat semenjak kematian ibu saya. Tapi, Papi seorang pecandu kerja dan cintanya pada ibu terlalu dalam. Saya tidak yakin Papi dapat semudah itu mencintai seseorang. Tak ada yang serius, menurut saya.”


“Termasuk Vania?”


“Ya! Termasuk wanita murahan itu.” Sikap Barli mendadak berubah menjadi gusar saat nama Vania disebut.


“Menurut Anda, apa yang sedang dilakukan Pak Johan dengan Vania berdua di kamar hotel pada malam itu?” Hendrik bertanya dengan tenang dan santai, mengabaikan kemarahan Barli.


“Wanita itu menjerat ayahku! Menipunya! Menghisap habis darahnya, hanya demi harta. Sama seperti yang pernah dia lakukan padaku.” Hendrik mengepalkan tangan. Sorot matanya penuh dengan kebencian.


“Apa yang telah Vania lakukan pada Anda?” tanya Hendrik masih dengan suara tenang. Dia sudah tahu hubungan antara Vania dan Barli di masa lalu, tapi dia ingin mendengarnya sekali lagi dari sisi Barli.


“Jadi, Vania adalah mantan kekasih Anda?” Hendrik dengan sengaja menekankan sebuah kenyataan yang menggarami luka batin Barli. Dia ingin memancing emosi Barli.


“Ya,” jawab Barli pahit.


“Saya rasa Anda sangat membencinya sampai-sampai membuntuti tersangka ke mana saja dia pergi, bahkan sampai ke hotel tempat tersangka, Vania berkencan dengan ayah Anda. Apa yang Anda lakukan di hotel itu pada saat kejadian?” tanya Hendrik serta merta.


“Apa maksud Anda?” Barli tergagap dan tersadar bahwa Vania pasti telah menceritakan pertemuan di antara mereka yang terjadi tepat pada malam ayahnya terbunuh. “Vania pasti telah menceritakan semuanya pada Anda.”


“Ya dan bukan hanya karena itu. Kamera CCTV hotel juga menangkap pertemuan Anda dengan Vania di lobi hotel pada saat kejadian. Apa Anda tahu Pak Johan ada di sana bersama Vania? Bagaimana?” Hendrik terus mengejar Barli dengan pertanyaan.

__ADS_1


Hendrik mengambil sapu tangan dari saku celananya. Dengan sapu tangan itu, dia menghapus bulir-bulir keringat di dahinya. Ruangan tempatnya berbincang dengan Hendrik nyaman, ber-AC, tapi entah bagaimana dia bisa berpeluh. “Saya memang tahu Papi di sana bersama Vania. Saya bahkan tahu nomor kamarnya.”


“Jadi Anda benar mengikuti Vania? Kalau tidak, dari mana Anda bisa tahu?” selidik Hendrik.


“Tidak, Pak Hendrik. Anda salah mengerti. Saya tidak pernah mengikuti Vania. Saya tidak punya waktu untuk berkeliaran tidak jelas hanya karena wanita. Seseorang memberi tahu saya bahwa pada hari itu Vania akan melakukan pertemuan di hotel dengan Papi. Informasinya cukup mendetail. Tempat, waktu, semuanya.”


“Siapa yang memberi tahumu?” Hendrik menatap Barli curiga.


“Nomornya tidak saya kenali. Dia mengirimi saya sms. Tadinya saya hendak mengabaikan pesan itu, tapi saya tidak tahan untuk membuktikannya dan mereka memang ada di sana. Mengecewakan! Anda mengerti maksud saya bukan? Seandainya dia sedang bersama orang lain mungkin saya bisa mengerti, tapi dia memilih Papi! Ayah saya! Dia lebih pantas menjadi anaknya dari pada kekasihnya. Sungguh memalukan!”


Barli bicara penuh emosi tanpa berhenti sampai terengah-engah. Agaknya dia sampai lupa bernapas.


“Well, sebelumnya saya mencoba menelpon ke nomor yang sama. Saya ingin tahu siapa orangnya yang iseng mengirimi pesan seperti itu dan dari mana dia tahu nomor saya. Sebagai catatan, saya tidak pernah membagi nomor telepon pada sembarang orang. Tapi nomornya sudah tidak lagi aktif.”


Hendrik mencatat sesuatu di atas buku kecilnya. Kemudian, dia kembali bertanya pada Barli. “Anda masih punya bukti SMS darinya?”


“Ya, tentu saja. Saya sengaja menyimpannya.” Barli mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah pesan di kotak masuk.


[Bapak Johan Baroto membuat reservasi di Hotel Bintang Lima Laguna, di kamar nomor 23, untuk menghabiskan malam dengan Vania pada hari Rabu pukul delapan malam.]


Barli punya buktinya, dia tidak berbohong, Hendrik berkata dalam hati. Seseorang sengaja mengatur pertemuan antara Barli dan Vania, tepat di saat kejadian. Apakah ini kebetulan? Hendrik menggelengkan kepala. Di dunianya, tidak pernah ada yang namanya kebetulan!

__ADS_1


__ADS_2