
Mood Revan sangat mudah berubah. Satu hari dia memperlakukan Liana bagai seorang ratu, memujanya, memanjakannya, melimpahinya dengan segala cinta dan perhatian dan hari berikutnya dia memperlakukannya dengan kasar tanpa belas kasihan. Seperti siang itu.
“Sayang, kau masih belum bangun?”
Liana membawa setangkup roti isi dengan secangkir kopi panas yang kemudian diletakannya di atas meja kecil di samping tempat tidur. Dia lalu membangunkan suaminya dengan kecupan lembut. Wajah tampan Revan terlihat bengkak dan memar setelah apa yang terjadi kemarin. Orang-orang itu memang tidak punya perasaan! Liana menggerutu kesal.
Bagi Liana, Revan adalah hidupnya, dunianya. Dia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Revan dalam sebuah pesta. Saat itu, Revan bersinar bagai bintang. Dia menjadi pusat perhatian hampir semua orang. Wajahnya yang tampan, sikapnya yang manis, dan kelakarnya yang mengundang tawa, menjadi magnet bagi setiap wanita. Mudah sekali untuk jatuh hati pada pria seperti Revan.
Liana yang memiliki harga diri tinggi, tentu saja tak mau semudah itu menunjukkan perasaannya pada Revan. Dia enggan bergabung dengan para wanita pemuja Revan. Diam-diam mengamati Revan dari jauh saja sudah memuaskan hatinya.
Bak gayung bersambut, justru Revan lah yang mengambil langkah pertama. Dia mendekati Liana, mengajaknya menepi sejenak dari keramaian pesta dan berbincang banyak hal tentang tempat-tempat indah yang pernah dikunjungi masing-masing. Setelahnya, mereka mulai berkencan dan Revan melamarnya tidak lama kemudian.
Johan Baroto satu-satunya orang yang menentang keras hubungan Liana dengan Revan. Ayahnya itu mengatakan bahwa asal usul Revan tidak jelas dan dia punya reputasi yang buruk dengan wanita.
“Revan akan mendatangkan masalah untukmu, Liana!” kata papinya dulu.
Liana terlanjur jatuh cinta. Dia memaksakan pernikahannya agar segera terwujud.
“Aku hanya akan bahagia jika menikah dengannya, Papi. Aku tak peduli Papi setuju atau tidak, aku akan tetap menikah dengan Revan.”
Johan Baroto dengan berat hati melepas putri satu-satunya untuk menjadi istri Revan.
Selama Revan masih tertidur, Liana terjaga semalaman. Dia memikirkan cara mendapatkan uang untuk membayar hutang-hutang Revan. Dari mana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat?
“Pagi, Sayang!” Revan membuka mata dan tersenyum kepada Liana.
Dia merasa tidak salah telah memilih Liana sebagai istri. Wanita itu masih sangat memujanya meski tahu apa yang telah dia lakukan.
__ADS_1
Orang-orang itu menghancurkan isi rumah karena kesialannya dan bukan tak mungkin akan membunuhnya. Tapi, sekarang dia boleh merasa sedikit lega karena sekali lagi, dia akan bisa bergantung pada Liana untuk membereskan masalah-masalah yang dibuatnya. Revan yakin seratus persen bahwa istrinya tidak akan meninggalkannya kesusahan sendiri.
“Sekarang sudah siang, Sayang. Kau tertidur sepanjang hari.” Liana membelai wajah suaminya penuh perhatian.
“Semalaman aku sudah berusaha keras memikirkan jalan keluar masalah kita. Aku pun sudah menghitung semua aset yang memungkinkan bisa dicairkan dalam waktu singkat, tapi jumlahnya masih jauh dari cukup. Aku ... aku khawatir tidak dapat membantumu.” Liana berkata pelan dan takut-takut.
Revan mendengkus marah. Tiba-tiba saja dia melempar cangkir kopinya ke lantai.
“Apa saja yang dalam otakmu itu, heh! Selama ini aku memberikanmu kebebasan untuk mengelola perusahaan. Aku tidak pernah mengeluh meski kau pulang sampai tengah malam atau mabuk-mabukan dengan kolegamu. Tapi, apa-apaan ini? Mana balasanmu padaku?”
“Maafkan aku, Sayang. Aku tidak bermaksud-“
Plak!
Revan memotong perkataan Liana dengan sebuah tamparan.
Liana tersedu. Dia tahu, sekali Revan sudah tersulut emosi, akan susah dihentikan. Selanjutnya, demikian lah yang terjadi. Revan melampiaskan keputusasaannya dengan menghajar Liana. Tak peduli meski tubuhnya sudah limbung dan tak kuasa melawan tenaga seorang laki-laki. Liana hanya bisa mengiba dan memohon Revan untuk berhenti.
Revan baru berhenti setelah Liana tersungkur tidak sadarkan diri. Dia sudah gelap mata. Nyawanya terancam karena hutang-hutangnya pada mafia dan tak ada siapa pun yang dapat membantunya. Revan mengamuk melempari barang-barang, lalu pergi begitu saja meninggalkan rumah. Dia ingin melupakan semua masalahnya meski hanya sebentar.
***
Hari sudah gelap saat Barli tiba di rumah Liana. Liana mendengar suara kakaknya berteriak memanggilnya, tapi dia terlalu lemah untuk menjawab.
Barli yang panik, berlari naik ke lantai dua, tempat kamar utama berada. Dia menemukan Liana ada di sana. Duduk di lantai, bersandar pada kaki tempat tidur. Dia tampak sangat kacau. Pandangan matanya kosong. Sebuah botol minuman keras yang sudah kosong isinya tergeletak tak jauh dari tempatnya duduk.
“Liana? Kau mabuk?” Barli bergegas mendekati adiknya. Dia menyibak rambut Liana yang kusut masai menutupi separuh wajahnya dan terkejut melihat memar di sekitar mata dan darah kering di sudut bibirnya. “Apa ini? Siapa yang menghajarmu sampai seperti ini? Perampok? Aku akan menelpon polisi." Barli merogoh kantong bajunya untuk mengeluarkan ponsel. Liana segera mencegahnya.
__ADS_1
“Jangan, Barli! Aku tidak apa-apa. Aku hanya mabuk dan tidak sengaja melukai diriku sendiri. Tidak ada perampokan atau apa pun.”
“Kau bohong. Di mana Revan? Keparat itu pasti melakukan ini padamu. Aku tahu ini bukan yang pertama kalinya dan setiap kali semakin buruk saja. Ini sudah kelewat batas, Liana! Aku sudah pernah memperingatkan dia untuk tidak melukaimu lagi atau aku tidak akan mengampuninya.”
“Please, Barli! Ini masalah rumah tanggaku sendiri. Jangan ikut campur! Menjauh saja lah dariku dan Revan. Biarkan aku mengatasi ini sendiri.” Liana berteriak.
“Mulutmu bicara begitu tapi hatimu berkata sebaliknya. Aku masih kakakmu, Liana. Aku tidak mau kau menderita lebih dari sekarang. Aku akan membantumu. Pertama, kau harus menjauh dari Revan. Kumohon Liana, berpisah lah darinya. Kalau begini terus bisa-bisa kau kehilangan nyawamu.”
“Kalau kau ingin membantuku, beri aku lima milyar.” Liana menatap Barli tajam.
“Apa? Untuk apa uang sebanyak itu?” Barli terbelalak. “Revan? Dia pasti sudah berulah lagi, dan aku tahu kali ini masalahnya sangat serius bukan? Ada apa lagi sekarang? Katakan padaku semua, Liana!” Barli balas berteriak.
“Dia kalah berjudi dan berhutang dengan para mafia.” Liana menangis. “Oh, Barli, kumohon tolong aku. Mereka orang-orang yang sangat menyeramkan. Mereka punya kekuasaan. Kami tidak bisa menelpon polisi. Kalau sampai minggu depan uangnya tidak ada, mereka akan membunuh kami.”
“Sialan Revan! Siapa yang memukulimu? Para penjahat itu atau malah Revan sendiri, heh? Katakan, Liana!” Barli mengguncang bahu Liana.
Dia gusar karena adiknya masih saja menutupi kejahatan Revan, bahkan ikut pusing mencarikan uang untuk membayar hutang-hutang yang bukan tanggungannya.
Liana memeluk Barli, tangisnya pecah menjadi lebih keras.
“Ampuni Revan, Barli. Dia hanya sedang stres dengan semua masalahnya. Aku tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil.”
“Maafkan aku, Liana, aku harus menghubungi polisi.” Barli mengusap lembut rambut Liana. Batinnya berkecamuk.
“Jangan, Barli! Jangan coba-coba!”
Tiba-tiba Liana mendorong Barli. Dia bangkit dari lantai dan meraih sebilah pisau pemotong buah yang ada di meja. Diarahkannya pisau itu ke lehernya sendiri.
__ADS_1
“Aku akan membunuh diriku sendiri di depanmu kalau kau berani-berani menelpon polisi. Aku tidak butuh polisi. Aku hanya butuh lima milyar! Demi nyawaku, Barli, beri aku lima milyar itu!” Liana menjerit histeris.