
Sidang perdana berjalan dengan lancar. Leon mendampingi Vania yang sedari awal terlihat sangat tenang. Meskipun beberapa kali Vania terlihat mengusap sudut matanya saat menatap mamanya. Vania merasa sangat bersalah karena mamanya harus melihat dirinya diborgol, sebelum petugas membuka borgolnya dan mempersilaknnya duduk.
Sang mama berusaha membangkitkan semangat Vania melalui senyum tenang dan tatapan yang hanya bisa dirasakan oleh perempuan yang kini nasibnya tak jelas itu. Sebelum persidangan dimulai mamanya sempat berbisik perlahan di telinganya,”mama selalu percaya sama kamu sayang. Mama yakin bukan kamu pembunuhnya. Sekarang saatnya kamu membuktikan di persidangan buat Aileen bangga dan meyakini mamanya bukan seorang pembunuh.”
Vania menganggukkan kepalanya berkali-kali sambil mengusap derai air mata terus meleleh membasahi pipinya. Setelah mendapat kekuatan dari mamanya perempuan itu kembali menghela napas, menenangkan diri. Ia mengambil tisu lalu mengusap matanya, hingga benar-benar air mata itu hilang. Ia tidak mau terlihat lemah di persidangan. Jika hari itu ada pembunuh Johan di ruangan itu, maka siapapun dia tidak boleh merasa senang atas penderitaannya. Vania hanya bertekad untuk membuktikan bahwa dia tidak bersalah.
Jasa Penuntut Umum terus memberikan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan Vania.
“Hanya ada Anda berdua malam itu. Kenapa anda meninggalkan korban begitu saja, padahal kalian sudah punya janji temu jauh hari. Dari keterangan anda, korban bahkan sudah mempersiapkan segalanya untuk pertemuan kalian, tapi tiba-tiba pada saat bertemu Anda meninggalkannya. Bukankah ini bukan suatu kebetulan? Bisa anda jelaskan alasan Anda tiba-tiba meninggalkannya hingga korban terbunuh?” tanya jaksa.
“Seperti yang sudah saya jelaskan di dalam BAP, bahwa malam itu saya menerima telepon dari Barli yang mengajak saya bertemu di luar. Saya pikir harus menyelesaikan masalah dengan Barli dulu baru kembali kepada Pak Johan.”
“Jadi menurut Anda, Saudara Barli lebih penting daripada Pak Johan? Sebetulnya Anda ini kekasih Johan atau Barli?” tanya Jaksa. “Keberatan, Yang Mulia!” sergah Leon segera membela kliennya. “Mohon tidak mengorek tentang hubungan pribadi tersangka dengan korban atau saksi.”
“Tidak bisa begitu! Fakta ini ada korelasinya karena tersangka ini sudah mengelabui korban dan anaknya. Dia mengambil keuntungan melalui cara-cara pendekatan kepada korban maupun anaknya, hal-hal seperti ini harus diperjelas agar menjadi pertimbangan hakim.”
“Keberatan ditolak,” ucap Hakim membuat Leon kesal. Sementara itu Barli terlihat gelisah. Liana tersenyum senang, begitu juga dengan Revan yang langsung menyunggingkan senyuman.
Persidangan demi persidangan dihadapi Vania dengan sikap yang sama. Wanita itu menegakkan dagu berusaha menunjukkan kepad dunia bahwa dia bukan pembunuh Johan Baroto. Vania terus tersenyum kea rah wartawan yang mengerumuninya usai persidangan. Meskipun pertanyaan-pertanyaan dari Jaksa serta dari pihak pengacara yang disewa Liana dan Revan terus menyudutkannya, tetapi Vania bergeming.
“Baru kali ini gue lihat tersangka pembunuhan terlihat sangat tegar dan tenang. Vania, kamu memang menyimpan misteri, pantas saja kalau Johan Baroto dan Barli sampai tergila-gila padamu. Semua gesture tubuhmu itu seksi,” gumam Marlo Brando saat meliput persidangan.
__ADS_1
Persidangan berjalan sangat alot, Vania sudah lelah dengan semuanya dia nyaris tak punya kekuatan lagi untuk melawan. Ketika sidang sudah memasuki masa akhir perempuan itu putus asa dan tak lagi memperlihatkan gurat keberaniannya.
“Mereka terus mencacarku dengan pertanyaan yang sama berulang-ulang. Meskipun aku sudah berusaha menjelaskan ribuan kali bahwa aku tidak terlibat dalam pembunuhan itu. Leon aku capek,” tutur Vania.
Perempuan itu memejamkan matanya dia benar-benar lelah menghadapi semua persidangan yang terus menguras emosi dan tenaganya.
“Tinggal selangkah lagi. Kamu harus meyakinkan hakim sedikit lagi, terus katakan saja yang sebenarnya. Kamu tidak bersalah, Vania. Dan mereka harus tahu itu.”
“Mereka tetap butuh tumbal untu disalahkan, bukan?” Dengan getir Vania menjawab.
“Mereka terus menyudutkan aku Leon. Bahkan untuk membela diri sendiri saja susah. Aku benar-benar pesimis dengan hasil persidangan ini.” Kali ini Vania berkata dengan lemas.
Leon menguatkan Vania. Perempuan itu benar-benar berada dalam titik terendah. Vania berpikir saat ia masuk ke dalam tahanan saat itu ia memasuki bagian tergelap di dalam hidupnya. Namun saat ia mengikuti proses persidangan yang melelahkan, Vania menyimpulkan bahwa berada di dalam tahanan justru menjadi waktu-waktu terbaiknya.
Wanita itu berangsur merasa tenang dalam dengan segala keterbatasan. Dia kini bisa lebih banyak introspeksi diri merasakan kalau sekarang Tuhan sedang menempanya menjadi perempuan yang lebih kuat. Persidangan hanya kamuflase karena sesungguhnya yang ia butuhkan adalah kesendirian meskipun dibalik di ruangan berukuran 3x3 meter, berdesakan dengan para tahanan lainnya. Saat itulah Vania justru merasakan ketenangan yang sesungguhnya.
“Boleh saya bicara dengan Vania?” Tiba-tiba mereka dikejutkan ssebuah suara. Barli mendekat membuat Vania dan Leon terperanjat
Vania yang sudah tidak punya semangat hanya menoleh sekilas kepada Barli.
“Aku sedang tidak mood menerima tamu, Barli. Sebaiknya kau kembali lain waktu,” ucapnya sambil menatap lurus ke depan. Dia tidak ingin bertemu dengan siapapun kecuali pengacara dan pihak keluarganya.
__ADS_1
“Aku ingin mengatakan sesuatu.” Leon yang melihat keseriusan Barli segera memberi kode kepada Vania untuk berbicara.
“Sebaiknya Anda juga tetap di sini,” cegah Barli ketika Leon hendak meninggalkan ruangan.
“Apakah benar Aileen sakit keras dan sekarang dalam masa pengobatan?”
Vania tersentak mendengar pertanyaan barli dari mana pria itu bisa tahu kalau Aileen saat ini sedang menjalani pengobatan. Vania tidak pernah mengatakan apa-apa kepada pria di hadapannya ini. Dia menyimpan semua penderitaannya sendiri termasuk penyakit Aileen. Bahkan kepada Avan juga dia hanya mengatakannya karena khawatir Avan mengajak Aileen melakukan hal-hal yang bisa mengakibatkan tubuhnya makin rentan.
“Mamamu yang mengatakannya. Tanpa sengaja aku melihat beliau menangis di ruang tunggu. Saat itu Aileen sangat pucat karena kelelahan menunggu jam kunjunganmu. Anakmu sangat pucat dan aku mengenalinya lalu aku mendekati mereka. Di situlah mamamu bercerita tentang kondisi Aileen yang sedang sakit parah dan menjalani pengobatan. Kenapa kamu selama ini tidak pernah mengatakannya padaku? Bahwa kamu membutuhkan biaya yang sangat besar untuk kesembuhan Aileen.”
“Kamu tahu aku nggak suka dikasihani ‘kan? Barli aku lebih baik mencari uang dengan caraku sendiri. Lagian kamu sudah terlalu banyak membung uangmu untuk aku dan aku berterima kasih untuk itu.” Hening sesaat sebelum Vania melanjutkan perkataannya,” maaf Barli Aku sangat capek. Aku harus kembali ke dalam sel dan mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi sidang selanjutnya.” Dengan langkah gontai Vania kembali ke selnya.
Barli semakin iba melihat gurat keputusasaan dalam wajah Vania. Tak ada lagi celotehan nakal, godaan penuh nafsu, atau rengekan manja dari wanita yang pernah berbagi ranjang dengannya. Di hadapannya kini hanyalah seorang wanita rapuh yang harus menghadapi tuduhan serius pembunuhan yang tidak ia lakukan.
Selama ini dia menganggap Vania hanya mengejar harta Johan Baroto, tetapi Barli sudah memikirkan tentang ini berhari-hari. Ia sangat tahu papinya tidak akan semudah itu mengalihkan kepemilikan harta kepada orang yang tidak ia percaya.
Johan Baroto bukan tipe orang yang mudah dipengaruhi. Meskipun Vania cantik, muda, cerdas dan memikat hati, tapi papinya lebih cerdas. Jika Johan Baroto ternyata menunjuk Vania untuk mengelola bisnis dan aset-asetnya, pasti papinya sudah mempertimbangkan semuanya matang-matang. Hal itulah yang membuat Barli pada akhirnya harus berterus terang kepada Leon.
“Leon aku tahu bukan Vania pembunuh papi aku akan membuka faktanya di persidangan.”
__ADS_1