
Bali dengan segala keindahannya membuat malam gala dinner terasa begitu istimewa. Semua tamu undangan berdecak kagum diikuti gemuruh tepuk tangan saat dibacakan nama-nama yang menggondol gelar berprestasi pada divisinya masing-masing. Acara selebrasi hampir usai ketika Barli menyadari Vania tak ada di ruangan. Matanya mencari-cari di antara para tamu undangan, tetapi perempuan bergaun merah yang sesaat lalu menerbangkan angannya, tidak ia temukan.
[Di mana kamu? Jangan pernah menghilang tanpa pamit, aku tak suka]
Jarinya mengetik pesan dan segera dikirimkan kepada sekretarisnya. Barli sudah menyadari keanehan sejak mereka pulang dari Turki. Semakin lama, Vania semakin menjauh dari dirinya. Sepulang dari Turki, mereka bahkan belum pernah menghabiskan malam bersama. Barli merindukan Vania.
Tak ada jawaban dari Vania. Hal itu membuatnya marah. Segera ia bergegas menuju kamar Vania di lantai dua puluh tiga. Lantai yang sama dengan dirinya. Dengan mudah Barli mendapatkan akses kunci. Ketika membuka kamar Vania, dia tak mendapati perempuan cantik itu di sana.
****! Kemana Vania pergi? Belum sempat ia berpikir panjang, telepon genggamnya bordering, dari Farih koordinator acara.
“Maaf Pak Barli, kami akan segera clossing acara, mohon Bapak bisa stand by di ruangan, karena akan acara foto bersama dan berjabat tangan dengan seluruh karyawan berprestasi sesaat lagi.”
“Baik, lima menit lagi saya ke sana.” Barli menghembuskan napas kesal.
Sambil keluar dari ruangan, ia menghubungi nomor Vania. Tak ada jawaban. Emosinya semakin memuncak. Dia bergegas memasuki ballroom. Acara sudah hampir selesai, semua penerima penghargaan sudah berada di atas panggung. Terlihat sang pemilik gaun merah sedang berada di samping panggung. Ah, perempuan itu benar-benar membuatnya gila.
“Vania, ikut ke panggung denganku sekarang, dan jangan pernah menghilang lagi tanpa kuperintahkan seperti barusan.” Barli membisikkan kalimat itu di telinga Vania, sambil menarik tangannya. Vania hanya bisa mengikuti langkah Barli yang terlihat marah. Sepasang mata memandangnya dengan tatapan iba. Johan mengawasi Barli dari kejauhan.
Johan memang sering mengirimkan orang bayaran untuk mengikuti Barli, menjaganya, dan melaporkan semua hal yang dilakukan Barli. Dia tak ingin Barli salah langkah dan pergaulan. Namun, untuk karakter dan perlakuan Barli kepada bawahan, Johan tak pernah mengamati dari dekat. Melihat perlakuan Barli barusan, Johan berpikir, ternyata Barli sering bersikap kasar kepada sekretarisnya. Ada yang tidak ia ketahui, dan harus segera ia cari tahu. Satu-satunya orang yang selama ini luput dari pengawasannya adalah sang sekretaris, Vania.
Gempita tepuk tangan memenuhi ballroom hotel yang malam itu dipenuhi dekorasi sangat indah. Lampu-lampu kristal berbagai ukuran menggantung di atap ruangan. Set dining table berjajar rapi dengan tatanan piring, gelas, sendok dan garpu nan cantik. Lilin menyala kuning temaram menambah suasana akrab dan romantis. Tanaman-tanaman segar berada di sudut ruangan. Bunga white lily dan anyelir putih menghiasi dinding menambah kesan segar pandangan.
Vania usai berkoordinasi dengan Farih, ketika tangan kekar Barli merengkuh pundaknya.
“Malam ini temani aku.” Vania menunduk. Barli tak bisa ditolak, dia sudah bosan dengan sikap Vania yang memberi sinyal penolakan. Tangannya memegang dagu Vania, lalu mendongakkan ke wajah cantik sang sekretaris ke arahnya.
__ADS_1
“Jangan bikin aku menunggu terlalu lama.” Vania memiringkan wajahnya, tangan Barli terlepas. Vania segera berlalu meninggalkan Barli. Dadanya terasa sesak. Ia berlari ke kamarnya. Sepasang mata mengawasinya dari jauh. Johan Baroto semakin yakin, selama ini Barli tidak memperlakukan Vania dengan baik.
Hari berlalu begitu cepat, sejak acara gala dinner di Bali, Vania dan Johan Baroto lebih sering bertemu. Johan sekarang stay di apartemen mewah di Kuningan. Lebih mudah baginya bertemu Vania. Semua hal yang direncanakan Vania sepertinya berjalan lancar. Johan membutuhkan teman untuk berbincang, menemaninya makan malam, juga mendengarkan semua kisah kejayaannya tetap ada di tangan.
Vania gadis yang tak hanya cantik tetapi juga cerdas dengan banyak rencana di kepalanya. Bersama Johan, sisi lain kebutuhannya tergenapi. Johan memperlakukannya seperti perempuan seutuhnya. Mungkin lelaki berusia enam puluh tahun itu, telah memberi banyak pengalaman berharga. Vania menginginkan lebih. Perhatian Johan yang hangat memberinya kenyamanan.
“Daddy, bagaimana rasanya menjadi orang kaya? Mendapatkan semua yang kita mau?” tanya Vania pada suatu malam, saat ia menemani Johan Baroto makan malam di sebuah rumah makan di dekat apartemen. Vania lebih sering menghabiskan waktunya sepulang kerja, mengobrol menemani pria yang sekarang disebutnya “Daddy”.
“Uang hanya sekedar angka, Vania. Angka tidak bisa membeli kebahagiaan, karena kebahagiaan tidak dapat diukur dengan angka. Kebahagiaan hanya bisa dirasa atau diberi tanpa batas terhingga.”
Daddy mengunyah steak hot plate, menu favoritnya. Akhir-akhir ini Daddy merasa muda kembali. Vania berhasil mengembalikan semangat hidupnya, dari seorang kakek dua cucu menjadi pria matang yang siap berbagi pengalaman. Liana, adik Barli memang telah memberinya dua cucu perempuan yang menggemaskan.
Johan Baroto mulai menyukai Vania. Keduanya menjalin hubungan tak biasa, bahkan mungkin tak bisa dinalar. Hubungan lelaki dan perempuan yang mulai saling merasa tergantung satu sama lain. Tidak ada hubungan di ranjang. Murni pertemanan dengan kadar ketergantungan yang semakin meningkat.
“Dulu saya pernah berpikir, uang bisa membeli segalanya. Sekarang juga masih seperti itu. Bahkan ketika Aileen, anak saya divonis terkena kanker darah, yang ada dalam pikiran saya, hanya uang yang bisa menyelamatkannya. Saya bekerja keras demi angka yang selalu diberikan rumah sakit setelah Aileen cuci darah,” sahut Vania sambil menghirup mojito dari gelasnya.
“Saya ibu yang kotor.” Mata itu berkaca-kaca, sebentar lagi cairan bening itu tumpah. Tangan kanannya buru-buru menyeka kedua bola matanya bergantian. Hanya kepada Daddy, Vania bisa mengadukan apa saja, kecuali satu hal. Bahwa dirinya sengaja masuk ke Barlian Mediatama dengan satu tujuan balas dendam.
Kunjungan Vania ke apartemen Daddy menjadi semakin intens. Vania banyak belajar bisnis dari Daddy. Pria itu bertekad menjadikan Vania wanita yang mumpuni memegang perusahaan. Meskipun awalnya tidak tertarik, akhirnya Vania menyimak semua penjelasan Daddy dengan baik. Sampai pada waktunya siap Vania mengundurkan diri dari perusahaan Barli.
“Apa-apaan kamu? Siapa yang mengizinkanmu mengundurkan diri Vania, apa kau sudah gila?” Barli berteriak marah, saat Vania memberikan surat pengunduran diri.
“Maaf, saya benar-benar minta maaf, Pak.”
“Stop omong kosongmu itu! Kita cuma berdua di sini!”
__ADS_1
“Barli, aku meminta izin baik-baik untuk keluar dari sini. Tolong jangan bikin semua jadi lebih sulit.”
“Kamu ingin naik gaji? Berapa? Berapa yang kamu minta? Ini cek kosong, kamu isi sendiri nominalnya.” Barli meraih satu cek kosong yang berada di lacinya kemudian menyodorkannya kepada Vania. Perempuan itu menggelengkan kepalanya.
“Barli, tolong jangan seperti ini.”
“Berapa? Tulis saja, dua kali? Tiga kali lipat dari gaji selama ini? Apartemen? Rumah? Apa yang kamu minta Vania, katakan!”
Barli benar-benar marah, wajahnya bersemu merah. Ia merasa dikhianati oleh orang terdekat. Dia sama sekali tak pernah berpikir Vania akan meninggalkannya, pergi dari perusahaan tempatnya mencari nafkah.
“Aku akan menikah.” Vania menurunkan nada suaranya.
“Apa?”
“Sudah saatnya Barli, aku akan menikah dan pindah ke Australia. Suamiku memintaku tinggal bersamanya.”
Vania terpaksa berbohong. Hanya ini alasan yang paling masuk akal untuk menenangkan Barli. Dugaannya salah. Bukannya tenang, Barli justru melempar semua benda yang berada di mejanya.
Prang!
Semua barang berhamburan di lantai. Notebook, beberapa buku, juga pajangan kristal pecah berhamburan. Vania tak sanggup lagi menyaksikan kemarahan Barli.
Dia berlari keluar, mendekap dadanya yang terasa perih. Vania tak punya pilihan dan tak ingin kembali lagi ke kantor itu. Baginya Barli sudah tak penting lagi. Seperti halnya Avan dan rencana-rencana gila yang menyeretnya ke dalam pusaran masalah seperti sekarang.
__ADS_1