
Di dalam penjara Vania menghitungi hari demi hari yang sudah dia habiskan dalam kesunyian. Sudah satu bulan berlalu sejak dirinya ditetapkan sebagai tersangka.
Baginya waktu berjalan begitu lambat. Tak banyak yang bisa dia lakukan di dalam selnya. Setidaknya selnya yang sekarang jauh lebih baik dari pada selnya yang dulu. Semua berkat Leon. Pahlawan yang datang tanpa pernah dia sangka. Mungkin ini adalah balasan Tuhan atas kebaikan yang dulu pernah dilakukan orangtuanya. Sebab Vania sendiri, merasa seumur hidupnya hanya melakukan dosa.
“Ini karmaku,” bisik Vania pada tembok dingin yang mengurung dirinya.
“Ibu Vania, ada tamu untuk Anda.” Petugas penjara datang. “Cepatlah keluar! Jika Anda tahu siapa yang datang, Anda pasti akan senang.” Petugas wanita itu tersenyum simpatik pada Vania.
Pengunjung kecilnya hari itu menjadi kejutan terindah untuk Vania. Aileen! Aileen datang bersama Julian. Vania tersenyum lebar menyambut kedatangan buah hatinya.
“Aileen, Darling! Kesayangan Mama.” Vania berlutut agar dapat memeluk Aileen . Dikecupnya bertubi-tubi wajah putrinya. Dia sangat rindu!
“Mama!” Aileen kontan menangis sambil memeluk leher Vania. “Mama kapan pulang?”
“Segera, Darling, segera! Kau tunggu Mama, ya, Sayang?” Vania melepaskan pelukan Aileen supaya dia dapat melihat dengan jelas wajah putri kecilnya. Dia membelai wajah Aileen sambil merapikan helai-helai rambut Aileen. Jarinya dengan lembut menyapu air mata Aileen. “Jangan menangis, Darling. Mama ingin melihat senyummu.”
“Apa kabarmu, Vania?” Avan menyapa Vania canggung. Dia berdiri dengan kaku di hadapan Vania. Bangunan penjara itu membuatnya gelisah dan tidak nyaman. Membayangkan Vania menghabiskan waktunya di sini, Avan tak tahu harus bersikap bagaimana.
Vania berdiri, menatap Avan. Dia mengabaikan basa-basi Avan dan berkata, “kenapa kau ke mari? Mana Mama?”
Avan menundukkan wajah, tak sanggup membalas tatapan mata Vania. “Mamamu sedang kurang sehat dan Aileen terus merengek ingin bertemu denganmu. Jadi, aku terpaksa membawanya ke sini.”
Vania menghembuskan napas panjang. Dia mengerti, Avan tidak akan pernah berinisiatif untuk mengunjunginya di penjara. Tentu saja! Pria pengecut seperti dia pasti memilih untuk menjauh dari masalah. Dari dirinya. “Apa sakit Mama parah?”
“Tidak. Mama hanya terlalu lelah. Tidak ada yang serius.”
“Aku mohon padamu, Avan. Tolong jaga Mama dan Aileen selama aku di sini. Kau tahu sendiri aku tidak lagi memiliki siapa pun untuk membantuku.” Sebenarnya Vania tidak suka meminta sesuatu pada Avan. Tapi mau bagaimana lagi? Avan mungkin pria paling egois yang pernah dia kenal, tapi hanya dia yang dapat dia percaya menjaga putrinya.
__ADS_1
“Aku tahu. Kau jangan terlalu memikirkan hal ini. Fokus saja dengan kasusmu.” Avan berpaling pada Aileen dan membelai kepala gadis kecil itu. "Aileen, kita berdua bersenang-senang, bukan?”
Aileen mengangguk dan tersenyum manis. “Ya, Mama. Papa Julian menemani Aileen main ke taman. Mama cepat keluar dari sini supaya kita bisa main bersama lagi.”
Air mata haru mengembang di pelupuk mata Vania. Dia cepat-cepat menghapusnya dan mengenggam tangan Aileen. “Apa Aileen jadi anak baik selama Mama tidak ada? Aileen harus tetap semangat kontrol ke rumah sakit dan patuhi kata-kata dokter, oke? Setelah Mama pulang nanti, Mama akan mengajak Aileen jalan-jalan ke mana pun yang kamu mau. Jadi, Aileen harus jaga diri baik-baik. Jangan lupa minum obatnya ya, Darling?”
“Mama janji?” Aileen mengangsurkan jari kelingkingnya.
“Janji!” Vania tersenyum sambil menautkan kelingkingnya sendiri ke jari Aileen.
“Apakah mereka memperlakukanmu dengan baik di sini?” Avan kembali bertanya.
“Ya, tentu saja. Aku akan tetap berada di sini sampai persidangan nanti.”
“Tempo hari, mereka juga datang menanyaiku perihal kasusmu,”ujar Avan.
“Kenapa? Apa yang mereka tanyakan?” Vania memburu Avan dengan pertanyaan.
“Aku tak mengira ternyata mereka sampai mencari informasi lewat dirimu. Apa saja yang kau beri tahukan pada mereka? Kumohon, Avan, katakan semuanya, aku ingin tahu detail dari kasusku. Apa mereka datang padamu karena kau adalah ayah dari Aileen?”
“Sebenarnya ....” Avan berdehem untuk membersihkan tenggorokan sebelum melanjutkan kata-katanya. “Mereka mencariku karena wajahku terekam kamera CCTV di lobi hotel pada saat kejadian.”
“Apa? Kau di sana? Kenapa? Untuk apa?” Vania terkejut.
“Maafkan aku Vania, aku sengaja mengikutimu pada hari itu.” Avan akhirnya mengakui perbuatannya.
Vania menatapnya gusar. “Apa maumu?”
__ADS_1
“Aku hanya ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri sejauh mana hubunganmu dengan Johan Baroto.” Avan bergerak-gerak tak tenang.
“Lalu?” Vania melipat tangan di depan dada. Dia kesal karena terpaksa membahas kasusnya di depan Aileen. Tapi sekarang adalah satu-satunya kesempatan bertanya segalanya kepada Avan. Pria itu belum tentu akan datang lagi mengunjunginya di sini.
“Ya, sudah! Itu saja. Aku hanya sampai di lobi, melihatmu masuk. Setelah itu, aku menunggu beberapa lama di sana dan ketika aku melihat Barli datang, aku segera pergi. Barli adalah satu-satunya pria yang tidak ingin aku lihat lagi. Aku tidak mau cari pekara dengannya.”
“Maksudku, untuk apa kau susah payah mencari tahu hubunganku dengan Johan? Apa motifmu?” Mata Vania menyipit curiga.
Avan menggaruk-garuk kepalanya serba salah. “Eh, itu, anu. Kau tahu kan siapa Johan Baroto. Banyak perusahaan mengantri untuk mengajukan proposal padanya. Dia orang yang paling dicari para pengusaha yang membutuhkan investor. Termasuk aku. Aku sudah menunggu lama sekali hanya agar dapat menemui Johan dan mempresentasikan program kerjaku. Jadi, kupikir jika kau benar-benar menjalin hubungan istimewa dengan Johan Baroto, aku dapat meminta koneksimu.”
Vania memutar mata. “Oh, ya! Harusnya aku sudah tahu,” katanya sinis. “Sayangnya Johan sekarang sudah meninggal dan seandainya dia masih hidup pun, aku tidak tertarik untuk mencampur adukkan hubungan asmara kami dengan pekerjaan.”
“Itu karena kau sudah mendapatkan banyak dari Johan Baroto.” Avan mendengkus kesal karena merasa diremehkan. “Memangnya aku tidak tahu? Separuh sahamnya telah jadi milikmu. Gila! Kau milyuner sekarang.”
“Hentikan omong kosongmu, Avan. Aku tidak suka nada bicaramu.”
“Omong kosong? Apa ini omong kosong?” Avan melemparkan sebuah amplop surat yang sudah terbuka pada Vania.
Vania cepat meraihnya dan membacanya. Sebuah surat resmi berisi pemberitahuan untuk hadir pada pembacaan surat wasiat almarhum Johan Baroto, disertai catatan kaki bahwa kehadirannya dapat diwakilkan oleh pengacara atau siapa saja yang dia limpahkan kekuasaan.
“Sudah jelas ada namamu dalam wasiat Johan Baroto. Kalau tidak, untuk apa surat itu dikirimkan ke alamat rumahmu? Dalam waktu dekat kau mungkin bukan hanya akan menjadi milyuner!” Mata Julian berkilat-kilat semangat. Bibirnya menyunggingkan senyum tamak. “Karena kau tidak memungkinkan untuk menghadiri acara itu, aku yang akan membantumu mengurusi masalah ini.”
“Jangan mimpi, Avan. Kita masih tidak tahu apa isi surat wasiat itu. Demi Tuhan, aku sungguh tidak terpikirkan sama sekali akan saham, warisan, apa pun! Lihatlah situasi diriku!” Vania membenci obsesi Avan. “Lagi pula, aku punya pengacara yang handal untuk mengurusinya. Tolong jangan repot-repot.”
“Terserah apa katamu! Aku pergi!” Avan tiba-tiba merasa kesal. Dia lalu menggandeng tangan Aileen dan memaksanya pulang.
Vania melambaikan tangan dengan sedih kepada mereka berdua sambil terus memandangi sosok keduanya yang berjalan menjauh. Dia sempat melihat Avan memakai kembali topinya dan masker wajah sambil jalan, mengingatkan Vania akan sosok pria misterius yang berpapasan dengannya di depan kamar hotel. Mungkinkah? Tidak!
__ADS_1