
Vania dan Avan mengamati gundukan tanah yang masih segar di hadapan mereka. Kalau boleh memilih Vania lebih senang berada di dalam sel besi yang sempit dan pengap tetapi masih bisa mendengar kabar bahwa Aileen baik-baik saja, daripada sekarang saat Vania sudah bisa menghirup udara kebebasan, tetapi jasad putrinya telah terkubur di dalam tanah.
“Sayang, anak mama kamu sekarang udah tenang, ya Nak, udah enggak sakit lagi. Maafin Mama karena tidak bisa mendampingi kamu berjuang sampai akhir. Maafin Mama ya Sayang.”
Vania menaburkan bunga berwarna-warni di atas pusara Aileen, sementara Avan hanya terbungkam melihat pusara putrinya. Raut kesedihan nampak jelas di wajah Avan.
“Beberapa bulan ini aku bersamanya dan kami sangat dekat. Namun, aku nggak punya keberanian untuk bilang sama dia kalau aku papa kandungnya. Hal itulah yang aku sesali."
“Dia sudah tahu,” jawab Vania. Avan tersentak mendengar jawaban Vania.
“Iya aku sudah mengatakannya saat pertama kali kamu datang ke rumah dan memperkenalkanmu kepadanya, tapi saat itu aku bilang kamu yang akan menyampaikan langsung sama dia. Dia hanya menunggu kamu menyebutnya putrimu, cuma itu yang ia inginkan dan sudah didengar di akhir hidupnya. Semoga Aileen tenang di sana.”
Lagi-lagi Avan merutuki dirinya sendiri. Dia selalu terlambat, bahkan untuk mengatakan kepada putrinya bahwa dia adalah ayah kandung Aileen pun ia tak punya keberanian. Sama seperti dulu saat Vania datang kepadanya dengan kabar kehamilan.
Kini Avan sudah kehilangan segalanya. Vania pergi meninggalkannya, Aileen meninggal, sementara bisnisnya masih juga belum kembali normal.
***
Vania sedang berdiri di dekat jendela kamarnya. Sudah tiga bulan sejak kepergian Aileen wanita itu masih mengurung diri di dalam kamar.
Berkali-kali mamanya mengetuk pintu Vania tidak membukanya.
"Sayang, di luar ada Leon. Dia sudah berkali-kali datang. Mama nggak enak kalau harus bilang kamu masih belum mau bertemu. Keluar dan temui dia, Vania.”
__ADS_1
Akhirnya Vania pun menerima kedatangan Leon.
“Aku masih belum mau bertemu siapapun Leon. Ada apa?”
Leon memandang wajah cantik di depannya. Vania sudah lebih segar meskipun gurat kesedihan itu masih menggelayuti wajahnya. Vania mengendalikan bisnisnya dari rumah. Leon yang membantu mengurus semua urusan pekerjaan Vania. Perempuan itu seperti tenggelam dalam dunia yang ia ciptakan sendiri di kamarnya.
“Ada satu surat wasiat lagi yang harus kamu baca. Memang surat ini harus dibacakan enam bulan setelah meninggalnya Pak Johan Baroto."
Vania menoleh kepada seorang pria memakai jas berpenampilan rapi.
“Beliau ini notaris yang akan menyerahkan suratnya dan menyaksikan kalau kamu benar-benar sudah membacanya.”
“Surat wasiat apalagi? Aku sudah bilang tidak tertarik dengan semua harta peninggalan Johan Baroto, Leon. Kamu urus semuanya.”
Dengan sedikit malas Vania membuka surat wasiat dari Johan Baroto.
[“Vania Darling, Daddy yakin kamu sekarang sudah menjadi perempuan yang berbeda, wanita kuat yang punya tujuan hidup, bukan lagi perempuan yang bisa seenaknya diperlakukan semena-mena oleh laki-laki untuk mencapai tujuan mereka. Daddy ikut senang atas pencapaianmu, Sayang.
Vania, Daddy menyerahkan harta kepadamu bukan secara cuma-cuma, tetapi Daddy berpesan agar kamu mengelola semua perusahaan Daddy dengan baik, lalu kamu harus membuat yayasan yang bisa membiayai para penderita leukemia seperti Aileen putrimu. Vania kamu perempuan yang kuat, teruslah begitu meskipun tanpa Daddy. Daddy yakin kamu lebih bersinar dari matahari."]
Vania tak kuasa menahan air matanya. Kali ini bukan air mata kesedihan.Vania teringat saat mereka menikmati sunset di pantai Thailand.
“Daddy, lihat itu, sunsetnya indah sekali. Segarang-garangnya matahari, dia tetap lembut saat akan memasuki peraduan.”
__ADS_1
“Matahari tak pernah berhenti berputar menerangi semesta, kamu nanti juga harus begitu. Jangan berhenti menerangi sekitarmu.”
“Apa aku bisa, Daddy? Semua orang hanya menganggapku indah untuk dipandang, bukan untuk memberi manfaat.”
“Nanti kamu akan bersinar pada waktunya, bahkan lebih indah dari matahari itu.” Daddy tersenyum, membuat Vania tersipu malu.
Kini terjawab sudah pertanyaan di benak Vania, kenapa perempuan itu dijadikan ahli waris Johan Baroto.
“Surat wasiat itu ditulis Pak Johan saat akan menemui Anda, sebelum beliau ditemukan terbunuh di hotel,” imbuh sang Notaris.
Ternyata tujuan tersembunyi kenapa laki-laki itu menyerahkan separuh lebih hartanya kepada Vania karena jika diserahkan kepada Barli ataupun Liana dengan pesan yang sama belum tentu keduanya bisa melaksanakannya.
Saat ini Barli masih kerepotan mengurus dan mengelola perusahaan. Bahkan dia harus menjual beberapa asset yang diwariskan kepadanya.
Liana pun sama, masih banyak kekurangan. Di sinilah insting seorang Johan Baroto berperan.
Setelah membaca surat wasiat dari Johan Baroto Vania seolah mendapatkan kekuatan baru.
Kini ia tahu harus kemana harta yang diserahkan kepadanya itu harus disalurkan. Di tempat yang tepat.
Seulas senyum tersungging di bibir indah Vania. Hanya Johan Baroto sang sugar daddy yang bisa menciptakan sosok sepertinya seperti dirinya sekarang. Perempuan kuat yang tahu bagaimana cara memperjuangkan dirinya sendiri. Kali ini Vania tersenyum puas.
“Tidak akan ada laki-laki lain lagi di hatiku karena Johan Baroto telah mengambilnya. Daddy meskipun kini kamu sudah tak bersamaku lagi, tapi kebaikan hatimu akan kuteruskan untuk menerangi sekitar. Terima kasih Daddy, warisanmu ini benar-benar bisa menjadi cahaya penerang bagi Aileen-Aileen lainnya.”
__ADS_1