
Liana membeku memandangi tubuh Barli yang roboh di lantai. Darah segar mengucur dari kepalanya. “Astaga! Apa yang telah aku lakukan?” Suaranya gemetar, giginya bergemulutuk.
Revan segera bangkit dan mengecek Barli. “Jangan khawatir, dia masih hidup.” Dengan susah payah Revan mengangkat tubuh Barli yang tak sadarkan diri ke atas sofa. “Dia hanya pingsan. Kau sudah berbuat hal yang benar. Kalau kau tidak memukulnya, aku pasti mati di tangannya.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?” Liana bertanya cemas.
“Aku akan bersembunyi di suatu tempat. Kau rawatlah luka Barli dan pastikan dia tidak bicara apa pun kepada polisi. Sementara itu, aku akan memikirkan apa yang harus kita lakukan selanjutnya.”
“Tunggu! Bagaimana denganku? Aku akan masuk penjara jika Barli mengatakan semuanya.” cegah Liana.
“Aku rasa dia tidak akan melakukan hal itu. Kau adalah keluarga satu-satunya. Dia tidak akan mau kehilanganmu. Apalagi sekarang kau tengah mengandung. Barli pasti akan melindungimu dengan semua yang dia mampu. Sebaliknya, dia akan memaafkan apa yang sudah aku lakukan.”
“Revan, jangan pergi.” Liana memeluk Revan sambil menangis.
“Kau jaga bayi kita. Aku harus pergi, bye, Baby!” Revan mengecup kening Liana kemudian berbalik pergi dan menghilang dari pandangan Liana.
***
“Selamat siang, Pemirsa, hari ini akan digelar sidang pertama dari kasus pembunuhan Johan Baroto. Agenda sidang yang dijadwalkan pada pukul satu siang ini adalah pembacaan dakwaan oleh jaksa penuntut umum dan saat ini ... kita lihat mobil yang membawa terdakwa sudah memasuki halaman gedung pengadilan.”
Marlon Brando, sang Reporter memberikan isyarat kepada rekan kerjanya, Beni si Kameraman untuk mengalihkan kamera pada van hitam yang di dalamnya ada Vania, terdakwa.
Marlon beserta belasan wartawan lainnya berebut menyodorkan microfon untuk mendapatkan beberapa keterangan dari terdakwa atau polisi yang tengah mengawalnya.
“Maaf, kami mohon supaya kalian menyingkir untuk memberi jalan. Saat ini kami belum bisa memberikan keterangan apa-apa karena sidang baru akan dilaksanakan.” Seorang juru bicara dari kepolisian berkata pada kerumununan wartawan.
__ADS_1
“Ben, kau berusahalah untuk mengambil wajah tersangka. Close up!” Marlon berkata di dekat telinga Beni. “Itu, itu dia!”
Mereka melihat Vania melangkah dengan kepala tertunduk dan tangan terborgol. Wajah wanita itu terlihat pucat tanpa riasan make up sama sekali. Marlon sedikit terkejut karena dia sangat berbeda dengan foto-foto yang pernah dia lihat di media sosial. Meski demikian, tak dapat dia sangkal bahwa wanita itu memang sangat cantik. Jenis kecantikan yang sudah terbentuk sejak lahir, tanpa rekayasa. Dan berita apapun yang di dalamnya ada wanita cantik, selalu menjadi nomor satu dalam daftar pencarian di internet.
Wanita Cantik Membunuh Sugar Daddy-nya Demi Harta. Marlon menyusun kata-kata dalam kepalanya untuk dijadikannya judul berita hari ini. Orang-orang sangat menyukai jenis berita seperti ini. Sensasional! Marlon sudah menelusuri jejak digital si Pembunuh. Semua media sosial tentangnya dia ikuti, termasuk juga teman-temannya, usaha bisnisnya, bahkan kehidupan pribadinya.
Marlon tahu Vania dekat dengan beberapa nama pengusaha, bahkan banyak di antara hubungan-hubungan itu dipublikasikan sebagai hubungan istimewa. Satu nama yang menarik perhatian Marlon adalah Barli, putra pertama korban. Jadi, sebelum menjalin hubungan dengan Johan Baroto, Vania sudah pernah mengencani putranya. Sangat menarik!
Tak lama sebuah sedan mewah memasuki halaman. Marlon menepuk pundak Beni. “Ikuti aku dan tetap nyalakan kameramu.”
Beni tergopoh-gopoh berlari di belakang Marlon mengikuti sedan yang baru saja masuk. “Mobil siapa itu? Memangnya kau tahu?” tanyanya dengan napas tersenggal.
“Itu Barli, anak korban. Kita harus mendapatkan wajahnya, close up! Reaksinya akan sangat berharga.” Marlon mencegat Barli saat dia keluar dari mobil.
Kamera merekam raut wajah Barli yang sangat gusar. Tanpa menjawab dia berusaha menyingkir dari Marlon. Di belakang Barli, Liana berjalan mengekor. Marlon ganti mengarahkan mikrofonnya pada Liana. “Apa harapan Anda dalam kasus ini?”
Liana wanita bertubuh kecil dengan pandangan mata tajam dan garis wajah yang keras. Dia berkata dengan dagu yang sedikit dinaikkan angkuh, “saya harap mereka dapat menjatuhkan hukuman seberat-beratnya pada wanita itu!”
“Apa Anda yakin bahwa terdakwa adalah pembunuh sesungguhnya?” tanya Marlon di tengah-tengah langkah kaki mereka yang terburu-buru.
“Ya! Siapa lagi kalau bukan dia? Wanita itu-“
“Liana, cukup!” bentak Barli. Dia berhenti sejenak untuk mendelik pada Liana. Sorot matanya terlihat aneh, seperti menyimpan rahasia, begitulah yang dirasakan oleh Marlon.
Dengan kesal Barli menarik tangan Liana dan melanjutkan langkah untuk memasuki gedung pengadilan.
__ADS_1
Di dalam ruang sidang, Vania mengedarkan pandangan. Sebagian besar pengunjung sidang asing baginya, meski ada beberapa wajah yang dia kenali sebagai rekan bisnis dan teman-teman dekat Johan.
Sementara di pihak Vania, ada mamanya dan Avan. Avan duduk di samping mamanya. Wajahnya datar, dingin, tanpa emosi. Entah apa yang ada dalam pikiran laki-laki itu sekarang, Vania tidak dapat menebaknya. Sementara mamanya, satu-satunya orang yang seratus persen mendukungnya tampak sangat menyedihkan. Matanya sembab seperti habis menangis lama. Mama yang malang, pasti tidak pernah sekali pun bermimpi akan melihat putri kebanggaannya berdiri di dalam ruang sidang sebagai tersangka pembunuhan. Kenyataan sering kali memang sangat kejam.
Tatapan mereka berdua bertemu. Vania dan mamanya. Sang mama tersenyum lemah dan mengangguk padanya, memberi isyarat untuk tetap kuat, jangan menyerah. Vania mengangguk sedih. Sambil berjalan menuju kursi terdakwa, dia memikirkan nasib putrinya. Dadanya sesak setiap memikirkan bagaimana perasaan Aileen padanya nanti. Dia pasti kecewa, bahkan benci. Anak mana yang tidak akan membenci seorang terdakwa pembunuhan? Bagaimana nanti Aily menghadapi gunjingan dari teman-teman sekolahnya nanti.
Vania tidak dapat menahan tetesan air mata jatuh ke pipinya. Kematian Johan menghancurkan segalanya. Hidupnya juga hidup orang-orang yang dicintainya, mama dan putrinya. Vania mengkhawatirkan masa depan Aileen.
“Kuatkan dirimu, Vania. Yakin lah kau tidak bersalah dan aku akan mengeluarkanmu dari dalam penjara.” Leon yang mendampinginya di ruang sidang menatapnya lembut.
Leon. Bagi Vania dia seperti malaikat yang dikirim Tuhan padanya, bagai seorang pahlawan berkuda putih yang menolong dirinya. Leon muncul begitu saja di hadapannya dan mengulurkan tangan untuk membantunya.
Vania tahu betapa keras usaha Leon pada kasus ini. Demi berkonsentrasi pada kasusnya, Leon telah mengalihkan semua pekerjaannya pada yang lain. Leon bahkan mengunjunginya setiap hari, membawakannya makanan enak setiap jadwal makan siang. Dia tidak selalu membicarakan kasusnya. Sesekali Leon menceritakan lelucon receh yang sama sekali tidak lucu, tapi anehnya dapat membuat Vania terpingkal-pingkal mendengarnya. Singkat kata Leon menghiburnya, pelan-pelan menariknya keluar dari depresi akibat kehilangan Johan dan tuduhan pembunuhan yang di arahkan padanya.
Bersama Leon, Vania tidak lagi sempat merasakan kesepian.
“Kenapa kau begitu baik padaku, Leon?” Suatu hari saat di penjara, Vania pernah menanyakan ini pada Leon.
Leon malah tesipu dan dengan lirih dia berkata, "mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan alasanku, tapi karena kau selalu bertanya maka aku akan memberitahumu. Kau adalah cinta pertamaku, Vania dan kurasa sampai detik ini, setelah sekian lama, aku masih merasakan hal yang sama kepadamu.”
Cinta. Mungkinkah Vania dapat kembali merasakan cinta setelah kematian Johan? Cinta hanya mendatangkan mala petaka untuknya. Sedari awal, andai Vania tidak berusaha mendekati Johan, mungkin Johan masih hidup dan dia tidak akan berada di sini. Semuanya berawal dari ambisi dan keserakahannya sendiri.
Sekarang, dia sudah mendapatkan semua yang diinginkan. Harta dan jabatan yang diberikan begitu saja oleh Johan. Seluruh milik Johan telah menjadi miliknya sekarang.
Tetapi, apakah dia bahagia? Johan sudah meninggalkannya untuk selamanya. Dia sendirian sekarang, menghadapi dunia dan segala fitnah keji yang ditujukan padanya. Nasibnya berada di tangan para penegak hukum.
__ADS_1