
"Daddy! Tolong! Tolong! Aku mohon seseorang tolong aku." Vania menangis panik di sisi tubuh Johan. Kakinya lemas kehilangan tenaga. Tangannya gemetar. Dia tak tahu harus bagaimana.
Pihak hotel dengan cepat mendatangkan ambulans dan membawa Johan ke ruang gawat darurat. Vania tidak henti-hentinya menangis. Dia terus memanggil-manggil nama Johan, berharap pria itu dapat membuka mata dan tersenyum lagi padanya. Oh, ya, Tuhan, Vania rela memberikan apa saja demi melihat senyum itu lagi.
Brankar Johan didorong tergesa masuk ke unit gawat darurat. Selang-selang infus dan oksigen terpasang di tubuh Johan, sementara para perawat berseragam putih berlarian membawakan peralatan medis dan obat-obatan dalam nampan.
Vania berdiri tak berdaya menyaksikan seorang dokter tampak tegang memberi aba-aba kepada asistennya sambil terus memompa jantung Johan dengan kedua tangannya. Bagaimana ini? Apa yang sedang terjadi. Baru beberapa menit lalu mereka saling bicara. Johan tampak tampan dan dalam kondisi prima seperti biasanya. Dia hanya meninggalkannya sebentar.
“Permisi, Bu. Apakah Anda keluarganya? Saya membutuhkan Anda untuk mengisi informasi tentang pasien.” Seorang perawat dengan dingin bertanya padanya.
“Saya ...” Vania berhenti bicara untuk berpikir sejenak. Siapa kah dia untuk Johan? “Saya akan menghubungi keluarganya. Tapi silakan ajukan pertanyaan pada saya karena saya rasa saya orang terakhir yang bersama dengan Daddy, maksud saya, Johan.”
“Baik lah, bagaimana kondisi pasien sebelumnya? Apakah dia mengeluh dadanya sesak atau jantungnya berdebar? Makanan dan minuman apa yang terakhir dia minum? Apakah dia punya riwayat sakit berat atau alergi tertentu?”
“Tidak ada. Johan baik-baik saja sebelum saya tinggalkan. Dia tidak pernah mengeluh sakit. Dia sangat menjaga kesehatannya. Dia hanya minum sedikit anggur sebelum saya pergi. Saya tak tahu apa-apa tentang riwayat sakit atau alergi. Oh, betapa banyak yang saya belum ketahui tentang Johan, oh Dadddy. Saya mohon selamatkan dia.” Vania bicara dengan suara bergetar, dia menangis tersedu.
“Tolong cepat hubungi keluarganya.” Sang perawat berkata sambil menepuk-nepuk bahu Vania lembut.
Tangan Vania gemetaran menekan nomor telepon Barli. Lama dia tidak menjawab. Vania harus berkali-berkali menelponnya dan baru bisa bernafas lega setelah ada jawaban. “Kau mau apa lagi, Pengkhianat?” Suara Barli terdengar serak dan kasar.
“Barli. Jo-johan.” Vania sesegukan berusaha keras mengontrol emosinya. “Daddy di UGD.” Tangisnya meledak.
“Papa?” Barli berteriak, “Rumah sakit mana?”
Vania memandang sekeliling, mencari-cari papan nama rumah sakit tempat dia sekarang berada. Dia terlalu panik sebelumnya, hingga tak memperhatikan. “Rumah Sakit Cempaka. Rumah sakit yang paling dekat dengan hotel, kurasa. Kau tahu?”
__ADS_1
Klik! Barli memutuskan sambungan telepon tanpa bicara apa-apa lagi. Menit-menit selanjutnya adalah waktu yang paling menyiksa bagi Vania. Seumur hidupnya dia tidak pernah berdoa seserius ini untuk orang lain.
Tak lama Barli datang. Tubuhnya yang besar dan tergesa tampak mencolok di ruangan itu. Vania segera saja melihatnya dan memanggilnya. “Barli!”
Barli mencekal lengan Vania. “Di mana Papi? Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Papi aku tidak akan memaafkanmu.” Matanya melotot marah.
Vania sudah tidak sanggup lagi bicara. Kejadian ini membuatnya sangat terpukul. Tangannya menunjuk ke sebuah ruangan tertutup tempat Johan sedang dirawat.
Saat Barli hendak masuk ke dalam, seorang perawat mencegahnya. “Maaf Anda siapa?”
“Saya anaknya. Bagaimana keadaan papi saya?”
“Tolong, ikut saya ke meja resepsionis. Sebentar lagi dokter akan bicara langsung dengan Anda.”
“Saya, Dok!” Barli mendekat. “Saya anaknya.” Vania setengah berlari berdiri di belakang Barli. Jantungnya berdebar keras menanti penjelasan dari dokter itu.
“Maafkan kami. Kami tidak dapat menyelamatkan nyawa Pak Johan.” Sang dokter berkata dengan nada prihatin.
Vania menutupi mulutnya terkejut. Dia berjalan tertatih menuju kursi pengunjung. Tubuhnya merosot di sana, kepalanya menunduk. Vania menahan tangannya sendiri tetap di depan mulutnya agar jerit tangisnya tidak keluar. Dia luluh lantak. Rasanya seperti dilempar dari atas gedung berlantai.
Lama Barli tercengang sebelum akhirnya dia buka suara, “kenapa? Bagaimana? Papi sangat sehat, dia tidak punya riwayat sakit apa pun. Lalu kenapa Papi bisa?” Barli tidak kuasa melanjutkan kata-katanya. “Biarkan saya melihat Papi.”
“Ya, silakan! Kami memberi Anda waktu untuk bersama dengan mendiang. Setelah Anda tenang, kita akan bicara lagi. Ada banyak yang harus kami sampaikan pada Anda selaku keluarganya.” Sang dokter segera berlalu setelah berkata.
Barli menyeret kakinya lemah ke dalam ruangan tempat ayahnya berbaring. Tubuh papinya berbaring kaku di atas brankar. Perawat sudah melepaskan semua selang dan alat medis dari tubuh Johan. Barli tak dapat percaya sosok dengan mata terpejam itu sudah benar-benar tiada sekarang. Ayahnya pria tua yang penuh vitalitas. Dia tangguh. Tak terkalahkan. Ah, pria itu pasti sedang tidur saja. Sebentar lagi dia juga akan membuka matanya dan mengomeli Barli seperti biasa. Setetes air mata jatuh di pipi Barli. Dia menyadari itu hanya khayalan. Papinya benar-benar sudah tiada.
__ADS_1
“Daddy ...” Vania muncul dari balik pintu. Dia ingin menghambur memeluk tubuh kekasihnya untuk yang terakhir kali. Tapi Barli menghentikannya.
“Jangan mendekat! Kau tidak punya hak, Vania. Pergi kau!” bentak Barli.
“Aku mohon, Barli. Izinkan aku melihatnya sebentar saja.” Vania terisak.
“Kau wanita murahan! Enyah kau sebelum aku meminta satpam untuk menyeretmu keluar.”
“Please, Barli.” Vania kembali memohon namun tiba-tiba seseorang dari belakang menarik tangannya kasar. Vania menoleh. Tatapannya bertumbuk pada Liana yang memandanganya penuh kebencian.
Liana menjambak rambut Vania lalu menampar wajahnya. “Kau pembunuh!”
Barli terkejut dan segera berlari untuk mencegah Liana membuat keributan lebih jauh. “Liana, tahan emosimu! Apa yang sedang kau katakan barusan?”
“Barli, kau tak perlu lagi membela wanita ini. Aku yakin kalau dia berhubungan dengan kematian Papa. Aku melihat sendiri Papi dalam keadaan segar bugar sebelum bertemu dengannya. Janggal kalau tiba-tiba saja Papi meninggal. Semua pasti sudah direncanakannya.” Liana meraung dengan kedua tangan yang masih dipegangi Barli.
“Tidak! Aku tidak mungkin melakukan itu! Aku mencintai Daddy. Aku sangat mencintainya.” Liana tersedu di lantai.
Seorang sekuriti datang tergopoh-gopoh. “Maaf, ini rumah sakit. Tolong jangan membuat keributan.”
“Pak, tolong usir saja wanita itu keluar. Dia bukan siapa-siapa. Dia tidak ada hubungan apa pun dengan pasien di sini.” Liana berkata ketus.
Vania menghapus air matanya dan berdiri. “Baik! Aku akan pergi. Aku tak tahu apa yang sedang terjadi dan kenapa Daddy bisa meninggal. Tapi aku tidak akan tinggal diam. Aku tetap akan mencari tahu.”
“Kita lihat saja, nanti. Aku harap kau jangan melarikan diri saat polisi datang menangkapmu nanti,” ancam Liana.
__ADS_1