Warisan Sugar Daddy

Warisan Sugar Daddy
Pertolongan Pertama


__ADS_3

Hendrik kembali datang menginterogasi Vania. Ada sebuah lubang besar dalam kasus Vania yang tidak dapat dia pecahkan. “Coba ingat lagi semuanya. Pelan-pelan. Mungkin ada detail yang Anda kira tidak penting hingga tanpa sadar Anda mengabaikannya. Apa yang Anda lihat atau Anda temukan saat kembali ke kamar?”


Vania diam sambil berpikir keras. “Pintu terbuka, semua makanan tumpah ke lantai. Saya tak tahu kenapa bisa sekacau itu. Apa Daddy sendiri yang tidak sengaja menarik jatuh semuanya atau ...”


“Teruskan. Ingat-ingat lagi. Apakah ada yang mencurigakan? Seseorang atau sesuatu yang tidak biasa? Apa saja. Katakan semuanya kepadaku.” Hendrik terus mengorek keterangan dari Vania.


Semalaman dia memikirkan motif Vania membunuh Johan dan mendapatkan fakta kalau bisa saja tersangkanya bukan hanya Vania. Dia terbiasa menginterogasi pembunuh, penipu, dan penjahat mana pun. Nalurinya sebagai penyidik telah terasah bertahun-tahun. Dia dapat mencium kebohongan dari orang-orang yang pernah diinterogasinya, tapi Vania berbeda.


“Apa mungkin ada seseorang yang masuk ke kamar itu sebelum saya datang?” Vania terdengar ragu-ragu. "Tapi Johan tidak mungkin membukakan pintu untuk sembarang orang. Tidak ada yang tahu kami ada di sana selain Barli dan saya tak tahu dari mana dia mendapatkan informasi tentang itu.”


“Apa pendapat Anda tentang Barli? Apa ada orang lain lagi yang tidak menyukai hubungan Anda dengan korban?"


Vania menunduk memainkan jari-jarinya. “Barli membenci saya. Dia tidak suka saya menjalin hubungan dengan ayahnya. Ya, wajar saja menurut saya. Siapa yang suka dengan kenyataan bahwa ayahnya mengencani mantan kekasihnya?"


“Dan Anda yang menghubunginya saat di rumah sakit, bukan?”


“Iya, tentu saja. Pihak rumah sakit ingin saya menghubungi pihak keluarga. Barli adalah orang pertama yang terlintas dalam pikiran saya. Dia terkejut dan sangat terpukul. Liana datang sesudahnya dan dia mengusir saya. Lalu entah bagaimana, polisi datang dan wartawan tiba-tiba saja sudah berkumpul di depan rumah sakit dan memburu saya dengan pertanyaan.”


“Liana adik Barli. Dia yang pertama menghubungi polisi.” Hendrik mengatakan kalimat itu lebih untuk dirinya sendiri.


“Ya. Selain Barli, Liana juga orang yang juga tidak menyukai hubungan saya dengan Johan. Setelah saya pikir-pikir, kebenciannya pada saya pasti lah sangat besar karena hal pertama yang dia lakukan setibanya di rumah sakit adalah menyeret saya keluar bukannya melihat kondisi ayahnya.”

__ADS_1


“Pukul berapa Liana tiba di rumah sakit?”


“Sekitar pukul sebelas tiga puluh. Ya, saya ingat karena saat itu dokter mengumumkan kematian Johan pada pukul sebelas tepat, dan Liana tiba agak lama setelahnya.”


Hendrik mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya, kebiasan lamanya ketika tengah menyadari sesuatu. Daftar tersangka dalam catatannya bertambah lagi. Seseorang yang tidak terduga, tapi siapa tahu?


“Ibu Vania, saya tahu betapa beratnya masalah ini untuk Anda.”


Hendrik menatap tajam ke arah Vania. Dalam hati Hendrik mengakui bahwa Vania wanita yang sangat cantik. Tidak heran kalau Barli dan Johan bersaing memperebutkan wanita ini.


“Tabahkan diri Anda! Anda adalah tersangka utama kasus ini. Jadi, berusahalah untuk terus mengingat setiap detail kejadian malam itu karena bisa jadi ada hal-hal kecil yang dapat membebaskan Anda dari semua tuduhan.”


“Saya bukan pembunuhnya. Apa yang harus saya lakukan? Saya sama sekali tidak tahu apa pun tentang pembunuhan itu. Kenapa harus saya yang menjadi tersangka? Ini gila! Saya sangat mencintai Johan. Kami ada di kamar itu untuk merayakan kebersamaan kami. Kami saling mencintai. Kami sangat bahagia. Kenapa saya harus membunuhnya? Oh, tidak, Pak Polisi, saya tidak mungkin menyakiti Johan.”


“Saya hanya meninggalkan Johan sebentar untuk turun ke lobi. Dia masih sehat-sehat saja. Tapi begitu saya kembali, pintunya sudah terbuka dan dia terkapar di sana. Tolong bantu saya. Apakah kalian tidak menemukan bukti lain di kamar itu?"


Hendrik menggeleng. “Tidak ada. Tidak ada saksi, tidak ada sidik jari, tidak ada bukti apa pun. Bahkan rekaman CCTV pun tak ada. Satu-satunya yang tahu apakah ada orang lain di sana setelah Anda pergi adalah Johan. Dan sayangnya, dia tidak akan bisa mengatakannya pada kita.”


Vania termenung sesaat sebelum akhirnya berusaha memanggil kembali semua ingatannya pada malam itu. Setelah dia menemui Barli, dia sangat gelisah hingga tak sempat memperhatikan apa pu atau siapa pun, termasuk orang-orang yang ada di depannya. Sampai-sampai, dia nyaris menabrak seseorang. Astaga! Tidak mungkin! Mata Vania membesar. “Saya rasa, saya sempat melihat pembunuh aslinya.”


“Apa?” Hendrik mengubah posisi duduknya.

__ADS_1


“Saat saya berjalan kembali ke kamar. Di lorong menuju kamar, seseorang dengan masker di wajahnya datang dari arah yang berlawanan, padahal kamar kami sudah berada paling ujung, tak ada kamar lainnya lagi. Jadi, pasti dia datang dari kamar kami. Firasat saya sudah tak enak saat berpapasan dengannya. Tidak salah lagi! Itu pasti dia! Pembunuhnya.” Vania menegang.


***


Hendrik menawarinya pengacara untuk membelanya nanti di pengadilan. Vania tentu saja merasa lega dengan tawaran itu, tapi dia merasa masih punya waktu untuk mempertimbangkan pengacara mana yang benar-benar punya kemampuan untuk membantunya keluar dari jeratan hukum.


Seperti yang petugas wanita itu pernah katakan padanya, bahwa kasusnya ini tidak main-main. Statusnya adalah sebagai tersangka pembunuhan berencana.


Dia tahu air mata tidak akan membantunya. Tidak akan membawanya ke mana-mana. Oleh karena itu Vania memutar otaknya, mencari-cari nama seorang pengacara sambil terus berdoa dan berharap agar Tuhan berbaik hati mengirimkan seorang penyelamat untuknya. Doanya terjawab.


Pada jam kunjungan berikutnya, mereka memanggil namanya, “Ibu Vania, ada seseorang yang ingin bertemu.”


Petugas datang membuka kunci sel penjara dan menggiringnya untuk berpindah ke ruangan lain. Vania bertanya-tanya, mungkinkah Avan akhirnya datang? Apakah ibunya yang telah meminta Avan untuk datang mengunjunginya?


Yang datang bukan Avan, melainkan orang lain. “Kau siapa?” tanya Vania kepada seorang pria yang mengenakan setelan pakaian resmi.


“Aku sudah menduga kau tidak akan mengingatku, Vania. Ini aku, Leon, teman sekelasmu di sekolah.”


Leon? Vania menutupi mulutnya yang terbuka karena terkejut. Dia mengingatnya. Seorang laki-laki serius, berkacamata, yang kerap mencuri pandang dengannya di kelas. Vania tidak terlalu menaruh perhatian padanya.


“Leon si Gendut?” tanyanya tak percaya. Leon yang dulu bertubuh bulat, pipinya gembil dan selalu terlihat merah seperti tomat, terutama ketika dia tengah berbicara padanya. Betapa waktu telah berbuat banyak pada pemuda ini, dengan cara yang sangat baik, karena Leon yang sekarang tidak lagi memakai kacamata dan terlihat sangat tampan. Lemak-lemak di tubuhnya entah hilang ke mana.

__ADS_1


Leon tersenyum dan mengangguk. “Ya, ini aku Leon dan aku ingin menawarkan diri menjadi pengacaramu.”


__ADS_2