
“Liana, apa maksudmu?” Barli bertanya pada saudaranya setelah Vania pergi.
“Aku baru saja bicara dengan dokter. Kematian Papi sangat mencurigakan. Aku juga sudah menghubungi pihak hotel untuk tidak mengutak-atik kamar yang disewa Papi sampai polisi datang.” Liana berkata pada Barli.
“Po-polisi? Kau sudah melapor pada polisi?”
“Tentu saja. Di mana akalmu, Barli? Apa kau bisa menerima begitu saja kematian Papi yang mendadak? Wanita itu pasti lah yang sudah membunuhnya!”
Barli terperenyak. Dia mengenal Vania. Gadis itu memang sanggup melakukan apa pun demi harta dan jabatan. Tapi untuk membunuh? Vania bahkan tidak sanggup menepuk seekor lalat! “Vania, dia bukan pembunuh. Kenapa dia harus susah payah membunuh Papi? Toh dia sudah dapat mengambil hati Papi dan menjadikan semua miliknya.”
“Kalau begitu menurutmu siapa yang sudah membunuh Papi?” Liana menatap Barli tajam.
“Apa kau yakin Papi dibunuh?” tanya Barli bimbang. Persoalan ini terlalu rumit. Semua di luar akal sehatnya. Papi mungkin punya banyak musuh, tapi siapa kah yang sampai tega menghilangkan nyawa Papi? Barli berharap ayahnya hanya terkena serangan jantung karena terlalu bersemangat menghadapi kekasihnya yang berusia separuh usianya sendiri. Vania!
Liana mengehela napas. Dia kesal Barli bisa begitu naifnya. “Polisi akan menyelidiki kasus ini. Jenazah Papi akan diotopsi dan begitu hasilnya keluar, kita lihat nanti. Perasaanku mengatakan Papi meninggal karena dibunuh dan Vania adalah pelakunya. Dia orang terakhir yang bersama Papi.”
Setelah berkata demikian, Liana segera sibuk menghubungi pengacaranya. Tak lama beberapa petugas kepolisian datang, diikuti tatapan penasaran para pengunjung rumah sakit. Selang beberapa saat, malam itu juga, ganti para wartawan menyerbu bagai semut mengerubungi gula. Mereka dengan sabar menanti di pelataran unit gawat darurat, menanyai siapa saja yang bisa mereka jumpai, sambil menunggu seseorang yang lebih kompeten untuk memberikan pernyataan.
“Selamat malam Pemirsa. Johan Baroto, seorang pengusaha terkemuka dan salah satu orang terkaya di Indonesia, baru saja ditemukan tewas di sebuah kamar hotel. Kami belum dapat mengkonfirmasi mengenai penyebab kematian korban. Saat ini kami masih menunggu pernyataan resmi dari pihak terkait. Saya, Marlon Brando melaporkan dari rumah sakit.” Seorang jurnalis berbicara dengan mikrofon di depan kamera.
__ADS_1
“Ini akan menjadi berita nasional, Bro!” sahut Beni si kameraman setelah mematikan kamera. Dia tersenyum lebar, merasa cukup puas dengan siaran langsung mereka yang singkat.
“Pastinya! Aku sempat menanyai beberapa orang di hotel. Kau tahu dengan siapa Johan chek in?” Marlon bersiul panjang sebelum menjawab pertanyaannya sendiri, “cewek seksi seusia anaknya sendiri!”
“Kita harus mencari tahu namanya. Apa kau pikir teman wanitanya masih di dalam?” Beni celingak-celinguk berusaha mengintip pintu kaca ruang UGD.
“Kau lihat tidak, wanita cantik yang pakai rok mini? Tidak salah lagi, pasti dia orangnya. Orang terakhir yang bersama korban.” Marlon menunjuk ke arah Vania.
“Sst, dia keluar, dia keluar!” Beni menyodok pelan perut rekannya dan segera mengangkat kembali kameranya sementara Marlon bergegas ambil posisi bersiap menghadang Vania.
Baru selangkah Vania keluar dari ruang UGD, lampu blitz kamera menyala menyambutnya. Marlon yang berada tepat di depannya, menyerangnya dengan pertanyaan sambil menodongkan mikrofon. “Bisa sebutkan nama Anda, Nona? Apa hubungan Anda dengan Johan Baroto? Tolong ceritakan pada kami.”
“Vania, naik!” sahut sebuah suara dari dalam BMW yang berhenti di dekatnya.
“Avan!” Vania terkejut tak menyangka Avan muncul sebagai penyelamatnya. Dari mana dia tahu dirinya ada di sini? Apakah kebetulan?
“Ayo, cepat!” Avan berteriak.
Tanpa menunggu diperintah dua kali, Vania membuka pintu mobil dan bergegas masuk. Avan langsung tancap gas sambil melirik ke kaca spion mobil, memperhatikan raut-raut lelah dan kecewa para pemburu berita.
__ADS_1
“Thanks, Avan. Tapi dari mana kau tahu aku ada di sini?” Vania bertanya.
“Kau tahu kita hidup di era apa, kan? Berita kematian Johan viral di mana-mana. Mereka menayangkan siaran langsung dan aku langsung dapat menduga kau akan berada di sini.” Julian sengaja menyembunyikan fakta bahwa sebelumnya dia telah mengikuti Vania diam-diam sejak Vania keluar dari rumah dan menuju hotel. Dia juga menyaksikan pertengkaran antara Barli dan Vania di lobby. “Kau tidak apa-apa, Beb?” Avan menyentuh lembut pipi Vania.
Vania menarik lembaran tissue yang tersedia di sana, membersihkan sisa-sisa air mata, namun sia-sia saja karena akhirnya dia kembali menangis. “Daddy-ku, Johan, meninggal! Ini seperti mimpi buruk. Aku masih tidak bisa mempercayainya.”
Avan menghela napas panjang. Dia tidak tahu bagaimana cara menghibur Vania. Wanita itu benar-benar terpuruk. Apa Vania serius menjalin cinta dengan Johan? “Apa yang sebenarnya sedang terjadi Vania? Apa ini bagian dari rencanamu?”
Vania menghentikan sedu sedannya dan ganti melototi Avan. “Kau juga, Julian? Kau juga menuduhku? Teganya kau! Kau tahu siapa aku. Aku cinta Johan. Dia kekasihku!”
“Berapa banyak pria yang sudah kau sebut kekasihmu, heh? Cinta katamu? Justru karena aku mengenalmu, makanya aku mengajukan pertanyaan itu. Orang tidak dapat berubah secepat itu. Kau mendekati Johan karena perusahaan, bukan?”
“Astaga! Kau membuatku muak, Avan! Kau begitu picik. Kau pikir aku tidak dapat mencintai orang lain selain kau? Hentikan mobilnya, sekarang!” Vania marah dan kecewa. Dia merasa sangat terpukul, tersinggung, dan luar biasa sedih. Vania merasa begitu sendirian, tidak ada yang mendukungnya sama sekali.
“Tenangkan dirimu Vania! Sekarang sudah tengah malam, kau mau apa? Aku akan menurunkanmu di rumah.”
Vania memandang keluar jendela mobil, merasakan dunianya perlahan hancur. Tanpa Johan, dia mulai mempertanyakan arti hidupnya selama ini.
Sementara itu polisi telah mengamankan semua barang bukti yang ada di hotel. Mereka mengambil sampel semua makanan yang ada termasuk botol anggur yang dibawa Vania berikut gelasnya. Atas izin dari pihak keluarga yang melaporkan kematian Johan, mereka pun memindahkan jenazah Johan untuk diotopsi.
__ADS_1
Beberapa hari kemudian laporan otopsi resmi dikeluarkan dan sudah dipastikan bahwa ada jejak racun sianida dalam tubuh Johan. Racun yang sama juga ditemukan dalam sisa anggur di dalam botol yang Vania bawa.