Warisan Sugar Daddy

Warisan Sugar Daddy
Sisi Gelap Revan


__ADS_3

Membuat janji temu dengan Barliana  ternyata jauh lebih sulit daripada mencari sarang mafia. Setidaknya itulah yang dikeluhkan Hendrik seraya menanti dengan sabar di sebuah ruangan di salah satu gedung perkantoran tempat Liana bekerja.


Dia sudah mengosongkan cangkir kopi kedua sampai akhirnya melihat wanita itu melangkah ke arahnya, diikuti oleh setengah lusin orang berwajah kaku yang kemungkinan adalah para asisten, sekretaris,dan pengawal.


Liana seorang wanita bertubuh mungil, tapi langkah-langkahnya tegap  dan pasti. Sorot matanya penuh percaya diri, hidungnya tinggi, bibirnya terlihat seperti seseorang yang kerap menggerutu dan tidak pernah puas. Hendrik menebak wanita ini tidak akan mudah diajak bicara.


“Selamat sore Pak Hendrik.”


Liana mengulurkan tangan untuk bersalaman yang segera disambut Hendrik. Setelah mengambil posisi duduk yang nyaman di hadapan Hendrik, dia bertanya, “bagaimana perkembangan kasusnya? Saya harap bisa segera maju persidangan dan wanita itu dijatuhi hukuman seberat-beratnya. Dia wanita kejam yang tak punya perasaan.”


“Kami masih mengumpulkan bukti-bukti dan keterangan saksi,” jawab Hendrik.


“Saya datang untuk meminta akses terhadap informasi finansial Anda dan suami Anda. Kepemilikan perusahaan, saham, semuanya. Saya harap Anda mau membantu. Saya juga sudah meminta hal yang sama kepada saudara Barli.”


Liana mendesah malas, “apa itu perlu?”


“Sangat perlu. Saya ingin memastikan sesuatu. Setelah kematian Bapak Johan, siapa yang mengambil alih semua tanggung jawab terhadap perusahaan?”


“Sementara ini semuanya sudah dipegang oleh sekretaris perusahaan. Mereka melaporkan hasilnya pada saya dan Barli. Setidaknya akan tetap seperti itu sampai pengacara membacakan surat waris yang sudah Papa tulis.” Liana berdiri dan bersiap pergi dengan tak sabar.


“Berkas-berkas yang Anda minta akan saya suruh asisten saya mempersiapkannya.”


Dia lalu memberikan isyarat pada sang asisten, seorang gadis muda yang berdiri tak jauh darinya.


“Baiklah, saya sangat berterimakasih atas kerja sama Anda.” Hendrik ikut berdiri.


“Saya akan mengundang Anda makan malam kapan-kapan. Tetapi hari ini, saya harus permisi. Oh, ya selanjutnya Anda bisa menghubungi pengacara saya saja. Terima kasih.” Liana mengakhiri percakapan lalu berbalik pergi.


Hendrik mengawasi kepergian Liana sambil menghela napas panjang. Dia lalu melirik ke sang asisten yang sengaja tinggal untuk mengurusi permintaannya tadi. “Silakan Pak, ikuti saya ke dalam kantor,” kata gadis itu.


Di dalam mobil, Liana menelpon Barli. “Apa saja yang polisi tanyakan padamu?” tanyanya begitu Barli menjawab.


“Kita harus bertemu, Liana. Aku bicara sambil makan malam di tempat biasa, ok?”

__ADS_1


“Ok.” Liana memutuskan sambungan.


Beberapa jam kemudian di sebuah ruangan eksklusif salah satu restoran mewah, Barli mengangsurkan sebundel berkas pada Liana. “Baca ini!”


Liana membuka lembaran-lembaran berkas yang berupa portofolio perusahaan-perusahaan Johan. Matanya membelalak. “Apa-apaan ini?”


“Ya! Wanita sialan itu mendapatkan semuanya!” Barli mengepalkan tangannya menahan kesal.


“Apa kau juga memberi berkas yang sama pada polisi?”


“Tentu saja. Mau bagaimana lagi?”


“Shit! Aku tak menyangka Papi sungguh setega ini pada kita. Kupikir Papi hanya memberikan salah satu perusahaannya pada Vania. Tapi ini sungguh-sungguh gila! Separuh saham milik Papi telah dialihkan pada wanita penjilat itu!”


Liana benar-benar murka. Wajahnya merah padam, dia hampir saja membanting gelasnya ke lantai.


“Aku juga sama tidak senangnya denganmu. Setidaknya sekarang dia berada di penjara. Kuharap dia selamanya membusuk di sana!”


Menjelang tengah malam Liana pulang ke rumahnya dalam keadaan mabuk. Tubuhnya limbung dan rebah di sofa. Sayup-sayup dia mendengar erangan dari dalam kamar. Liana bangkit kembali lalu terhuyung-huyung melangkah mendekati kamar dan membuka pintunya. Dia melihatnya. Revan bersama gadis yang tidak dia kenal bergumul di atas tempat tidur.


Liana tertawa terbahak-bahak seperti orang hilang akal. Revan menyuruh gadis selingkuhannya pergi dan menatap Liana heran. “Kenapa kau?”


Liana melempar vas bunga yang ada di meja ke arah Revan. “Kenapa tanyamu?” Liana berteriak. Si gadis pasangan selingkuh Revan tergopoh-gopoh mengambili pakaian-pakaiannya yang berserakan di lantai lalu pergi menyelamatkan diri.


Revan memakai celananya lalu berjalan mendekati Liana. “Kau mabuk! Kita bicara besok pagi.”


“Aku lelah Revan! Tidak bisa kah kau menghargaiku sedikit? Aku tidak peduli gadis mana saja yang sudah kau tiduri, tapi jangan di rumah kita. Ya, Tuhan, itu ranjangku! Ranjang kita!” Liana kembali berteriak-teriak.


Revan menggamit lengan Liana kasar. “Dengarkan aku, Liana. Tak ada siapa pun yang bisa mengatur hidupku. Tidak juga kau!”


Liana menyentakkan tangan Revan. “Kau tahu apa? Selagi kau senang-senang dengan para wanita, dia menghancurkan hidup kita!”


“Dia? Vania? Bukankah hidupnya sendiri yang kini hancur?”

__ADS_1


“Kita sudah kalah dari awal, Revan. Kalah!”


“Apa maksudmu? Bicara yang jelas!” Revan mendelik.


“Papi sudah mengalihkan separuh sahamnya pada Vania. Wanita itu kaya raya sekarang!” Tubuh Liana merosot ke lantai. Dia menangis tersedu-sedu.


“Apa?” Revan melempar sebuah gelas hingga pecah berkeping-keping ke lantai.


“Aku akan membunuh wanita itu!” Liana bergumam.


“Tenang saja, Liana. Surat wasiat Papi kan masih belum dibacakan. Kita masih punya harapan untuk mewarisi aset-aset berharga milik Papi lainnya. Dan untuk wanita itu, kita akan memastikan dia untuk selamanya berada dalam penjara. Aku akan memikirkan cara lain supaya uang kita kembali.”


Revan meremas tangan Liana. Dia membutuhkan uang dalam jumlah besar secepatnya dan bagaimana pun caranya, pasti akan dia dapatkan.


Percakapan mereka terhenti oleh suara ketukan keras di pintu. “Apa kau menanti tamu? Apa kau mengundang gadis lain untuk berpesta di sini?”


Liana memandang Revan dengan sorot mata penuh curiga.


Revan menggeleng. “Aku tidak mengundang siapa-siapa.” Dia memandang ke luar pintu dengan gelisah. Nalurinya mengatakan tamunya malam ini, bukan lah seseorang yang akan memberinya kabar baik.


Ketukan di pintu tiba-tiba berubah menjadi gedoran keras, begitu kerasnya hingga dinding seakan bergetar. Revan cepat-cepat membuka pintu. Saat mengetahui siapa yang telah datang, dia mundur dengan wajah pucat. Ketakutannya terbukti.


Lima pria berbadan besar, bertampang sangar, merangsek masuk. Seketika ruang tamunya yang luas menjadi terasa sempit dengan kehadiran orang-orang itu.


“Kapan kau bayar hutang-hutangmu, Revan?” tanya seorang pria dengan codet membelah ujung bibirnya. Dia kemudian melangkah santai untuk mengambil sebuah stik golf yang diletakkan di dekat pintu.


Liana memandang ngeri pada mereka semua lalu bergegas bersembunyi di balik punggung suaminya. “Hu-hutang apa? Yang mana?” tanyanya gugup.


Salah satu dari mereka memukulkan stik golf ke koleksi keramik Liana yang dipajang apik di lemari kaca. Berbagai cangkir set dan piring-piring porselen mewah berhamburan pecah. Liana menjerit ketakutan.


“Jangan paksa aku mengayunkan stik ini ke kepalamu! Aku mau uangku sekarang!” Si Codet menatap lurus ke arah Revan dengan pandangan mengancam.


 

__ADS_1


__ADS_2