
Revan berkata dengan suara gemetar ketakutan, “tolong beri saya waktu. Saya akan menyediakan uangnya!”
Prang! Si Pria Bercodet kembali memukul sebuah guci pajangan yang ada di dekatnya dengan stik golf. Liana menjerit lagi. Pria itu kemudian melirik kepada sisa orang lainnya yang adalah anak buahnya. Dengan sekali anggukan dia memberi isyarat untuk menyerang Revan.
Empat pria lainnya di belakang, menarik kasar tangan Revan. Tanpa peringatan, bogem mentah mereka layangkan ke wajah Revan. Pria malang itu tersungkur mengaduh, darah segar mengucur dari dalam mulutnya. Penderitaannya belum berakhir. Orang-orang kasar berbadan besar itu bertubi-tubi menyarangkan pukulan dan tendangan ke tubuh Revan tanpa ampun. Sepuluh menit bagai seratus tahun yang menyakitkan bagi Revan. Dia tak kuasa melawan mereka. Liana hanya bisa menjerit dan menangis melihat suaminya dikeroyok tanpa daya.
“Cukup! Belum saatnya dia mati. Kita akan melepaskannya hari ini.” Si Pria Bercodet melangkah mendekati Revan. Dia berjongkok untuk menatap Revan dengan pandangan menghina. “Waktumu sampai minggu depan. Kami akan kembali lagi di hari dan jam yang sama untuk mengambil uangnya. Jangan coba-coba kabur! Kau tahu kami ada di mana-mana mengawasi setiap gerak-gerikmu!”
Selesai merusak beberapa perabot lagi, mereka berlalu pergi, meninggalkan Revan yang babak belur di lantai dan Liana yang menangis histeris.
“Revan ...” Liana merangkak mendekati Revan. “Bagaimana ini semua bisa terjadi? Apa yang terjadi? Siapa orang-orang itu? Apa kita harus lapor polisi?” tanyanya panik diselingi isak tangis.
Revan mendelik sambil mencekal tangan Liana. “Kau bodoh! Apa kau mau mereka membunuh kita? Jangan sampai polisi tahu. Kau tidak tahu siapa mereka.” Revan mengernyit memegangi perutnya yang sakit. Dia meludahkan darah.
“Revan!” Liana membantunya berdiri, tampak sangat khawatir melihat kondisi Revan. “Aku akan memanggil dokter.”
“Tidak perlu Liana! Aku tidak butuh dokter. Yang aku butuhkan adalah uang! Uang yang banyak!”
“Berapa yang kau butuhkan, Sayang?” Liana menatap Revan dengan cemas. Mempertimbangkan kerusakan yang telah dilakukan oleh orang-orang itu dan sikap mereka yang keji, Liana dapat menebak kalau jumlahnya pastilah tidak sedikit.
“Lima Milyar.” Revan berkata lirih.
“Apa?” Liana menutup mulut dengan tangannya. Angka yang disebutkan Revan membuatnya syok. Uang sebanyak itu cukup untuk membangun sebuah usaha baru lagi. Tapi apa yang sudah dilakukan Revan sampai dia membutuhkan uang itu?
__ADS_1
“Liana, Sayangku, tolong bantu aku, please? Aku belum mau mati, Liana,” Revan bersimpuh dan memohon di pangkuan Liana.
“A-apa yang bisa aku lakukan? Da-dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu?” Liana tergagap.
“Ayahmu, dia pasti meninggalkan warisan yang cukup besar untukmu bukan? Saham, perusahaan, kau bisa menjualnya sedikit. Ku mohon, waktunya hanya tinggal sebentar lagi.”
“Tapi- perusahaan yang sedang kukelola juga sedang dalam masa krisis. Kami pun punya tunggakan hutang yang harus kami bayarkan. Hampir semua aset berharga sudah kami jadikan jaminan bank.” Liana berkata gamang.
“Putar otakmu Liana, aku yakin kau bisa menemukan cara untuk kita.” Revan meremas bahu Liana.
Liana mendesah panjang. Kepalanya berdenyut. Dia sudah melakukan segalanya yang dia mampu. Segalanya! Bahkan hal-hal yang tadinya dia kira tak mungkin dapat dia lakukan, sudah dia lakukan. Demi Revan?
“Surat wasit Papi akan dibacakan lusa,” ujar Liana, “kita masih punya waktu, Revan. Seperti katamu tadi, aku akan menjual sebagian dari harta warisan Papi. Lima M memang besar, tapi bukannya tak mungkin kita dapatkan.”
“Ya, lusa. Lusa masalah kita akan dapat diselesaikan. Aku percaya padamu, Liana. Aku mencintaimu.” Revan meraih Liana lalu mencium bibirnya. “Ouch! Orang-orang sialan itu melukai bibirku. Oh, Beb, padahal aku ingin mengecup bibir indahmu.”
***
Di kantor polisi Hendrik mendapat kejutan saat memeriksa laporan keuangan perusahaan keluarga Johan. Angka-angka yang terpampang di depannya tampak ganjil. Apa ini? Pengalihan saham pada Vania? Defisit di perusahaan Liana?
Jelas-jelas Vania mendapatkan keuntungan paling banyak, jadi apa yang membuatnya membunuh Johan? Masalah cinta? Pengkhianatan? Dendam? Tidak mungkin. Johan dan Vania baru saja memulai hubungan cinta yang serius di antara mereka berdua, meski usia mereka terpaut jauh bagai anak dan orang tua.
Apakah motifnya uang? Tapi bukankah Vania sudah mendapatkan banyak dari Johan. Jabatan, bahkan saham. Tidak masuk akal jika dia harus membunuhnya sekarang. Mungkinkah Vania dijebak? Ah, andai dia dapat menemukan pegawai sekuriti yang menghilang, dia mungkin dapat menghubungkan keruwetan ini.
__ADS_1
Hendrik berpikir-pikir lagi. Vania, siapa yang akan membencinya? Dengan gaya hidupnya saat ini, tak heran jika ada saja orang yang akan menaruh dendam padanya. Hendrik sudah membuat daftar nama para pria yang pernah menjadi kekasih Vania. Selain Johan, ada dua nama lain yang menarik perhatiannya. Avan dan Barli!
“Arman, tentang Avan ... informasi apa saja yang berhasil kau dapatkan dari orang itu?” Hendrik berpaling pada rekan kerjanya, Arman.
Arman memutar-mutar kursinya lalu berkata, “kisah cinta tersangka kita benar-benar seperti sebuah novel. Kau tak akan percaya yang akan aku katakan. Avan adalah ayah biologis dari putri Vania, dan mereka tidak pernah menikah sebelumnya. Satu lagi, Avan juga rival bisnis Barli.”
“Mereka bertiga saling mengenal?” Hendrik mengerutkan dahi.
“Ya, selagi kau sibuk mencari informasi dari keluarga Johan, aku sudah mendatangi Avan seperti yang kau suruh. Laki-laki itu, Avan, maksudku, dia ambisius dan tidak menyukai Barli. Sangat kelihatan dari caranya membicarakan Barli. Avan memiliki dendam pada Barli karena dia menganggap Barli lah yang telah menghancurkan usahanya dulu.”
“Sangat menarik. Apa tangapannya dengan hubungan Vania dengan Barli dan sekarang ayahnya Barli? Apa kau kira ada unsur cemburu dari Avan?” Hendrik meminta pendapat Arman. Dia tahu Arman pun penyidik yang sangat cerdas dan dapat membaca mood setiap orang yang dia tanyai dengan tepat. Dia berpengalaman bertahun-tahun.
Arman menggeleng. “Sudah kubilang Avan tipe pekerja yang ambisius. Dia terus berceloteh tentang usahanya dan bagaimana cara Barli menghancurkan bisnisnya. Mengenai Vania? Nama wanita itu jarang sekali dia sebutkan. Dia hanya mengakui bahwa dia pernah ada hubungan saat dia masih remaja dulu, tapi kurasa dia tidak pernah benar-benar peduli dengan siapa Vania menjalin cinta setelahnya.”
“Hmm, jadi begitu?”
“Ya, Avan mengaku bahwa mereka telah memutuskan untuk berteman baik demi anak mereka berdua. Aileen. Anak itu rupanya sedang sakit parah. Kurasa memang cukup wajar jika Avan menjaga hubungan baik dengan mantan kekasihnya. Oh, ya, aku akan tunjukkan sesuatu padamu.”
Arman menghidupkan monitor dan memutar rekaman CCTV hotel yang sudah mereka simpan sebagai barang bukti. Dia menghentikan videonya di tengah-tengah.
“Kau lihat pria berbaju biru di sini?” Arman menunjuk sosok pria yang ada di dalam rekaman video.
“Ya. Siapa dia?” Hendrik memperhatikan sosok pria dalam video. Pria berbaju biru yang berdiri di dekat pintu masuk lobi.
__ADS_1
“Avan.”
“Apa? Avan? Untuk apa dia ada di sana?”