Warisan Sugar Daddy

Warisan Sugar Daddy
Tawaran Atau Paksaan?


__ADS_3

Pagi hari Vania bangun mendapati Barli sedang mandi. Ini hari  terakhir mereka di Turki. Pagi ini mereka akan berkunjung ke Hagia Sophia. Vania mencari-cari ponselnya.Sepertinya tadi malam, ia meletakkan disamping tempat tidur. Setelah mengedarkan pandangan ke semua ruangan, akhirnya dia menemukan benda pipih itu tergeletak di meja, apakah ia memindahkannya? Entahlah ia lupa. Vania membuka ponsel dan melihat beberapa pesan masuk. Ia menghubungi Avan via pesan WA, mengatakan jika ia mempunyai rencana cadangan.


[Tebak aku punya kejutan apa?]


[Kejutan? Hmm ... kamu dapat apalagi dari bosmu?]


[Kamu cemburu?]


Vania tersenyum membayangkan wajah Avan yang cemberut. Avan memang tak suka jika Vania mendapatkan barang-barang dari Barli. Apa boleh buat, tak ada tebu yang manis kedua sisinya.


[Kalau untuk kebutuhanmu aku sudah menyiapkan, enggak usah terima barang dari dia lagi.]


[Ini tentang perubahan rencana kita]


[Perubahan rencana? Apa itu? Kamu jangan main-main, Hun]


[Kapan aku pernah main-main denganmu tentang kita?]


Justru Avan yang tak pernah serius dan hanya menganggap hubungannya dengan Vania adalah hubungan tanpa status.


[Baiklah kalau begitu segeralah pulang, miss you]


Satu emotion kecup bibir menyertai pesan dari Julian.


[Miss u too, Babe. Besok aku sampai Jakarta, jemput aku di bandara]


[Siap my Queen]


Vania buru-buru menyembunyikan Hp-nya di bawah bantal ketika terdengar suara pintu  kamar mandi dibuka. Barli terlihat segar dengan rambutnya yang basah.


“Segeralah bersiap, hari ini kita keliling Hagia Sofia, sebelum ke bandara jam tiga.”  Vania mengangguk. Sebenarnya ia masih malas bangun. Tubuhnya terasa pegal karena aktivitas di ranjang semalam. Melayani Barli tak cukup sekali, harus berkali-kali.


“Aku mandi di kamarku saja, ya.”


Belum sempat Vania bangun, Barli sudah menyerangnya dengan ciuman bertubi-tubi. Vania tergelak menahan geli. Sekuat tenaga dia melepaskan diri dari tindihan tubuh Barli yang tiba-tiba menghimpit dadanya.


“Sayang, lepaskan! Aku belum mandi, bau tahu!”

__ADS_1


“Kamu tahu, sebelum mandi, wanita justru terlihat sangat memesona. Dia mengeluarkan hormon yang membuatnya terlihat sangat cantik dan menggairahkan, bercinta yuk!” jawab Barli dengan pandangan nakal.


“Itu katamu, dasar jorok!” Vania mendapatkan kesempatan untuk lolos dari belitan Barli. Dia segera bangkit dan berlari ke pintu.


“Hei, pakai dulu bajumu yang betul!” Barli pura-pura marah. Vania menarik piyama yang terserak di karpet, lalu segera berlari ke luar menuju kamarnya.


Pada  hari terakhir mereka memang hanya bersenang-senang dengan tour di seputar Hagia Sofia dan Istana Topkapi. Tempat bersejarah di Turki yang berada di Istanbul. Sepanjang waktu Vania terlihat gelisah memikirkan rencana yang akan segera ia bahas bersama Avan. Rindunya pada Aileen juga membuatnya tak bisa fokus. Beberapa kali Barli menegurnya saat membeli oleh-oleh karena salah memilih barang. Pikirannya hanya ingin segera pulang dan bertemu Aileen. Gadis kecil itu minta di bawakan oleh-oleh. Beberapa pasang baju lucu di Grand Bazaar dan mainan sepertinya cukup untuk membuatnya tersenyum bahagia.


Setelah kegagalan Avan memegang perusahaan yang kalah tender dengan perusahaan Barli, semangat Avan sempat meredup. Saat terendah dalam hidupnya yang selama ini selalu berorientasi pada hasil terbaik. Avan sudah terbiasa menang. Kejadian itu benar-benar memukul harga dirinya.


Avan menjadi pribadi yang egois dan dingin. Seluruh hidupnya habis untuk pekerjaan. Vania bukan lagi prioritas, meski Avan mengakui Vania menjadi sumber semangatnya. Kesalahan Vania hanya satu yaitu membiarkan dirinya hamil pada saat yang tidak tepat. Vania menyadari jika kehamilannya memang bukan kabar baik untuk Avan. Untuk itulah dia rela mundur dan mencari sosok ayah bagi Aileen. Dino adalah orang yang tepat.


PT Barlian Mediacom sebuah perusahaan investor untuk perusahaan media besar di Jakarta juga di Asia Tenggara. Komisaris utama adalah Johan Baroto, papi Barli. Seorang pengusaha yang juga petinggi di lima perusahaan besar lainnya. Siapa yang tak kenal Johan Baroto? Dalam dunia bisnis namanya sangat disegani. Meskipun usianya di atas enam puluh tahun, Johan Baroto masih terlihat sehat dan gesit. Dia menikmati masa pensiun di sebuah villa di Bali.


Isterinya sudah lama meninggal. Sejak mami Barli meninggal, ia tak berniat menikah lagi. Barli mempunyai seorang adik perempuan, Barliana. Jarak kelahiran sangat dekat, hanya dua tahun. Terkadang mereka terlihat seperti saudara kembar.


Tak sulit bagi Vania untuk menyusup ke perusahaan Barli. Dia hanya harus membuat curiculum vitae palsu. Kecantikannya lebih banyak membawa keberuntungan. Dengan wajah yang cantik dan body molek, sudah pasti banyak orang mau mempekerjakannya sebagai sekretaris pribadi.


Sebelum masuk perusahaan, Vania sudah mengetahui detil sosok Barlian Cornel Baroto. Hanya dalam waktu tiga bulan saja, sekretaris cantik seksi itu sudah berhasil membawa Barli ke atas ranjang. Prestasi biasa sebenarnya, karena Vania memang sudah seahli itu untuk urusan memikat pria.


Vania masih ingat dengan jelas bagaimana saat itu Avan memohon padanya untuk membantu membalaskan dendamnya.


“Aku mau bantu kamu, cuma kalau untuk masuk ke dalam Barlian Mediacom, risikonya terlalu besar.”


“Aku tahu, tapi ini saat yang tepat untuk bikin mereka lemah. Mereka masih belum dapat pengganti sekretaris di sana. Kamu bisa jadi kandidat yang pas.” Avan mencoba membujuk Vania. Tawaran yang tidak menarik bagi Vania. Dia sudah mempunyai karir sendiri. Berpindah pekerjaan berarti penyesuaian lagi. Vania tak menyukai dunia yang ia belum kuasai.


“Aku sudah punya kerjaan lain. Enggak  bisa keluar gitu aja.” Ia mencoba member alasan yang masuk akal.


“Aku bisa atur semuanya. Semua biaya kamu aku yang menanggung. Termasuk Aileen juga. Kamu mau apa lagi? Aku bisa atur semuanya.” Avan tetap kokoh membujuk Vania. Kebiasaan jelek Avan ini yang membuat Vania merasa tidak nyaman.


“Kamu selalu seperti ini, ya? Memaksakan apa yang kamu mau tanpa memikirkan risikonya bagi orang lain.” Vania mendelik.


“Ayolah, Hun, bantu aku sekali ini saja.”


“Aku belum bisa jawab sekarang. Kasih aku waktu. Tanpa deadline.”


“Baik terserah kamu saja. Aku ikut.”

__ADS_1


Mobil berhenti di depan rumah Vania, saat pagar dibuka Aileen berlari ke depan rumah.


“Mama!’


“Hai sayang, anak mama.”


“Eh ada Om Avan juga. Halo Om.” Ernella melambai gembira.


“Kapan-kapan ajak Aileen jalan-jalan lagi ya, Om.”


“Iya, nanti kita jalan-jalan lagi. Nanti Om ajak ke Disneyland.”


“Asiiik! Mah Om Avan mau ajak Aileen ke Disneyland, nih!”


Vania dan Avan hanya berpandangan penuh arti.


“Dadah dulu, Om nya mau pulang tuh.”


“Dah Om!” Aileen kembali masuk ke dalam rumah.


“Van, melihat Aileen tumbuh aku baru sadar, kalau aku juga ingin memiliki keluarga. Dan kamu satu-satunya wanita yang pernah singgah dan menetap di diriku.”


“Maksudmu?”


“Aku ingin berkeluarga, bersama kamu dan Aileen, tapi aku tidak bisa melakukannya sekarang, karena ada hal yang masih belum tuntas. Hatiku tidak bisa tenang selama Barlian Mediacom masih ada. Please, bantu aku, Van. Setelah ini selesai aku janji, aku akan menikahi kamu.”


Hening.


“Hun, please....”


“Aku pikir-pikir dulu. Sebaiknya kamu pulang sekarang.”


Vania menutup pagar dan masuk ke dalam rumah. Gumpalan air menggunung di pelupuk matanya. Betapa mahal harga yang harus ia bayar demi mendekatkan Avan dan Aileen.


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2