Warisan Sugar Daddy

Warisan Sugar Daddy
Berdamai


__ADS_3

Hendrik meminta Barli untuk mem-foward pesan itu ke nomornya lalu dia mencatat nomor pengirimnya dan tanggal pesan itu dikirim. “Menurutmu seperti apa Vania? Apa dia tipe wanita yang rela melakukan apa pun demi uang?” Hendrik bertanya lagi.


Barli tertawa sinis. “Oh ya! Dia memang wanita seperti itu. Dia bisa melakukan apa pun demi uang. Jangan tertipu dengan penampilannya yang manis. Dia itu ular! Licik dan berbisa. Dia wanita yang sangat berambisi. Dia dan mantan pacarnya, Avan. Mereka berdua melakukan konspirasi di balik punggungku untuk menjatuhkan bisnisku. Semua hanya demi uang! Anda mungkin sudah mengeceknya sendiri bukan? Bahkan kini sudah berhasil menguras harta mendiang ayahku. Gila! Sekali lagi dia berhasil menipu laki-laki. Dia merayu kami agar mau naik ke ranjang bersamanya. Mau bagaimana lagi, memang itu lah keahliannya. Setelah kami terperangkap dalam pesonanya, dia mengerahkan segala rayuan dan pelan-pelan, tanpa kami sadari, kami merogoh kocek kami dalam-dalam untuk menyenangkan hatinya. Tidak hanya uang, tapi juga jabatan, karir! Dia tidak mungkin berada dalam posisinya seperti sekarang jika tidak dari merayu setiap kliennya. Cih!.”


“Apa menurutmu dia sanggup membunuh? Apakah sebelumnya Anda pernah mendapatkan ancaman darinya?”


Barli menyandarkan punggungnya. Setelah puas menumpahkan semua keluh kesahnya pada si Penyidik, dia mulai merasa relaks. Dia kembali memikirkan jawaban yang tepat. Vania, cintanya pada wanita itu sungguhan. Setidaknya begitu lah yang dulu pernah dia rasakan. Di balik pesonanya dan tawa manjanya, Vania sebenarnya adalah wanita kuat dan mandiri. Dia mungkin penggoda, perayu, dan tidak pernah serius dengan para pria yang dikencaninya, tapi sanggupkah Vania membunuh? Atau bahkan merancang suatu pembunuhan?


Wajah jelita Vania kembali menari dalam benaknya. Barli masih ingat rasa tubuh Vania yang panas, aroma vanilanya yang membangkitkan gairah, dan desahannya! Ya Tuhan! Caranya bersuara setiap kali Barli menyentuhnya, membuatnya frustasi.


“Tidak. Vania mungkin bisa mengkhianatiku dengan meniduri lusinan lelaki. Tapi dia bukan pembunuh.”


Barli menundukkan wajah. Sebenci apa pun dia dengan wanita itu, sebesar apa pun keinginannya untuk melihat Vania menderita, dia sadar Vania tidak mungkin bertindak sejauh itu. Dan pembunuh sebenarnya, harus segera ditangkap!


“Apa boleh aku mengunjunginya di penjara?” Suara Barli nyaris terdengar seperti bisikan.


Hendrik menepuk lembut bahu Barli. “Ya, tentu saja. Kau boleh datang pada jam berkunjung. Itu, jika dia mengehendaki.”


***


Barli mengosongkan jadwalnya untuk mengunjungi Vania pada akhir pekan. Hatinya mau tak mau, terenyuh juga melihat wanita yang pernah dicintainya itu. Vania masih tetap cantik, meski wajahnya tak terpulas oleh make up dan pakaiannya bukan yang seperti sering dia kenakan. Dia sedikit lebih tirus dan pucat, tapi selain itu tak ada yang berubah darinya. Matanya tetap cemerlang dan menatapnya tajam bagai seekor elang.

__ADS_1


“Mau apa kau ke sini?” tanya Vania ketus.


Begitu mengetahui bahwa yang datang adalah Barli, tadinya dia ingin menolak bertemu. Pikirannya berubah saat melihat pria itu. Dia seperti bukan Barli yang dikenalnya. Rambutnya disisir asal-asalan, wajahnya yang biasanya rapi, klimis, tampak tak terurus. Entah kapan terakhir kali dia bercukur. Barli tampak jauh lebih mengenaskan, lebih mirip sebagai seorang pesakitan dibandingkan dirinya sendiri yang berada di balik jeruji besi. Vania tak tega untuk mengacuhkannya sekaligus penasaran angin apa yang membawanya datang.


“Aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu.” Barli berkata dengan gelisah.


“Cepat katakan maumu.” Vania tidak nyaman menghabiskan waktu terlalu banyak dengan Barli. Barli masa lalunya, dan juga mengingatkannya akan Daddy.


“Apa kau sungguh mencintai Papi?” Barli bertanya lirih. Ada semburat duka dan putus asa dalam kata-katanya.


Pandangan Vania melembut saat Barli bertanya padanya tentang Johan. Satu nama yang berarti sangat penting bagi mereka berdua. Bagi Vania Johan adalah cinta sejatinya, sementara bagi Barli Johan adalah ayahnya, figur ideal yang menjadi idola seumur hidupnya, pahlawannya, kebanggaannya. Vania tahu bagaimana perasaan Barli akan ayahnya.


“Daddy memberiku hidup baru. Wawasan baru. Dia membuatku merasa bangga dengan diriku sendiri. Daddy segalanya untukku, Barli. Aku mencintainya. Sangat mencintainya. Aku tahu kau tidak akan percaya padaku. Aku pun tak dapat membuktikan perasaanku, tapi-“


“Apa maksudmu?” tanya Vania.


“Papi dibunuh, Vania. Seseorang dengan begitu keji telah merencanakan pembunuhan itu. Aku tidak bisa menerima ini. Aku harus tahu siapa pelakunya.”


“Kau tahu aku tak mungkin bisa melakukannya.”


“Ya, aku tahu kau bukan pembunuh. Kalau kau benar bisa membunuh seseorang, sejak lama mungkin aku tidak akan berada di sini.” Barli berkata sambil menatap Vania penuh arti.

__ADS_1


Vania tersenyum kecil menanggapi guyonan Barli. “Kau benar. Andai aku harus membunuh seseorang aku mungkin lebih memilih membunuhmu dari pada Daddy.”


Barli tertawa getir. “Kau sangat membenciku, ya?”


“Tidak, Barli, kau memang sangat menyebalkan, tapi mana mungkin bisa aku membencimu? Bagaimana dengan diriku? Apa kau membenciku?” tanya Vania.


“Aku lebih membenci diriku sendiri daripada dirimu, Vania. Aku terlalu bodoh, tak mampu memahami dirimu, hingga aku sampai harus kehilanganmu. Lihatlah kita berdua sekarang. Aku tak pernah mengira kau dan aku sampai berada dalam posisi seperti ini. Tapi, aku sungguh menyesal melihatmu menderita. Aku berharap pelaku sebenarnya dapat segera ditemukan.”


Barli mulai melembut dan memikirkan Vania dengan cara yang berbeda. Dia tidak mau kekecewaannya kepada Vania melahirkan kebencian yang membabi buta hingga tidak dapat melihat kasus pembunuhan ayahnya dengan lebih objektif.


“Terima kasih, Barli. Dukunganmu sangat besar artinya untukku. Terima kasih.”


Vania menggenggam tangan Barli erat. Hatinya terharu. Bagaimana pun Barli adalah putra kandung Johan yang sangat dia banggakan. Dia dan Barli sudah semestinya tidak saling membenci.


Selesai mengunjungi Vania, Barli mengarahkan kendaraannya menuju rumah Liana.


Sesampainya di sana, dia merasa aneh karena pintu depan terbuka sedikit. Biasanya Liana sangat disiplin. Dia tidak pernah membiarkan pintu rumahnya terbuka seperti itu.


“Liana? Kau di mana?”


Barli memanggil Liana. Hatinya merasa tidak tenang. Firasatnya mengatakan ada hal buruk yang mungkin menimpa Liana.

__ADS_1


Semenjak kasus pembunuhan ayahnya, Barli menjadi sedikit paranoid. Rasanya dunia ini penuh dengan para penjahat dan mereka mengincar keluarganya.


Barli menajamkan pendengarannya. Sepi. Tidak ada suara jawaban. Barli melangkah hati-hati menuju ruang tengah dan terkejut mendapati ruangan itu berantakan. Perampokan? “Liana!” Dia memanggil Liana dengan cemas. Jantungnya berdegub kencang.


__ADS_2