
Melbourne dengan gerbang-gerbang kota yang indah, butik-butik unik, gang kecil elektik dan seni graffiti yang memadukan banyak unsur budaya membuat Vania seperti menghirup udara segar. Paru-parunya kembali terisi dengan kesejukan yang ia dambakan. Ternyata benar, suasana baru membuat jiwanya lapang kembali. Vania datang ke ABC Network sebagai orang kepercayaan CEO.
Ketenangan itu tak bertahan lama, ketika suatu malam saat ia meakan malam di Charcoal Lane di Gertude Street area Fitzroy. Sebuah pesan tertulis pada secarik kertas yang diantarkan pelayan di baki khusus. Vania membuka kertasnya.
“Miss Me, *****?”
Vania segera melipat kertas putih dan meremasnya kuat-kuat. Matanya beredar ke seluruh ruangan yang berdinding kaca. Mencari-cari sosok yang dikenalnya. Tak ada orang yang mencurigakan. Sesaat kemudian ia membuka HP nya yang berkedap-kedip.
Sebuah pesan WA dari nomor baru yang tak dikenalnya. Nomor Australia.
[Siap menikmati kejutan?]
Sebuah gambar dibuka dari nomor tersebut.
Gambar dirinya yang tengah berada di restoran. Diambil dari sisi kiri. Spontan ia melihat ke sisi kiri. Oh, orang itu sudah pergi. Sejenak tadi ia melihat pria asing bertopi tengah duduk di meja sebelah kirinya. Pasti pria itu yang mengambil gambarnya.
Hati Vania mulai diliputi kecemasaan. Segera ia mengirimkan pesan kepada Daddy.
[Daddy, sepertinya ada orang yang mengikuti Vania]
Foto yang ia terima dari orang tak dikenal langsung ia forward ke Daddy. Message Sent!
Begitulah aturan mainnya. Apa pun yang ia lalui hanya Daddy tempatnya berbagi. Sebelum berangkat, Daddy telah memberikan sejumlah pesan.
“Orang-orang Daddy akan selalu mengawasimu. Tenang Vania, tidak akan ada yang bisa menyakitimu. Fokuslah kepada pekerjaan. Lakukan yang Daddy suruh. Setelah Melbourne, Thailand sudah menunggu.”
__ADS_1
Dari gambar dan pesan yang ia kirimkan, Vania tahu Daddy pasti akan bertindak sesuatu. Tidak ada yang perlu ia takutkan. Daddy meberikan kebebasan sekaligus perlindungan. Menjadi seorang wanita yang dicintai dengan perbuatan ternyata lebih menyenangkan, daripada berhamburan kata dan hadiah, tetapi hati sendirian.
Sebulan pertama Vania banyak menyesuaikan diri dengan tugas-tugas barunya. Semua bekal yang ia dapatkan dari Daddy sangat membantu. Lelaki matang itu sangat detil merencakan semua pekerjaan yang harus ia lakukan. Membuat perjanjian dengan banyak perusahaan yang sudah bertahun-tahun bekerjasama, maupun list perusahaan baru. Vania menjalankan semuanya tanpa keluhan. Sungguh dirinya merasa sangat beruntung mendapatkan kepercayaan yang sangat besar dari Johan Baroto.
Masih teringat saat ia di villa Bali, pada malam kedua, Liana mendatanginya ke kamar.
“Aku akan mengawasimu. Jangan berharap kamu lolos dari pantauanku. Track recordmu sudah aku pegang. Kau cuma sekretaris murahan yang tidur dengan kakakku, lalu sekarang kau mengincar harta Papi. Jangan pernah berharap kau aman, Vania.” Liana mengancamnya dengan amarah tertahan. Vania menekan degub di jantungnya. Ia teringat kalimat Daddy.
“Kamu sudah tercatat secara resmi sebagai partnership di ABC Network. Tidak ada yang bisa menggugat posisi ini. Semua sudah Daddy atur sah secara hukum, Vania. Dengan kekuatan itu, kau bisa melawan siapa pun yang menekanmu.”
Vania hanya menarik napas.
“Liana, sebaiknya kau mengurusi hal yang lebih penting. Seharusnya kamu senang, karena Papi punya aku. Setidaknya Perusahaan akan berjalan seperti yang Daddy mau. Kamu pasti tidak akan membiarkan Perusahaan yang dibangun Papi sejak awal, harus jatuh ke tangan orang yang tidak tepat, bukan?” Vania menjawab dengan menekan setiap kalimatnya. Liana mendengkus kesal. Apakah Papi sudah menceritakan tentang keinginannya ke Australia dan memulai hidup baru di sana?
“Kamu tahu maksudku, Liana. Kamu harus mengakui suamimu tidak becus mengurus perusahaan manapun.”
“Ayolah Liana. Butuh berapa perusahaan yang harus ditumbangkan suamimu? Berapa banyak butik peninggalan Mamimu yang harus gulung tikar, karena kau tak bisa mengurusnya dengan baik?”
Oh, sialan. Mata Liana terus memancarkan api kemarahan. Ternyata Vania tahu banyak. Sejak saat itu, Liana memasukkan nama Vania sebagai musuh bebuyutan.
Tak terasa tiga bulan pertama terlalui tanpa kendala. Vania mampu memimpin perusahaan yang tidak membutuhkan banyak campur tangannya.
Pada suatu malam, ketika dirinya pulang ke apartemen, ada satu notifikasi pesan via email dari Daddy. Vania selalu mengirimkan laporan harian hasil pekerjaannya via email.
“Vania, Daddy tunggu kau di sana, ada yang ingin Daddy sampaikan.”
__ADS_1
Satu lampiran tiket penerbangan ke Jepang membuat mata Vania terbelalak. Dia akan segera bertemu Daddy yang selama sudah memahat rasa begitu dalam di hatinya. Perasaannya dipenuhi bunga-bunga yang indah. Ini tidak seperti perasaannya kepada Avan. Vania pernah merasakan jatuh cinta hingga nyaris menjadi budak cinta bersama Avan. Namun, sekarang bersama Daddy, semua tampak berbeda.
Daddy memberi semua yang ia inginkan. Harta, pekerjaan, juga harga diri seorang wanita. Hanya satu yang tidak ia dapatkan. Sentuhan sebagai seorang wanita muda yang butuh memenuhi hasrat batinnya.
Vania sering membayangkan malam-malamnya bersama Daddy, berdua menghabiskan wine, lalu bercerita tentang apa saja. Daddy lebih senang menceritakan perjuangannya membangun perusahaan, Vania asyik mendengarkan. Mereka berdua mengakhirinya dengan berbagi rasa, bergumul dalam kenikmatan. Pikiran Vania sering melayang pada sosok matang yang memberinya kucuran rasa bahagia sampai detik ini.
Jepang memberi nuansa berbeda. Senyum Daddy menggenapkannya. Vania memeluknya begitu erat ketika mereka berdua bertemu di sebuah property milik Daddy yang sering disewakan untuk turis.
“Daddy, Vania kangen. Rasanya lama sekali. Vania hampir saja terbang ke Jakarta kalau minggu ini Daddy tidak mengirimkan tiket.”
Vania menggelayut manja di lengan Daddy. Dia tak lagi memikirkan perkataan dunia yang siap menghakimi. Seorang wanita muda cantik, tergila-gila pada kakek-kakek. Ah, rasanya tak penting lagi. Bodo amat dengan semua komentar nyinyir yang akan ia dapatkan. Vania hanya ingin menikmati kebersamaan mereka.
“Kamu lulus ujian tiga bulan pertama, jadi Daddy kasih hadiah. Pencapaianmu bagus sekali Vania. Daddy bangga sekali padamu.”
Johan Baroto mengelus pucuk kepala Vania. Sejak pertama kali mencari tahu tentang Vania, pria itu sudah tahu, Vania bukan perempuan biasa. Dia sudah menghadapi banyak tempaan yang membuatnya tumbuh makin kuat dan tangguh. Vania memang cantik, tapi kekuatannya bukan hanya kecantikan. Kecerdasan otaknya juga menjadi daya pikat tersendiri untuknya. Johan Baroto sudah lama menginginkan penerus bisnis sehandal Vania. Apa daya, Liana tak bisa diharapkan.
“Daddy, please jangan ngomongin perkerjaan. Vania mau kita menikmati keindahan Jepang.”
“Kenapa kamu berubah sekarang? Apakah Melbourne secepat itu mengubahmu menjadi wanita pembosan?”
“Vania betah di Melbourne. Hanya tak tahan kita berlama-lama berjauhan.”
Vania berbicara sejujurnya. Kejujuran yang membuat Daddy terdiam cukup lama. Di usianya yang menjelang senja, Johan Baroto bisa merasakan Vania adalah sosok yang berbeda. Dia bukan perempuan muda yang ambisius dengan harta. Vania wanita yang sudah bosan berpura-pura kuat menghadapi. Sejatinya ia adalah wanita rapuh yang butuh sentuhan.
“Daddy, apakah arti hubungan kita selama ini?”
__ADS_1
Vania menatap dua bola mata Daddy sambil merangkulnya mesra. Perlahan bibirnya mendekat ke wajah Johan Baroto yang tak menyangka akan mendapat perlakuan seperti itu dari Vania.