
.....
"Sebaiknya kalian berhati-hati, anak-anak lapas tidak akan menahan diri. " ucap Ryung hae
"Aku mengerti, dengan kata lain semua anggota penulis harus ikut? "
"Iya. " saut Ryung hae dengan wajah khawatir.
"Huh.. apa ada konsekuensi jika anak-anak lapas kalah? "
"Rankingnya turun. " saut Myungsoo
"Ranking? "
"Kami menggunakan sistem per-ranking-an. Sejauh ini kami adalah tiga besar. " ucap Haneul.
Yuki tersenyum dan mengelus kepala Haneul dengan cepat.
"Syukurlah, akhirnya mimpi kalian berdua terwujud ya~ " ucap Yuki.
Ho-Seok terkejut karena Yuki masih mengingat hal itu. Padahal itu sudah sangat lama. Ho-Seok memandangi Yuki dan Haneul yang nampak akrab, mata Ho-Seok tidak dapat membohongi bahwa ia cemburu dengan saudaranya. Tapi disisi lain Ho-Seok sulit untuk bicara soal perasaannya.
Terkadang orang keras kepala cenderung sulit mengerti perasaannya sendiri, bukan?
Yuki berterimakasih pada Ho-Seok.
"Aku sudah janji akan mengajak makan dengan anak-anak lapas, menang atau kalah, kita rayakan saja. " ucap Yuki sembari tersenyum.
"Kakak punya uang sebanyak itu? " tanya Haneul dengan nada syok.
Yuki hanya tersenyum sembari tertawa kecil. Yuki mengembalikan dokumen yang ia pegang karena khawatir jika orang-orang itu mempertanyakannya. Mereka bertiga lalu segera kembali ke ruangan agar tidak ada kecurigaan.
Meski hanya sedikit informasi, tapi hal itu cukup untuk mengetahui dalang dari [NC].
.
.
.
[Ruang Direktur]
"Tuan Yamato, ini diluar prediksi semua dewan. Gadis itu harus segera kita singkirkan. " tegas Yue.
Iguchi duduk di kursinya sembari meminum kopi, di tangannya memegang rokok yang ia hirup.
"Kau tau keluarga Rue? " tanya Iguchi.
__ADS_1
"Uh? Maksud anda.. keluarga dari perusahaan tambang minyak Korea? "
"Tidak hanya itu, keluarga itu sekarang membuat komoditas pecinta hiu di Asia. Kemarin ada berita tentang dirinya yang menangkap para pemburu hiu secara ilegal, dia benar-benar terkenal. Baik ayah atau anak keduanya sama aja. " ucap Iguchi.
"Tuan.. bukan itu masa-. "
"Apanya? " tanya Iguchi dengan tatapan serius ke arah Yue.
Bagi Iguchi, keluarga Rue adalah musuh utamanya. Iguchi pernah melakukan kerjasama dengan keluarga Rue, mereka membangun sebuah objek wisata di pesisir pantai dari sebuah pulau yang keluarga Rue beli. Akan tetapi Iguchi egois ingin mengambil tempat itu seorang diri, pada akhirnya hubungan mereka renggang dan keluarga Rue bangkrut karena bisnisnya diambil alih oleh Iguchi.
Lambat laun keluarga Rue beralih bisnis ke bisnis pertambangan. Tak disangka keluarga Rue mendapatkan keuntungan berpuluh-puluh kali lipat dari sebelumnya, dan juga komoditas pecinta hiu yang dikelola oleh putra keluarga mereka, mendapatkan keuntungan yang lumayan meski tak sebanding dengan tambang minyak yang dibangun oleh sang ayah.
Pemimpin keluarga Rue, merupakan lulusan universitas London. Banyak orang yang mencemoohnya karena tak bisa bahasa Inggris satu itu, dan juga karena dia mengambil jurusan hukum. Meski nilainya selalu buruk dalam ujian tulis, tapi dalam berdebat dan berpendapat, ia adalah sangat juara. Rue Ki-Cheol, menikah dengan seorang gadis lugu dari desa tempat tinggalnya dulu di Korea, dimana mereka memiliki dua orang anak dan mengadopsi satu anak dari Indonesia.
Bisnis Rue Ki-Cheol dari komoditas pecinta hiu ia serahkan pada putranya, lalu untuk bisnis sangat istri yang meliputi perkebunan ia serahkan pada anak angkatnya. Untuk putrinya yang masih muda, rencananya ia akan memberikan bisnis dalam bidang baru kedepannya, yang akan ia ajarkan sendiri pada putrinya. Tapi sayangnya, Rue Ki-Cheol merasa kalau putrinya tidak mau memegang bisnis apapun. Itu tidak membuat Rue Ki-Cheol merasa sedih, karena ia membebaskan pilihan sang putri.
"Rasanya menyebalkan saat mendengar dia ikut menjadi anggota dewan. " Yamato Iguchi sangat membenci Rue Ki-Cheol, karena ia selalu berada jauh dibawah Ki-Cheol.
Iguchi memerintahkan Yue untuk membiarkan Yokohama Yuki untuk tetap mengikuti pertarungan ini. Sepertinya Iguchi masih punya kartu As lainnya.
.
.
.
.
.
"K-kak.. apa kita akan baik-baik saja? " tanya seorang gadis yang ketakutan.
"Tenang saja, aku jamin kalian akan baik-baik saja. " ucap Yuki sembari berusaha meyakinkan rekan-rekannya yang ada di ruangan itu.
Yuki sadar kalau kata-kata saja tidak mungkin bisa menghilang rasa takut mereka. Keputusan sudah bulat kalau yang akan bertanding nanti hanya Yuki, Sarang, dan Miyano. Kemungkinan dari pihak lawan akan bertambah.
"Aku boleh ikut maju? " tanya seorang laki-laki yang duduk di seberang Yuki.
Yuki lantas mengarahkan pandangannya ke arah laki-laki tersebut. Yuki tau kalau laki-laki itu sejak awal hanya diam seolah-olah tidak takut dengan apapun yang terjadi. Laki-laki itu lantas menatap balik mata Yuki dan tersenyum. Yuki syok! Ia melihat secercah cahaya yang keluar dari mata lelaki itu.
"๐๐ข๐ต๐ข ๐ช๐ต๐ถ.. ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฏ๐ซ๐ถ๐ฌ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฐ๐ญ๐ข๐ฉ-๐ฐ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ช๐ข ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต.. ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ๐ฏ๐บ๐ข.. ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ฎ๐ข๐ต๐ข ๐ช๐ต๐ถ.. ๐ญ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฌ๐ช ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ช๐ข๐ด๐ข. ๐๐ฌ๐ถ ๐บ๐ข๐ฌ๐ช๐ฏ. " batin Yuki dengan penuh keyakinan.
Yuki mengiyakan lelaki itu untuk ikut bertanding.
"๐๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ๐ข๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ณ๐ช๐ฏ ๐ช๐ต๐ถ ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ช๐ฎ๐ถ๐ญ๐ข๐ด๐ช. ๐๐ฌ๐ถ ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ฃ๐ข๐ณ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ๐ช๐ฏ๐บ๐ข, ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ซ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช๐ต๐ข๐ฉ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ค๐ข๐ณ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ด๐ถ๐ฑ๐ข๐บ๐ข ๐ต๐ข๐ฌ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ฉ๐ช๐ข๐ฏ๐ข๐ต. ๐๐ถ๐ฉ.. ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ด๐ฆ๐ญ๐ช๐ค๐ช๐ฌ ๐ช๐ต๐ถ? "
Sarang memeluk Yuki yang nampak stress dan bimbang.
__ADS_1
"Kak, kalau semisalnya lawan kita lebih dari lima orang, apa kakak mau maju bersama ku? " tanya Sarang.
Yuki tau kalau Sarang ingin menghiburnya. Jadi ia tersenyum, dan menjawab "iya" dengan yakin pada Sarang. Keadaan mulai terasa cair, meski sedikit membeku karena angin yang melintas di kepala Yuki.
"Aku Masami Yo, kalian bisa panggil aku Yo. " ucap laki-laki itu yang berdiri dan menghampiri Yuki dan yang lainnya.
"Mohon bantuannya, Yo. " ucap Yuki.
"Aku juga mau mengajak seorang lagi. " ucap Yo.
Yo mengarahkan pandangannya pada seorang lelaki yang sedang tertidur.
"OI SIALAN! BANGUN KAU DASAR PEMALAS!! " teriak Yo yang membuat seisi ruangan ketakutan dan mendekat ke arah Yuki.
Lelaki itu terbangun dan mengusap kedua matanya.
"Jangan bangunkan aku, aku masih mau tidur. " ucapnya yang setengah sadar.
"Dia juga akan bergabung. " ucap Yo.
"Uh! Sungguh?! Tapi kalian berdua-. "
"Yaya.. terserah.. bangunkan aku kalau sudah mulai. " lelaki itu kembali melanjutkan tidurnya.
Yuki khawatir dengan dua lelaki yang mendadak ambil bagian dalam pertarungan ini.
"Dia Honda Kosuke, kami berdua bertemu di aula gedung [NC]. Dialah yang mengajakku untuk ke atap dan berkumpul dengan yang lainnya. " ucap Yo.
Yuki ingat dengan seorang lelaki yang menggendong tas dan memakai topi. Hanya mereka berdua yang sanggup berdiri diantara sekumpulan orang-orang yang duduk depresi.
Meski ragu, Yuki tak ingin mengurangi rasa kepercayaannya pada Yo dan temannya. Dalam pertandingan ini, tiga orang saja tak cukup, karena itulah Yuki mempercayai kedua rekannya.
"Saranku ya.. kau jangan bersikap terlalu baik. Itu mengecewakan, sama seperti pertarungan sebelumnya. " ucap Yo.
Pertandingan akan dimulai pukul 4 sore di aula utama. Para Dewan akan hadir dan duduk di tempat yang tentunya menjadi tempat pusat, pemain lainnya akan duduk di kursi penonton.
Kali ini pemain sudah ditentukan langsung, jumlah pemain adalah 6 orang dari pihak petarung.
"Uh!! Siapa-? " Sarang terkejut melihat dua gadis yang diumumkan melalui layar di ruangan mereka.
"Sawaki Terano.. Lena Rue Yunda.. " Miyano membaca nama-nama gadis yang baru mereka ketahui.
"Sawaki dan Rue, itu adalah marga dari dua Dewan Korea. " ucap Yo.
"Uh! "
๐๐๐๐๐ค๐๐~
__ADS_1