Y2H Pen

Y2H Pen
020. Bunga


__ADS_3

𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘚𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢. 𝘚𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨, 𝘚𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢. 𝘉𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘪𝘣𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘳𝘢𝘩𝘪𝘯𝘺𝘢, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘪𝘣𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘭𝘶𝘬𝘯𝘺𝘢. 𝘏𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘈𝘺𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢.


.


.


.


"Sarang..? "


"Oke..! Oke..! cuma itu aja sih. Oh ya, ada tambahan aturan lagi lho~ "


"Ha?!! APAAN SIH?!! "


"GAK JELAS!! "


Penonton dari pihak petarung tak tahan dengan sikap para dewan yang semena-mena terhadap mereka. Akan tetapi Seira mengintimidasi dengan tatapannya, mengingatkan mereka dengan posisi mereka saat ini.


Para Dewan dan mereka tak lain adalah Raja dan budak. Aturan kali ini ditetapkan oleh Iguchi sendiri, karena merasa ia perlu mengetahui lebih dalam dari organisasi yang ia buat.


"Aoi Sarang, karena kau kalah, kali ini kau akan bergabung dengan tim pertarung. "


"Uh! "


"Itu juga berlaku untuk pertandingan selanjutnya ya~ Jika semisalnya kalian mau mengambil kembali anggota kalian, kalian harus memenangkan pertandingannya. Lalu diakhir pertandingan nanti, jika hanya tersisa satu orang saja maka.. timnya yang akan disingkirkan. " ucap Seira.


Meski terdengar bodoh. Akan tetapi terlihat jelas bahwa aturan ini dibuat untuk menguntungkan pihak petarung.


Sarang melihat ke arah Yuki, meski sedikit ragu--Yuki tetap tersenyum ke arah Sarang.


"Kerja bagus, Sarang! " teriak Miyano.


"Kau sudah berjuang! " teriak Yo sembari memberikan jempol ke arah Sarang.


"Hei gadis kecil, kau lumayan juga~ " ucap Kosuke dengan lembut.


Sarang tersadar, ia tidak perlu mengkhawatirkan siapapun lagi. Sarang berjalan ke arah para petarung, meski dengan kaki yang masih sakit karena tusukan tadi.


Terano menghampiri Sarang dan memeluknya. Terano mengakui Sarang sebagai gadis yang tangguh.


"Terimakasih.. " bisik Sarang.


"Aku akan mengantarmu ke ruang perawatan. " Terano meraih tangan Sarang dan memapangnya menuju pintu.


Saat itu yang ada dipikiran Sarang..


"𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯.. 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘬𝘦 𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘬𝘢𝘬.. " batin Sarang.


.


.


.


Sesuai kesepakatan di awal, kali ini Yuki akan bertanding. Dan sesuai dengan perkiraan Yo, yang maju selanjutnya adalah anak angkat keluarga Rue, Lena Rue Yunda.


"Saat melihatnya mungkin orang-orang akan berfikir bahwa dia hanya gadis yang polos. " ucap Yeon-Seok.

__ADS_1


Yunda memilih untuk menggunakan pisau yang digunakan untuk memotong sashimi. Secara kebetulan Yunda juga dulu bekerja sampingan di sebuah kedai sushi.


Sementara Yuki masih bimbang dengan semua benda yang ada di depannya.


"𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘯𝘥𝘢 𝘵𝘢𝘫𝘢𝘮.. " ٩(๑꒦ິȏ꒦ິ๑)۶


(𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘩 𝘱𝘪𝘴𝘢𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢)


.


.


.


"𝘈𝘬𝘶 𝘱𝘪𝘭𝘪𝘩 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘦𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘦𝘴𝘢𝘯 𝘪𝘬𝘶𝘵-𝘪𝘬𝘶𝘵. " (-""-;)


"Kakak yakin dengan pisau itu? " tanya Haneul.


Yunda menatap ke arah tangan Yuki, kemudian berjalan ke arah Yuki. Yuki agak terkejut, tapi berusaha untuk tetap tenang.


Yunda berdiri di hadapan Yuki, dan menarik pisau yang Yuki pegang.


"Uh?! "


"Seharusnya begini. " ucap Yunda dengan nada lembut dan wajah polos, Yunda memperbaiki cara Yuki memegang pisau.


(-""-;) "Ma-makasih.. " ucap Yuki


"G*BL*K! MEGANG PISAU AJA GAK BENER!! " bentak Yo dengan keras.


"KAU BISA MATI KALAU SALAH PEGANG! KAKAK BODOH! " bentak Ho-Seok.


"Habis Aku tidak tau cara memegangnya.. "


"Yah~ kayaknya kau ada masalah ya, Yokohama Yuki. " ucap Seira.


"Hei, boleh request tongkat kayu gak? Yang kupakai kemarin juga gak papa. " ucap Yuki.


Semua orang sontak tertawa, mereka mengatakan bahwa Yuki terlalu mengada-ngada. Mereka masih tidak percaya dengan Yuki yang ingin menggunakan tongkat kayu. Beberapa orang membandingkan pertandingan Sarang dan Yuki, meski pertandingan Yuki sendiri belum dimulai.


"Kenapa kalian tertawa? " tanya Yunda dengan polos.


Meski hanya kata-kata biasa yang dipertanyakan oleh Yunda, tapi kata-kata yang dilontarkan dari mulut Yunda terkesan datar dan dingin.


"Aku punya tongkat, tapi bukan kayu. " ʕ -㉨- ʔ


"Eh-? " (´º∀º`) ?


"Tunggu sebentar ya. "


Yunda berbalik badan dan berjalan menuju pintu tempat ia masuk tadi. Tak selang beberapa lama Yunda datang membawa tongkat besi.


"Mau? " 🗿


"Y-ya.. boleh.. makasih.. " (-""-;)


Yunda menganggukkan kepalanya dan mengajak Yuki untuk bersalaman.

__ADS_1


"Kata kakak orang yang mentertawakan orang lain hanya orang irian. "


∑(๑ºº๑)!!


"Pfftt.. " Han Nabi berusaha menahan tawa.


Yeon-Seok merasa kesal, ia berdiri dan berteriak dari bangkunya.


"Yunda! kau jangan mempermalukan aku disini! "


Yunda memiringkan kepalanya dan membungkukkan badannya.


"Maaf. " ucap Yunda dengan santai.


"Ck. Syukur dia penurut. " 💢


Meski Yeon-Seok sedikit kesal dengan perkataan Yunda, tapi pada akhirnya Yeon-Seok tetap memaafkannya karena Yunda adalah gadis yang tepat untuk menaikan derajat keluarga Rue.


"Baik! Pertandingan kedua, Lena Rue Yunda melawan Yokohama Yuki! Dimulai!! "


Pertarungan dimulai, Yuki mengayunkan tongkatnya ke arah Yunda akan tetapi berhasil dihindari oleh Yunda.


Keduanya tak dapat mendekat satu-sama lain, sampai akhirnya Yunda merasakan aura yang berbeda dari Yuki. Sebuah aura layaknya pembunuh bayaran, akan tetapi Yunda sadar bahwa dirinya sering berkhayal tentang suatu hal, jadi ia mengabaikan aura yang ia rasakan itu.


Yunda mencoba mendekati Yuki dengan menghindari setiap serangan yang Yuki berikan, hingga akhirnya ia berhasil lebih dekat dengan Yuki! Tanpa pikir panjang ia langsung mengarahkan pisaunya ke arah tangan Yuki--bermaksud untuk menusuknya, akan tetapi Yuki memiliki insting yang bagus, sehingga ia dapat menghindari tusukan itu. Sesaat setelah Yunda berhasil mendekati Yuki, ia mengincar tangan Yuki yang bertumpu pada bagian belakang tongkat. Yuki mengarahkan tongkatnya ke arah pisau Yunda, membuat tongkatnya mengeluarkan bunyi yang sumbang ketika kedua besi itu saling bertabrakan.


Yunda tak melihat adanya celah untuk melawan Yuki.


"𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢.. 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘭𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘦𝘭𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢. " batin Yunda dengan penuh keyakinan.


.


.


.


.


.


Disisi lain, tepatnya di ruang perawatan. Sarang yang sudah merasa lebih baik memutuskan untuk kembali ke arena untuk menonton pertandingan.


"Kau yakin ingin ke sana? " tanya Terano.


"Hm? Ada apa? " Sarang memiringkan kepalanya.


"Ti-tidak, bukan apa-apa.. "


Terano merasa kalau ia sudah salah paham dengan sifat Sarang. Pada akhirnya mereka pergi ke arena untuk melihat pertandingan yang sedang berlangsung.


Sepanjang lorong mereka tak banyak bicara. Terano melihat adanya kecanggungan pada wajah Sarang, meski begitu Terano masih tak yakin Sarang benar-benar canggung. Perbedaan ekspresi wajah dan suara Sarang selalu bertolak belakang. Sehingga Terano menyimpulkan bahwa Sarang adalah orang yang sulit ditebak perasaannya.


"𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢. 𝘋𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘰𝘭𝘢𝘩-𝘰𝘭𝘢𝘩𝘳𝘢𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘳𝘶𝘩 𝘴𝘦𝘣𝘶𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘬𝘢-𝘵𝘦𝘬𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢. " batin Terano.


Sarang sedikit cemas dengan apa yang mungkin harus ia jelaskan pada kakaknya. Dalam pikirannya selalu memikirkan mengenai kata-kata dan alasan yang cocok untuk menjelaskan semuanya. Sayangnya Sarang tak punya keberanian lebih untuk berkata jujur.


Disaat yang bersamaan, Ryung hae berjalan sendirian ke arah mereka. Sarang gemetar, ia berusaha menyembunyikan tangannya yang gemetar di balik badannya. Terano mengerti dengan situasi yang ia lihat ini, sehingga ia memutuskan untuk berjalan lebih cepat dan membiarkan Ryung hae bertemu dengan Sarang.

__ADS_1


𝕊𝕖𝕝𝕖𝕤𝕒𝕚~


__ADS_2