Y2H Pen

Y2H Pen
023. The Couple


__ADS_3

....


"Yunda! " panggil Yuki yang kemudian menghampiri Yunda.


Yunda berbalik arah dan melihat Yuki yang segera datang--dan memeluknya.


"Pertarungan tadi.. sangat menyenangkan. Terimakasih sudah meminjamkan tongkatmu padaku. " ucap Yuki sembari tersenyum.


(˵•̀෴•́˵) (*Sarang cemburu)


"Dasar, kau bicara apa sih? " ucap Ho-Seok dengan kesal.


"Kalian seharusnya mengapresiasinya karena mau meminta maaf. Kalau kalah-pun kalian gak mungkin minta maaf. " 🗿


• • •


/hening sesaat/


"HA?!! KAU BICARA APA SIH?!! " teriak Ho-Seok dengan kesal.


"Oh ya, Yunda jadinya berada di tim kami, bukan? " Yuki tersenyum.


Ho-Seok menjawab dengan nada lembut sembari memegang kepalanya.


Yunda merasa nyaman mendekap di pelukan Yuki yang terasa sangat tulus.


"Yunda."


"Uh? "


"Jangan mau terlihat seperti orang rendahan. Tindakanmu tadi terlalu berlebihan. " ucap Myungsoo.


"Baik. " saut Yunda sembari menganggukkan kepalanya.


"Oke.. oke.. kita jangan sampai lupa ya, dengan janji kita sebelumnya~ "


Semuanya membalik, melihat ke arah Seira yang sudah memegang sepucuk kertas. Seira membuka kertas tersebut dan mulai membaca kertas itu.


"Wao~ sepertinya ada kisah romantis disini. Lena Rue Yunda, anak angkat keluarga Rue ini ternyata adalah anak haram dari istri Sukimi Tatsuya, dan juga pacar dari Sato Sasaki. Sekian~ "


"Uh! "


Benar, yang memberikan informasi itu tentunya adalah Yeon-Seok sendiri. Bagaimana Yeon-Seok bisa tau?


Tentu saja dia menanyakannya sendiri pada Yunda. Karena Yunda merasa berhutang dan sadar akan posisinya, ia memilih untuk jujur tentang hubungannya dengan Sato Sasaki.


"Yunda, kamu.. "


"Oke semuanya~ silahkan kembali ke tempat masing-masing~ " ucap Seira.


.


.


.


Yuki kembali ke tempat, sementara Yunda ingin mengobati lukanya dulu di tempat pemulihan seorang diri.


....


[Ruang Pengobatan]


Yunda membuka pintu, ia begitu terkejut karena seorang pria dengan telanjang dada dan menggunakan celana panjang duduk di sofa sembari merokok.


"Ka-. Kak Sasaki? Kakak sejak kapan disini? " Yunda segera menghampiri pria itu, yang ternyata adalah Sato Sasaki.


Sasaki melihat ke arah Yunda dan langsung memeluknya dengan erat Yunda.


"Aku menunggumu, bodoh. " ucap Sasaki dengan nada kasar.


"M-maaf.. "


"Katanya tangan dan kakimu cidera ya? " tanya Sasaki yang langsung melepas pelukannya dari Yunda.


"Eh-? " • • •


"Dasar bo~doh. "


"A-aww!! "


Sasaki mencubit pipi Yunda yang tadi terkena pukulan dari Yuki. Seolah-olah tak menghiraukan jeritan Yunda, Sasaki mencubit pipi satunya dengan keras.

__ADS_1


"Ingat kataku sebelum bertanding? " tanya Sasaki dengan nada mengancam.


Dengan cepat Yunda menganggukkan kepala.


"Lalu kenapa masih ngeyel? Kau tidak bisa menjadi pahlawan hanya dengan tekad yang setengah. "


Σ(゜゜) !


"Kau mengerti?! "


"I-iya aku mengerti! "


"Bohong. "


"Sungguh! Kak Sasaki sakit.. "


"Jangan cengeng! Itu salahmu, aku tidak peduli kau sedang sakit atau tidak, aku sedang memberimu hukuman! " tegas Sasaki.


(-""-;)


Sasaki menatap cukup lama ke arah mata Yunda yang--memejamkan mata. Sampai akhirnya, Sasaki melepas cubitannya dan langsung menarik Yunda mendekat ke arahnya--tanpa pikir panjang Sasaki langsung mencium Yunda tepat di bibirnya.


Yunda tak dapat berkutik karena tubuhnya yang masih sakit.


"𝘋𝘢𝘴𝘢𝘳.. 𝘬𝘢𝘬 𝘚𝘢𝘴𝘢𝘬𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘢𝘯𝘥𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘭 𝘪𝘯𝘪, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘬 𝘚𝘢𝘴𝘢𝘬𝘪 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘯𝘢𝘧𝘴𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳. 𝘊𝘬. " batin Yunda yang sedikit kesal dengan tindakan Sasaki.


Yunda berusaha menghentikan Sasaki, sampai akhirnya Sasaki melepas ciumannya dan mencium leher Yunda.


"A-ayolah.. aku harus kembali ke arena. "


"Aku tidak peduli.. " ucap Sasaki yang terus mencium seluruh tubuh Yunda.


Yunda tidak punya pilihan lain selain meladeni Sasaki. Meski ia sedikit kesakitan karena Sasaki mencium lukanya, yang membuatnya sedikit perih.


Sasaki tak peduli akan hal itu. Ia hanya ingin Yunda tetap berada di dekatnya, semakin dekat, dan sangat dekat dengannya.


"Hmm.. lain kali jangan diulangi lagi. " bisik Sasaki yang kemudian menggigit telinga Yunda.


:;((•﹏•๑)));:


"𝘈𝘱𝘢? 𝘢𝘱𝘢? 𝘢𝘱𝘢? 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘵𝘳𝘢𝘶𝘮𝘢 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪𝘢𝘯! " batin Yunda yang ketakutan dengan Sasaki.


Begitu memiliki Yunda, Sasaki langsung membuktikan di depan keluarganya bahwa Yunda adalah miliknya, sehingga keluarganya tak dapat mengganggunya lagi. Ia tak segan-segan memamerkan Yunda di depan orang-orang, padahal Yunda sendiri tidak menyukai hal itu.


"Uh! Kak-. " Yunda kesakitan karena Sasaki menekan tangan Yunda yang cidera tadi.


"Shh.. jangan berisik, bo~doh. " bisik Sasaki.


"Ugh! " Yunda menutup matanya dan membiarkan Sasaki menikmati dirinya yang sedang kesakitan.


Tapi apa yang dilakukan Sasaki tidak lain untuk mengobati luka Yunda. Meski caranya sedikit kasar dan nafsuan, Sasaki membalut tangan Yunda yang cidera dengan sangat mahir.


"𝘈𝘬𝘶 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘵𝘪, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘬 𝘚𝘢𝘴𝘢𝘬𝘪 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘢𝘸𝘢𝘭. " batin Yunda.


Meski biasanya Yunda tak begitu mempermasalahkannya, tapi kali ini karena bertanding dengan Yuki, dan juga tubuhnya sedang dalam kondisi yang tak stabil, ia mulai kesal dengan Sasaki.


(*tapi tidak mengurangi rasa hormat dan sayangnya pada Sasaki. :))


.


.


.


.


Pertandingan ketiga, Shin Ryung hae akan maju.


"𝘜𝘩! 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘔𝘺𝘶𝘯𝘨𝘴𝘰𝘰?! " batin Miyano.


"Sepertinya Myungsoo itu menyadari formasi kita. Kalau begitu-. "


"Aku akan maju. " tegas Yuki.


Karena tak punya pilihan lain, dan juga sesuai dengan perjanjian di awal kalau Yuki akan bertanding dua kali.


Yeon-Seok mulai menyadari dan mengerti mengapa Iguchi sangat waspada terhadap Yuki.


Yuki sedikit kebingungan memilih senjata, ia melirik sedikit ke arah Ryung hae yang sudah berada di tengah arena.


"𝘒𝘯𝘶𝘤𝘬𝘭𝘦? 𝘚𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩? " batin Yuki.

__ADS_1


Akhirnya Yuki memilih menggunakan sebuah pisau kecil yang tidak sengaja ia lihat. Pisau itu terlihat tajam meski berukuran kecil.


"𝘔𝘢𝘯𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘯𝘥𝘢 𝘪𝘯𝘪. "


( ͠° ͟ ͜ʖ ͡ ͠°)


Yuki berjalan ke arah Arena, melihat ke arah tempat duduk Myungsoo dan yang lainnya. Sarang memberi isyarat semangat kepada Yuki.


"Jangan salah paham, sebenarnya Myungsoo ingin membantu membuat kemenangan. " bisik Ryung hae.


"Myungsoo? " Yuki menatap ke arah Myungsoo, yang dimana Myungsoo juga tersenyum smirk ke arah Yuki.


Yuki agak ragu dengan Sung Myungsoo.


"Baiklah, jadi apa yang kalian rencana? "


Ryung hae melirik ke arah dewan. Ia mulai menarik Yuki kemudian menciumnya dengan kepuasan yang mendalam.


.


.


"AP-! "


(〇o〇;) !!


(∵)?


"SIALAN!! KALIAN NGAPAIN SIH?!! " Ho-Seok membentak Ryung hae yang mendadak mencium Yuki di keramaian seperti ini.


"Sarang, tutup matamu. "


Haneul segera menutup kedua mata Sarang dengan tangannya.


"Eh-? "


Yuki sangat terkejut dengan Ryung hae.


"𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘦𝘫𝘶𝘵 𝘥𝘪𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢.. 𝘵𝘢𝘱𝘪.. 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘮𝘢𝘪 𝘪𝘯𝘪?! 𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢! " batin Yuki.


Ryung hae mencium Yuki cukup lama, membuat para Dewan merasa terprovokasi melihat apa yang mereka lihat. Itu juga tujuan Ryung hae sendiri.


"Wuhhh~ romantis sekali~ !!! Apakah couple yang satu ini ingin menandingi couple Sato Sasaki dan Yunda? " ucap Seira dengan perasaan berdebar-debar.


Yuki mendorong Ryung hae, kali ini Ryung hae memang ingin melepas ciumannya. Ryung hae mengusap bibirnya, sementara Yuki menatap sinis ke arah Ryung hae.


"DASAR BUAYA! " teriak Haneul.


(〇o〇;) ! /ekspresi Ryung hae/


"𝘗𝘢𝘥𝘢𝘩𝘢𝘭 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘤𝘪𝘶𝘮𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘮𝘢𝘯-𝘵𝘦𝘮𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘤𝘪𝘶𝘮𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘶𝘮𝘶𝘮 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪. 𝘔𝘦𝘮𝘢𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯! " 8(>_<)8 batin Yuki.


Yuki merasa sangat malu sehingga menutup wajahnya dengan tangannya, sementara Ryung hae masih bisa membalas bentakan dan ocehan dari Haneul dan Ho-Seok.


Satu-satunya Dewan yang menikmati hal ini tentunya, perwakilan dari keluarga Rue itu sendiri. Rue Yeon-Seok memang tertarik dengan seorang provokator handal.


(╯︵╰,) (*Sarang cemburu)


"Dasar b*j*ng*n! T****! T**! A*****"


(*mohon maaf, karena kata-kata Ho-Seok terlalu kasar 🗿🙏)


Σ(゚Д゚;) !!


"Jaga omonganmu, ya!! " 💢 /*Ryung hae_-/


.....


Yunda datang dan berlari ke arah tempat duduk kelompok penulis. Ia menghampiri Miyano dan teman-temannya.


"AP-! Apa-apaan lehermu itu?!! " ucap Miyano dengan kaget.


"Uh! Bukan apa-apa.. 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘩𝘢𝘭 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘶𝘵𝘶𝘵𝘶𝘱𝘪. "


"Sialan, jangan bilang kau-! " (*Kosuke)


"Abaikan saja..! " ucap Yunda dengan perasaan malu.


"𝘛𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘶𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘤𝘰𝘤𝘰𝘬.. 𝘚𝘢𝘮𝘢-𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘬𝘰𝘳𝘣𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘭𝘢. " 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘔𝘪𝘺𝘢𝘯𝘰.


(≡^∇^≡) 凸

__ADS_1


𝕊𝕖𝕝𝕖𝕤𝕒𝕚~


__ADS_2