
...
"Senior, apa senior akan tetap menulis? " tanya Miyano.
"Ya.. kalau untuk sekarang akan sulit sih.. tapi akan aku usahakan. " /senyum
Miyano merasa kalau jawaban dari Yuki terlalu kaku dan tidak meyakinkan. Mereka kembali ke tempat mereka setelah dihubungi langsung oleh Rika, sementara itu Miyano kembali ke kamarnya.
Disaat yang bersamaan, mereka dikirimkan sebuah link lewat E-mail. Link tersebut berisi survei tentang para penulis yang akan dieliminasi.
Miyano syok lantaran namanya juga terpampang di sana. Karena nomor urut Miyano terakhir, membuat Miyano sedikit khawatir dan takut.
"๐๐ฌ๐ถ ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐๐๐ 10 ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฎ๐ช๐ฏ๐ข๐ด๐ช. ๐๐ข๐ฑ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฆ๐ฌ๐ด๐ฑ๐ณ๐ฆ๐ด๐ช ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฐ๐ณ ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ด๐บ๐ฐ๐ฌ ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ? " batin Miyano.
"Sarang, ayo kita kembali. " ucap Yuki.
"Iya.. " saut Sarang sembari menganggukkan kepalanya.
"Maaf Miyano, kami pergi dulu ya. Sampai jumpa di lain waktu.. "
"I-iya! "
Yuki tidak habis pikir tentang pesan yang Rika kirimkan padanya.
"๐๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ๐ช ๐ฉ๐ข๐ญ ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ข๐ฑ๐ช ๐ซ๐ช๐ฌ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ช๐ต๐ถ, ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข.. ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ.. "/terhenti
"Kak? " Sarang memiringkan kepalanya.
"Uh? " Miyano yang kebetulan belum pergi--melihat Yuki dan Sarang yang terdiam di lokasi yang tak jauh dengan posisinya.
"Sarang, kita kembali ke kamar saja ya? "
"Uh. Oke, aku juga ingin istirahat. "
"Iya."
"๐๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ-๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ ๐ด๐ข๐ซ๐ข. " batin Miyano yang berjalan berlawanan arah dengan Yuki dan Sarang.
.
.
.
Di malam harinya, Yuki tidur di kamar Sarang. Yuki yang terjaga, kemudian mengambil ponselnya dan membuka kembali link tadi. Yuki terkejut melihat jumlah peserta dari 100 menjadi 50 dalam waktu kurang dari sehari. Yuki tak ingin membangunkan Sarang, jadi ia berusaha untuk menenangkan pikirannya.
Tidak ada pesan apapun, hanya pesan dari Rika yang menyuruh Yuki untuk segera ke lantai atas. Yuki yang tidak ingin meninggal Sarang, kini dihadapkan pilihan untuk memilih, Yuki sendiri tidak ingin mengecewakan Rika. Jadi Yuki memutuskan untuk pergi ke lantai atas, dan mengunci kamar dari luar. Sebenarnya hal ini Yuki lakukan karena merasa khawatir dengan Sarang.
"Ngg.. kakak.. jangan.. " Sarang mengigau.
"Uh?... ๐๐ฑ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐๐บ๐ถ๐ฏ๐จ ๐ฉ๐ข๐ฆ? ๐๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ ๐๐บ๐ถ๐ฏ๐จ ๐ฉ๐ข๐ฆ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ถ, ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐ช๐ต๐ถ ๐ฅ๐ฐ๐ฌ๐ต๐ฆ๐ณ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ. ๐๐ข๐ฑ๐ช ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐๐ฆ๐ฐ, ๐ฎ๐ข๐ข๐ง ๐๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐บ๐ข๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ณ๐ช๐ต๐ข. "
Yuki menyelimuti Sarang, mencium keningnya, dan mengenakan jaket lalu membawa kartu kamar bersamanya.
Masalah yang pernah Yuki perbuat pada Ryung hae dulu, adalah masalah yang melibatkan aib keluarga Shin. Tanpa sengaja Yuki membuat aib keluarga Shin terbongkar, mungkin bagi Ryung hae ia harus berterimakasih pada Yuki, tapi bagi Sarang yang masih labil--hal ini adalah bencana keluarganya.
__ADS_1
.
.
.
(*lantai 7)
Yuki sampai di lantai 7, yaitu lantai paling atas di gedung. Sementara Rika sudah duduk di pinggir gedung, sontak hal itu membuat Yuki syok!
"Oh! Kamu sudah datang ya~ "
Rika membalik badan dan berjalan menuju Yuki. Di tengah cuaca dingin pada malam itu, Rika hanya menggunakan kaos tanpa lengan dan celana panjang, tatapannya begitu tajam seperti menargetkan Yuki.
"Ternyata kau memang orang yang baik ya~ Padahal ini sudah malam tapi kamu mau repot-repot datang kemari. " ucap Rika dengan nada ria di hadapan Yuki.
Yuki menghilangkan perasaan buruknya pada Rika dan menjawab..
"Kebetulan aku belum tidur. " Yuki menatap lama ke arah mata Rika yang tampak berbunga-bunga seolah-olah merasakan sebuah kepuasan dalam dirinya.
Tak lama, Rika mulai mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan data anak-anak [NC]. Nampak angka yang awalnya 500 dengan cepat turun menjadi 200.
"Yuki, setelah dilihat-lihat kenapa kamu tidak ikut mengisinya? Padahal kita tinggal mencentang kotak saja. " ucap Rika sembari melihat ke arah ponselnya.
"... Itu apa? Apa maksud dari tulisanmu itu? "
"Hm? Yang mana? "
"Yang kemarin kau kirim, apa maksud isi pesan mu? "
.
.
/pesan yang dikirim Rika kemarin/
"Ohh, ya itu artinya kita menyingkirkannya. "
"Uh! "
"Kenapa tidak kau coba saja? Kita cuma tinggal memilih para penulis yang tidak memiliki bakat. Kau tau? dalam hal ini kita adalah yang paling unggul, jadi sebelum dicap pengkhianat bukankah kau harus mencobanya? "
"... ๐๐ฑ๐ข.. ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฃ๐ช๐ค๐ข๐ณ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ? ๐๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ฉ๐ช๐ข๐ฏ๐ข๐ต? "
Yuki kembali merasa curiga dengan Rika. Setiap perkataannya mewakili dendam dan ambisi.
"Kita bicarakan besok saja, aku harus-. " /berbalik badan.
"Tunggu! "
"Uh! "
Nada bicara Rika berubah menjadi berat, sontak Yuki langsung melirik ke arah belakang dan melihat ekspresi tak mengenakan dari wajah Rika.
"Aku serius, kau mau dianggap sebagai pengkhianat? "
__ADS_1
"Hm. Apa yang kau bicarakan sejak tadi? Pengkhianat? Memangnya aku berkhianat pada siapa? "
"Hmph. Yuki kau sangat sombong ya~ mentang-mentang juara 1 kau merasa dirimu sangat benar? "
"Uh. "
"Kau tau [NC] itu organisasi apa? Ini adalah organisasi penghancuran. "
"Uh! " /syok
"Setiap orang yang ada disini tak lebih hanya para penulis bodoh yang kebetulan dalam privilege sementara. Mereka hanya orang-orang kebingungan yang tidak mengerti caranya mengekspresikan diri mereka. Aku yakin kasihan pada mereka, sayangnya mereka memilih untuk masuk kemari. Justru aku merasa kalau orang-orang yang tidak terpilih sangat beruntung. "
"Rika! Apa yang kau bicarakan? "
Rika tersenyum smirk, menatap ke arah Yuki dengan tatapan penuh cahaya.
"Kami hanya menginginkan kepuasan, kau tau Yuki? Menurutku penulis seperti dirimu itu sangat bodoh tau, bisa-bisanya terpengaruh untuk masuk kemari, lalu mau datang ke tempat ini, kau pikir aku sedang main-main?!! "
"Rika! "
"BERHENTI MEMANGGIL NAMA ITU!! " Rika ingin melesatkan tangannya ke pipi Yuki, akan tetapi ditahan oleh Yuki.
Yuki memang tidak berniat untuk masuk [NC]. Tapi ada sesuatu yang membuatnya ingin masuk, ini adalah masalah pribadi Yuki.
Yuki melepas genggamannya pada tangan Rika.
"Kembalilah, ini sudah malam. " ucap Yuki yang kemudian berbalik dan meninggalkan Rika sendirian.
Nampak ekspresi kesal dengan kerutan di wajah Rika.
"B*tch. "
.
.
.
Di dalam lift, Yuki merenungi semua yang Rika katakan. Meski nampak wajah Yuki yang terlihat kebingungan menghadapi masalah ini.
Saat Yuki keluar dari lift, ada beberapa petugas kebersihan yang membersihkan kamar yang berada dekat dengan lift. Nampak kamar itu penuh dengan d*r*h dan juga pisau yang tergeletak di dekat kasur. Tak lama petugas itu mengambil pisau itu dan memasukannya ke dalam plastik.
Yuki yang syok mencoba untuk berpura-pura untuk tidak melihatnya, meski dalam pikiran Yuki, ia penasaran dengan apa yang terjadi. Ia berusaha berjalan dengan santai seolah-olah tak melihat dan tak terjadi apapun. Saat hampir sampai di depan pintu kamar Sarang, ia melihat noda merah yang menempel di dekat pintu, berpola layaknya sidik jari seseorang. Yuki bergegas membuka pintu dengan perasaan panik dan takut.
"Sarang-. Uh? "
Syukurnya Sarang masih tertidur pulas di kasurnya. Yuki merasa lega, kemudian ia memfoto sidik jari itu dan menghapusnya menggunakan air, lalu ia masuk ke kamar dan tidak lupa untuk menguncinya.
"๐๐ฏ๐ช ๐ข๐ฏ๐ฆ๐ฉ.. ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ข๐ณ ๐ต๐ข๐ฅ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ฐ๐ฎ๐ฐ๐ณ 317, ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฏ๐ฐ๐ฎ๐ฐ๐ณ ๐ช๐ต๐ถ ๐ฅ๐ช ๐ฏ๐ข๐ฎ๐ข-๐ฏ๐ข๐ฎ๐ข ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฏ๐ฐ๐ฎ๐ฐ๐ณ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ข๐ณ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ช๐ฌ๐ข ๐ต๐ถ๐ฏ๐ซ๐ถ๐ฌ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ข๐ฅ๐ช. ๐๐ฉ! ๐๐ฑ๐ข ๐๐ช๐บ๐ข๐ฏ๐ฐ ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ-๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ ๐ด๐ข๐ซ๐ข?! ๐๐ช๐ฌ๐ข ๐ต๐ถ๐ซ๐ถ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฎ๐ช๐ฏ๐ข๐ด๐ช ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ด๐ฆ๐ณ๐ต๐ข, ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข ๐๐ช๐บ๐ข๐ฏ๐ฐ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐ค๐ข๐ฎ! ๐๐ฆ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ ๐ช๐ต๐ถ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฃ๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ต ๐ฃ๐ข๐ธ๐ข๐ฉ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐ค๐ข๐ฎ. ๐๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ช ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ข๐ณ ๐ช๐ต๐ถ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ต 20. ๐๐ฑ๐ข ๐ข๐ณ๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐๐ช๐บ๐ข๐ฏ๐ฐ ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ-๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ ๐ด๐ข๐ซ๐ข?! " dalam hatinya Yuki berpikir keras, berusaha untuk memecahkan situasi yang mengganjal di pikirannya.
Melihat situasi saat ini membuat Yuki tak dapat melanjutkab tidurnya. Iapun membuka ponselnya dan membuka link yang dikirimkan tadi siang untuk menganalisis seluruh kejadian yang ada.
"๐๐ช๐ฌ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ, ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ข๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐๐ช๐ฌ๐ข ๐ต๐ข๐ฅ๐ช ๐ด๐ฆ๐ด๐ถ๐ข๐ช ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ถ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ. ๐๐ณ๐จ๐ข๐ฏ๐ช๐ด๐ข๐ด๐ช ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฃ๐ถ๐ณ๐ถ๐ฌ! "
๐๐๐๐๐ค๐๐~
__ADS_1