
....
"Ng? Kak Yuki tidak tidur? " tanya Sarang yang masih setengah sadar dan mengusap-usap matanya.
Tanpa Yuki sadari waktu sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Sarang yang bangun membuat Yuki merasakan lelah setelah sekian lama duduk dengan ponselnya.
"Kakak sedang apa? " tanya sarang yang duduk disebelahnya.
"... Sarang, jika ku katakan ini.. apa kamu akan percaya? "
"Hm? Katakan apa? Kalau kak Yuki yang bicara aku percaya. "
"๐๐ฑ๐ข ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ข๐ฅ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ๐จ๐ฆ๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ? ๐๐ข๐ฑ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข? ๐๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ช๐ต๐ถ ๐ฃ๐ข๐จ๐ช๐ข๐ฏ ๐๐๐ 10 ๐ซ๐ถ๐จ๐ข? "
Yuki menaruh ponselnya dan memeluk Sarang, sembari berbisik.
"Dengar, tempat ini berbahaya. Ada sesuatu yang membuatku khawatir akan kehilangan dirimu. "
"Uh! Apa.. maksud kakak..? "
"Sulit untuk menjelaskannya, rasanya akan buruk jika Sarang mendengarnya. "
"Apa ada hubungannya dengan bunyi pecahan tadi? "
"Uh-huh!.. Bunyi.. pecahan..? "
"Telingaku sedikit sensitif semenjak dilempari miras oleh ayah dulu. Kamar ini kedap ruangan kok, tapi aku bisa mendengar suara pecahan dari kamar sebelah. "
"Uh! "
Yuki merasa curiga jika semisalnya kamar yang berada disebelah mereka bernasib sama seperti yang ada di kamar dekat lift. Jika itu benar maka tak menutup kemungkinan bahwa organisasi ini bukan organisasi biasa.
"Kak Yuki? "
"Nanti.. apa tidak masalah kalau kamu diam di kamar saja? "
"Uh? "
"Aku akan bawakan sarapan dan makan siang untukmu, tinggal kamu hangatkan saja di microwave. "
"I-iya.. tapi kenapa mendadak sekali? "
"Akan ku jelaskan lagi nanti, sekarang ayo kita tidur. "
Perasaan tak enak yang menghampiri pikiran Yuki membuatnya terpaksa merahasiakan hal ini pada Sarang. Yuki tidak mau Sarang terlibat dalam masalah yang belum pasti.
"๐๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ต๐ข๐ฌ๐ถ๐ต ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ณ ๐ฑ๐ฆ๐ค๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ค๐ข ๐ช๐ต๐ถ. ๐๐ข๐ฑ๐ช ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ข๐ต๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ต๐ช๐ฅ๐ถ๐ณ.. ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ด๐ถ๐ข๐ณ๐ข ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐ค๐ถ๐ญ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ข๐ณ๐ข๐ฉ ๐ญ๐ถ๐ข๐ณ ๐ฑ๐ช๐ฏ๐ต๐ถ, ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ต๐ข๐ฌ๐ถ๐ต. " Sarang tidur disebelah Yuki dan memeluk Yuki, begitupula dengan Yuki yang kembali memeluk Sarang.
"๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ค๐ข๐ณ๐ข.. " batin Yuki.
.
.
.
Pagi pun tiba, kini peserta yang tersisa tinggal 30 orang peserta. Beberapa orang yang ketakutan dan khawatir memilih untuk diam di kamar.
"๐๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ. ๐๐ข๐ฎ๐ฑ๐ช๐ณ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข๐ฎ ๐ฅ๐ช ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ข๐ณ. " batin Yuki.
Kecurigaan Yuki semakin kuat mengenai sisi gelap organisasi ini. Yuki sudah mencoba untuk menghubungi polisi, akan tetapi ia tidak dapat menghubungi siapapun, termasuk ponsel Sarang yang berada di dekatnya.
Yuki berjalan sendirian di lorong menuju ke ruang para TOP 10 berkumpul.
.
.
.
Sementara itu, Miyano yang baru bangun dari tidurnya yang pulas, memutuskan untuk ke kamar mandi dan membasuh wajahnya.
Dengan kondisi yang masih setengah sadar, Miyano tanpa sengaja menggunakan cream cukur pada wajahnya.
"APAAAA!!!! "
Dengan cepat Miyano membasuh wajahnya.
__ADS_1
"Huh.. ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐ช๐ฏ๐ช ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ช ๐ฅ๐ช๐ฃ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ช๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ณ๐ช๐ฏ. ๐๐ต๐ข๐ถ ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ค๐ถ๐ฎ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ? "
.
.
.
.
(Ruang Direktur)
"Saya rasa ini berjalan kurang mulus karena keberadaannya. " ucap Yue dengan nada kesal.
Iguchi meminum kopi dan berusaha menenangkan diri sejenak.
"Kita musnahkan saja dia, gunakan gadis itu untuk menusuknya dari belakang. " ucap Iguchi.
"Baik, tuan Iguchi. " /bungkuk.
Yue keluar dari ruangan dan menghubungi seseorang melalui ponselnya. Tak lama terdengar suara seorang gadis yang menjawab panggilannya tersebut. Yue dengan tegas memberikan perintah pada gadis itu.
"Sekarang juga, bunuh Yokohama Yuki! "
.
.
.
.
Yuki sampai di depan pintu, tanpa ragu ia membuka pintu itu. Tidak ada siapapun di sana, karena ruangan yang begitu gelap akhirnya Yuki menghidupkan lampu di sana.
Dalam pikirannya, Yuki merasa bimbang dengan ini semua.
"Yuki? "
"Uh? "
"Rika? Selamat.. pagi. "
"Duh! Padahal aku mau mengucapkannya duluan. " ๐ข
"O-oke.. "
"Selamat pagi juga, Yuki. " /senyum
"Iya, pagi. "
"Kelihatannya yang lain tidak datang ya? "
"Uh! "
"Apa kita berdua saja hari ini? "
Yuki menyadari kalau kata-kata dari Rika terdengar buruk. Terlintas dalam pikiran Yuki tentang, "๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฃ๐ช๐ค๐ข๐ณ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ? " "๐ข๐ฑ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข ๐ต๐ข๐ถ ๐ด๐ฆ๐ด๐ถ๐ข๐ต๐ถ? "
"Hei Yuki.. apa kau.. membenciku? " tanya Rika.
"Uh? Kenapa kau bertanya begitu? "
"Tidak, hanya saja aku merasa kalau yang kulakukan mungkin akan membuatmu membenciku. Kejadian kemarin itu, bisakah kamu rahasiakan? "
"Uh! Rika? "
Rika menodongkan ponselnya ke wajah Yuki, Yuki nampak sangat syok sehingga beranjak dari kursinya!
Jumlah peserta saat ini, tinggal 24 peserta!
"Maaf Yuki.. aku memang gadis yang payah. Kenapa aku malah melakukan hal ini, ya? " Rika mengeluarkan sebilah pisau dari jaketnya.
Sontak Yuki langsung mundur.
"Rika, jangan bilang.. kau yang melakukan ini semua? "
"Haha. Insting mu memang tajam ya~ Ya.. kalau dipikir-pikir TOP 10 lainnya tidak akan mau melakukannya. "
__ADS_1
"Apa kau tau rahasia tempat ini? Jadi selama ini kau-! "
"Yuki, aku ini fans mu! "
"Uh! "
"Aku.. suka menulis. Aku suka menuangkan emosiku dalam sebuah cerita, tapi berapa banyak pun cerita yang aku buat selalu musnah dalam bara api. Kenapa? Padahal aku suka menulis! "
Rika bicara dengan penuh emosi, melepas Rika yang terlihat ceria dari wajahnya.
"Rika, apa darah yang kemarin ada di depan kamar Sarang.. itu.. ulah mu? "
"Uh? Yuki.. "
"Hm. Aku tidak mencurigai dirimu, tapi aku terkejut kau bisa berubah begini. "
"Ini adalah sifat asli ku, memangnya ada orang yang masih sempat tersenyum disaat dirinya membunuh orang? "
"Itu artinya, Rika itu orang baik. "
"Uh! "
"Meski wajahmu terus meyakinkan bahwa kau jahat, tapi kata-katamu menyampaikan isi hatimu. Karena itulah yang namanya menulis. "
Rika menjatuhkan pisaunya, dan berlutut dengan perasaan syok dan mual mengingat seluruh kamar yang ia lewati.
"๐๐ฆ๐ต๐ช๐ข๐ฑ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ข๐ณ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฉ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ค๐ข๐ช๐ณ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ธ๐ข๐ณ๐ฏ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฉ, ๐ฑ๐ข๐ณ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ต๐ถ๐จ๐ข๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ช๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ด๐ถ๐ด๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ข๐บ๐ข๐ฉ. ๐๐ฆ๐ต๐ช๐ข๐ฑ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ข๐ณ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ถ๐ญ๐ฆ๐ธ๐ข๐ต๐ช, 10..20..30..45..60.. ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข๐ฏ๐บ๐ข.. ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฉ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ข๐ซ๐ถ ๐ฑ๐ถ๐ต๐ช๐ฉ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ช๐ฉ-๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ช๐ฉ. "
Yuki termenung melihat situasi yang sering ia lihat dulu.
"Yuki, coba sebut namaku.. " ucap Rika dengan nada terisak tangis.
Yuki mendekatkan dirinya dan memanggil nama Rika dengan lembut.
"Rika.. "
"Apa.. arti dari nama itu? " tanya Rika.
"...Rika itu.. berarti berkat yang tak ternilai. " ucap Yuki sembari tersenyum.
.
.
.
"๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐!! "
"Uh!! "
Kata-kata yang selalu ada di pikiran Rika membuat emosinya semakin tak stabil, membuat tangannya bergerak mengambil pisau lalu menusuk kaki Yuki.
Yuki segera melawan dengan memukul Rika dan mencabut pisau itu darinya.
"Akh!! " Rika terhempas keluar dari ruangan itu. Ia pingsan.
"haah.. haah.. haah.. " Yuki berusaha menghentikan pendarahannya dengan baju yang ia kenakan.
....
"Tch! Sial! Kita tidak bisa menggunakannya lagi. " Yue tampak sangat kesal.
Tapi rencana mereka tak berhenti sampai di sana.
Rika terbangun, sementara Yuki duduk berseberangan dengannya. Dengan kondisi yang sama-sama sekarat, mereka menatap satu sama lain.
"๐๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ฉ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต.. ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ข ๐ต๐ถ๐ณ๐ถ๐ฏ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ธ๐ช ๐ฎ๐ข๐ต๐ข๐ฉ๐ข๐ณ๐ช? " batin Rika.
Tak lama, keenam anggota TOP 10 lainnya muncul dengan kondisi yang aneh. Mereka layaknya zombie yang berusaha untuk membunuh Yuki.
"SERANG DIA!! "
"Huh! "
Yuki tidak ingin membunuh mereka! Tapi melihat situasi saat ini mereka seperti larut dalam sugesti seseorang!
๐๐๐๐๐ค๐๐~
__ADS_1