
Ryung hae berpapasan dengan Sarang. Dalam hati Sarang terbenam rasa takut dan khawatir yang memuncak.
"Bagaimana kondisimu? " tanya Ryung hae sembari memegang tengkuknya.
"Su-sudah membaik.. " ucap Sarang sembari menundukkan kepalanya.
"Mungkin ini bukan saat yang tepat menanyakannya, tapi-. "
Sarang terbawa emosinya dan langsung menyela perkataan Ryung hae.
"Kalau mau menanyakannya, tanyakan saja. Aku.. "
Dalam mata Sarang terlihat jelas air mata yang ia tahan untuk keluar.
Ryung hae mengepalkan tangannya dengan perasaan kesal.
"Jadi karena itu kau ikut dalam hal ini? "
"Uh! Itu karena aku harus hidup! [NC] menjanjikan kekayaan, tapi.. aku-. Aku tidak menyangka akan seperti ini.. " suara Sarang terdengar seperti seseorang yang menahan tangis.
Ryung hae menyadari hal itu, dan berkata bahwa ia tak ingin membahas hal ini lagi. Ryung hae juga mengatakan pada Sarang bahwa Sarang bebas melakukan apapun yang Sarang ingin lakukan.
Sarang merasa bersalah karena tak bisa jujur di hadapan Ryung hae. Ketika Ryung hae berbalik badan, Sarang berdiri tegap dan mengatakan sejujurnya pada Ryung hae.
"Jika saja.. aku memang benar-benar anak kandung ibu, aku tidak mungkin berada disini. Aku.. bukan.. adik kandung kalian.. aku hanya anak dari seorang pelacur. Maafkan aku.. " Sarang gemetar.
Sangat jujur, yang membuat dirinya merasa kalau dirinya yang paling bersalah di keluarganya.
"Seharusnya aku tidak ikut campur.. " Sarang meneteskan air mata, ia tak tahan dengan ini semua.
Satu hal yang Sarang tak berani lakukan, adalah menatap mata kedua saudaranya.
.
.
.
.
๐๐ข๐ข๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ฎ๐ข๐ต๐ข ๐ช๐ต๐ถ, ๐๐ฌ๐ถ ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ด๐ถ๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ข๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ธ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฅ๐ถ๐ฅ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ช ๐ณ๐ถ๐ฎ๐ข๐ฉ ๐ช๐ต๐ถ ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ข๐จ๐ข๐ช ๐ต๐ข๐ฎ๐ถ. ๐๐ฆ๐ด๐ฌ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ข๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ธ๐ข ๐๐ฌ๐ถ ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ต๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฅ๐ช ๐ณ๐ถ๐ฎ๐ข๐ฉ ๐ช๐ต๐ถ.
๐๐ข๐ต๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฐ๐ญ๐ข๐ฉ-๐ฐ๐ญ๐ข๐ฉ๐ณ๐ข๐จ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฏ๐ซ๐ถ๐ฌ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ข๐ต๐ข ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ธ๐ข '๐ข๐ฌ๐ถ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ถ๐ข๐ด๐ข ๐ฅ๐ช๐ด๐ช๐ฏ๐ช', ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต๐ฌ๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ๐ถ๐ต, ๐ฌ๐ฉ๐ข๐ธ๐ข๐ต๐ช๐ณ, ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ต. ๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ข๐ฉ๐ข๐ฎ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช.
.
.
"๐๐ช๐ข ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ญ๐ข๐ฃ๐ช๐ญ, ๐ฅ๐ช๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ข๐ฏ๐ต๐ข๐ด ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฅ๐ช๐ด๐ช๐ฏ๐ช. " batin Ryung hae yang memeluk Sarang dengan erat.
Sarang mendekap di pelukan Ryung hae, rasanya sama seperti saat Sarang memeluk Yuki. Kenyamanan yang ia rasakan terasa jelas, ketakutan yang ia rasakan mulai sirna dari pikirannya. Ia menyadari bahwa dirinya berlebihan saat mengacuhkan kakaknya. Tiba-tiba Sarang teringat dengan ucapan Yuki tentang seorang adik yang membenci kakaknya, meski wajar, tapi Sarang tak merasakan ada hal itu dalam dirinya.
"Tadi itu pertandingan yang hebat. " ucap Ryung hae.
"Uh! " hati kecil Sarang merasakan kehangatan. Sarang memeluk Ryung hae. Ia sadar bahwa yang ia lakukan juga salah, tapi tak semuanya merupakan kesalahannya.
__ADS_1
.
.
.
.
.
Di arena, Yunda masih kesulitan untuk menemukan celah antara dirinya dan Yuki. Yuki seolah-olah menutup kemungkinan Yunda untuk menang.
"๐๐ช๐ข ๐ฑ๐ถ๐ฏ๐บ๐ข ๐ง๐ช๐ด๐ช๐ฌ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ต๐ช๐ฉ, ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ข๐ฉ๐ญ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฏ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ช๐ด๐ข๐ถ. ๐๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฏ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข, ๐ฐ๐ฌ๐ฆ.. ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฑ๐ข๐ด๐ต๐ช ๐ฃ๐ช๐ด๐ข. " Kali ini Yuki akan maju duluan untuk menyerang Yunda.
....
"Sejujurnya mereka berdua punya kesamaan. " ucap Yeon-Seok.
"Nak Yeon-Seok, sepertinya kamu menikmati acara ini ya? " tanya Kiraki Den dengan halus.
Yeon-Seok menghisap rokoknya dan membalas dengan wajah ria. Seperti ia sangat menghormati Den.
"Tentu saja pak, habisnya pertandingan ini mengingatkanku dengan kegiatan wajib militer dulu. Di lain sisi, aku ingin melihat Yunda bertanding. " ucap Yeon-Seok.
"Begitu ya.. " saut Den.
....
"Uh! " Yunda menghindar!
"๐๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฏ๐ฅ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข! ๐๐ช๐ข ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ธ๐ข๐ด๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ฅ๐ข๐ฑ ๐ด๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ, ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ข๐ซ๐ถ ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฑ๐ข๐ด๐ต๐ช ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ด๐ถ๐ฌ๐ฌ๐ถ. " batin Yuki.
Yuki berfikir sejenak tentang serangan dadakan yang mungkin akan Yunda lakukan. Akhirnya Yuki mengganti posisi tongkatnya, Yuki menyerang dengan mengarahkan tongkatnya ke atas. Sesaat setelah Yuki hampir mendekat, sesuai dengan prediksi Yuki--Yunda melangkah maju dan menghalau tongkat dengan tangannya, Yunda hajya menyerang tangan Yuki. Yuki menyadari saat Yunda ingin menusuk tangannya, alhasil Yuki tak punya pilihan lain selain menendang tangan Yunda.
Pisau yang Yunda pedang terlepas!
"Uh! Hm. " Tak menyerah! Yunda menyerang dengan tangan kosong.
"Akh-."
Yunda menahan tongkat yang Yuki pegang dan berpindah tempat dengan cepat--lalu memukul perut Yuki.
Yuki terpaksa melepas tongkatnya dan mundur perlahan.
"Aku rasa lebih baik jika kita bertanding dengan tangan kosong. " ucap Yunda sembari membuang tongkatnya keluar ring.
Yo berjalan sedikit kearah arena.
"Apa yang kau lakukan?! bukannya kau terlalu mengalah?! " ucap Yo dengan nada kasar.
Yunda terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Yo.
"Habisnya.. aku merasa ada kesamaan antara Aku dan kak Yuki. "
"Eh-? kesamaan? ๐๐ข๐ฏ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ช๐ญ ๐๐ฌ๐ถ '๐ฌ๐ข๐ฌ'? ๐ด๐ฐ๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ฆ๐ต ๐บ๐ข๐ฉ~ " tanya Yuki.
__ADS_1
"Kak Yuki, tidak bisa menggunakan senjata sebagai bertarung, Aku juga sama. "
"Uh! Tapi caramu menggunakan pisau sangat lincah. "
"Itu baru aku pelajari kemarin, saat kakak memintaku untuk ikut bertanding. "
"๐๐ฆ๐ฎ๐ข๐ณ๐ช๐ฏ?!! " batin Yuki dengan perasaan kaget.
Dahulu Rue Kwang-Dong bertemu dengan Yunda saat ia datang ke sebuah kompetisi bertarung di Jakarta. Yunda memikat hati Kwang-Dong dengan gerakan serta pukulannya.
Yunda hanya mengandalkan pukulan tangan kosongnya, ia tidak bisa menggunakan pisau atau benda lainnya untuk berkompetisi.
"Ternyata begitu ya.. dia memang jenius. " ucap Miyano.
"Yah, mungkin ini akan sedikit sulit. " saut Kosuke.
"Eh? kenapa? "
"Coba lihat, wajah para Dewan itu~ terlihat jelas yang sangat kesal siapa, bukan~ ? "
Yamato Iguchi, tak menerima hal ini terjadi. Ia sangat menyadari bahwa Yuki adalah dalang di [NC].
Yuki memegang pundak Yunda, memuji Yunda karena sangat pengertian terhadap lawannya.
"Ayo bertanding dengan sportif. " tersenyum.
"Iya. " saut Yunda.
Yuki dan Yunda punya kesamaan dalam bertanding. Selain hanya menguasai pertarungan tangan kosong, mereka juga memiliki sifat yang sangat adil dan bijaksana. Mereka berdua diberi julukan 'Double Yu' oleh Yeon-Seok.
"Kalau dalam bahasa Inggris bisa berarti huruf 'W', secara otomatis itu dibaca 'double yu'. W juga singkatan untuk kata 'Wise' yang berarti 'bijak'. " jelas Yeon-Seok.
Disisi lain, Ryung hae menunggu Sarang yang sedang berada di toilet untuk mengganti pakaiannya. Tiba-tiba saja Ryung hae teringat dengan kakaknya, Seo.
Disaat yang bersamaan, ada seorang pria yang sepertinya baru datang dari bangku penonton. Tapi Ryung hae tidak mengenalinya, pria itu bukan berasal dari kelompok petarung maupun penulis. Cara berjalannya sangat tegap dan percaya diri, selain itu dia juga membawa tas ransel. Ryung hae mengabaikan pria itu, begitupula dengan pria itu.
*Cklek.
/pintu terbuka/
Sarang keluar dan memakai baju yang diberikan oleh Ryung hae.
"Kebesaran ya..? " ๅธ
"Memang kenapa? "
"Tidak, bukan apa-apa. Ayo kita kembali ke arena, kau mau melihat Yuki bukan? " ucap Ryung hae yang berjalan meninggalkan Sarang.
Sarang berlari dan langsung memegang tangan Ryung hae. Hal itu tentunya membuat Ryung hae sedikit terkejut karena tindakan Sarang.
Pertandingan antara Yuki dan Yunda menarik perhatian Kiraki Den. Karena keduanya memiliki sifat yang hampir sama.
"Aku rasa mereka cocok dijadikan satu kelompok.. " ucap Den sembari menaruh gelasnya di meja.
๐๐๐๐๐ค๐๐~
__ADS_1