Y2H Pen

Y2H Pen
021. Wise


__ADS_3

Ryung hae berpapasan dengan Sarang. Dalam hati Sarang terbenam rasa takut dan khawatir yang memuncak.


"Bagaimana kondisimu? " tanya Ryung hae sembari memegang tengkuknya.


"Su-sudah membaik.. " ucap Sarang sembari menundukkan kepalanya.


"Mungkin ini bukan saat yang tepat menanyakannya, tapi-. "


Sarang terbawa emosinya dan langsung menyela perkataan Ryung hae.


"Kalau mau menanyakannya, tanyakan saja. Aku.. "


Dalam mata Sarang terlihat jelas air mata yang ia tahan untuk keluar.


Ryung hae mengepalkan tangannya dengan perasaan kesal.


"Jadi karena itu kau ikut dalam hal ini? "


"Uh! Itu karena aku harus hidup! [NC] menjanjikan kekayaan, tapi.. aku-. Aku tidak menyangka akan seperti ini.. " suara Sarang terdengar seperti seseorang yang menahan tangis.


Ryung hae menyadari hal itu, dan berkata bahwa ia tak ingin membahas hal ini lagi. Ryung hae juga mengatakan pada Sarang bahwa Sarang bebas melakukan apapun yang Sarang ingin lakukan.


Sarang merasa bersalah karena tak bisa jujur di hadapan Ryung hae. Ketika Ryung hae berbalik badan, Sarang berdiri tegap dan mengatakan sejujurnya pada Ryung hae.


"Jika saja.. aku memang benar-benar anak kandung ibu, aku tidak mungkin berada disini. Aku.. bukan.. adik kandung kalian.. aku hanya anak dari seorang pelacur. Maafkan aku.. " Sarang gemetar.


Sangat jujur, yang membuat dirinya merasa kalau dirinya yang paling bersalah di keluarganya.


"Seharusnya aku tidak ikut campur.. " Sarang meneteskan air mata, ia tak tahan dengan ini semua.


Satu hal yang Sarang tak berani lakukan, adalah menatap mata kedua saudaranya.


.


.


.


.


๐˜š๐˜ข๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ.


๐˜”๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ-๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ณ๐˜ข๐˜จ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ธ๐˜ข '๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช', ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต, ๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ณ, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช.


.


.


"๐˜‹๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ, ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. " batin Ryung hae yang memeluk Sarang dengan erat.


Sarang mendekap di pelukan Ryung hae, rasanya sama seperti saat Sarang memeluk Yuki. Kenyamanan yang ia rasakan terasa jelas, ketakutan yang ia rasakan mulai sirna dari pikirannya. Ia menyadari bahwa dirinya berlebihan saat mengacuhkan kakaknya. Tiba-tiba Sarang teringat dengan ucapan Yuki tentang seorang adik yang membenci kakaknya, meski wajar, tapi Sarang tak merasakan ada hal itu dalam dirinya.


"Tadi itu pertandingan yang hebat. " ucap Ryung hae.


"Uh! " hati kecil Sarang merasakan kehangatan. Sarang memeluk Ryung hae. Ia sadar bahwa yang ia lakukan juga salah, tapi tak semuanya merupakan kesalahannya.

__ADS_1


.


.


.


.


.


Di arena, Yunda masih kesulitan untuk menemukan celah antara dirinya dan Yuki. Yuki seolah-olah menutup kemungkinan Yunda untuk menang.


"๐˜‹๐˜ช๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ง๐˜ช๐˜ด๐˜ช๐˜ฌ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฉ, ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ด๐˜ข๐˜ถ. ๐˜’๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข, ๐˜ฐ๐˜ฌ๐˜ฆ.. ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข. " Kali ini Yuki akan maju duluan untuk menyerang Yunda.


....


"Sejujurnya mereka berdua punya kesamaan. " ucap Yeon-Seok.


"Nak Yeon-Seok, sepertinya kamu menikmati acara ini ya? " tanya Kiraki Den dengan halus.


Yeon-Seok menghisap rokoknya dan membalas dengan wajah ria. Seperti ia sangat menghormati Den.


"Tentu saja pak, habisnya pertandingan ini mengingatkanku dengan kegiatan wajib militer dulu. Di lain sisi, aku ingin melihat Yunda bertanding. " ucap Yeon-Seok.


"Begitu ya.. " saut Den.


....


"Uh! " Yunda menghindar!


"๐˜’๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข! ๐˜‹๐˜ช๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ธ๐˜ข๐˜ด๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ซ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ถ. " batin Yuki.


Yuki berfikir sejenak tentang serangan dadakan yang mungkin akan Yunda lakukan. Akhirnya Yuki mengganti posisi tongkatnya, Yuki menyerang dengan mengarahkan tongkatnya ke atas. Sesaat setelah Yuki hampir mendekat, sesuai dengan prediksi Yuki--Yunda melangkah maju dan menghalau tongkat dengan tangannya, Yunda hajya menyerang tangan Yuki. Yuki menyadari saat Yunda ingin menusuk tangannya, alhasil Yuki tak punya pilihan lain selain menendang tangan Yunda.


Pisau yang Yunda pedang terlepas!


"Uh! Hm. " Tak menyerah! Yunda menyerang dengan tangan kosong.


"Akh-."


Yunda menahan tongkat yang Yuki pegang dan berpindah tempat dengan cepat--lalu memukul perut Yuki.


Yuki terpaksa melepas tongkatnya dan mundur perlahan.


"Aku rasa lebih baik jika kita bertanding dengan tangan kosong. " ucap Yunda sembari membuang tongkatnya keluar ring.


Yo berjalan sedikit kearah arena.


"Apa yang kau lakukan?! bukannya kau terlalu mengalah?! " ucap Yo dengan nada kasar.


Yunda terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Yo.


"Habisnya.. aku merasa ada kesamaan antara Aku dan kak Yuki. "


"Eh-? kesamaan? ๐˜‹๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ '๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ'? ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ต ๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ~ " tanya Yuki.

__ADS_1


"Kak Yuki, tidak bisa menggunakan senjata sebagai bertarung, Aku juga sama. "


"Uh! Tapi caramu menggunakan pisau sangat lincah. "


"Itu baru aku pelajari kemarin, saat kakak memintaku untuk ikut bertanding. "


"๐˜’๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ?!! " batin Yuki dengan perasaan kaget.


Dahulu Rue Kwang-Dong bertemu dengan Yunda saat ia datang ke sebuah kompetisi bertarung di Jakarta. Yunda memikat hati Kwang-Dong dengan gerakan serta pukulannya.


Yunda hanya mengandalkan pukulan tangan kosongnya, ia tidak bisa menggunakan pisau atau benda lainnya untuk berkompetisi.


"Ternyata begitu ya.. dia memang jenius. " ucap Miyano.


"Yah, mungkin ini akan sedikit sulit. " saut Kosuke.


"Eh? kenapa? "


"Coba lihat, wajah para Dewan itu~ terlihat jelas yang sangat kesal siapa, bukan~ ? "


Yamato Iguchi, tak menerima hal ini terjadi. Ia sangat menyadari bahwa Yuki adalah dalang di [NC].


Yuki memegang pundak Yunda, memuji Yunda karena sangat pengertian terhadap lawannya.


"Ayo bertanding dengan sportif. " tersenyum.


"Iya. " saut Yunda.


Yuki dan Yunda punya kesamaan dalam bertanding. Selain hanya menguasai pertarungan tangan kosong, mereka juga memiliki sifat yang sangat adil dan bijaksana. Mereka berdua diberi julukan 'Double Yu' oleh Yeon-Seok.


"Kalau dalam bahasa Inggris bisa berarti huruf 'W', secara otomatis itu dibaca 'double yu'. W juga singkatan untuk kata 'Wise' yang berarti 'bijak'. " jelas Yeon-Seok.


Disisi lain, Ryung hae menunggu Sarang yang sedang berada di toilet untuk mengganti pakaiannya. Tiba-tiba saja Ryung hae teringat dengan kakaknya, Seo.


Disaat yang bersamaan, ada seorang pria yang sepertinya baru datang dari bangku penonton. Tapi Ryung hae tidak mengenalinya, pria itu bukan berasal dari kelompok petarung maupun penulis. Cara berjalannya sangat tegap dan percaya diri, selain itu dia juga membawa tas ransel. Ryung hae mengabaikan pria itu, begitupula dengan pria itu.


*Cklek.


/pintu terbuka/


Sarang keluar dan memakai baju yang diberikan oleh Ryung hae.


"Kebesaran ya..? " ๅ‡ธ


"Memang kenapa? "


"Tidak, bukan apa-apa. Ayo kita kembali ke arena, kau mau melihat Yuki bukan? " ucap Ryung hae yang berjalan meninggalkan Sarang.


Sarang berlari dan langsung memegang tangan Ryung hae. Hal itu tentunya membuat Ryung hae sedikit terkejut karena tindakan Sarang.


Pertandingan antara Yuki dan Yunda menarik perhatian Kiraki Den. Karena keduanya memiliki sifat yang hampir sama.


"Aku rasa mereka cocok dijadikan satu kelompok.. " ucap Den sembari menaruh gelasnya di meja.


๐•Š๐•–๐•๐•–๐•ค๐•’๐•š~

__ADS_1


__ADS_2