Young Teacher

Young Teacher
Menangis di Pojok Kamar


__ADS_3

Hah? Kembali lagi kesini? Berarti ibu itu secara halus mengusirku. Sudah tidak tahan lagi dengan perdramaan ini!!


“Kak Novan, kalo mau silahkan.. aku bisa pulang sendiri” ucapku dengan sangat kesal lalu mengambil kunci mobil yang disimpan diatas meja dan hendak pergi keluar rumah


“Nak Lia, kenapa sembarangan mengambil kunci mobil Nak Novan” ucap ibunya


“Maaf bu, ini kunci mobil saya!” jawabku lalu pergi keluar rumah, rasanya sangat sesak sekali berada dirumah ini.


“Loh.. Nak Novan.. bagaimana ini?” Tanya ibu Erika


“Maaf bu, saya sebenarnya sudah menjadi pacarnya Lia” jelas kak Novan


“Hah!!!“ teriak Erika sangat kaget


“Saya harus menyusul Lia, maaf ya bu sekali lagi” lanjut kak Novan, dan langsung menghampiriku kedalam mobil


Tuk…tuk…tuk


Mengetuk kaca mobilku.


Sebenarnya aku kasihan melihat kak Novan, karena wajahnya sangat cemas sekali.


Aku membuka kaca mobil.


“Li, kita pulang ya sekarang, maafin kakak ya udah ajak kamu kesini” ucap kak Novan


Aku hanya mengangguk dan turun dari mobil untuk pindah posisi, karena awalnya aku duduk di kursi stir. Belum juga kembali naik mobil. Ibu Erika keluar dari rumah.


“Nak… tunggu…” teriaknya


“Bisa tenangkan Erika? Dia menangis sesegukan” pinta ibu Erika..


Emmm aku lupa memperkenalkannya dari awal, sebut saja ibu Erika itu dengan ibu Sumi..


“Ibukan ibunya, kenapa tidak bisa menenangkan anaknya sendiri?” Tanyaku dengan sangat kesal. Mungkin ini tidak sopan.


Dia tidak menggubris perkataanku dan malam kembali membujuk kak Novan agar tetap diam disini.


“Nak.. bantu ibu..” ibu sumi ini memohon kepada kak Novan.


Kak Novan melihatku. Kurasa dia memang orang yang sangat baik hati. Dia mau saja diminta ini itu oleh orang yang baru dikenalnya.


“Baik bu.. dengan syarat Lia ikut kedalam”


Apaan sih kak Novan, aku sudah muak berada disini, aku ingin pulang kak!!


“Apapun itu asalkan bisa memberhentikan tangisan Erika” ibu Sumi menyetujuinya.


Sepertinya memang ibu Sumi sangat khawatir dengan anak semata wayangnya ini.


Aku mengikuti kak Novan dari belakang menuju ke kamarnya Erika


Terlihat Erika menangis dipojokan kamarnya, dengan hijab yang digunakannya basah semua dengan air matanya.


“Erika” sapa Kak Novan perlahan

__ADS_1


“Pergiii!!! Kenapa Lia disinii!! Aku gak mau ada Lia disini!! Huhuhuhu” isak tangisnya semakin kencang


“Erika, bapak dan Lia sudah resmi menjadi pacar, kamu jika memang menyukai bapak, bapak mohon maaf sekali. Karena bapak sudah lebih dahulu tahu dan kenal dengan Lia” jelas kak Novan dengan sangat perlahan, berharap Erika bisa menerima kenyataan.


“Enggaakk!! Erika tetep gak suka sama Lia.. Lia perebut pak Novan.. huhuhuhu”


Dalam hati aku berbicara plis ini sangat lebay sekali, belum pernah seumur hidupku menyaksikan drama seperti ini.


“Erika, kenapa sih? Aku gak rebut kak Novan..” aku membela diriku


“Lagian diluaran sana masih banyak lelaki yang mau sama kamu!” Lanjutku


“Erika.. mereka belum menikah.. ingat ya nak!! Sebelum janur kuning melengkung. Masih ada banyak kesempatan!” Ucap ibu Sumi menenangkan


Hah!! Yang benar saja? Ibunya sendiri berbicara begitu? Dia seorang wanita kan? Seharusnya sesama wanita dia paham bagaimana rasanya jika kekasihnya direbut oleh orang lain!! Ini ada yang gak beres!


“Bu mohon maaf.. tapi saya sudah menjadikan Lia sebagai calon istri. Insyaallah dalam waktu dekat kami akan bertunangan” ucap kak Novan


Mendengar itu semua aku sangat terkejutt.


Serius? Kak Novan gak bercanda? Kenapa dia bilang begitu? Kita juga baru saja pacaran, apa iya dia akan menjadikanku istrinya?


“Nak Novan.. kan jodoh ditanyan tuhan. Kenapa bisa sangat yakin seperti itu?” Lagi lagi dibuat kesal dengan ucapan ibu Sumi


“Iya bu, tapi saya sudah sangat yakin dengan Lia” balas kak Novan dengan mantap


“Yasudah kita lihat saja nanti” ibu Sumi seperti sedang merencanakan sesuatu


“Huhuhuhhuhuhuhuhuuuu” tangisan Erika semakin menjadi jadi


Sepertinya kak Novan juga kesal dengan tingkah laku ibu Sumi


“Sudah ya Erika jangan nangis terus, ibu yakin, nanti nak Novan juga akan menyukai kamu, kamu harus terus berusaha sebelum mereka melangsungkan pertunangannya” ucap Ibu Sumi kepada anaknya itu


“Tapi bu.. mereka seperti sangat dekat.. bagaimana jika aku tidak berhasil merebut pak Novan?” Tangisnya masih berlanjut


“Kalo sudah berusaha lalu hasilnya nihil yasudah pasrah saja, berarti bukan jodohmu” kali ini ucapan ibunya itu ada benarnya


“Sudah ya jangan menangis, kamu cantik Erika, mengapa harus mengemis cinta dari dia?” Lanjut ibu Sumi


Erika hanya terdiam dan berhenti menangis.


Aku dan kak Novan sedang berada di dalam mobil menuju pulang, suasananya sangat hening dan sejuk, namun diluar sangat terik sekali.


“Lia, mau beli ice cream dulu gak?” Tanya kak Novan


“Hmm” jawabku hanya mengeluarkan suara seadanya


“Oh iya lupa, harusnya jangan ditanya, maaf ya kakak belum paham kamus cewek hihi”


Aku hanya terdiam.


sebenarnya aku tidak marah sama kak Novan, cuma sedang memikirkan kata katanya tadi, apa benar dia akan menjadikanku istrinya? Aku sangat ingin menanyakan hal itu, tapi sepertinya aku harus menahannya terlebih dahulu.


Mendengar itu semua aku hanya bisa tersenyum, ingin rasanya aku menjerit jerit dan berjingkrak jingkrak

__ADS_1


Setelah sampai ditempat ice cream, aku dibukakan pintu mobil oleh kak Novan dan langsung keluar.


Disana banyak sekali varian rasa


Aku memilih ice cream dengan rasa strawberry dengan toping choco chips. Sedangkan kak Novan, memilih rasa strawberry dengan toping oreo.


Kami melahap ice cream itu ditempat, karena selain cuaca panas, suasana dirumah Erika tadi juga tidak kalah panas.


Aku ingin menanyakan perkataan kak Novan tadi, tapi apakah ini saat yang tepat?


“Yuk Lia, kita pulang udah sore” ajak kak Novan


Aku hanya mengangguk


Sesampainya dirumah, kulihat ibu dan ayahku sedang duduk dibangku luar, menikmati indahnya suasana sore hari.


Aku bergegas untuk menghampiri mereka dan bersalaman, di ikuti dengan kak Novan.


Setelah bersalaman, aku mengajak kak Novan untuk beristirahat sebentar didalam rumah dan menawarkan untuk solat ashar terlebih dahulu. Dan kak Novan menyetujuinya. Kuantar kak Novan ke kamar mandi karena dia belum tau letak kamar mandiku. Tidak lama kemudian kak Novan keluar dari kamar mandi daaaannnn....


Sreeeetttt...sreeetttt...


Dia menggibas gibaskan rambutnya itu.


Melihatnya begitu, jantungku sangat berdebar. Betapa tampannya dia dibaluti dengan air wudhu.. Tidak sabar rasanya ingin menjadikan imam rumah tanggaku kelak, eh.. hehe mohon maaf..


Kami melaksanakan solat masing-masing, aku dikamarku dan kak Novan di mushola.


Rasanya ingin sekali menjadi makmumnya, namun itu tidak diperbolehkan..


Setelah melaksanakan solat, aku mengampiri kak Novan yang kini berada di ruang tamu.


“Kak Novan” sapaku


“Iya Lia?” Jawabnya sambil merapihkan rambutnya


“Aku mau tanya sesuatu boleh?”


“Hmm?”


“Kenapa kakak tadi bilang dalam waktu dekat akan bertunangan dengaku?”


Aku memberanikan diri untuk bertanya hal itu kepada kak Novan


“Kenapa? Lia gak mau tunangan sama Kakak?” Dia malah melontarkan pertanyaan itu


“Umm,, bukan begitu kak” sekarang aku sangat salah tingkah


“Apa Lia, ingin menikah saja bukan bertunangan?” Tanyanya serius


Aduh kak Novan, aku belum terpikir akan bertunangan dengan kak Novan, sekarang nambah lagi pikiranku menikah dengannya. Rasanya ini terlalu cepat, tapi memang sudah seharusnya jika sudah memiliki niat baik harus disegerakan ya?


Bersambung....


Seperti biasa ya jangan lupa like jika pembaca menikmati novel karya Fandrea ini.. komen juga sebagai bentuk kritikan atau masukan yaaa🥰

__ADS_1


__ADS_2