
#20
“Reno saja ya yang antar Erika” ucap Wanda
“Boleh, dengan senang hati” Reno memasang wajah sangat semangat.
“Tidak!!” Erika menolaknya
“Kenapa? sama aja yang penting sampai rumah, ayo” ajak Reno melangkahkan kaki tepat dihadapan Erika
“Tunggu!” Aku menghentikan langkah Reno
“Biar aku saja yang antar Erika” ucapku
“Lia, kamu bisa?” Ucap Kak Novan
“Bisa kak, aku pinjam motor kakak saja ya” ucapku
“Tapi.. hati-hati ya Lia, jangan ngebut, perhatikan spion kanan dan kiri, kalau mau nyebrang tengok kanan dan kiri, satu lagi” kak Novan sepertinya sangat mengkhawatirkanku. Aku menunggu perkataan selanjutnya.
“Kalau ada apa apa telpon kakak” lanjutnya
“Heleh lebay sekali, Lia udah gede kali pak” ucap Reno nyolot
“Kamu belum pernah tulus sayang sama seseorang ya? Makannya kamu gak pernah khawatir sama seseorang?” Kali ini kak Novan membalas perkataan dari Reno
“Maksudnya apa?” Reno melangkahkan kakinya menghampiri kak Novan
“Kamu! Maksudnya apa bicara seperti itu pada saya? Kamu tidak sopan ya! Berani sama saya!” Kak Novan mungkin sudah habis kesabaran menghadapi Reno.
Tapi ada benarnya, kak Novan walaupun masih muda dia tetaplah guru disekolah ini dan kami hanyalah peserta PLP dari universitas yang sedang menjalankan masa PLP disekolah ini.
Mendengar kak Novan marah Reno mundur melangkahkan kakinya.
“Kalau kamu masih tidak sopan sama saya! Saya tidak akan segan untuk melaporkan perilaku kamu selama disini ke kampusmu, mau!!?” Kak Novan kali ini benar benar sangat kesal kepada Reno.
“Maaf pak!” Reno meminta maaf kepada kak Novan.
Kak Novan hanya melihatnya dengan tatapan tajam.
“Kak sudah ya, iya nanti aku akan berhati-hati” aku mendekati kak Novan dan berbicara pelan kepadanya.
Kak Novan tersenyum kepadaku.
Aku memboyong Erika pergi keluar. Ditemani kak Novan, Wanda dan Ayu.
Erika duduk di jok motor belakang sedangkan aku menyetir motornya.
__ADS_1
Kami berpamitan untuk pergi.
***
Diperjalanan hening sekali tanpa suara. Aku tidak membuka percakapan dengan Erika. Begitu juga Erika hanya terdiam. Sepertinya dia menikmati udara segar untuk menghilangkan rasa sesak didadanya.
“Erika” sapaku memastikan dia baik baik saja
“Iya Lia?”dia merespon perkataanku
“Tidak. Kamu tidak apa apa?” Tanyaku
“Hmm”
“Lia, maafkan semua kesalahanku ya.. kesalahan ibuku juga” tiba tiba dia meminta maaf kepadaku
“Iya, aku sudah memaafkannya” sekarang aku benar benar lega
“Kamu harus tau sesuatu Lia” Erika mulai membuatku penasaran.
“ apa?”
“Nanti saja, kamu akan tau sendiri.. mana Lia aku minta nomber handphone kak Novan”
Lagi lagi dia membahas nomber handphone kak Novan!
“Enggak Lia, bukan apa apa”
Kira-kira apa ya? Apa aku kasihkan saja nomber whatsapp kak Novan? Enggak deh, biarkan saja
***
Tiba dirumah Erika.
Ada ibunya menyambut dari dalam.
“Erika.. kenapa sudah pulang?” Tanyanya
“Kenapa dia yang anterin?” Lanjutnya
Erika turun dari motor dan menghampiri ibunya
“Sudah ibu” Erika memegang tangan ibunya itu
“Makasih ya Lia” ucap Erika
“Aku pamit ya, bu, Erika”
__ADS_1
Aku pergi meninggalkan rumah Erika.
***
Sesampainya disekolah, aku bergegas pergi ke ruang piket. Disana ada Wanda sendirian. Kutanya siapa yang menggantiku mengajar dikelas dan ternyata Ayu yang menggantikanku.
Aku membuka handphone dan memberitahu lewat pesan singkat kepada kak Novan kalau aku sudah berada disekolah lagi. Namun tidak dibalas sepertinya sedang mengajar.
Ingin rasanya aku menanyakan sesuatu kepada Wanda. Tapi sudahlah aku sedang tidak ingin mengetahui apapun kecuali Wanda sendiri yang berbicara kepadaku.
“Lia” ucap Wanda
“Iya Wan?” Tanyaku
“Kemarin aku ditinggal dipinggir jalan” lanjut Wanda
Pada akhirnya Wanda sendiri yang membuka percakapan mengenai kejadian kemarin.
“Lalu bagaimana?” Tanyaku lagi dengan penasaran.
Wanda menceritakan semua kejadian kemarin kepadaku secara detail. Dari mulai dia ditinggalkan sampai dengan Reno memutar balik untuk mengajak Wanda kembali naik kemotornya. Aku terkejut dengan perlakuan Reno. Ternyata benar kata Kak Novan, tidak akan ada lelaki yang tega meninggalkan perempuan dipinggir jalan. Aku meminta maaf kepadanya karena tidak terpikir sedikitpun olehku Reno akan menurunkan Wanda. Untungnya Wanda memaafkanku dan dia bilang “tidak apa apa” dengan kejadian kemarin Wanda mendapatkan pelajaran baru.
***
Bel pulang sudah berbunyi.
Aku menunggu kak Novan namun kali ini diruang piket bukan diparkiran.
Reno mengajak Wanda pulang bareng. Tapi Wanda tetap menolak dengan alasan yang sama.
Wanda, aku dan Reno menunggu didepan ruang piket. Sepertinya Wanda memang akan dijemput oleh seseorang. Sedangkan Ayu sudah dijemput oleh seseorang yang akan melamarnya. Reno menunggu membuktikan perkataan Wanda bahwa dirinya akan dijemput seseorang.
Aku terus menunggu kak Novan. Kenapa dia belum datang juga ya!
Tak lama seseorang datang dengan mobil lalu memberikan klaksonnya. Wanda melambaikan tangan pada mobil itu. Ternyata ini yang ditunggu Wanda sedaritadi. Aku melihat ke kaca mobilnya, sulit sekali dilihat kaca mobilnya sangat gelap. Begitu juga Reno dia menatap kearah stir mobil sepertinya dia sangat penasaran.
Wanda berpamitan kepadaku namun tidak kepada Reno. Dia pergi menghampiri mobil itu dan pergi begitu saja.
Kulihat ekspresi Reno seperti tidak bersemangat.
“Siapa sih dia” gumamnya
Tunggu dulu, kemana kak Novan ya? Kok belum datang juga.
Bersambung…
jangan lupa like dan komen jika teman-teman menyukai cerita ini jadikan novel ini sebagai novel favorit. 🥰
__ADS_1