
Aduh kak Novan, aku belum terpikir akan bertunangan dengan kak Novan, sekarang nambah lagi pikiranku menikah dengannya. Rasanya ini terlalu cepat, tapi memang sudah seharusnya jika sudah memiliki niat baik harus disegerakan ya?
“Tapi kak.. aku kan belum menyelesaikan kuliahku” memang benar, sekarang aku masih di semester 7. Belum lagi aku menyusun skripsi
“Iya sudah, selesaikan saja dulu kuliahmu”
Aku hanya tersenyum mendengar perkataan itu.
Setelah hampir lama kami mengobrol, kak Novan berpamitan untuk pulang. Kulihat juga memang jam menunjukan pukul 17.00 WIB.
Ibu dan ayahku sedang duduk bersantai di depan, kak Novan mengampirinya untuk berpamitan pulang.
Ibuku bertanya kepadaku, apakah aku memiliki hubungan dengan kak Novan, karena ibu rasa kak Novan sering sekali mengampiri rumahku. Aku bercerita panjang lebar kepada ibu. Termasuk kuceritakan tentang Erika kepada ibuku. Hampir seperti drama di film, Erika bertingkah seperti didunia ini hanya ada satu laki laki saja yaitu kak Novan. Senang rasanya bisa menceritakan semua kejadian kepada ibuku.
Pagi hari..
Tok..tok..tok
“Iyaa sebentar” teriak ibuku dari dalam karena terdengar ada yang mengetuk pintu
“Eh kak Novan… silahkan masuk, mau jemput Lia ya..” lanjut ibuku
“Iyaa bu, Lia nya belum berangkat kan bu?”
“Belum. Tunggu ya kak ibu panggilkan dulu Lia”
Ibu pergi meninggalkan kak Novan untuk memanggilku.
Aku sudah bersiap sejak 10 menit sebelum datangnya kak Novan. Karena semalam aku bertukar pesan dengan kak Novan. Dan aku mengetahui bahwa kak Novan hari ini akan menjemputku pergi ke sekolah.
Seperti biasa aku berpamitan kepada ibu dan ayahku begitu juga kak Novan.
Dijalan hatiku sangat senang. Karena semenjak kehadiran kak Novan suasana hatiku selalu baik.
Setelah sampai disekolah.
Kulihat ada Ibu Sumi dan Erika sedang duduk berbincang dengan teman-temanku di ruang piket.
Ada apa ini? Kenapa ibu Sumi datang kesekolah?
“Nak Novan” sapa ibu sumi
Kak Novan hanya membalasnya dengan tersenyum
Kulihat satu persatu wajah dari temanku.
Seperti ada yang aneh.
Wanda menatapku dengan sinis, begitu juga Reno, namun dengan Ayu, terlihat mata bertanya-tanya. Kurasa ini ada yang tidak beres.
“Lia, kakak duluan ya” kak Novan berpamitan kepadaku
“Nak.. tunggu sebentar” ibu Sumi berdiri dari duduknya.
Lagi lagi langkah kak Novan terhenti karena suara dari ibu Sumi
“Nak.. tolong ya jaga Erika.. badannya sedang panas, tapi dia tetap mau pergi kesekolah”
Erika sakit? Kenapa malah pergi kesekolah, seharusnya dia istirahat, karena kondisi sedang pandemi banyak kemungkinan akan terjadi jika dia terus berada disini dengan kondisi sedang sakit.
“Maaf bu, kenapa tidak dibiarkan istirahat saja dirumah?” Tanya kak Novan
“Iya Nak.. ibu sudah menghalanginya untuk pergi kesekolah, tapi Erika kekeh ingin pergi kesekolah, lagi pula Erika sakit juga gara gara dibuat nangis oleh nak Lia kemarin” ibu Sumi melirik tajam kearahku
Aku hanya terdiam, tidak apa apa terus saja berbuat seolah aku yang salah.
“Li, kayaknya kamu yang harus jaga Erika” ucap Wanda
“Tidak, biar Nak Novan saja yang menjaga Erika” ibunya kekeh meminta kak Novan untuk menjaga anaknya
Bdjwnsjalandjsisisjsj!!!!! heuhhhh, kenapa sih ibu ini, kak Novan kan disini mau mengajaarrr, kenapa malah disuruh menjaga anaknyaaa, aku benar benar tidak mengerti apa yang ada dipikiran ibu Sumi terhormat!!
“Oh bu, tapikan saya harus mengajar. Lagian saya tidak punya waktu untuk berleha leha” tolak kak Novan
“Memangnya tidak ada waktu istirahat? Nak Novan kan bisa menjaganya diwaktu istirahat?” Ibu Sumi yang sangat kekeh dengan keinginannya
“Iya pak.. nanti selagi bapak mengajar biar kita yang menjaga Erika, kebetulan saya dan Reno hari ini hanya sekedar menjaga piket tidak ada jadwal untuk mengajar” ucap Wanda mendukung
“Nah ide bagus, yasudah ibu anggap Nak Novan setuju ya.. ibu pulang dulu… Erika hati hati ya nak, jangan kecapean” ibu Sumi memeluk Erika dan pergi meninggalkan ruang piket. Belum juga dijawab oleh kak Novan.
Aku menarik nafasku sangat dalam, begitu juga kak Novan melihat kearahku dengan memasang wajah seperti bayi yang sedang merengek mencari ibunya. Aku paham perasaan kak Novan, tapi bagaimanapun dia orangnya baik suka menolong, sepertinya dengan terpaksa kak Novan akan menyetujuinya.
Kak Novan memberi kode untukku. Aku dan kak Novan diam diam pergi keluar dari ruang piket tanpa ada yang menyadarinya.
__ADS_1
“Lia, kamu tidak apa apa kan?” Tanya Kak Novan
“GAK!“ jawabku singkat
“Liaa, nanti temenin istirahat ya, kakak gak mungkin berdua dengan Erika, apa kakak jangan turuti aja ya keinginan bu Sumi?”
“Terserah kakak, mau dituruti atau tidak, pasti mereka akan mengeluarkan 1000 cara untuk mendekatkan anaknya dengan Kakak” ucapku sangaaaat kesaaal sekaliii
“Liaaa jangan begitu, temenin kakak yaaa Liaa”
Aku hanya terdiam
“Liaaa…. Li… Liaaaa..” kak Novan merengek
“Liaaa sayangku”
DEG!!!
Apaan nih, kok manggil sayang, kenceng banget lagi, aduhh atur nafas Liaaaa, jangan sampai keliatan salting..
“Ih ngapaainnn manggil sayang” ucapku dengan so menahan salting
“Gapapa kan kita pacaran, emang salah?” Tanyanya
Ada benarnya juga sih, orang orang dihari pertama pacaran mereka langsung bilang sayang hehehe
“Yasudah nanti Lia temenin di ruang piket” aku mengiyakan
Sebel sekali rasanya harus menemani Erika diruang piket.
Aku dan kak Novan sepakat akan menemani Erika diruang piket. Bel masuk pun berbunyi, aku dan kak Novan pergi ke kelas masing-masing.
Suasana hatiku yang sangat kesal tidak mempengaruhiku dalam semangat mengajar, aku menjelaskan satu persatu materi yang dibahas hari ini sampai selesai.
Bel istirahat pun sudah berbunyi, rasanya cepat sekali. Tapi perutku lapar, sepertinya harus mengisi perut dulu sebelum menemani Erika diruang piket.
Aku memutuskan untuk pergi ke kantin, disana sudah ada Wanda dan Ayu
“Liaa” sapa Ayu
“Haii, mau makan apa nih aku lapar”
“Lia, kamu kenapa tidak menjaga Erika?” Tanya Wanda
“Lagian, kamu yang membuat Erika begitu, kasihan tau, ibunya tadi bercerita, aku mendengarnya sedikit kesal sama kamu Lia” jelas Wanda
Hah? Kesal kepadaku? Emang salahku apa? Bukannya kejadian kemarin itu kebanyakan ibunya Erika yang selalu memojokanku?
“Memangnya bu Sumi cerita apa aja Wan?” Tanyaku sangat penasaran
“Ibunya Erika bilang, Erika nangis dipojokan kamar gara-gara kamu, kamu yang selalu ingin ikut dan cari perhatian ke Pak Novan, yang tadinya Pak Novan sudah menyukai Erika jadi sukanya sama kamu, kemarin kamu ikut ke rumah Erika karena memaksa kan sama Pak Novan?” Wanda menjelaskan panjang lebar
“Wanda percaya sama perkataan ibu Sumi?” Aku menanyakan hal tersebut dengan tujuan mengetahui apakah Wanda ada dipihak ku atau bukan, hanya sekedar ingin berjaga-jaga saja supaya tidak salah dalam berbicara.
“Yoo aku percaya, masa ibu Sumi mau berbohong? Lagi pula ibu Sumi kan seorang ibu mana mungkin berbohong” yappss.. ternyata Wanda percaya dengan omong kosong ibu Sumi.
Ayu hanya mendengarkan percakapan kami, kukira Ayu sedikit tidak percaya, sehingga dia hanya akan menunggu jawaban yang sebenarnya dariku.
“Wanda, sebenarnya aku sudah berpacaran dengan kak Novan, dia sudah lebih awal mengenalku sebelum Erika mengenal bahkan menyukainya, jadi kemarin itu kak Novan mengajakku karena merasa dia harus menghargaiku sebagai pasangannya, lagipula Erika menangis itu karena diberitahu oleh Kak Novan sendiri, kalau dia sudah berpacaran denganku” aku menjelaskan kepada Wanda dan Ayu agar semuanya tidak salah paham.
“Naaaahhhhh…. Sudah aku duga, pasti ibunya Erika berbohong” Ayu sangat puas mendengar ceritaku
“Oh begitu ya Lia, tapi sebenarnya aku setuju dengan Ibu Sumi, kenapa kamu harus ikut? Meskipun kamu diajak oleh Pak Novan, seengganya kamu hargai Erika dan ibunya mereka hanya ingin berkenalan dengan Pak Novan” okey disini Wanda masih tetap membela Erika dan ibunya
“Wanda, kalau kamu ada diposisiku bagaimana? Jikalau Reno aku ajak bertemu dengan ibuku, dan posisi kamu ini sebagai pacar Reno, apa yang akan kamu lakukan?” Aku membawa Reno karena Wanda sangat menyukai Reno
“Lia, kamu kan sudah punya Pak Novan, kenapa mau ajak Reno kerumahmu? Lia sudah ya, cukup saja Erika yang dibuat menangis karena kamu, aku tidak mau kamu membuatku menangis karena Reno, jangan dekat-dekat dengan Reno” Wanda terlihat tidak mengerti perkataanku
“Wandaa.. Reno aja kali yang deketin Lia terus, Lia udah nolak berapa kali tetep aja dideketin” Ayu membelaku
“Yasudah Wanda aku tidak akan mengambil Reno. Silahkan jika Reno menyukaimu, ambilah” aku sudah sangat malas membahasnya, lagipula tadi aku hanya mencontohkan, bukan bermaksud akan mengajak Reno kerumah. Ada ada saja haha
Aku berbegas membeli makanan, sekalian saja aku membelinya 2, untuk kak Novan, karena waktu itu aku tidak jadi memberikan batagor kepadanya.
Setelah aku mendapatkan makanannya, aku berpamitan kepada Ayu dan Wanda untuk segera pergi ke ruang piket.
Sesampainya diruang piket, kulihat kak Novan sudah menungguku berdiri didepan meja piket dan kulihat Erika sangat lemas, badannya lesu, sekarang sedang duduk di kursi paling ujung. Kalo melihatnya begini, kasihan juga.
“Kak, kenapa tidak duduk?” Tanyaku
“Nanti, sengaja kakak nunggu Lia” jawab kak Novan
“Yasudah kakak duduk disamping Erika aja, nanti aku duduk disamping kakak” aku memberikan saran
__ADS_1
Kak Novan menggeleng tanda tidak setuju
Aku mendorong kak Novan agar duduk disamping Erika dan….
BRUUK!!
Kak Novan akhirnya duduk disamping Erika.
Hihihi aku tertawa melihat kak Novan memasang wajah cemberut lucu sekali.
Tak lama teman-temanku datang mengampiri kami di ruang piket.
Hanya tersedia 2 kursi kosong, di isi oleh Wanda dan Ayu, Reno hanya berdiri menunggu diluar meja piket.
Aku menghabiskan makanan yang dibeli tadi. Begitu juga kak Novan, seperti sangat kelaparan.
Erika hanya terdiam saja, kasihan, kenapa memaksakan untuk kesekolah.
Kulihat Erika seperti tidak tahan. Kusarankan untuk pulang, tapi dia tidak mau. Yasudah aku hanya diam sambil memperhatikannya.
Tidak lama kemudian, aku melihat tubuh Erika seperti akan terjatuh kearah kak Novan. Dengan sigap aku menarik kak Novan untuk menghindari tubuh Erika..
*sreeeettt*
Aku menarik kak Novan agar terhindar dari Erika
*BRUUUKK!!*
*BRUUUKKK!!*
Kak Novan terjatuh kebawah lantai, untungnya sedikit ditahan olehku. Dia memasang wajah kesakitan.
Maaf ya kak hehehe
Kulihat juga Erika pingsan, benar saja.. untungnya masih tertahan oleh Wanda, jadi tubuhnya tidak terlalu terbentur kebawah..
Semuanya panik, kak Novan terbangun dari lantai dan langsung pergi memanggil PMR.
Aduh kasihan sekali, kalau saja kak Novan tidak ditarik olehku, mungkin Erika akan aman aman saja.
Akhirnya PMR datang dengan membawa tandu, digotonglah Erika dan dibawa ke ruang UKS.
Aku sangat khawatir, karena aku sedikit menyesal telah menarik kak Novan untuk menghindari Erika.
Wanda dengan sigap menelpon ibu Sumi, memberitahukan kalau Erika jatuh pingsan.
Wanda sedikit sinis melihat ke arahku.
Memangnya aku kenapa? Kan bukan salah aku
Tak lama, Erika tersadar dari pingsannya, sementara itu ibu Sumi masih berada diperjalanan menuju ke sekolah.
Wanda dan Ayu, memberikan segelas air putih, sedangkan aku dan kak Novan hanya membawakan kipas angin agar Erika tidak merasa panas.
Tok…tok…tok
Suara mengetuk pintu dari luar.
Rupanya ibu Sumi datang dan masuk keruang UKS.
“Erikaaa… kamu tidak apa-apa?” Tanya Ibu Sumi kepada anak sematawayangnya itu
Erika hanya menggeleng sambil meminum segelas air dengan sedotan.
“Kenapa ini dahu kamu memar?” Tanya ibunya
Sontak aku sangat kaget mendengar itu
Hah memar? Apa jangan jangan terbentur dengan meja? Aduh merasa bersalah sekali aku
Erika kebingungan karena mungkin dirinya tidak sadar.
“Terbentur meja bu” jawab Wanda
“Haduhh, gimana sih kalian tidak menghalangi Erika?” Ibu Sumi marah
“Jaraknya kami lumayan jauh dengan Erika bu” jawab Ayu dengan santai
“Jauh gimana yu, jelas jelas tadi Erika didekat Lia” Wanda malah membawa namaku
“Kamu lagi yaaaaa!!!!” Kali ini ibu Sumi berbalik kearahku dengan wajah melotot.
Bersambung…
__ADS_1
Jangan lupa Like dan komen ya teman teman 🥰