
Tapi tiba-tiba motor Kak Novan berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Lalu menoleh kearahku yang berada di belakangnya.
“Liaaa” teriaknya.
Aku menoleh kearahnya.
Kak Novan ngayunkan tangannya pertanda aku harus menghampirinya.
“Kenapa Pak?” Tanyaku.
“Jaketnya mana?” Kak Novan menanyakan jaketnya yang tertinggal dirumahku.
“Aduh Pak lupa, ada dirumah hehehe” ucapku sambil tersenyum malu.
“Yaudah, besok saja dibawa ya jangan lupa” ucapnya.
Aku hanya mengangguk.
Dan Kak Novan pulang dengan Erika.
Aku menghampiri Ayu yang sedaritadi menunggu di kendaraanku. Akhirnya aku dan Ayu bisa pulang juga.
Diperjalanan Ayu banyak mengoceh tentang Erika. Dia bertanya kenapa bisa pulang bareng dengan Kak Novan. Ayu saja sangat kelihatan kesal apalagi aku.
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk kamarku.
Aku masih memikirkan kejadian tadi, ada apa? kenapa? kok bisa? bagaimana? mereka bisa pulang bareng. Apakah Kak Novan akhirnya menyukai Erika?.
Tunggu… kenapa aku yang repot? jika memang kak Novan menyukai Erika, lantas masalahnya dimana? Sudahlah jangan terlalu dipikirkan...
Jam menunjukan pukul 19.30.
*TRING*.
Suara notifikasi pesan dari instagramku.
1 pesan dari Novan.
Aku segera membuka pesannya.
Kak Novan :
•Lia.
Lalu aku membalasnya.
Aku :
•Iya Kak?.
Kak Novan : kenapa jaketnya ditinggal dirumah?.
Aku : maaf kak, tadi aku buru-buru.
Kak Novan : yaudah, besok Kakak ambil jaketnya pagi-pagi kerumahmu ya.
Aku : kenapa repot-repot kerumah Kak? kan kita ketemu di sekolah.
Kak Novan : tidak apa-apa sekalian saja aku jemput kamu pergi bareng ke sekolah.
*DEG!*.
Apaaa? Jemput? pergi bareng?.
Ya aaamppuuun seneeeng bangeeettt bacanyaaa. Tapi gimana Erika? emangnya Kak Novan gak bareng lagi sama dia.
Masih via Dm.
Aku : tidak usah repot-repot kak, takut Erika marah nanti hehehe.
Kak Novan : marah? kenapa marah?.
Aku : iya, soalnya kan tadi juga bareng sama Kakak, sudah pasti besok juga bareng kan Kak?.
Kak Novan : hahaha enggak, tadi kebetulan aja, udah ya besok Kakak jemput. Oh iya satu lagi.
Aku : kenapa Kak?.
Kak Novan : kenapa kalo di sekolah selalu bilang Pak?.
Aku : hehe cuma menghargai saja Kak, kan lingkungannya di sekolah.
__ADS_1
Kak Novan : yaudah bilang Kak saja ya di sekolah juga.
Aku : baik.
Kak Novan : yaudah tidur gih, see you besok.
Aku : 😊.
Yaampuuun kenapa rasanya senang sekalii, rasa kesal tadi siang lenyap sudah terbayarkan. Tapi kenapa ya tiba-tiba Kak Novan mau jemput aku? rasanya ingin cepat-cepat besok hihi.
Sebelum tidur aku harus mempersiapkan dulu buku-buku yang akan di bawa besok ke sekolah. Dan juga jaket Kak Novan aku lipat lalu aku masukkan ke dalam tasku. Harus serapih mungkin. Karena ku lihat Kak Novan orangnya sangat rapih.
Setelah selesai. Aku menghubungi Ayu, kalo besok tidak bisa bareng. Kuceritakan semuanya kepada Ayu. Kubaca sepertinya Ayu juga merasakan apa yang aku rasakan. Karena tadi siang juga Ayu sangat kesal pada Erika. Kami hanyut dalam sebuah chattingan hingga tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 22.00. Haduhhh.. gawat.. harus segera tidur! takutnya aku kesiangan. Kuakhiri chatku bersama Ayu. Lalu aku bergegas untuk tidur.
Ke esokan Harinya...
*kriinggg..kriinggg..kriiingg*.
Alarm jam ku berbunyi, menunjukan pukul 06.00.
Sontak aku sangat kaget. Aduhh aku kesiangaann.. aku harus bergegas pergi ke kamar mandi untuk bersiap-siap pergi ke sekolah. Setelah selesai aku pergi menghampiri Ibuku. Aku menanyakan kenapa Ibu tidak membangunkanku. Ternyata Ibu sudah membangunkanku sejak pukul 04.30, namun aku tidak terbangun karena tidurku sangat nyenyak. Ibu kira aku kecapean karena full jadwal mengajar. Sambil mendengarkan penjelasan Ibu, aku duduk di meja makan lalu menyantap sarapanku. Sangat tergesa-gesa. Ibu menegurku dan melarang makan dengan cepat. Karena takutnya tersedak. Kulihat jam sekarang pukul 06.45.
Hatiku sangat tidak karuan. Maklum pertama kali dijemput sama cowok hehe.
“Assalamu’alaikum”.
Kudengar suara Kak Novan mengucapkan salam. Aku langsung menjawab salamnya.
“Wa’alaikumsalam”.
Aku bergegas pamitan kepada Ibu, Ayah dan adik-adikku dan langsung menghampiri Kak Novan.
“Lia sudah siap?” tanyanya dengan senyum yang sangat tampan.
Aku hanya mengangguk.
Lalu kami berdua pergi meninggalkan rumah dengan mengendarai motor Kak Novan.
Di jalan aku sangat kebingungan, karena kini kami hanya membisu. Aku berinisiatif untuk membuka percakapan.
“Kak”.
Sontak aku kaget, Kak Novan juga rupanya memanggilku di waktu yang sama.
Aku mempersilahkan kak Novan duluan yang berbicara.
“Kamu emangnya gak dimarahin Reno? kalo Kakak jemput kamu?” tanyanya.
“Reno? enggak Kak, lagian Reno bukan siapa-siapa aku” jawabku.
“Oh iya? tapi Kakak lihat, kalian sering barengan” ucapnya lagi.
“Iya kak, kita barengan cuma sebatas teman saja kok” ucapku.
Kak Novan diam dan mengangguk.
“Kalo kakak sendiri sama Erika?” tanyaku.
“Kenapa?” Kak Novan malah balik bertanya.
“Pacaran… eh” ucapku keceplosan.
“Hahaha enggak Lia” Kak Novan malah cengengesan.
“Terus kenapa kemarin Kakak anter Erika pulang?” tanyaku penasaran.
“Lah.. terus kenapa sekarang juga Kakak anter Lia?” dia malah bertanya balik sambil cengengesan.
“Ohh berarti kakak akan melakukan hal yang sama ke semua teman PLPku?“ tanyaku sedikit kesal.
“Maksudnya?” Kak Novan melambatkan laju motornya.
“Iya, kayak aku sama Erika. Dianter dan di jemput” jelasku.
“Enggaklah, emangnya Kakak ojek” ucapnya.
Aku hanya terdiam.
“Lia mau tau gak, kenapa kemarin Kakak anterin Erika temenmu?” tanya kak Novan serius
“Kenapa Kak?” jawabku sangat penasaran.
__ADS_1
“Semuanya karena Lia” ucapnya.
“Lia? emangnya Lia kenapa?” tanyaku semakin penasaran.
Jadi kemarin Kak Novan nganterin Erika pulang itu gara-gara aku? emangnya kenapa? Erika bilang apa sama Kak Novan sampai aku terbawa-bawa. Semakin penasaran Kak Novan malam terdiam.
Kutanya lagi.
“Kak, kenapa?“ tanyaku sangat serius.
“Enggak ah, nanti kamu geer hahahaha” Kak Novan malah tertawa terbahak bahak.
Aku sontak memukul bahunya.
“Aduuhh” teriaknya.
“Maaf Kak, gak sengaja hehe”.
“Nah sudah sampai, ongkosnya 15ribu ya” ucap kak Novan bercanda.
“Nanti ya sekalian sama pulangnya kak jadi 30ribu” jawabku bercanda juga.
Kami berdua tertawa.
Aku dan Kak Novan pergi menuju ruang piket, disana sudah ada Erika dan Reno.
Sesampainya disana Kak Novan tidak bicara apa-apa kepadaku dan langsung pergi meninggalkan ruang piket.
“Lia, kamu bareng sama bapak itu?” tanya Reno kepadaku.
“Iya” jawabku singkat.
“Kamu kan yang minta jemput? kamu mau nyusahin Pak Novan kan?” tanya Erika ketus.
“Enggak. Kak Novan sendiri yang nawarin aku” jawabku.
“Pasti Pak Novan gak enak sama Ibu kamu. kan Ibu kamu juga bagian dari sekolah ini, jadi dia menghargai mau jemput anaknya” celoteh Erika.
“Apa hubungannya? kenapa kamu jadi sewot gitu Erika? kamu ngerasa tersaingi?” ucapku sedikit nada tinggi karena kesal dengan perkataannya.
“Hahah aku merasa tersaingi? enggak dong, jelas aku lebih cantik dari kamu, betul kan Reno?” ucapnya dengan nada songong.
“Enggak, Lia lebih cantik dari kamu” ucap Reno membelaku.
“Kenapa nih pagi-pagi ribut” ucap Wanda yang baru datang bersama Ayu.
Aku hanya terdiam.
Sedangkan Erika memberikan ekspresi meledek.
“Ini Erika cari masalah sama Lia” ucap Reno.
Ayu menghampiriku dan duduk bersebelahan.
“Udah deh kalian ini kenapa? merebutkan apa? Bapak tampan itu?” tanya Wanda.
Aku hanya terdiam karena aku tidak pernah merebutkan Kak Novan. Cuma sedikit kesal saja dengan perkataan dan tingkahnya Erika.
“Ayo dong, kita disini cuma satu bulan, tujuan kita mengajar, kenapa jadi ribut masalah cowok” Wanda meneruskan ocehannya.
“Wanda, aku tidak pernah merebutkan Bapak itu, kalau Erika mau, silahkan, aku tidak pernah menghalanginya, jika Pak Novan juga suka sama Erika, Pak Novan juga pasti sudah mendekatinya” ucapku dengan nada tinggi lalu pergi meninggalkan ruang piket.
Ketika keluar ruang piket, tepat di sebelah pintunya, aku melihat Kak Novan sedang menguping pembicaraan kami. Aku kaget karena kukira tidak ada dia disini. Dan sekarang posisi kami sedang berhadapan.
“Kak” ucapku dengan mata sinis.
“Eh Lia. Hehe.. Euh.. Lia mau kekelas” tanyanya sedikit terbata-bata.
Aku tidak menjawabnya, lalu pergi meninggalkan Kak Novan.
“Liaaa” teriak Kak Novan mengejarku.
Lalu aku berhenti.
“Besok kan libur, aku jemput ya kita keluar” ajak Kak Novan.
HAH!! aku terkejut, memasang wajah melotot kaget dan mengerutkan keningku.
“Harus mau ya, nanti pulang sekolah kita bertemu di bawah pohon yang ada kursi hijau, dahh” ucap Kak Novan pergi meninggalkanku.
Bersambung…
__ADS_1