Young Teacher

Young Teacher
Rahasia Reno dan Erika


__ADS_3

Aku menelponnya.


Tuuut… tuuutt… tuuutt…


Teleponnya tidak diangkat.


Apa aku harus menelepon Reno?


Tidak, sepertinya tidak harus. Aku takut akan ada yang salah paham nantinya. Sebaiknya aku menunggu cerita dari Wanda besok.


***


Ke Esokan harinya, aku dijemput oleh kak Novan, dijalan aku menceritakan semua hal yang terjadi pada Wanda dan Reno. Kak Novan tidak mempercayai kalau Wanda ditinggalkan di pinggir jalan. Karena sejahat-jahatnya laki laki tidak mungkin membiarkan seorang perempuan berjalan sendiri dipinggir jalan.


Setelah menceritakan kepada kak Novan. Dia menyarankanku agar tidak terlalu ikut campur antara Reno dan Wanda. Karena dia sudah tau bagaimana sifat kakaknya, mungkin Reno tidak akan jauh berbeda dengan kakaknya.


Aku sebetulnya menyetujui perkataan kak Novan. Jadi mulai hari ini ku urungkan niatku untuk mendekatkan Wanda dan Reno. Toh jika memang mereka berjodoh, mungkin akan dengan sendirinya mereka dekat.


***


Cuaca hari ini sangat cerah, angin berhembus ditambah dengan kicauan burung yang merdu. Aku menikmati setiap perjalanan bersama kak Novan. Sebetulnya aku tidak menyangka, pada akhirnya kak Novan adalah kekasihku. Dulu aku berpikir ini tidak akan mungkin terjadi, masih ku ingat saat dia tidak memperdulikanku. Sekarang dia adalah orang yang sangat peduli kepadaku.


Aku berharap kak Novan akan bersikap manis dan baik seperti ini untuk selamanya.


Kami akhirnya tiba disekolah.


Seperti biasanya aku pergi keruang piket dengan kak Novan. Kulihat ada Erika sudah duduk disana sendirian.


“Pagi Pak Novan” sapa Erika


“Pagi” kak Novan membalas sapaan Erika


“Pak Novan, aku boleh minta nomber whatsappnya?” Tanya Erika


Minta nomber whatsapp? Didepan pacarnya? Kenapa dia bertingkah menyebalkan lagi, padahal kukira kemarin dia akan mengakui kesalahannya. Bahkan kemarin dia terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu kepadaku.


“Emm.. untuk apa ya?” Kak Novan balik bertanya kepada Erika


“Ada keperluan pak” jawabnya


“Lia, semuanya terserah kamu ya. Kakak pergi dulu keruang guru” kak Novan pergi meninggalkan ruang piket


Kenapa malah dibebankan kepadaku, bagaimana ini, apa aku harus memberikan nomber kak Novan pada Erika? Lebih baik aku diam saja.


Mendengar ucapan kak Novan, Erika langsung terdiam Dia melihat kearahku. Tapi tidak berbicara sedikitpun. Aku juga lebih baik diam saja. Kalau memang ada keperluan, lebih baik bicara langsung saja dengan kak Novan.


“Hay semuanya” Reno menyapa kami dia barusaja datang.


“Hay” sapaku


“Kenapa kok pada diem diem? Biasanya kalian berantem?Hahaha” Reno memancing kami berdua


“Ngapain berantem” ucapku


Erika hanya diam dengan kedatangan Reno


Tak lama kemudian, Wanda datang menghampiri kami.


“Wanda” sapaku

__ADS_1


Wanda hanya tersenyum


“Kamu kesini sama siapa?” Tanya Reno


“Sendiri” jawab Wanda singkat


“Yaudah pulangnya bareng lagi sama aku ya” sekarang malah Reno yang menawarkan diri pulang bareng dengan Wanda.


“Oh tidak apa apa Reno, aku dijemput kok hari ini” Wanda menolak ajakan Reno


“Sama siapa?” Reno menanyakan hal yang sebenarnya dia tidak perlu mengetahuinya


“Seseorang” jawab Wanda


Aku sedikit bingung, mereka ini kenapa? Bisa bisanya Wanda menolak ajakan Reno, jika di ingat dulu Wanda sangat menginginkan bahkan memaksa Reno untuk mengantarnya pulang. Sekarang Reno sudah mengajaknya kenapa malah ditolak? Kenapa semakin banyak keanehan disini sih.


“Pacar yaa Wanda?” Erika menggoda Wanda


“Apasih” Wanda terlihat sangat malu malu


“Pacar? Kenapa mendadak punya pacar?” Reno bertanya seperti sangat terkejut


“Emangnya kenapa?” Wanda mengalihkan pandangannya kepada Reno


“E..eng..engga Wan” Reno menjadi sangat gugup


“Hay semuanya, kenapa pada serius amat nih” Ayu datang menyapa kami dia baru saja datang


“Ayuuu” sapaku


“Liaa, aku ada berita, nanti ya kita bicara setelah istirahat”


Tengtongteng saatnya jam pelajaran pertama


Suara bel jam pelajaran pertama berbunyi.


Kami bergegas pergi ke kelas masing- masing.


Seperti biasanya aku mengajar dan memberikan materi kepada murid muridku.


***


Tengtongteng saatnya istirahat pertama


Rasanya pegal sekali seharian berdiri didepan kelas. Aku memutuskan untuk pergi ke kantin, membeli makanan dan minuman. Tidak lupa aku menelpon kak Novan, meminta bertemu di kantin untuk sekedar membeli yang perut butuhkan.


Aku sudah berada dikantin, membeli segelas air putih lalu duduk menunggu kak Novan.


Suasana dikantin ramai sekali, banyak murid-murid berdatangan untuk mengganjal perutnya yang lapar. Untungnya aku masih kebagian kursi kosong.


“Lia” sapa kak Novan dari belakangku


“Sini kak” ajakku menyuruhnya duduk


“Mau beli apa?” Tanyanya


Aku beranjak berdiri dari dudukku. Dan menunjuk sebuah stand bakmie.


“Lia, duduk aja disini biar kakak yang pesankan untukmu ya” kak Novan menyuruhku duduk kembali

__ADS_1


“Ta..tapi kak, aku bisa sendiri”


“Sudah duduk saja ya” kak Novan memberikan kedipan matanya kepadaku


Seketika aku langsung membeku. Tak tau harus berbuat apa. Jantungku berdegup kencang karena mendapat kedipan dari kak Novan hehehe


Sambil menunggu kak Novan, aku melihat lihat stand minuman. Rasanya ingin membeli minuman manis. Namun pandanganku beralih kepada Erika dan Reno yang sedang membicarakan sesuatu. Sepertinya sangat serius. Kulihat wajah Erika seperti sedang marah. Ada apa ya?


Tak lama Ayu datang menghampiri Erika dan Reno. Ayu seperti sedang merelai mereka. Ayu melihat kearahku. Aku melambaikan tangan kepadanya dan dia menghampiriku dengan membawa Erika yang keadaanya sedang marah.


“Kenapa?” Tanyaku


“Ini Reno sama Erika mereka berantem” Ayu menjelaskan


“Hah? Kenapa?” Tanyaku penasaran


“Tanya Erika”


Tak kuasa untuk menceritakan semuanya, Erika malah menangis menutup wajahnya dengan kedua tangan. Aku disitu sangat terkejut, kenapa malah jadi begini? Sepertinya ada beban yang sangat berat pada Erika. Sampai sampai dia menangis.


Semua mata tertuju pada meja kami, murid murid menghampiri dan bertanya “kenapa bu” mereka sepertinya sangat penasaran.


Aku menyuruh Ayu untuk pergi ke ruang piket, karena dirasa ini bukan sebuah pertunjukan yang harus dipertontonkan banyak orang. Sedangkan aku harus menghampiri dulu kak Novan, memberitahu kalau makanannya lebih baik dibungkus saja.


***


Sudah diruang piket..


Erika menangis sangat kencang. Hingga membuat guru-guru penasaran dengan suara tangisannya. Kenapa? Kenapa? Itulah pertanyaan yang keluar dari guru-guru itu. Beberapa guru berkumpul diruang piket. Memberikan ketenangan kepada Erika dan menyuruhnya mengatakan apa yang terjadi.


Namun Erika tetap diam tidak mengatakan apapun. Tak lama kemudian Reno datang menghampiri kami.


“Sepertinya Erika butuh ketenangan, lebih baik pulang saja” tiba tiba Reno berkata seperti itu. Padahal dia sepertinya yang membuat Erika menangis.


“Iya pulang saja ya? Kamu kesini naik apa? Bawa kendaraan tidak?” Tanya salah seorang guru wanita


Erika hanya menggeleng


“Yasudah mau diantar pihak sekolah saja ya?” Guru tersebut menawarkan pihak sekolah yang akan mengantarnya


“Tidak bu, biar kami saja yang mengantarnya. Terimakasih banyak bu. Maaf sudah merepotkan” ucap Wanda yang sedaritadi mengamati keadaan.


“Beneran? Tidak apa apa loh padahal kalau diantar sama pihak sekolah juga” ucap ibu guru itu


“Iya bu tidak apa apa” Wanda kekeh


Memangnya dia mau nganterin Erika pulang ya?


Mendengar itu, semua guru keluar dari ruang piket dan kembali pada aktivitasnya masing-masing.


Reno saja ya yang antar Erika” ucap Wanda


“Boleh, dengan senang hati!” Reno memasang wajah sangat semangat.


“Tidak!!” Erika menolaknya


Bersambung…


jangan lupa like dan komen jika teman-teman menyukai cerita ini jadikan novel ini sebagai novel favorit. 🥰

__ADS_1


__ADS_2