Young Teacher

Young Teacher
Satu Pertanyaan Saja


__ADS_3

*klek*


Suara pintu di buka dari luar.


Jantungku berdebar karena kulihat yang masuk Pak Novan, eh bukan, Kak Novan.


Langkah tegap tapi santai diikuti dengan rambutnya yang bergerak mengikuti langkah kakinya membuat mataku tidak bisa berkedip sedetikpun. Lalu dia menghampiri meja guru dimana aku sedang duduk di situ. Aku sangat terkejut. Pikirku mau apa dia!.


Lalu dia mengambil tas yang ada di bawahku. Aku terus memperhatikannya dengan mataku. Namun mata kami tidak pernah bertemu.


“Anak-anak, kita lanjut pertemuan berikutnya ya. Bapak pamit dulu, Assalamualaikum” ucap kak Novan. Dia melangkah pergi keluar, sampai tepat di depan pintu. Dia melihat kearahku. Lalu...


“Terimakasih Bu, silahkan lanjutkan” ucapnya.


Belum sempat aku membalas ucapannya, dia langsung keluar dari ruang kelas, berjalan dengan santai lalu hilang dari pandanganku.


Geram sekali aku melihatnya, kenapa sih sangat susah untuk berinteraksi denganya. aarrrggghh.!!


Lalu aku menghampiri salah satu murid perempuan, aku bertanya “tadi itu masih pelajaran Pak Novan?”.


“Iya Bu, tadi Pak Novan izin ke toilet terus bel berbunyi” Jawabnya.


“Pantesan, kenapa gak bilang ke Ibu” ucapku kesal.


Murid itu hanya tersenyum merasa bersalah.


Aku melanjutkan pembelajaran dengan hati yang cukup kesal, tapi tetap harus mengajar.


“.....”


Bel istirahat berbunyi, akhirnya aku bisa beristirahat. Aku menuruni anak tangga satu persatu kulihat kantin sangat ramai, aku menyempatkan untuk membeli minuman yang segar di kantin itu. Namun tiba tiba…


“Liiiiaaaaaaaa” teriak Reno dari belakang.


Dengan muka datar aku menjawab sapaannya.


“Iyaaa” -__-.


“Lia mau kekantin ya, ayoo bareng” Reno langsung menarik tas yang ada di tanganku. Terpaksa aku mengikuti langkanya dari belakang.


Setelah memasuki kerumunan itu, aku melihat ada satu minuman tersisa di meja salah satu pedagang di kantin. Aku langsung menghampiri minuman itu. Saat akan membawanya, kulihat ada tangan memberikan uang kepada penjual minuman itu.


“Lohh neng mau minuman itu ya? habis neng itu udah di beli sama Bapak ini” kata penjualnya.


Aku melihat kearah Bapak itu. Diaaaa lagiiii… Orang paling nyebelin.


Mata kami akhirnya bertemu. Rasa kesal dengan kejadian tadi hilang seketika saat melihat matanya itu. Jantungku berdetak tidak teratur. Haduhhh kenapa sih.


“Ambil aja ya, buat kamu” Kak Novan menyerahkan minumannya kepadaku.


“Enggak Pak, ini Bapak udah bayar jadi itu milik Bapak” ucapku sambil menolak.

__ADS_1


Kak Novan hanya melihatku, lalu mengarahkan pandangannya kepada Reno yang sedari tadi hanya bengong, lalu Kak Novan menyimpan minuman di meja tadi dan berkata “ambil ya” belum sempat aku berterimakasih dia bergegas pergi meninggalkan kantin yang ramai ini.


Sejujurnya hatiku sangat bahagia, karena akhirnya aku bisa bicara walaupun sebentar. Aku masih terdiam di tempat itu. Sampai terdengar suara Reno memanggil.


“Lia ambil minumnya, ayo kita beli makanan” ajak Reno.


Aku hanya mengangguk dan mengambil minuman tadi. Setelah aku memilih makanan dan memutuskan untuk membeli batagor aku meninggalkan kantin dengan Reno.


Kami berjalan menuju ruang piket, suasana hening, lalu Reno membuka percakapan.


“Lia tadi itu siapa? kamu kenal?” tanya Reno. Mungkin yang dimaksudnya itu Kak Novan.


“Pak Novan” jawabku.


“Iya yang tadi ngasih minum ke kamu” Reno menunjuk minumanku.


“Enggak kenal, cuma sebatas tau nama aja” ucapku.


“Tapi kenapa dari matanya seperti sangat peduli pada Lia” tanya Reno heran.


“Ah masa sih Ren, enggak kok kita gak saling kenal” jawabku.


Reno hanya terdiam seperti sedang menahan rasa penasarannya.


Kami sampai di ruang piket, disana sudah ada Ayu dan Wanda yang sudah membeli makanan juga. Kami makan bersama dan bercerita dengan rasa senang.


Begitu juga aku. Hari ini banyak sekali hal yang tak terduga. Mulai dari Kak Novan melihatku, berbicara kepadaku, memberi minuman. 3 hal yang tak terduga. Aku sangat heran, mengapa aku sangat terobsesi ingin mengobrol dengan Kak Novan. Apa aku menyukainya? ah tidak mungkin, lagi pula guru setampan dia mana mungkin masih single hehe ini hanya rasa penasaranku saja, setelah aku selesai melaksanakan PLP disini pasti rasa penasaran itu akan hilang sendirinya.


@Rumah.


Aku membuka instagramku, kulihat kembali akun Kak Novan. Ingin sekali rasanya mengklik tombol “ikuti” tapi malu jika esok harinya bertemu lagi. Perasaanku kini berperang dengan logikaku. Hanya gara-gara ini pikiranku tidak karuan sekarang. Aku terus memandangi fotonya satu persatu. Sampai pada foto Kak Novan yang sedang merangkul Ibunya, jika di lihat kak Novan ini sangat sayang kepada Ibunya sampai-sampai memasang foto dengan Ibunya di instagram. Aku masih terus melihat fotonya itu, tidak kutemui foto dirinya dengan pacarnya. Apa mungkin masih sendiri? Apa sudah menikah? ingin sekali aku tanyakan kepada Ibuku. Tapi takut di curigai hehe. Sepertinya aku harus mencari tau sendiri. Eh tunggu, emang kenapa harus dicari tau sih, aduh aku kenapa.


Tapi aku sangat ingin mengikuti akunnya. Sepertinya harus memberanikan diri untuk mengikutinya terlebih dahulu.


Kugeserkan tanganku untuk mengklik ikuti. Tapi masih sangat ragu.



Setelah berfikir beberapa menit, akhirnya aku mengklik “ikuti” langsung aku tutup instagramku dan kumatikan data seluler. Hahahah lucu sekali dasar wanita.


@Pukul 21.00.


Aku memberanikan diri untuk melihat kembali ponselku yang sedari tadi aku simpan di atas meja belajarku.


Kubuka dan kunyalakan data selular.


“TRIIINGG”.


Terdapat sebuah notifikasi.


“Novan mulai mengikuti anda”.

__ADS_1


Aaaaarrgggghhhh!!! rasanya jantung ini mau copot tapi aku masih terheran mengapa rasanya sangat senang sekali.


Tak sabar hari esok ingin melihat wajahnya. Malam itu aku tidur dengan sangat lelap dengan perasaan sangat bahagia.


Ke esokan harinya seperti biasa aku sudah pergi berangkat pagi sekali dan menunggu teman-teman di ruang piket. Disana sudah ada Erika.


“Hai Erika” sapaku.


“Haii Lia, tumben pagi sekali, Ayu mana?” Tanyanya.


“Iya nih hehe Ayu gak bareng sama aku, katanya mau dijemput Wanda” jawabku.


“Ohh gitu, eh tau gak Lia, disini ada guru keren loh” ucapnya.


Aku penasaran apakah yang dimaksud Erika itu adalah Pak Novan.


“Ohh ya, siapa namanya?” Tanyaku penasaran.


“Aku pernah dengar ada temannya yang memanggil Van, tapi aku gak tau nama aslinya siapa” jawabnya.


Sudah kuduga pasti itu Kak Novan.


Aku hanya terdiam mengangguk.


Tidak lama kemudian orang yang dibicarakan datang ke ruang piket untuk tanda tangan absen.


Seketika mata Erika berbinar dan menurunkan masker yang ada diwajahnya. Sambil tersenyum Erika menyapa kak Novan.


“Selamat pagi Pak” ucap Erika sambil tersenyum genit.


Kak Novan hanya meliriknya dan membalas sapaannya dengan mengangguk.


Aku terdiam kesal dengan tingkah Erika.


Lalu Erika bertanya.


“Bapak mengajar dikelas mana hari ini?” Tanya nya sangat ramah dengan nada lembut.


Aku hanya mengerutkan kening.


Kak Novan tidak menjawab, hanya meliriknya dan matanya mengerut seperti sedang tersenyum tipis. Aku tidak bisa melihat dan memastikannya karena kak Novan selalu memakai masker. Lalu bola matanya mengarah kepadaku. Seketika jantungku berdegup kencang. Mata kami berdua bertemu sedikit lama.


Kak Novan bertanya kepadaku “kemarin minumannya diambil?”.


Aku sangat terkejut, hanya bisa menjawab dengan anggukan dan sedikit tersenyum.


Kak Novan menaikan alisnya sebelah lalu pergi meninggalkan ruang piket.


Mimpi apa aku semalam, sekarang badanku diam tapi hatiku sedang berjingkrak jingkrak. Senangnya walaupun hanya satu pertanyaan saja. Ku pikir dia akan lupa dengan kejadian kemarin tapi ternyata dia mengingatnya. Kupikir juga dia akan lupa dengan wajahku. Tapi ternyata diluar dugaan. Aku terus melamun dengan banyak pertanyaan.


Tiba-tiba...

__ADS_1


“Bruuukkkkk” Erika menggebrak meja dan aku terbangun dari lamunanku.


Next episode 4 ;).


__ADS_2