Young Teacher

Young Teacher
Mau apa dia!


__ADS_3

Apaaaa memanggilllll, ohh tidaaaak aku tidak mau melihat guru tampan itu lagi malu rasanya. Tapi mau tidak mau aku harus menghampiri ibuku. Aku berjalan perlahan sambil menundukan pandanganku.


Dan ternyata ibu menyuruhku mengambil minum untuk guru tampan itu. Syukurlah aku kira hal yang lain. Bergegas aku mengambilkan air minum untuknya, kutuangkan air putih kedalam gelas dengan perlahan. Jantungku masih belum bisa normal, rasa dagdigdug sangat terasa sekali. Setelah selesai menuangkan air aku meletakannya diatas baki dan kembali kedepan memberikan air putih itu, kusimpan gelas berisi air putih diatas meja dan *preenggggg* baki yang kubawa tadi mengenai meja saat aku berbalik, hingga menyebabkan air putihnya tumpah dicelana guru itu.


Sontak aku langsung meminta maaf.


“Maaf Pak, saya benar-benar tidak sengaja” kataku gemetar, bodohnya kenapa bisa sampai kena ke meja.


Guru itu hanya melihatku lalu mengalihkan lagi pandangannya ke ibuku.


“Baik bu, kalo begitu saya izin pamit ya, terimakasih” ucapnya.


“Iya hati-hati ya Pak, mohon maaf anak saya memang ceroboh” kata Ibuku.


Lalu guru tampan itu hanya tersenyum dan bergegas pergi menghampiri motornya lalu melaju sampai hilang dari pandanganku.


Dalam hatiku bergerutu, so kecakepan banget sih guru itu, dikasih senyum cuma melihat, dibilang maafpun cuma melihat. Sombong sekali.


“Bu, tadi itu siapa ya?” tanyaku kepada ibu.


“Yang tadi itu Bapak Novan, dia guru baru di sekolah, Ibunya juga bekerja di sekolah yang sama” jawab Ibuku.


Apaa!!! berarti dia anak salah satu guru disana. Aku semakin penasaran.


“Siapa Bu?” Tanyaku lagi.


“Ituloh yang jadi walikelas kamu saat masih SMA” jawab Ibu.


“Buuu? Seriuusss?” Tanyaku sangat terkejut.


“Iyalah masa Ibu bohong, udah ya Ibu mau ke dalam lagi” lalu Ibu bergegas pergi meninggalkanku.


Aku bergumam dalam hati “Ohh tidaakkk, jadi dia adalah anak dari ibu Lisma walikelasku dulu. Ibu Lisma sangat baik kepadaku, beda dengan anaknya. Aku memang belum jelas melihat wajahnya, karena selama ini dia selalu memakai masker. Tapi tungguuu!!! Kalo dia anak Ibu Lisma, berartiiiiiiii… “.


Aku Bergegas membawa handphone yang berada dikamar dan langsung ku cek sosmedku facebook.


Anda menerima permintaan pertemanan “Novan”.


Dua minggu kebelakang sebelum aku melaksanakan PLP, aku mendapat permintaan pertemanan dari “Novan”. Kukira itu bukan siapa-siapa, aku belum pernah melihat profilnya jadi aku terima permintaan pertemanannya.


“Ini Novan, yang tadi kata Ibu juga Novan, sepertinya harus aku tanya kepada ibu”.


“Ibuuuuuu!!!” teriakku lari menghampiri ibu.


“Kenapa ibu kaget Lia” ucap Ibuku sambil mengelus dada.

__ADS_1


“Ibu aku mau tanya, bapak yang tadi kesini Novan kan? kalo ini Bapak yang tadi bukan?” Ucapku sambil memperlihatkan foto yang ada di facebook itu.


“Nah iya, ini yang tadi lia” ucap ibuku.


“Beneran bu? Ibu gak salah lihat?” tanyaku.


“Iya Lia, Ibu tau persis Bapak Novan, aduh gak enak disebut Bapak, dia masih sangat muda enaknya dipanggil Kak Novan, kenapa emangnya Lia?” tanya Ibuku.


“Eng.. enggak Bu, kemarin Kak Novan add fb, aku kira bukan dia orangnya, yaudah bu, Lia ke kamar dulu ya” aku langsung pergi kekamar.


Campur aduk rasanya, senang dan kesel. Senangnya kok bisa kebetulan dia tau facebook aku. Keselnya dia berlagak so keren dasar manusia. Lia pun melanjutkan aktivitas dirumahnya.


Waktu menunjukan pukul 20.30 WIB.


Setelah aku mempersiapkan bahan ajar untuk besok, aku menyempatkan untuk membuka sosial mediaku instagram. Iseng aku mencari nama Novan, setelah dicari ternyata memang kakak itu memiliki akun instagramnya. Rasanya ingin sekali aku ikuti akunnya, tapi tunggu dulu nanti deh aku masih kesal sama sikapnya.


Setelah stalking sekitar 30 menit, akhirnya aku menutup ponselku dan bergegas untuk tidur.


Keesokan harinya.


*Tiingg tiingg*.


1 pesan whatsapp dari Reno.


Aduh masih kekeh ini anak pengen jemput, gumamku dalam hati.


Aku membalas pesannya.


Aku : engga Ren, aku bareng sama Ayu.


Reno : yaudah, see you di sekolah ya.


Aku hanya membaca pesan dari Reno lalu bergegas keluar dari kamar untuk pamit pergi ke sekolah.


“Buu, aku berangkat dulu ya Assalamualaikum” kataku sambil salam kepada Ibu Ayah dan adik-adikku.


“Hati hati ya Waalaikumsalam” ucap Ibuku.


Seperti biasa aku selalu pergi bareng sama Ayu, karena Ayu adalah tetanggaku. Kita sama-sama satu jurusan, jadinya selalu bareng kalau kemana-mana.


Ayu bercerita bahwa Reno mengirimkan pesan padanya, dia menyuruh Ayu untuk tidak ikut bareng denganku tujuannya agar Reno bisa jemput aku. Ada ada saja, padahal sudah jelas aku tidak mau bergantung pada laki-laki manapun. Selagi hal yang bisa kulakukan sendiri aku lebih memilih melakukannya sendiri.


Setelah lama berbincang dengan Ayu akhirnya sampai juga di sekolah tempat aku melaksanakan kegiatan PLP. Kami masuk ke dalam menelusuri koridor dan berhenti tepat dimana teman-teman kami berkumpul yaitu ruang piket.


Tiba-tiba…

__ADS_1


“Lia, bisa gantikan aku mengajar tidak? soalnya hari ini aku mau izin setengah hari. Mau mengantar ibuku.” Jelas Erika.


“Boleh ka, di kelas apa dan jam berapa?” tanyaku.


“Di kelas XI IPS 3 yaa, makasih banyak Lia, aku sekarang masuk kelas dulu, bye semuanya” Erika pergi meninggalkan ruang piket.


“Lia emangnya tidak cape mengajar lagi di kelas Erika?” tanya Reno.


“Engga kok, lumayan kan nambah pengalaman” jawabku.


“Mau Reno temenin?” tanya lagi Reno.


“Engga Reno, aku bisa sendiri lagian kasian kamu harus nunggu” jawabku menolak Reno.


Reno hanya terdiam.


“Reno, temenin aku ke kelas lagi yu” ajak Wanda


“Engga ah aku mau diruang piket sama Lia” jawabnya menolak.


Aku mengerutkan keningku tanda tidak setuju. Untungnya Ayu peka dengan gerak gerikku.


“Aku sama Lia aja di sini, kalian berdua ke kelas aja ya” ucap Ayu.


“Ayooooo Renoo, dah semua” ucap Wanda sambil menarik Reno pergi dari ruang piket. Reno hanya pasrah.


“Yuu makasih banyak hehe” ucapku.


“Iya sama-sama, aku tau ekspresi kamu kalo gak setuju” ucap Ayu sambil membuka buku.


Setelah lama menunggu jam masuk kedua. Akhirnya bel berbunyi, tandanya jam pelajaran kedua.


“Ayu, aku tinggal dulu ya sekarang mau masuk di kelasnya Erika, dadah” kataku sambil bergegas meninggalkan Ayu.


Tepat sekali aku berdiri di kelas XI IPS 3. Semua murid sudah duduk dengan rapih di dalam kelas. Lalu aku memasuki ruang kelas tersebut. Namun ada yang aneh dengan ekspresi mereka saat aku duduk di meja guru. Aku pikir hal wajar karena aku di sini hanya menggantikan Erika saja. Di bawah meja terdapat tas hitam entah milik siapa, ku kira ini tas tidak terpakai. Aku lantas mengabaikannya. Selanjutnya memberi aba-aba kepada KM atau ketua murid untuk mengkondusifkan kelas.


Seketika kelas menjadi hening. Pintu tertutup rapat. Namun tiba tiba…


*klek*


Suara pintu di buka dari luar.


Jantungku berdebar karena kulihat yang masuk Pak Novan, eh bukan, Kak Novan.


Langkah tegap tapi santai di ikuti dengan rambutnya yang bergerak sesuai mengikuti langkah kakinya membuat mataku tidak bisa berkedip sedetikpun. Lalu dia menghampiri meja guru. Di situ aku sangat terkejut. Pikirku mau apa dia!.

__ADS_1


__ADS_2