
Banyak orang berkata cinta itu indah. Cinta itu buta. Bahkan Cinta itu gila. Mungkin kata kata itu benar adanya. Buktinya Sinta terus mengembangkan senyumnya bahkan sampai didalam kelas. Teman sekelas Sinta yang melihat pun di buat kagum dengan senyum manisnya. Namun tak sedikit pula yang merasa aneh dengan senyuman Sinta. Pasalnya Sinta terkenal dengan gadis yang cuek dan jutek. Bahkan Sinta jarang kali tersenyum.
Zola sebagai sahabat Sinta pun juga dibuat heran dengan tingkah Sinta.
"Kenapa lo?"tanya Zola heran.
"Gue kenapa emang?"tanya balik Sinta.
"Ya nggak kenapa kenapa sih"jawab Zola.
"Ya udah kalau gue nggak kenapa kenapa, udah diem, dosen udah masuk tuhh"ujar Sinta seraya menunjuk pintu dimana sang dosen berjalan masuk kekelas mereka.
Zola pun melirik kearah tunjuk Sinta. Memang benar dosen yang mengajar dikelas sudah tiba. Namun ada yang menarik perhatian Zola saat melihat kearah pintu. Yaitu keberadaan pria tampan namun wajahnya terlihat penuh dengan tanda tanya. Seolah ada yang sedang ia pikirkan.
Zola menatap pria yang berada di belakang sang dosen dengan penuh selidik. Apa ada hubungannya dengan Sinta?pikir Zola seraya melirik Sinta yang ada dibelakangnya sekilas. Zola kembali menatap Rama yang kini sudah duduk dibangkunya.
Dapat Zola lihat Rama menatap Sinta dengan intens. Bahkan terkesan mengintimidasi. Hal itu membuat Zola semakin penasaran. Namun apa yang ingin dia tanyakan masih tersimpan rapi didalam otaknya. Nanti saat sudah selesai bakal gue tanya langsung sama Sinta, pikir Zola.
.
__ADS_1
Akhirnya setelah hampir 2 jam Zola berkutat dengan pikirannya, kini Zola sudah bisa bernafas lega. Setelah dia pastikan dosen sudah keluar dari kelasnya. Dengan segera dia menarik Sinta keluar dari kelas.
"Zola, lo apa apaan sih tarik tarik gue"gerutu Sinta yang tak dihiraukan oleh Zola.
"Apaan sih lo narik narik gue segala, kalau mau ngajak kekantin nggak usah pake tarik tarik, bilang baik baik kan bisa, bikin mood gue ambyar aja"omel Sinta saat sudah duduk dikursi kantin.
Sinta terus menggerutu pada sahanatnya itu meskipun tak ada sautan sama sekali dari Zola. Sedangkan Zola yang diomeli oleh Sinta pun hanya diam sambil menatap sahabatnya ittu.
"Hehh, denger nggak gue ngomong"kesal Sinta karena tak ada jawaban dari Zola.
"Udah kembali kemode Sinta yang sebenarnya kan lo sekarang?"tanya Zola yang membuat Sinta bingung.
"Eitt, sorry nihh, gue ngomong gini bukan tanpa alasan"ujar Zola.
"Lo tu kenapa sihh dari tadi aneh tau nggak"ucap Sinta.
"Karena gue laper, gue pesenin makan dulu, abis itu gue mau tanya sama lo"ucap Zola denga tatapam tajam seraya bangkit dari kursinya untuk memesan makanan.
Sinta memilih diam tak menghiraukan ucapan sahabatnya itu. Dia malah memainkan ponselnya mengscroll media sosial miliknya. Hingga saat Sinta tengah fokus pada ponselnya, seseorang duduk di hadapannya.
__ADS_1
"Kok cepet bang_"
"Rendra"ucap Sinta saat tau yang duduk didepannya adalah Rendra. Padahal tadi Sinta sudah hampir mengomel karena dia pikir yang duduk adalah Zola.
"Sendirian aja?"tanya Rendra.
"Nggak, tadi sama temen, lagi pesen makan"jawab Sinta.
"Emm, ya udah, gue cuma mau kasih ini"ucap Rendra seraya menyodorkan susu kotak rasa stroberi. Kesukaan Sinta.
"Masih inget aja kesukaan gue"ucap Sinta.
"Iya lah, apa sih yang nggak gue inget soal lo"goda Rendra.
"Haha,, udah ahh malah gombal"ucap Sinta menahan malu.
"Haha, ya udah gue duluan ya, mau ketemu dosen"pamit Rendra seraya mengusap pucuk kepala Sinta singkat.
Sinta pun tersenyum dan menganggukan kepalanya pada Rendra. Dia senang mendapat perlakuan manis dari Rendra. Namun tanpa mereka ketahui dua pasang mata tengah menatap kearah keduanya dengan tatapan yang berbeda.
__ADS_1
TBC