(Bukan)Rama Sinta

(Bukan)Rama Sinta
BAB 23


__ADS_3

Sinta masih setia berada dikamar sampai malam. Bahkan wanita cantik juga melewatkan makan malam. Sinta melakukan itu bukan karena marah. Hanya saja Sinta malas keluar kamar karena tak ingin bertemu dengan sang papa. Dia tak ingin mendengar papanya itu mengoceh tiada henti.


Sinta menghela nafas panjang dengan tangan yang memegangi perutnya karena lapar. Ingin sekali Sinta keluar dari kamar untuk makan. Namun jika ingat sang papa ada dirumah, membuatnya enggan untuk keluar.


"Laper banget"gumam Sinta.


Sinta bangkit dari ranjang dan berjalan kearah pintu. Tangannya sudah hampir meraih handle pintu namun kembali ia urungkan. Dilanda kebingungan saat ini.


"Duhh, keluar nggak ya"bimbang Sinta.


"Kalau keluar males ketemu papa, nggak keluar laper"gumam Sinta cemberut.


"Huftt, keluar aja dehh, bodo amat ketemu papa, yang penting makan"putus Sinta.


Sinta memutar handle pintu dan membukanya. Namun baru saja terbuka, Sinta sudah dikejutkan oleh seseorang yang berdiri didepan pintu kamarnya dengan nampan berisi makanan ditangannya.


"Astaga"kaget Sinta.


"Rendra, kamu apa apaan sihh, ngapain disini, kalau papa tau gimana"panik Sinta.


"Makanya masuk dulu biar nggak ketahuan papa kamu"ucap Rendra dan segera masuk kekamar Sinta.


Sinta pun kembali masuk kekamarnya dan tak lupa untuk mengunci pintu. Takut takut sang papa tau, bisa panjang ntar urusannya.


Sinta berjalan menghampiri Rendra yang duduk disofa yang ada disudut kamarnya.


"Kamu ngapain disini? kalau papa tau gimana"ucap Sinta masih sedikit panik.


"Nggak akan, papa kamu nggak dirumah"ucap Rendra santai.


"Hahh? maksudnya?"tanya Sinta bingung.


"Ya papa kamu nggak ada dirumah"jawab Rendra.


"Papa kamu ke luar kota buat urusin bisnisnya ada masalah, makanya aku kesini"jelas Rendra.


"Kok kamu tau papa aku ke luar kota?"tanya Sinta bingung.

__ADS_1


"Tadi tante Dian telfon aku, katanya kamu dari siang nggak keluar kamar, bahkan nggak makan juga, makanya nyuruh aku kesini"jelas Rendra.


"Awalnya aku juga ragu, takut takut papa kamu nggak ijinin aku masuk, tapi waktu tante Dian bilang kalau om Wisnu ke luar kota, aku langsung meluncur dong"lanjut Rendra.


"Kenapa? hemm?"tanya Rendra membelai pipi Sinta lembut.


"Ya aku males aja keluar kamar, ntar ketemu papa pasti diomelin"gerutu Sinta.


"Katanya mau berjuang bareng, masa masih gitu aja takut"ujar Rendra.


"Bukan gitu, aku cuma males aja denger papa ceramah panjang lebar"ucap Sinta.


"Hemm,, ya udah, yang penting sekarang kamu makan dulu, aku nggak bisa lama lama disini"ujar Rendra seraya menyodorkan piring berisi nasi komplit dengan lauk dan sayurnya pada Sinta.


Sinta pun mengangguk dan segera memakannya dengan lahap. Maklum, kelaparan, jadi Sinta makan dengan begitu cepat. Bahkan tak sampai 20 menit isi piring sudah pindah kedalam perut Sinta.


"Laper banget ya"goda Rendra.


"He'em, laper banget"polos Sinta.


"Makanya nggak usah sok sokan nggak makan, besok lagi nggak boleh kayak gini, oke"ujar Rendra.


"Nggak apa apa, aku ngerti"ujar Rendra.


"Nih minum dulu, abis itu aku pulang"lanjut Rendra menyodorkan gelas beisikan air putih.


"Kok cepet pulangnya"sedih Sinta.


"Iya, aku harus selesaiin skripsi aku biar aku bisa cepet cepet berjuang buat dapetin kamu"ucap Rendra sedikit menggoda.


"Kan sekarang udah dapetin aku"goda Sinta.


"Hehe, iya tau, maksud aku berjuang biat dapetin restu papa kamu sayang"ucap Rendra lembut.


"Kamu tenang aja, aku bakal bantuin kamu kok, maaf buat yang tadi"ucap Sinta menunduk.


"Nggak apa apa, aku ngerti kok, udah ya, aku pulang dulu"pamit Rendra.

__ADS_1


Namun sebelum Rendra pergi, Rendra lebih dulu menc*um kening Sinta lembut. Barulah Rendra keluar kamar Sinta meninggalkan Sinta yang masih menunduk menyembunyikan wajah malunya.


.


.


.


Ditempat lain tepatnya dikediaman Pandu, Wisnu dan Rama tengah berbincang serius di ruang kerja Pandu. Kedua pria beda generasi itu seperti sedang melakukan sebuah kesepakatan.


"Gimana Rama? om cuma yakin sama kamu"ucap Wisnu.


"Gimana ya om, bukannya saya nolak, tapi saya sendiri belum terbiasa dengan pekerjaan om"ucap Rama.


"Kamu tenang saja, nanti bakal ada orang yang bantuin kamu"ucap Wisnu.


"Berapa lama om ke luar kota?"tanya Rama.


"Sekitar 1 minggu"jawab Wisnu.


"Emm, baiklah om, saya akan bantu om di perusahaan selama om ke luar kota"putus Rama.


"Om yakin kamu bisa, makasih ya Rama, om percayakan perusahaan sama kamu"ucap Wisnu menepuk pundak Rama pelan.


"Kalau begitu om pamit dulu, pesawat om 1 jam lagi, takut telat"pamit wisnu.


"Hati hati om"ujar Rama dan diangguki oleh Wisnu.


Rama melambaikan tangannya saat mobil yang di tumpangi Wisnu berjalan keluar menuju jalan raya. Senyuman tulus dibibir Rama kini berubah menjadi senyum yang sulit diartikan.


"Tenang om, saya pasti menjaga perusahaan om dengan baik, beserta data datanya"gumam Rama tersenyum licik.


Rama masuk kedalam rumahnya dengan senyum menawan dibibirnya. Dia senang saat Wisnu datang kerumah meminta tolong padanya untuk mengelola perusahaan selama Wisnu berada di luar kota. Tentu dengan begitu mudah bagi Rama membuat perusahaan hancur dan menjadi miliknya.


Rama memang sudah ikut mengelola perusahaan sang papa sejak masuk kuliah. Meskipun saat ini perusahaan itu mengalami masalah, namun perusahaan masih tetap berjalan. Perjodohan hanya kedok untuk Rama menguasai perusahaan Wisnu. Begitu pula dengan cintanya.


Awalnya memang Rama mencintai Sinta. Meskipun Sinta tak pernah membalas perasaannya, hal itu tak dihiraukan oleh Rama. Namun semakin lama Rama berjuang demi mendapatkan cinta Sinta, semakin memudar pula rasa cinta itu. Apalagi Sinta tak pernah membalasnya.

__ADS_1


Dulu ketika Pandu, sang papa menyuruhnya mendekati Sinta untuk harta awalnya Rama menolak. Namun lama kelamaan Rama menjadi satu kubu dengan sang papa karena rasa cinta yang berubah menjadi dendam. Rama ingin membuat Sinta merasakan apa itu sakit hati.


TBC


__ADS_2