
Sinta masih menatap Rama lekat. Rama pun tak kalah menatap Sinta. Keduanya seakan bertarung lewat tatapan mata. Hingga sebuah mobil melaju melewati sebelah mereka. Terang saja keduanya mengalihkan pandangannya pada mobil yang baru saja melaju itu.
"Rendra"gumam Sinta seraya menatap laju mobil yang semakin menjauh itu.
Rama pun menatap sinis mobil yang baru saja melewatinya itu. Dia tau betul jika yang baru saja lewat adalah Abi alias Rendra.
"Masih mau berharap sama orang kayak gitu"ucap Rama meremehkan. Sinta tak menggubris ucapan Rama. Dia masih sibuk menatap mobil Rendra yang kian menjauh.
"Gue kira lo bakal anter gue pulang"batin Sinta seraya menatap mobil Rendra yang sudah tak terlihat lagi.
"Ayo pulang"ajak Rama seraya menarik tangan Sinta dan segera membuka pintu mobil untuk Sinta.
Sinta hanya diam saja. Bahkan dia tak memberontak sama sekali. Dia masih memikirkan Rendra yang melewatinya begitu saja. Apakah selama ini aku hanya mencintainya sendirian? tanya Sinta dalam hati.
Jujur saja Sinta sudah menyukai Rendra sejak kecil. Dia merasa nyaman dengan semua perlakuan manis Rendra. Hingga suatu hari Rendra harus meninggalkan ibukota dan hal itu membuat Sinta sedih. Namun kesedihan itu berganti dengan kebahagiaan dan kerinduan kala mereka dipertemukan kembali belum lama ini.
Sinta mengusap gelang yang dia pakai dipergelangan tangannya. Hatinya tersenyum miris kala dia salah mengartikan kata LOVE yang ada tertulis digelangnya. Gue kira lo nganggap gue orang spesial, ternyata sama aja kayak yang lain, batin Sinta.
Rama yang melihat Sinta diam saja sebenarnya merasa kasihan. Sudah biasa memang Rama dicueki dan diamkan oleh Sinta. Namun diam yang seperti ini yang Rama mau. Tapi di satu sisi, Rama juga merasa senang karena Sinta merasa bimbang dengan perasaannya sendiri kepada Abi/Rendra.
Jahat memang Rama merasa senang diatas kesedihan orang lain. Namun masalah hati tak bisa dipungkiri. Rama sudah menaruh seluruh hatinya pada Sinta. Dia hanya tinggal berusaha membuat Sinta nyaman dengannya dan membuat Sinta juga membalas cintanya.
.
.
.
Siang itu Dian berniat mencari gaun untuk dirinya kenakan untuk acara makan malam bersama rekan bisnis suaminya, Wisnu. Dian pergi kebutik milik Reni, mama Rendra. Sejak tau Reni mempunyao butik, Dian memang selalu mempercayai hasil rancangan Reni. Itu sebabnya Dian menjadi pelanggan setia. Bahkan ketika Reni pindah ke Bali, Dian masih setia belanja di sana meskipun yang memegang butik bukan Reni sendiri.
Dian turun dari mobil dan segera masuk kedalam butik yang lumayan besar itu. Sampai didalam, Dian langsung disambut ramah oleh karyawan disana.
"Gin, aku mau cari gaun untuk acara makan malam"ucap Dian pada karyawan butik yang bernama Gina itu.
"Silahkan bu Dian, disebelah sana banyak desain baru bu Reni"ucap Gina ramah. Dian pun mengangguk dan berjalan mengilikuti Gina.
Disana terdapat 5 rancangan Reni yang memang masih baru. Dian tersenyum melihat hasil karya sahabatnya yang selalu memukau itu.
"Yang ini bagus Gin, aku mau ini ya"ujar Dian seraya menunjuk baju yang dia inginkan.
"Baik bu, silahkan lakukan transaksinya dikasir"ucap Gina tersenyum.
"Gin, apa Reni sudah lama tidak kesini?"tanya Dian sambil berjalan beriringan dengan Gina.
"Bu Reni baru kemarin dari butik bu"jawab Gina.
"Benarkah?"tanya Dian memastikan.
"Iya bu"jawab Gina.
Sampai didepan kasir Dian segera melakukan pembayaran. Setelah selesai Gina segera membungkus baju yang dibeli Dian.
"Terima kasih bu Dian, silahkan datang kembali lain waktu"ujar Gina tersenyum.
"Iya, kapan kapan aku kesini lagi"jawab Dian tersenyum.
__ADS_1
Dian membalikan badannya ingin beranjak dari butik itu. Namun belum sampai di depan pintu. Dian melihat wanita paruh baya yang tak asing baginya.
"Reni"panggil Dian.
"Dian"balas Reni.
"Kamu baru belanja ya?"tanya Reni seraya melakukan kebiasan perempuan setiap bertemu.
"Iya, aku baru cari baju buat acara makan malam besok"balas Dian.
"Kata Gina baru kemarin kamu kesini, kok sekarang kesini lagi?"tanya Dian bingung. Pasalnya sejak pindah ke Bali, Reni hanya 1 bulan 2x saja berkunjung ke butik miliknya itu.
"Masuk dulu yuk keruangan ku"ajak Reni.
"Baiklah"putus Dian.
"Gina, tolong bikinkan minum ya"ucap Reni yang diiyakan oleh Gina.
Reni dan Dian berjalan beriringan masuk keruangan Reni. Sampai disana keduanya duduk disofa yang tersedia.
"Aku udah pindah kesini lagi"ucap Reni.
"Sejak kapan? kok aku nggak tau?"tanya Dian.
"Suami ku dipindah tugaskan lagi kesini, jadi aku juga ikut kesini, baru satu bulan"jelas Reni.
"Kenapa nggak pernah main kerumah"ujar Dian kesal.
"Haha, aku masih sibuk sama pesanan gaun akhir akhir ini, jadi belum sempat mampir"ucap Reni penuh sesal.
"Tapi nanti malam kamu harus datang kerumah ku, ajak suami dan anakmu, aku mengundang mu makan malam"ucap Dian.
"Hemm, baik baiklah"putus Reni. Akhirnya keduanya saling mengobrol dan bertukar cerita. Bahkan sesekali keduanya tertawa bersama.
.
.
.
Sinta turun dari kamarnya saat hari sudah sore. Setelah pulang kuliah tadi siang Sinta mengurung dirinya dikamar hingga ketiduran. Dia masih memikirkan Rendra yang melewatinya begitu saja. Padahal jika dipikir pikir, Rendra pasti melihat Sinta disana.
Sinta berjalan dengan lesu menuju dapur untuk mengambil air minum. Dan saat sampai dapur, Sinta menyerngitkan dahinya saat melihat sang mama tengah sibuk dengan bahan bahan masakan.
"Sibuk banget ma"ujar Sinta seraya menuang air putih.
"Eh sayang, iya nihh, mama lagi masak buat nanti malam"jawab Dian.
"Banyak banget"sahut Sinta.
"Iya, mama undang temen mama dan keluarganya buat makan malam disini"jawab Dian antusias.
"Kamu sekarang mandi ya, terus dandan yang cantik"perintah Dian.
"Lahh, kenapa aku juga harus ikut ma"protes Sinta. Dia memang jarang sekali ikut acara seperti itu karena obrolan para orang tua yang membosankan.
__ADS_1
"Pokoknya kamu harus ikut nggak boleh nolak, titik"ujar Dian tak bisa diganggu gugat.
"Ck, emang siapa sih yang mama undang, kayak presiden aja"gerutu Sinta.
"Lebih dari sekedar presiden, dan mama yakin kamu nggak akan bosen"ucap Dian.
"Halahh, paling paling keluarga si Rama yang kesini"cibir Sinta.
"Bukan, udah sana mandi terus dandan yang cantik"ujar Dian. Sinta hanya mencebikan bibirnya lalu berajak dari dapur. Dia kembali kekamarnya dan melaksanakan apa yang diperintahkan sang mama meskipun dengan menggerutu.
.
Ditempat lain Reni juga sama hebohnya. Ibu satu anak itu tengah menyuruh sang anak mencoba baju yang cocok untuk sang anak. Hahh, padahal anaknya tampan, pakai baju seperti apa saja tetap tampan.
Berkali kali Rendra menghela nafas kala sang mama menyuruhnya ganti baju lagi dan lagi.
"Ma, kita mau keacara apa sihh pake baju mesti diatur segala"gerutu Rendra.
"Aduh Ren, kamu tu nurut aja sama mama, udah sana ganti pake yang ini"ucap Reni. Dengan malas Rendra kembali ke walk in closet untuk mengganti pakaiannya. Sama halnya dengan Sinta, meskipun Rendra menggerutu namun tetap melakukan apa yang di perintahkan sang mama.
"Udah"kesal Rendra.
"Perfect"ucap Reni senang.
"Udah yuk turun, papa kamu udah nunggu"ucap Reni menarik tangan Rendra keluar.
Sampai di ruang tamu, Gani sudah rapi. Meskipun wajah kesalnya tetap terlihat karena terlalu lama menunggu.
"Ayo pa berangkat, keburu telat"ucap Reni.
"Telat juga gara gara mama"gumam Gani pelan.
Ketiganya berjalan keluar dan masuk kedalam mobil dengan Gani yang menyetir.
"Kita mau kemana pa?"tanya Rendra.
"Makan malam kerumah temen mama papa"jawab Gani.
Rendra kembali diam. Dia menatap keluar jendela melihat jalanan yang tak asing baginya. Tak lama mobil yang dia tumpangi berjalan, kini Gani menghentikan mobilnya didepan gerbang tinggi yang tak asing baginya.
"Inikan"gumam Rendra.
Setelah gerbang dibuka oleh satpam, Gani kembali melajukan mobilnya memasuki pekarang rumah mewah itu.
"Ayo turun"ajak Gani saat sang anak hanya diam saja.
"Pa, inikan rumah om Wisnu"ujar Rendra.
"Iya"singkat Gani.
"Terus ngapain kita kesini?"tanya Rendra bingung.
"Ya maka malam lah"jawab Gani cuek dan meninggalkan Rendra sendirian didalam mobil.
"Jadi gue makan malam dirumah Sinta"gumam Rendra.
__ADS_1
TBC