(Bukan)Rama Sinta

(Bukan)Rama Sinta
BAB 15


__ADS_3

Sinta menatap kedua pria diharapannya secara bergantian. Entah apa yang Sinta pikirkan saat ini. Yang jelas kepala Sinta menjadi pusing saat dihadapkan dengan dua pria tampan didepannya. Aneh bukan? Disaat para wanita diluar sana merasa senang ketika di hampiri pria tampan, namun tidak dengan Sinta.


Sinta memijit pelipisnya pelan dengan menghembuskan nafas pelan.


"Ngapain kalian kesini?"tany Sinta.


"Ngajak lo jalan"jawab mereka bersamaan. Sinta menatap keduanya yang menjawab bersamaan itu.


Begitu pula dengan kedua pria itu. Mereka saling menatap tajam seakan tak ingin kalah.


"Gue duluan yang sampe sini, jadi gue yang berhak ngajak Sinta jalan"ucap Rendra.


"Gue lebih berhak karena gue udah dijodohin sama Sinta"ucap Rama tak mau kalah.


"Baru dijodohin, bahkan Sinta belum iyain perjodohan itu"Rendra tak mau kalah. Begitulah seterusnya.


Sinta semakin kencang memijit pelipisnya yang semakin terasa pusing. Bahkan matanya terpejam erat seakan tak mau melihat kedua pria itu. Nafas Sinta semakin memburu tatkala perdebatan kedua pria itu sudah ditahap hampir adu jotos.


"BERHENTI"teriak Sinta. Terang saja Rendra dan Rama menghentikan aksi mereka.


"Lepas tangan lo Ram"ucap Sinta saat melihat Rama masih mencengkram kerah baju Rendra.


"Gue tanya sama kalian, apa tujuan kalian kesini?"tanya Sinta.


"Ajak lo jalan"jawab mereka bersamaan.


"Satu satu jawabnya"tegas Sinta yang membuat keduanya terdiam.


Sungguh saat ini Rendra dan Rama bagaikan murid yang ketahuan mencontek oleh gurunya. Keduanya menunduk tak ada yang berani menatap Sinta.


"Rama, apa tujuan lo kesini?"tanya Sinta.


"Gue kesini mau ajak lo jalan"jawab Rama.


"Rendra?"tanya Sinta.


"Iya, gue kesini mau ajak lo jalan"jawab Rendra.

__ADS_1


"Gue capek, gue mau istirahat, mendingan lo berdua aja jalan bareng"ujar Sinta seraya meninggalkam kedua pria tampan yang tengah menatapnya tak percaya.


Sinta masuk kembali kekamarnya dengan dada yang bergemuruh menahan kesal. Sungguh, pagi yang menyebalkam untuknya, bahkan lebih menyebalkan daripada mendapat omelan dari sang mama.


.


.


.


Sepeninggalan Sinta, Rendra dan Rama saling menatap tak percaya. Keduanya seperti orang yang linglung dengan tujuannya. Hingga suara Dian membuat keduanya sadar.


"Lhoo, Sinta mana?"tanya Dian.


"Sinta kekamar tante"jawab Rama.


"Oo, Sinta lagi ganti baju ya, tunggu aja ya"ucap Dian.


"Ehh, enggak tante, Sinta mau lanjut istirahat, katanya capek"sanggah Rama.


"Lhoo? terus kalian berdua gimana?"tanya Dian. Rendra dan Rama saling tatap.


"Oohh, ya udah, maaf ya, mungkin Sinta kecapekan ngerjain skripsi"ucap Dian tak enak hati.


"Nggak apa apa tante, kalo gitu kita pamit dulu"ucap Rendra seraya mencium punggung tangan Dian bergantian dengan Rama. Dian pun mengangguk dan mengantarkan kedua tamu anaknya itu sampai didepan pintu.


Rendra dan Rama berjalan dengan menjaga jarak menuju mobil masing masing. Persaingan sepertinya masih ada dalam jiwa keduanya. Terlihat saat keduanya masih saling beradu mulut.


"Gara gara lo ya, gue nggak jadi jalan sama Sinta"kesal Rendra.


"Kok gue? lo lahh, siapa lo tiba tiba dateng ngajak Sinta jalan"ucap Rama tak mau kalah.


"Gue datang lebih dulu dalam hidup Sinta daripada lo"ucap Rendra dengan senyum mengejek.


"Jangan harap lo bakal dapetin Sinta"lanjut Rendra seraya menunjuk wajah Rama.


"Lo emang lebih dulu datang dalam hidup Sinta, tapi lo juga yang udah ninggalin dia"ujar Rama sengit.

__ADS_1


Keduanya beradu tatap dengan tajam. Sinyal sinyal permusuhan dan persaingan terpancar jelas dimata keduanya.


"Biar gue kasih tau, Sinta ditakdirkan buat gue, meskipun gue pergi jauh sekalipun, Sinta bakal tetep jadi milik gue"ucap Rendra sebelum meninggalkan Rama sendirian disamping mobilnya.


.


.


.


Didalam kamar Sinta bersandar dibelakang pintu dengan dada yang bergemuruh. Dia tak mengerti dengan apa yang terjadi barusan. Dalam hatinya dia senang saat Rendra mengajaknya jalan, namun entah karena apa dia seakan tak ingin berdekatan dengan Rendra saat ini. Sedangkan dengan Rama, Sinta sama sekali tak ada rasa. Dia hanya menjalankan apa yang jadi keinginan orang tuanya.


Sinta menghela nafas panjang lalu berjalan menuju jendela. Disana dia bisa melihat Rendra dan Rama yang sepertinya masih beradu argumen.


"Untuk saat ini biarlah seperti ini, aku akan memilih saat sudah saatnya"gumam Sinta seraya menatap Rendra dan Rama.


"Sinta, mama boleh masuk?"tanya Dian dari depan pintu.


"Masuk aja ma"ucap Sinta.


Dian membuka kamar Sinta. Sinta pun menghampiri Dian dan duduk di ranjang bersama sang mama.


"Kenapa? bingung?"tanya Dian.


"Nggak tau ma"jawab Sinta lesu.


"Mama tau apa yang kamu pikirkan"ujar Dian tersenyum.


"Jalanmu masih panjang, bersenang senanglah, saat tiba saatnya, mama yakin dia akan datang menjemputmu. Dan saat itu tiba, kamu harus pastikan bahwa yang kamu pilih adalah pilihan hatimu"lanjut Dian bijak.


"Tapi perjodohan itu?"tanya Sinta.


"Jangan dengarkan ucapan papamu, kamu berhak bahagia dengan pilihan mu"ucap Dian.


"Gunakan waktumu dengan baik"lanjut Dian. Sinta tersenyum mendengar ucapan sang mama. Sinta senang karena Dian memahami isi hatinya.


"Makasih ma, Sinta bakal pikirin baik baik"ucap Sinta seraya memeluk sang mama.

__ADS_1


TBC


__ADS_2