(Bukan)Rama Sinta

(Bukan)Rama Sinta
BAB 17


__ADS_3

Matahari sudah kembali keperadaban. Bergantikan malam penuh bintang. Meskipun tak seterang matahari, sang bulan masih berusaha menerangi gelapnya malam.


Sinta berdiri menatap indahnya malam dari balkon kamarnya. Dia tersenyum menatap bintang dan bulan yang begitu indah. Tak seperti kisah cintanya. Sinta tersenyum masam mengingat nasihat yang diberi Zola siang tadi.


Sinta tak dapat menampik semua ucapan Zola. Karena semua itu adalah kebenaran. Seandainya Sinta tak terjebak perjodohan, dengan senang hati dia akan menerima Rendra.


Helaan nafas terdengar dari mulut Sinta. Dipejamkannya sesaat mata indah itu kemudian mendongak menatap langit malam.


"Jika bintang yang bersinar paling dapat mengabulkan permintaan, aku cuma minta jodoh yang terbaik"ucap Sinta seraya menatap satu bintang yang bersinar paling terang.


Sinta tersenyum dengan terus menatap bintang yang seolah berkedip kedip itu. Namun senyum Sinta menjadi penasaran saat dirinya melihat sebuah mobil memasuki halaman rumahnya.


"Itukan mobilnya Rendra"gumam Sinta.


Sinta kembali mendongak keatas manatap bintang yang tadi. Sinta tersenyum seolah sang bintang benar benar mengabulkan doanya.


"Terima kasih, jika memang dia jodoh terbaik buat aku, aku akan memperjuangkannya"ucap Sinta.


Sinta kembali melihat kebawah dimana mobil Rendra terparkir. Ternyata sang pemilik mobil sudah keluar dari mobilnya dan berjalan masuk. Dapat Sinta pastikan, sebentar lagi pasti sang mama akan mencarinya.


Tanpa pikir panjang Sinta segera membuka lemari besar miliknya mencari baju yang menurutnya cocok. Setelah mendapatkan apa yang dia cari, Sinta segera mengganti pakaiannya. Dan benar saja tak selang lama pintu kamar Sinta diketuk oleh sang mama.


Dengan senang hati Sinta membukakan pintu dan disambut kerutan dari oleh sang mama.


"Kenapa ma? ada tamu ya?"tanya Sinta dengan senyum.


"Kamu kenapa Sin?"tanya Dian.


"Hahh? emang Sinta kenapa ma?"tanya Sinta bingung.


"Ya nggak apa apa sih, cuma aneh aja masa mau tidur pake celana jeans segala"ucap Dian aneh.


"Ehh, emm, Sinta_Sinta cuma jaga jaga aja siapa tau ada yang ngajak Sinta jalan"kilah Sinta.


"Emang siapa yang mau ajak kamu jalan?"tamya Dian.


"Ya_ya nggak tau ma, kan siapa tau"elak Sinta. Dian memicingkan matanya. Kemudian senyum terlintas dibibirnya saat tau arah pembicaraan sang anak.


"Kamu ngintip ya"goda Dian.


"Ihh, ngintip apaan, emang apaan yang diintip"kilah Sinta.


"Halahh, ngaku aja dehh, kamu tau kan kalau Rendra abis dari sini, hayo ngaku"goda Dian.


"Lhoo emang Rendra udah pulang?"tanya Sinta panik.


"Cie cie, yang ngarep diajak jalan sama Rendra"goda Dian lagi.


"Idihh, siapa yang ngarep"kilah Sinta.

__ADS_1


"Udah deh ngaku aja, kamu tadi tau kan kalau Rendra kesini makanya kamu dandan kayak gini"goda Dian.


"Mama apaan sih nggak jelas banget"kesal Sinta dan berbalik masuk kekamarnya.


Dian pun tertawa dan mengikuti Sinta masuk kedalam kamar.


"Nggak usah cemberut gitu"goda Dian.


"Siapa yang cemberut"kesal Sinta.


"Hemm iya deh"ujar Dian.


"Tadi Rendra memang kesini"ucap Dian.


"Niatnya emang mau ngajak kamu jalan_"


"Terus sekarang mana Rendranya?"potong Sinta.


"Mama suruh pulang"jawab Dian enteng.


"Lohh kok disuruh pulang sih ma"kesal Sinta.


"Maaf, tadi mama kira kamu udah tidur karena kecapekan, makanya Rendra mama suruh pulang"ucap Dian menyesal.


"Mama ihh"sedih Sinta.


"Maafin mama ya"ucap Dian menyesal.


"Ini dari Rendra ma?"tanya Sinta senang dan dibalas anggukan oleh Dian.


"Ya udah nihh buka aja, mama mau kekamar dulu"pungkas Dian.


"Iya ma, makasih mama"ucap Sinta senang.


.


.


.


Rendra merebahkan tubuhnya di kasur empuk miliknya. Sembari memejamkan mata, dia hembuskan nafas lega. Dia teringat obrolan dirinya dengan Dian, mama Sinta yang membuatnya sedikit tenang. Rendra berniat mengajak Sinta keluar malam ini.


Flashback on


Rendra menekan bel rumah Sinta dan dibukakan oleh Dian.


"Rendra"sapa Dian.


"Malam tante"ujar Rendra tersenyum.

__ADS_1


"Malam, yuk masuk dulu"ajak Dian.


"Duduk dulu Ren, biar tante bikinin minum dulu"ujar Dian.


"Nggak perlu tante, saya kesini cuma mau ajak Sinta jalan"ucap Rendra mengutarakan niatnya.


"Emm, Sinta ya? tapi kayaknya Sinta udah tidur"ucap Dian.


"Ohh, udah tidur ya tante"sahut Rendra sedih.


"Iya, maaf ya"ucap Dian menyesal.


"Nggak apa apa tante, lain kali aja"sahut Rendra.


"Kalau gitu saya titip ini tante buat Sinta"ucap Rendra seraya memberikan paper bag pada Dian.


"Iya nanti tante sampaikan"sahut Dian.


"Makasih tante, kalau gitu saya pamit dulu tante"pamit Rendra.


"Ehh, kok langsung pulang"tanya Dian.


"Nggak apa apa tante"jawab Rendra tak enak.


"Sebenarnya ada yang mau tante bicarakan sama kamu"ucap Dian.


"Apa tante?"tanya Rendra.


"Ini, soal Sinta"ucap Dian.


"Sinta kenapa tante?"tanya Rendra penasaran.


"Sebenarnya tante tau apa yang terjadi antara kamu dan Sinta, juga Rama"ujar Dian tersenyum.


"Maaf tante nggak bisa bantu apa apa, karana semua itu haknya Sinta"lanjut Dian.


"Nggak apa apa tante, saya ngerti"sahut Rendra tersenyum paksa.


"Papanya Sinta pengen jodohin Sinta sama Rama, tapi Sinta nggak mau"ucap Dian menatap Rendra tersenyum.


"Tante yakin, Sinta masih menunggu kamu"ujar Dian.


"Berjuanglah sedikit lagi, tante yakin kalian akan bersama"ucap Dian.


"Tapi Rama?"tanya Rendra.


"Tante memang nggak bisa batalin perjodohan itu, tapi Sinta berhak menolak jika dia nggak suka"jawab Dian tersenyum.


"Makasih tante, saya tau apa yang harus saya lakukan"ucap Rendra tersenyum.

__ADS_1


Flashback off


TBC


__ADS_2