(Bukan)Rama Sinta

(Bukan)Rama Sinta
BAB 25


__ADS_3

Seperti hari sebelumnya, Rama masih menjalankan tugasnya di perusahaan Wisnu. Namun sepertinya apa tugas yang Wisnu berikan tak sesuai dengan yang Rama bayangkan.


Rama sudah membayangkan diberi sebuah proyek besar yang menguntungkan. Namun ternyata Wisnu tak segampang itu mengembankan tugas. Wisnu masih mempercayakan semuanya pada orang orangnya.


Rama mendesah kesal diruangannya. Dia harus memutar otak agar rencananya bisa berjalan dengan lancar.


"Gue nggak bisa gini terus, gue harus diskusi sama papa"gumam Rama.


Rama mengangguk mantap kemudian beranjak dari kursinya untuk pulang. Namun sebelum meninggalkan kantor Rama sudah berpamitan pada orang yang dipercaya Wisnu dengan alasan tidak enak badan.


Rama mengendarai mobionya menuju kantor sang papa. Dia benar benar harus menemui papanya demi kelancaran saldo diatmnya. Setelah hampir 20 menit berkendara, kini Rama sudah sampai di kantor sang papa.


Tanpa menunggu lama, Rama pun bergegas turun dari mobil dan segera masuk menemui sang papa. Untung ada lift khusus, jadi tak perlu mengantri lama bersama karyawan lainnya.


Sesampainya di depan ruangan sang papa, Rama segera mengetuk pintu dan masuk setelah dipersilahkan.


"Pa"sapa Rama.


"Kenapa Ram?"tanya Pandu.


"Pa, aku begitu kesulitan disana, om Wisnu sama sekali nggak biarin aku pegang proyek sendiri pa"adu Rama.


"Kamu tenang dulu, nggak usah terburu buru"sahut Pandu santai.


"Sekarang yang harus kamu khawatirkan adalag hubungan Sinta dan Rendra"lanjut Pandu.


"Ayolah pa, aku yakin papa bisa atasi itu"ujar Rama.


"Papa bisa janji tentang perjodohan itu, tapi papa nggak bisa apa apa kalau Sinta dan Rendra sampai berbuat nekat"ujar Pandu.


.

__ADS_1


.


.


Ditempat lain Wisnu tak kalah pusingnya dengan Rama. Jika Rama pusing memikirkan cara menguasai perusahaan milik Wisnu. Disini Wisnu pusing karena masalahnya tak kunjung ketemu asalnya.


Sebenarnya sang asisten sudah mencari tau penyebabnya dan sudah ketemu. Namun entah kenapa Wisnu seolah tak percaya dengan apa yang asistennya dapatkan. Wisnu masih tidak percaya jika dalang dibalik semua ini adalah orang terdekatnya.


Maka dari itu Wisnu masih mencoba mencari celah dimana letak kesalahannya. Namun bukannya ketemu malah semakin panjang.


"Apa kamu yakin semua ini benar?"tamya Wisnu pada sang asisten.


"Yakin pak, semua itu saya dapatkan berdasarkan data yang ada"jawabnya.


"Baiklah, masalah ini kamu urus kerugiannya, mengenai orang ini, saya minta orang orang kamu terus mengawasi pergerakan mereka"ujar Wisnu.


"Baik pak"ucap sang asisten seraya pamit.


Wisnu merasa bahwa semua ini palsu. Namun Wisnu juga tak bisa mengatakan demikian. Karena jika dirinya pikir untuk apa sang asisten mempalsukan laporannya. Hahh, Wisnu benar benar masih tak bisa berfikir jernih.


.


.


.


Berbeda dengan Wisnu dan Rama yang tengah berpusing pusing ria. Berbeda pula dengan dua sejoli yang tengah dimabuk asmara. Siapa lagi kalau bukan Rendra dan Sinta. Rendra dan Sinta kini tengah duduk dicafe dekat kampus mereka.


Keduanya saling berhadapan dengan senyum yang mengembang dibibir masing masing.


"Permisi kak, ini pesanannya"ucap sang pelayan. Sontak saja Rendra dan Sinta dibuat terkejut.

__ADS_1


"Selamat menikmati"pamit sang pelayan. Rendra dan Sinta pun mengangguk kaku.


"Udah makan dulu"ajak Rendra.


Sinta pun mengangguk dan segera menyantap makananya. Begitu pun dengan Rendra. Keduanya makan dengan tenang. Sesekali diselingi obrolan dan candaan yang menambah keharmonisan juga kesenangan untuk keduanya.


"Kapan papa kamu pulang?"tanya Rendra.


"3 hari lagi, kenapa?"tanya Sinta.


"Aku berencana menemui papa kamu saat papa kamu sudah pulang"ucap Rendra.


"Emm, apa kamu yakin?"tanya Sinta ragu.


"Aku yakin sayang, entah sekarang atau nanti aku bakal menghadap papa kamu kan"ujar Rendra.


"Aku mau secepatnya, entah seperti apa respon papa kamu nanti, aku siap buat menghadapi"lanjut Rendra yakin.


Sinta pun tersenyum haru mendengar perkataan Rendra. Dia sangat senang bisa mendapatkan Rendra yang mau berjuang untuknya.


"Baiklah, aku bakal bantu kamu buat ngomong sama papa"putus Sinta.


"Makasih sayang"ucap Rendra.


"Pokoknya apapun yang terjadi kita hadapi bersama"ujar Sinta.


"Itu pasti"sahut Rendra.


"Yuk aku anter pulang"ajak Rendra yang diangguki oleh Sinta. Keduanya keluar dari cafe dengan tangan yang saling bertautan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2