(Bukan)Rama Sinta

(Bukan)Rama Sinta
BAB 21


__ADS_3

Rendra melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali dirinya menengok kekiri melihat wanita yang dia cintai. Sinta. Digenggamlah tangan kanan Sinta dan dic\*umnya mesra.


"Ren, udah deh, kamu fokus nyetir aja dulu"kesal Sinta.


"Mana bisa aku fokus nyetir kalau ada kamu disamping aku"gombal Rendra.


"Ya udah kamu turunin aku disini, biar kamu fokus nyetirnya"kesal Sinta.


"Eh ehh, kok gitu"bingung Rendra.


"Katanya nggak bisa fokus karena aku di sini"sungut Sinta.


"Nggak sayang, aku cuma bercada kok"melas Rendra.


"Terserah"ucap Sinta sambil mengalihkan pandangannya keluar jendela.


"Sayang jangan marah dong"bujuk Rendra.


"Sayang"panggil Rendra memelas.


Mendengar Rendra yang terlihat putus asa, Sinta terkekeh pelan. Namun hal itu membuat Rendra sadar jika dirinya sedang dikerjai Sinta.


"Oo, gitu ya, seneng liat pacarnya sedih"ujar Rendra.


"Haha, abisnya lucu tau"ucap Sinta tertawa.


"Mana ada orang sedih lucu"sungut Rendra.


"Nggak percaya? besok deh kalau kamu lagi sedih biar aku fotoin, aku kasih liat ke kamu, biar kamu tau betapa lucunya wajah sedihmu"ucap Sinta terkekeh.


"Aku nggak bakal sedih selagi ada kamu disisi aku"ucap Rendra serius. Sinta hanya tersenyum haru tanpa bisa menjawab.


"Kita makan dulu ya, udah jam makan siang juga"ajak Rendra.


"Boleh deh, kebetulan aku juga lapar"ujar Sinta. Rendra pun mengangguk dan segera mencari tempat makan.


.


.


.


Ditempat lain, Wisnu tengah berdiri didepan pintu seperti menunggu seseorang. Beberapa kali Wisnu menghela nafas dengan tatapan marah.

__ADS_1


Wisnu memang memutuskan untuk pulang setelah Rama mendatangi kantornya tadi. Dia ingin melihat langsung kebenaran yang diucapkan Rama. Dia benar benar akan memajukan pertunangan jika yang dikatakan Rama adalah kebenaran.


"Hahh, kemana mereka"geram Wisnu.


"Pa"panggil Dian.


"Ada apa ma"ujar Wisnu.


"Papa kenapa daritadi gelisah?"tanya Dian.


"Papa lagi nunggu Sinta"jawab Wisnu.


"Sinta kenapa pa?"tanya Dian bingung.


"Tadi Rama datang kekantor, dia bilang Sinta masih berhubungan dengan Rendra"kesal Wisnu.


"Pa, mereka kenal sejak kecil, maklum jika mereka dekat"ucap Dian mencoba menjelaskan.


"Papa tidak masalah jika mereka hanya berteman ma, tapi mereka berpacaran"ujar Wisnu kesal.


"Apalagi dengan status Sinta yang saat ini calon tunangan Rama, hal itu tentu nggak baik ma"lanjut Wisnu.


Dian menghela nafas panjang mendengar penuturan suaminya. Sungguh dia tak tau jalan pikiran seperti apa yang di anut suaminya itu.


"Pa, apa papa yakin dengan perjodohan ini?"tanya Dian hati hati.


"Mama ini gimana, Sinta dan Rama audah dijodohkan sejak SMP, apa lagi yang membuat kita nggak yakin"ujar Rama kesal.


"Mama tau, tapi apa papa pernah berfikir apakah Sinta bakal bahagia dengan perjodohan ini"ucap Sinta.


"Terlebih lagi, Sinta tak mencintai Rama"lanjut Dian.


"Cinta bisa datang seiring berjalannya waktu ma, papa percaya Rama Sinta akan berjodoh"jawab Wisnu tegas.


"Mama nggak mau ikut campur tentang ini, mama cuma mau mengingatkan papa suapaya papa nggak menyesal di kemudian hari"ucap Dian.


"Mama tau, di hati papa yang paling dalam kebahagiaan Sinta adalah segalanya, mama harap papa bisa berfikir ulang"lanjut Dian lalu pergi meninggalkan Wisnu sendirian.


.


.


.

__ADS_1


"Udah selesai makannya?"tanya Rendra.


"He'em, udah"jawab Sinta.


"Yuk aku anter pulang"tawar Rendra dan diangguki oleh Sinta.


Keduanya keluar dari cafe dengan tangan yang saling bertautan. Senyuman pun tak luntur dari bibir keduanya. Bahkan banyak pengunjung cafe yang menatap keduanya dengan penuh damba. Namun hal itu tak membuat kedua insan yang tengah dimabuk cinta itu malu.


Sampai di parkiran, seperti biasa Rendra membukakan pintu untuk Sinta dan segera memutari mobilnya dan duduk dikursi kemudi. Setelah dirasa aman dan nyaman, Rendra segera melajukan mobilnya meninggalkan cafe.


Didalam mobil tak ada percakapan. Hanya saja tangan mereka masih senantiasa bertautan dengan bibir yang terus tersenyum. Hingga tak dirasa setelah 20 menit berkendara, mobil yang dikendarai Rendra sudah sampai didepan gerbang rumah Sinta yang masih tertutup rapat.


"Masuk dulu yuk"ajak Sinta.


"Boleh deh, mumpung masih siang, papa kamu pasti masih di kantorkan"goda Rendra.


"Ishh dasar, katanya mau berjuang"kesal Sinta.


"Haha, bercanda sayang"ujar Rendra.


"Yaudah yuk masuk, kalaupun ada papa kamu, pasti aku hadapi kok"lanjut Rendra. Sinta pun mengangguk dan segera menyuruh satpam untuk membukakan gerbang.


Setelah gerbang terbuka, Rendra kembali melajukan mobilnya masuk kepekarangan rumah Sinta. Sinta pun senang saat Rendra mengiyakan tawarannya untuk mampir. Namun kesenangan itu berubah menjadi kekhawatiran saat Sinta melihat sang papa sudah berdiri di teras rumah.


"Aduh, kok papa dirumah sihh"panik Sinta.


"Kamu tenang aja, aku bakal sampaiin niat baik aku sama om Wisnu"ujar Rendra.


"Jangan sekarang, kayaknya papa lagi bad mood deh"ucap Sinta seraya melirik mimik wajah sang papa yang terlihat marah.


"Sin, aku bakal berjuang buat kamu, kamu percaya sama aku, aku nggak bakal kenapa kenapa, asalkan kamu sabar, kita pasti bisa bersama"ucap Rendra.


"Kita turun ya, kalau kelamaan takutnya papa kamu makin marah"ujar Rendra.


Sinta pun mengangguk ragu. Dia sangat takit jika Rendra bertemu dengan sang papa dan berakhir cekcok. Namun apa yang dikatakan Rendra ada benarnya.


"Sinta, ayo"ujar Rendra disamping pintu. Terang saja Sinta terlonjak kaget.


Rendra mengulurkan tangannya membantu Sinta turun. Sinta melirik sang papa sebelum menerima uluran tangan Rendra. Dengan menghela nafas panjang, Sinta menerima uluran tangan Rendra dan segera berjalan beriringan dengan tangan bergandengan sepeti mau menyebrang.


"Siang om"sapa Rendra tersenyum.


TBC

__ADS_1


__ADS_2