
Rama bangun lebih awal daripada biasanya. Dia akan segera mandi dan berpakaian. Dirasa sudah rapi, Rama segera keluar dari kamarnya dengan tas yang dicangklongkan di bahu kirinya. Dengan senyum tipis dibibirnya, Rama menuruni anak tangga satu persatu. Hingga sampai di lantai bawah, Rama segera menuju dapur. Dia mencari keberadaan mamanya untuk berpamitan.
"Pagi ma"sapa Rama.
"Pagi Ram"balas Riana.
"Udah mau berangkat?"tanya Riana.
"Iya ma, biasalah tugas negara"jawab Rama terkekeh.
"Hussh, kamu itu, sama calon istri nggak boleh gitu, harus iklhas antar jemput, nggak boleh ngedumel kayak gitu"omel Riana.
"Iya iya mama, Rama nggak kesel kok, malah Rama seneng"jawab Rama.
"Ya udah sana buruan berangkat, ntar kesiangan"ucap Riana.
"Nggak bakal ma, ini masih pagi"balas Rama.
"Kamu itu dibilangin orang tua jangan ngeyel"ucap Riana kesal.
"Iya iya mama, Rama berangkat"ujar Rama seraya meraih tangan sang mama untuk ia cium punggung tangannya.
"Iya, hati hati, jangan macem macem sama Sinta"nasehat Riana yang dibalas acungan jempol oleh Rama.
Rama melenggang keluar dari rumahnya dan segera melajukan mobilnya. Sejak Wisnu memintanya mengantar jemput Sinta memang Rama disuruh berangkat lebih awal. Bahkan Wisnu juga menyuruh Rama untuk sarapan dirumahnya saja. Awalnya Rama menolak untuk sarapan disana. Namun bukan Wisnu namanya jika tak berhasil membujuk Rama. Dengan dalih mendekatkan Rama dengan Sinta, akhirnya Rama menyetujui hal itu.
Setelah berkendara hampir 15 menit, mobil yang Rama kendarai sudah masuk gapura komplek perumahan tempat tinggal Sinta. Tinggal lurus sedikit lalu belok kanan sudah sampai di blok perumahan yang Sinta tinggali. Namun belum sampai di belokan, Rama lebih dulu menghentikan mobilnya ditepi jalan dan menatap keluar jendela. Rama memicingkan matanya untuk memastikan yang dia lihat itu benar Sinta.
"Kenapa Sinta jalan kaki"gumam Rama. Rama masih memperhatikan Sinta yang terlihat kesal dan menggerutu dari dalam mobil. Hal itu cukup menarik untuk Rama.
__ADS_1
Setelah puas melihat Sinta yang kesal, Rama berniat turun dari mobil dan menghampiri Sinta. Namun langkahnya terhenti saat melihat sebuah mobil berhenti di samping Sinta. Rama berdiri ditempat dan melihat apa yang dilakukan sang pemilik mobil pada wanita yang dijodohkan padanya itu.
Dahi Rama bekerut saat melihat Sinta yang tersenyum senang. Padahal baru beberapa menit yang lalu Sinta terlihat sangat bad mood. Rama semakin mengerutkan keningnya saat melihat Sinta yang kembali tersenyum senang lalu masuk kedalam mobil itu.
"Siapa dia"gumam Rama. Dengan langkah cepat, Rama segera kembali masuk kedalam mobil dan mengikuti mobil yang ditumpangi Sinta.
.
.
.
Sinta tersenyum senang karena Rendra datang disaat yang tepat. Yang lebih membuatnya senang karena Rendra kini telah kembali. Berada didekat Rendra memberi warna tersendiri untuk Sinta. Sinta tersenyum mengingat kisah masa kecilnya bersama Rendra.
"Kenapa senyum senyum?"tanya Rendra.
"Seneng kenapa sih?"tanya Rendra penasaran.
"Seneng bisa berangkat bareng sama lo lagi, kayak waktu SD dulu"jawab Sinta tersenyum.
"Gue juga seneng bisa bareng sama lo lagi"ujar Rendra menatap Sinta lekat.
Beruntung lampu masih merah, jadi tak membahayakan keduanya. Tangan Rendra terulur mengusak pucuk kepala Sinta. Sinta yang mendapat perlakuan seperti itu oleh Rendra pun memejamkan matanya. Menikmati usapan lembut yang Rendra berikan.
Keduanya larut dalam keromantisan. Hingga suara klakson dari mobil yang berada dibelakang Rendra membuyarkan momen indah tersebut. Rendra pun tersentak kaget dan melihat lampu ternyata sudah hijau. Dengan segera Rendra melajukan mobilnya.
Sinta terkekeh melihat wajah Rendra yang terlihat kaget.
"Kenapa ketawa?"tanyanya.
__ADS_1
"Kamu lucu tau"jawab Sinta tertawa.
"Ternyata hobi lo masih aja ya, suka bengat ketawain gue kalau lagi kaget"ucap Rendra pura pura merajuk.
"Haha abisnya lo lucu tau"ujar Sinta disela sela tawanya. Rendra tak membalas ucapan Sinta. Dia malah ikut tersenyum melihat Sinta yang tertawa begitu lepas. Hatinya menghangat melihat wanita yang ia sayangi tertawa bahagia.
"Gue bahagia liat lo bahagia, meskipun lo harus bahagia sama orang lain"batin Rendra.
Sejak saat Rendra pernah melihat Sinta datang kekampus bersama Rama. Disaat itu pula Rendra beranggapan jika Sinta dan Rama menjalin sebuah hubungan. Padahal Rendra bertekad jika dirinya kembali ke ibukota dan bisa menemukan Sinta lagi, dia akan menjadikan Sinta kekasihnya dan jika Tuhan berkenan, Rendra akan mempersunting Sinta. Namun saat melihat Sinta dan Rama, niat itu ia tunda. Dia tak ingin menjadi orang ketiga. Biarkan Tuhan yang mengatur segalanya.
.
.
.
Rama menghentikan laju mobilnya di parkiran kampus. Namun Rama tak kunjung turun. Rama malah masih betah didalam mobil seraya menatap mobil disebelahnya. Rama masih penasaran siapa pemilik mobil yang membawa Sinta.
Cukup lama Rama memperhatikan mobil yang terparkir disampingnya itu. Hingga dia melihat wanita turun dari mobil itu. Siapa lagi kalau bukan Sinta. Tapi bukan itu yang Rama cari. Dia mencari siapa pemilik mobil itu.
Rama menajamkan penglihatannya saat pintu bagian kemudi dibuka. Hingga keluarlah seorang pria yang tak kalah tampan darinya. Bola mata Rama melebar kala melihat siapa pemilik mobil itu.
"Abi"gumam Rama. Dia memperhatikan tingkah laku Abi alias Rendra dan Sinta yang terlihat akrab itu. Bahkan tak segan Abi merangkul Sinta mesra.
"Ada hubungan apa mereka?"tanya Rama.
Rama masih memperhatikan Sinta dan Abi yang berjalan semakin menjauh. Dan saat keduanya sudah tidak terlihat, barulah Rama keluar dari mobilnya dan bergegas masuk kekelas dengan pikiran yang bertanya tanya.
TBC
__ADS_1