
Hari hari Sinta terasa sangat menyedihkan. Meskipun Zola selalu disampingnya, namun kedua lalat ganteng terus saja menempel padanya. Seperti saat ini, Sinta dan Zola tengah duduk dikantin menikmati makan siang mereka. Namun kenikmatan itu berubah menjadi kekesalah saat Rendra dan Rama mendatanginya.
Tak hanya itu, kedua pria tampan itu tak henti hentinya mencari perhatian Sinta dengan berbagai cara. Mulai dari membelikan Sinta makanan dan minuman, menawarkan untuk menyuapi Sinta dan masih banyak lagi. Tentu saja hal itu membuat Sinta kesal.
"Sin, ntar malem jalan yuk"ajak Rendra.
"Jangan mau Sin sama dia, sama gue aja"sahut Rama.
"Ehh, nggak usah cari deh lo"kesal Rendra.
"Lo tu yang cari muka pake suapin Sinta segala"ucap Rama tak mau kalah.
"Lo"
"Lo"
"Lo"
Begitulah seterusnya. Bahkan kedua pria tampan itu sudah menjadi pusat perhatian seisi kantin. Sinta yang melihat itu pun semakin dibuat kesal.
BRAKK
Seketika perdebatan Rama dan Rendra pun berakhir. Keduanya kaget melihat Sinta yang menggebrak meja keras. Dapat keduanya lihat, saat ini Sinta berada dimode marah.
"Kalian denger ya, gue nggak mau jalan sama lo berdua, jadi jangan ada satupun yang muncul dihadapan gue"sungut Sinta kemudian berlalu meninggalkan Rama dan Rendra.
__ADS_1
.
.
.
Sinta berjalan menyusuri koridor kampus dengan nafas yang tak beraturan. Hari hari yang harusnya dia lalui dengan suka cita, kini hanya ada kekesalan karena kedua lalat itu terua menganggunya.
"Sinta, tungguin gue dongg"teriak Zola.
"Ihh, kesel sih kesel, tapi nggak usah ninggalin juga kali"sungut Zola saat berhasil menyusul Sinta.
"Kesel gue sama lalat lalat penganggu itu"kesal Sinta.
"Idihh, amit amit"ujar Sinta.
"Beneran nggak suka"goda Zola.
"Benerlah"singkat Sinta.
"Oo bener nggak suka, emm, gimana ya kalau gue deketin Rendra"ucap Zola seolah berfikir.
"Ehh, jangan harap ya"sungut Sinta. Jelas saja Zola tertawa keras mendengar jawaban Sinta.
"Nggak usah ketawa deh lo"kesal Sinta.
__ADS_1
"Haha, oke oke"ucap Zola berusaha menghentikan tawanya. Zola menghela nafas sebelum kembali bicara.
"Udah gue duga lo nggak bakal dengan mudah lepasin Rendra"ucap Zola yang membuat Sinta terdiam.
"Apa sih yang bikin lo kayak gini?"tanya Zola.
"Gue_gue nggak tau"lirih Sinta.
"Sin, gue tau banget gimana lo bertahan selama ini buat nggak deket sama cowok cuma buat Rendra. Dan sekarang pas Rendra udah ada dideket lo, bahkan dia ngejar ngejar lo, lo malah kayak gini"ucap Zola.
"Terus apa yang lo pertahanin selama ini"lanjut Zola.
"Gue bener bener nggak ngerti Zol, disatu sisi gue pengen bersanding sama Rendra, tapi disisi lain perjodohan gue sama Rama nggak bisa gue tolak"lesuh Sinta.
"Atas dasar apa lo nggak bisa nolak?"tanya Zola.
"Sin, kehidupan lo itu lo sendiri yang jalanin, bukan bopak lo, jadi lo harus tentuin pilihan lo sendiri, pilihan yang bisa bikin lo bahagia, percuma lo terima perjodohan itu kalau lo nggak bahagia"ucap Zola menasihati.
"Tetep aja bokap gue nggak bakal dengerin apa kemauan gue"ucap Sinta.
"Sin, sekarang udah modern, udah nggak jaman jodoh jodohin kayak gitu, apa lagi bopak lo yang terobsesi sama cerita Rama Sinta. Lo beda Sin, kalian bukan Rama Sinta"ucap Zola.
"Gue tekanin sama lo, lo harus pilih pilihan lo sendiri, gue yakin, suatu saat bokap lo bakal paham"ucap Zola seraya mengusap lengan Sinta lembut.
TBC
__ADS_1