
Pagi pagi sekali Wisnu masih bekerja keras didepan laptop kesayangannya. Wisnu juga sesekali membaca dokumen dokumen yang ada didepannya dengan serius. Tak ada yang aneh disana, namun bagaimana bisa ada kerugian belasan milyar.
Wisnu menghela nafas berat seraya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Malam malam Wisnu harus berangkat keluar kota dan saat sampai pun Wisnu belum sempat istirahat hingga sekarang. Rasa kantuk pin Wisnu tahan demi terselesaikannya masalah yang ada.
"Silahkan kopinya pak"ujar sang asisten.
Tanpa menjawab Wisnu segera menyeruput secangkir kopi yang ada didepannya. Dengan perlahan Wisnu merasakan paitnya kopi yang dicampur dengan manisnya gula. Sungguh nikmat jika meminumnya dalam keadaan baik baik saja.
Namun dengan kondisi masalah yang Wisnu hadapi, manisnya gula yang tercampur dalam paitnya kopi pun tak ada rasanya. Hanya pait saja yang terasa.
Masalah yang Wisnu hadapi memang bukan yang pertama. Namanya juga dunia bisnis, pastu ada saja musuh yang ingin menghancurkan kota. Namun kali ini entah mengapa Wisnu merasa bahwa masalah yang ia hadapi bukannya serangan musuh melainkan serangan dari dalam. Entah itu benar atau tidak, Wisnu belum bisa memastikannya.
"Kamu selidiki lagi, saya masih ragu dengan laporan ini"ucap Wisnu seraya menyerahkan dokumen pada sang asisten.
"Baik pak, kalau begitu saya permisi"pamit sang asisten.
Wisnu memejamkan mata seraya memijit pangkal hidungnya pelan. Masih Wisnu ingat betapa tidak percayanya Wisnu saat sang asisten membawa hasil penyelidikannya. Pasalnya hasil penyelidukan itu mengatakan jika dalang dibalik masalah ini adalah orang terdekatnya.
Wisnu yang tak percaya pun berusaha mencari bukti lain bahwa masalah ini bukan dia dalangnya. Namun semalaman Wisnu bekerja tak ada hasilnya sama sekali. Haruskan Wisnu percaya dengan hasil yang diberikan sang asisten?
.
.
.
Ditempat lain seorang pemuda tengah duduk dikursi kerjanya dengan senyum licik. Rama, dialah orannya. Pagi ini Rama sudah berada di kantor Wisnu untuk menggantikan Wisnu sementara. Dengan di dampingi orango kepercayaan Wisnu, Rama bekerja layaknya seorang direktur utama.
"Tuan muda, 30 menit lagi ada meeting"ujar orang kepercayaan Wisnu.
__ADS_1
"Ya, siapkan saja materinya, biar saya pelajari"ucap Rama.
"Maaf tuan muda, rapat kali ini dipimpin oleh pak Erik"ujarnya.
"Kenapa? disini saya yang menggantikan om Wisnu"ucap Rama tak terima.
"Maaf tuan muda saya tidak tau, saya hanya menjalankan perintah pa Wisnu"ujarnya menunduk.
"Keluarlah"ucap Rama kesal.
Rama menyandarkan punggungnya di kursi. Dia menghela nafas kesal saat mendengar Wisnu melarangnya untuk memimpin rapat.
"Jika begini, bisa gagal rencana ku"kesal Rama.
.
.
.
Senyum dibibir Sinta tak luntur meskipun sudah sampai didalam kelas. Sampai sampai beberapa teman satu kelas Sinta menatap Sinta bingung. Pasalnya Sinta adalah gadis dingin dan cuek. Jangankan tersenyum, berkedip saja dapat dihitung dengab jari. Karena mata Sinta terbiasa menatap tajam orang orang yang tak dia kenal.
Senyum itu terus bertahan hingga Zola datang. Tentu saja hal itu menarik perhatian Zola yang notabenya teman Sinta. Zola tau betul ekpresi apa yang Sinta berikan.
"Uu, ada yang lagi happy nihh"ujar Zola.
"Karena gue lagi happy, gue nggak bakal marah sama lo"ucap Sinta.
"Ada berita apa nihh yang gue nggak tau, sampai sampai temen gue giginya kering karena kebanyakan senyum"goda Zola.
__ADS_1
"Dasar lo ya, nggak bisa apa lo liat temen seneng"kesal Sinta.
"Eitt, ntar dulu, katanya nggak bakal marah"goda Zola.
"Huftt,, oke, karena gue lagi happy, gue nggak jadi marah"ujarnya.
"Haha,, kenapa nihh kayaknya happy banget?"tanya Zola penasaran.
"Lo tau, gue happy banget hari ini"ucap Sinta senang.
"Tadi pagi, Rendra jemput gue, bahkan ikut sarapan dirumah gue"lanjut Sinta semangat.
"Hah?? kok bisa?"bingung Zola.
"Bisa dong, bokap gue lagi keluar kota, jadi gue bisa bebas bawa Rendra pulang"ujar Sinta senang.
"Gue ikut seneng kalau lo seneng"ucap Zola.
"Aaa, lo emang temen gue yang paling pengertian"ucap Sinta memelu Zola sekilas.
"Pasti dong, Zola"bangga Zola.
"Tapi lo jangan seneng seneng aja, ntar lo lupa lagi kalau tugas lo berat"ujar Zola.
"Maksud lo?"bingung Sinta.
"Ya lo harus cari cara supaya bokap lo restuin hubungan kalian, inget perjodohan lo belum kelar"ucap Zola mengingatkan.
TBC
__ADS_1