(Bukan)Rama Sinta

(Bukan)Rama Sinta
BAB 6


__ADS_3

Seorang gadis kecil tengah berlarian di taman kota. Senyuman terukir indah di bibir mungilnya. Dia adalah Sinta Kusuma Dewi. Sinta kecil berlairan sesekali menaiki ayunan juga permainan lain yang ada ditaman kota. Orang tua Sinta pun tersenyum senang melihat anaknya begitu bahagia.


Wisnu dan Dian yang tak lain adalah orang tua Sinta duduk menggelar tikar dengan beberapa makanan dan minuman yang menemani mereka. Sambil menikmati makanan ringan mereka terus mengawasi Sinta yang sangat aktif berlari kesana kemari.


Namun saat Wisnu dan Dian terlihat sama sama sibuk dengan ponselnya, Sinta berlari kian menjauh dari kedua orang tuanya. Sinta berlari mendekati danau buatan yang ada di pinggiran taman. Sinta terlihat begitu senang melihat angsa yang tengah bermain di air itu.


Angsa itu terlihat senang saat melihat keberadaan Sinta. Bahkan salah satu angsa berenang menepi mendekati Sinta. Sinta yang penasaran pun menjulurkan tangannya. Dan siapa sangka, ternyata angsa itu malah mematuk tangan Sinta hingga berdarah.


Sinta yang kaget pun langsung menangis.


"Waa, mama, sakit"rengek Sinta dalam tangisnya. Sambil terus menangis Sinta menoleh kekanan kiri mencari keberadaan orang tuanya. Namun tak ada.


Karena tak tau keberadaan orang tuanya, Sinta semakin mengeraskan tangisnya. Dia duduk dibawah pohon sambil terus menangis memanggil sang mama.


"Mama, tolong Sinta"tangis Sinta.


Tak jauh dari tempat Sinta berada, seorang anak laki laki tengah duduk menikmati es krim di tangannya. Dia makan dengan sedikit tak nyaman karena terus mendengar suara tangisan Sinta. Dia menoleh kearah Sinta yang menangis itu.


"Mama, kenapa dia menangis? apa dia juga ingin es krim seperti aku?"tanyanya polos.


"Nggak tau sayang, kita samperin yuk, kasian, sepertinya dia mencari orang tuanya"ajaknya dan pria kecil itu mengangguk.


Pria kecil itu berjalan menghampiri Sinta dengan sang mama. Sampai di depan Sinta, pria itu duduk jongkok di hadapan Sinta.


"Hai, kenapa kamu menangis?"tanyanya.


"Mama, aku cari mama sama papa aku"jawab Sinta dengan air mata yang masih mengalir.


"Memangnya dimana orang tua kamu?"tanya mama sang pria kecil. Namun Sinta menjawab dengan gelengan.


"Tangan kamu berdarah"ucap pria kecil itu.


"Ikut tante yuk, kita obati dulu tangan kamu, nanti tante bantu cari orang tua kamu"tawarnya. Sinta mengangguk lucu.


Sinta pun berjalan mengikuti pria kecil dan mamanya itu. Mereka bertiga duduk di tikar dan dengan telaten mengobati luka di tangan Sinta.


"Siapa nama mu?"tanya pria kecil itu.

__ADS_1


"Sinta"jawabnya singkat.


"Namaku Abi, tapi kamu bisa panggil aku Rendra, kamu orang spesial buat aku"ucapnya lucu. Sinta pun mengangguk tanda setuju. Dia tak tau apa itu spesial yang maksud Rendra.


"Udah selesai, ayo tante bantu cari orang tua kamu"ajak mama Rendra. Lagi lagi Sinta mengangguk.


Reni, mama Rendra menggandeng kedua anak kecil itu sambil terus berjalan. Namun sesekali Reni celingak celinguk mencari keberadaan orang tua Sinta. Hingga seseorang memanggil nama Sinta dengan nyaring dan membuat ketiganya menoleh.


"Mama, papa"panggil Sinta seraya berlari memeluk kedua orang tuanya.


"Kamu darimana sayang?"tanya Dian khawatir.


"Aku habis liat angsa ma, disana"jawab Sinta polos.


"Terus tangan kamu kenapa?"tanya Dian.


"Tadi digigit angsa, untung ada Rendra dan mamanya yang nolong aku"jawab Sinta sambil menunjuk Rendra dan sang mama.


"Terima kasih mbak sudah menolong anak saya"ucap Dian.


"Sama sama mbak"jawab Reni tersenyum.


Rendra tersenyum saat mengingat awal dirinya bertemu dengan Sinta. Sungguh dia tak menyangka setelah sekian tahun tak bertemu, kini mereka dipertemukan kembali.


.


.


.


Ditempat lain Sinta tengah menatap gelang yang dia pakai. Dia menatap rindu pada seseorang yang memberinya gelang itu.


Flasback on


Sinta dan Rendra sedang menunggu orang tua mereka yang tengah mengambil rapor kelulusan SD. Mereka berdua duduk di bangku taman yang ada di sekolah mereka. Sinta dan Rendra ternyata satu komplek, hanya beda gang saja. Jadi mereka sering bermain bersama hingga memutuskan untuk sekolah sama sama.


"Sinta"panggil Rendra.

__ADS_1


"Ya, kenapa?"tanya Sinta.


"Besok aku harus ikut papa ke Bali"ucap Rendra.


"Wahh, kamu mau liburan ke Bali?"tanya Sinta antusias.


"Bukan"jawab Rendra menggeleng.


"Terus?"tanya Sinta bingung.


"Papa aku dipindah tugaskan disana, jadi aku sama mama juga harus ikut kesana"jelas Rendra.


"Jadi kamu nggak akan balik kesini lagi? kamu bakal ninggalin aku sendiri"sedih Sinta.


"Maaf"lirih Rendra.


"Berapa lama kamu di Bali?"tanya Sinta.


"Aku nggak tau"jawab Rendra sedih. Sinta pun menunduk sedih.


"Kamu jangan sedih, aku pasti balik lagi kesini"ucap Rendra menyemangati.


"Kapan?"tanya Sinta.


"Saat aku besar nanti, aku janji bakal balik kesini dan jemput kamu"jawab Rendra tegas. Dia membuka tasnya dan mengambil 2 buah gelang tali dengan tulisan love di tengahnya.


"Kamu pakai gelang ini, kalau kamu kangen sama aku, kamu lihat gelang ini dan kamu ingat, aku bakal kembali kesini buat kamu"ucap Rendra seraya memakaikan gelang ditangan Sinta.


"Nahh, cantik kan"puji Rendra yang membuat Sinta tersenyum.


"Sekarang kamu pakaiin buat aku"ucap Rendra menyerahkan gelang yang sama pada Sinta. Sinta pun mengangguk dan segera memakaikan gelang itu pada Rendra.


"Ingat ya, aku bakal kembali buat kamu"ucap Rendra tersenyum.


"Iya, aku pasti ingat janji kamu"balas Sinta.


"Tapi jika saat besar nanti kamu tak kunjung kembali, aku yang akan datang kepadamu"lanjut Sinta tegas.

__ADS_1


Rendra tersenyum dan segera bangkit untuk memeluk Sinta. Sinta pun membalas pelukan Rendra erat. Untuk beberapa saat mereka saling menguatkan lewat pelukan. Sungguh mereka paham atau tidak dengan apa yang mereka ucapkan. Namun dalam hati keduanya, tersirat sebuah rasa yang entah seperti apa kedepannya.


TBC


__ADS_2