
3 hari terlewati, 3 hari pula Rendra dan Sinta merasakan indahnya dunia percintaan tanpa sebuah hambatan. Bahkan seekor lalat kecil yang biasanya terus menempel pada Sinta pun entah kemana. Namun Sinta tak menghiraukan hal itu. Itu adalah hal baik baginya karena Rama tak terus terusan mengganggunya.
Pagi ini Sinta sudah selesai sarapan dan bersiap berangkat kekampus bersama Rendra. Awalnya Rendra ingin mengatakan niatnya pada Wisnu, papanya Sinta pagi ini. Namun karena Wisnu langsung kekantor sepulang dari luar kota, terpaksa Rendra menunda niatnya.
"Yuk berangkat"ajak Sinta dan diangguki oleh Rendra. Keduanya duduk dikursi masing masing dengan Rendra yang mengemudi tentunya.
Rendra terlihat fokus pada kemudinya dan sesekali melirik Sinta yang hanya diam saja disampingnya. Merasa ada yang aneh, Rendra pun memelankan laju kendaraannya.
"Sin, kenapa?"tanya Rendra lembut.
"Nggak, cuma takut aja"jawab Sinta menggeleng.
"Takut kenapa? kamu tenang aja, aku bakal dapetin restu papa kamu"ujar Rendra yakin.
"Aku yakin kamu bakal berjuang, tapi aku nggak yakin kalau papa nggak bakal nyakitin kamu"ucap Sinta menatap Rendra sedih.
Melihat Sinta sedih, Rendra pun menepikan mobilnya dan menghentikannya di pinggir jalan yang sepi.
"Hey, kamu percaya sama aku, aku nggak bakal kenapa kenapa"ujar Rendra menangkup pipi Sinta.
"Tapi aku takut"ucap Sinta menunduk menahan tangis.
"Udah nggak usah nangis, apapun yang terjadi aku bakal selalu ada buat kamu, aku bakal terus berjuang buat kamu"ujar Rendra seraya memeluk Sinta yang menangis.
Sinta pun membalas pelukan Rendra. Dia menangis dalam pelukan sang kekasih.
__ADS_1
.
.
.
Wisnu memijit pelipisnya yang terasa pusing. Selama di luar kota Wisnu sangat kurang tidur. Ditambah lagi masalah yang membuatnya rugi besar. Dan sekarang, baru saja Wisnu tiba di kantor sudah dihadapkan dengan masalah lagi.
Wisnu menghela nafas berat sebelum menatap beberapa orang di depannya. Hingga tatapannya jatuh pada pemuda yang tak lain adalah Rama. Wisnu semakin tak tau apa yang harua dia lakukan.
"Kalian keluarlah, tinggalkan saya sendiri"ucap Wisnu seraya menyandarkan punggungnya disandaran kursi.
Satu persatu orang keluar dari ruangan Wisnu. Begitu pula sang asisten. Namun tidak dengan Rama. Dia sama sekali tak bergerak dari tempatnya.
"Ada apa Rama?"tanya Wisnu.
"Sudahlah, sudah biasa dalam bisnis ada persaingan"ujar Wisnu.
"Em, Rama apa kamu masih bisa membantu om diperusahaan selama om menyelesaikan masalah ini?"tanya Wisnu.
"Bisa om, kebetulan skripsi saya juga sudah selesai"jawab Rama tersenyum.
"Baiklah, besok kamu datang ya, om tunggu"ujar Wisnu dan dibalas anggukan oleh Rama.
.
__ADS_1
.
.
Sore hari Rendra sudah berada dirumah Sinta. Rendra sedang menunggu Wisnu di ruang tamu bersama Sinta. Rendra terlihat begitu tenang tidak seperti Sinta yang terlihat takut juga gugup.
"Sin, kenapa?"tanya Rendra.
"Aku takut papa nggak restuin hubungan kita"ujar Sinta.
"Bukan nggak restuin, tapi belum"ralat Rendra.
"Ya itu maksud aku"sanggah Sinta.
"Ntar kalau papa marah gimaa? kalau tiba tiba papa mukul atau nampar kamu gimana? aku takit Ren"panik Sinta.
"Heyy, kamu kenapa sihh, katanya mau berjuang bareng"ujar Rendra.
"Denger aku baik baik, kalau nanti papa kamu belum bisa terima aku, aku nggak bakal nyerah, aku bakal terus berjuang dan yakinin papa kamu kalau aku layak buat kamu"ucap Rendra.
"Dan aku bakal lakuin hal itu sampai papa kamu restuin hubungan kita"lanjut Rendra menangkup pipi Sinta.
"SAMPAI KAPAN PUN NGGAK AKAN PERNAH ADA RESTU"
Deg
__ADS_1
TBC