(Bukan)Rama Sinta

(Bukan)Rama Sinta
BAB 8


__ADS_3

Namaku Abi, tapi kamu bisa panggil aku Rendra, karena kamu orang spesial buat aku.


Kata kata yang pernah Sinta dengar belasan tahun lalu memenuhi ruang kepalanya. Dia menatap pria didepannya dengan tatapan tak terbaca. Sinta menatap dalam mata pria didepannya itu mencoba mencari kebohongan. Namun dia tak menemukannya disana. Yang ada hanyalah pancaran kerinduan yang teramat dalam.


Seketika Sinta menabrak dada bidang pria didepannya itu dan memeluknya erat. Air mata pun mulai menetes membasahi pipi Sinta juga baju yang dikenakan pria itu. Rendra. Pria itu adalah Rendra. Sahabat kecil Sinta. Rendra yang mendapat pelukan Sinta pun langsung membalas pelukan itu erat. Dia benar benar merindukan gadis kecilnya itu.


Untuk beberapa saat keduanya larut dalam pelukan. Mereka sama sama melepaskan rindu yang teramat mendalam. Hingga dirasa sudah cukup, keduanya pun melerai pelukan itu dan saling menatap rindu.


Tangan Rendra terulur mengusap sisa air mata di pipi Sinta.


"Jangan nangis"ucapnya.


"Sekarang gue udah disini, gue nepatin janji gue buat kembali"lanjut Rendra. Air mata kembali menetes di pipi Sinta.


"Lo jahat, belasan tahun lo nggak kasih kabar apapun sama gue, lo jahat Ren"ucap Sinta seraya memukul dada bidang Rendra.


Masih teringat jelas janji Rendra kecil belasan tahun lalu. Meskipun kini Rendra menepati janjinya, Sinta merasakan kerinduan yang teramat kala Rendra belum kembali. Bahkan untuk sekedar bertukar kabar pun tak bisa.


Rendra hanya pasrah saat tangan kecil Sinta memukul dadanya dengan terus bergumam. Dia membiarkan Sinta meluapkan emosi untuk sesaat. Hingga saat Sinta lelah, pukulan itu melemah. Dan saat itulah Rendra kembali memeluk Sinta sambil mengucapkan kata maaf.


"Maaf, bukan maksud gue nggak kabari lo, tapi emang kita nggak punya nomer telfon satu sama lain"ucap Rendra lembut.


"Maafin gue ya"ucap Rendra seraya melonggarkan pelukannya. Sinta menatap Rendra dengan sisa tangisnya. Kemudian mengangguk kecil.


"Makasih udah maafin gue"ucap Rendra tersenyum.


"Udah malam, yuk gue anter pulang"ajak Rendra. Sinta pun hanya bisa mengangguk.


Rendra menstarter motornya setelah Sinta naik dan melajukan motornya memasuki komplek perumahan Sinta. Sebenarnya Rendra juga masih tinggal di komplek perumahan yang sama. Namun Rendra sengaja tak memberi tahu Sinta.

__ADS_1


.


.


.


Pagi hari Sinta bangun dengan senyum merekah dibibirnya. Meskipun matanya sedikit sembab karena menangis semalam, namun hatinya tengah berbunga bunga. Bahkan Sinta sejenak melupakan masalah perjodohannya.


Sinta keluar kamar sudah rapi dengan stylenya juga tas yang dia gendong dipunggungnya. Meskipun Sinta anak kuliah, namun tugas skripsi membuatnya harus membawa banyak buku refersnsi juga laptop yang mengharuska membawa tas punggung.


"Pagi ma, pa"sapa Sinta ceria.


"Pagi sayang"jawab Wisnu dan Dian bersamaan.


"Mau sarapan pakai apa Sin?"tanya Dian.


"Nasi goreng aja ma, laper banget"jawab Sinta tersenyum.


"Ehh, nggak kok ma, biasa abis nonton film sedih, jadi ikut baper"kilah Sinta.


"Makanya jangan nonton film terus"sahut Wisnu.


"Ingat, kamu bentar lagi lulus, dan jangan lupa pertunangan kamu sama Rama berlangsung setelah sidang skipri kalian berdua"lanjut Wisnu.


Mendengar ucapan sang papa, selera makan Sinta langsung hilang. Baru saja semalam bajagia, pagi pagi udah di bad mood aja. Sinta bangkit dari duduknya dan segera pamit pada Dian.


"Aku berangkat ma"pamit Sinta mencium punggung tangan Dian.


"Lohh, sarapan kamu belum habis sayang"ujar Dian.

__ADS_1


"Udah nggak nafsu"balas Sinta seraya meninggalkan ruang makan. Dian menatap tajam sang suami yang santai dengan sarapannya.


"Mama kenapa?"tanya Wisnu pura pura.


"Ini semua karena papa"ujar Dia seraya membawa sarapannya ke dapur.


Wisnu menghela nafas berat melihat tingkah kedua wanita kesayangannya itu. Dia hanya ingin yang terbaik untuk anak perempua satu satunya. Dia ingin menjodohkan Sinta dengan Rama karena memang Rama adalah pribadi yang baik. Selain itu Wisnu juga percaya bahwa jodoh Sinta adalah Rama. Seperti pada cerita perwayangan yang terkenal itu. Rama Sinta.


.


.


.


Sinta keluar dari rumahnya dengan wajah kesal. Dia tidak menyangka jika sang papa sangat ingin menjodohkannya. Padahal sudah berkali kali Sinta melakukan penolakan. Apakah pendapat ku tak dibutuhkan saat perjodohan itu berlangsung? Bukankah aku yang akan menjalani pernikahan itu nantinya? Tapi kenapa malah papa yang begitu semangat? pikir Sinta.


Sinta berjalan di trotoar sambil memainkan ponselnya berniat memesan taksi online. Nqmun hingga beberapa kali mencoba, tak ada satu pun driver yang nyantol.


"Aisshh, masa nggak ada yang nyantol satu pun"kesal Sinta.


Sinta terus berjalan dengan menghentakan kakinya. Lebih baik naik angkutan umum daripada balik lagi kerumah nebeng sang papa. Bisa besar kepala papa, pikir Sinta. Sinta terus berjalan sambil mengerutu. Hingga sebuah mobil berhenti disampingnya dan membuatnya menoleh.


"Sinta"panggilnya.


"Rendra"ujar Sinta semangat.


"Kenapa jalan kaki?"tanya Rendra.


"Lagi kesel sama papa"ucap Sinta kesal.

__ADS_1


"Naik, berangkat bareng aku aja"tawar Rendra. Dengan semangat 45, Sinta langsung membuka pintu mobil Rendra dan segera masuk. Rendra pun melajukan mobilnya dengan senyum di bibirnya. Namun tanpa mereka ketahui, sepasang mata tengah menatap kearah mereka.


TBC


__ADS_2