(Bukan)Rama Sinta

(Bukan)Rama Sinta
BAB 29


__ADS_3

Pagi ini Sinta sudah siap dengan setelan ala ala anak kuliah pada umumnya. Sinta tersenyum menatap pantulan dirinya yang begitu cantik didepan cermin. Namun meskipun senyuman manis yang dia tampilkan, dalam hatinya merasa gugup. Pasalnya hari ini Sinta akan bertemu dengan dosen pembimbingnya untuk melakukan sidang skripsinya. Sebenarnya Sinta begitu percaya diri dengan skripsinya. Namun mengingat acara pertunangannya dengan Rama yang akan terjadi, membuat Sinta seolah malas.


Sinta menghela nafas beberapa kali untuk mengurangi rasa gugup yang menghinggapinya.


"Semangat Sinta, kamu pasti bisa"ujar Sinta menyemangati dirinya.


Sinta bergegas mengambil tasnya dan segera keluar kamar untuk sarapan. Dia selalu sarapan dengan kedua orang tuanya meskipun Sinta masih marah dengan sang papa.


Sampai dimeja makan seperti biasa, Sinta selalu hadir paling akhir.


"Pagi"sapa Sinta datar.


"Pagi sayang"balas Dian tersenyum.


Sinta segera menyantap nasi dan lauk pauk yang ada dipiringnya. Dia sama sekali tak mengeluarkan sepatah kata. Sinta hanya fokus pada makanannya dan bersiap untuk pergi.


"Sinta, selesaikan sidang skripsimu dengan baik, papa akan urus pertunangan mu minggu depan"ujar Wisnu.


Mendengar penuturan Wisnu, Sinta menghentikan aktivitas makannya. Dia menatap Wisnu yang fokus pada makanannya.


"Apa papa senang jika aku berhasil lulus dan segera bertunangan?"tanya Sinta dingin.

__ADS_1


"Tentu saja, papa akan sangat bangga padamu"jawab Wisnu.


"Baiklah, maka jangan salahkan Sinta jika Sinta tidak lulus taun ini"ucap Sinta seraya berdiri meninggalkan meja makan.


"Dan papa pastikan kamu akan menyesal sampai kapan pun"ujar Wisnu.


Sinta sempat berhenti mendengar penuturan sang papa. Namun Sinta tak menjawab ataupun berbalik. Sinta hanya berhenti sebentar dan kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan meja makan.


.


.


.


Rendra. Dialah orangnya. Seperti biasa Rendra selalu menunggu Sinta dipersimpangan komplek rumahnya. Sebenarnya Rendra ingin menjemput Sinta langsung kerumahnya. Namun mengingat papanya Sinta masih belum memberi mereka restu, Rendra tak ingin membuat keributan dirumah orang pagi pagi. Apalagi hari ini jadwal Sinta sidang skripsinya. Jelas Rendra tak ingin membuat Sinta tak fokus.


"Rendra"sapa Sinta.


"Pagi sayang"ucap Rendra tersenyum.


"Kenapa sih nggak jemput dirumah aja? katanya mau berjuang dapetin restu papa"kesal Sinta.

__ADS_1


"Maaf, bukannya nggak mau berjuang, aku cuma nggak mau bikin kamu bad mood kalau liat aku dimarahin papa kamu"ujar Rendra.


"Tapi aku udah bad mood"kesal Sinta.


"Kenapa? hemm"tanya Rendra lembut.


"Papa masih bersikeras buat jodohin aku, bahkan papa juga bilang bakal adain pertunangan minggu depan"jelas Sinta.


"Masuk dulu yuk, lanjutin ngobrolnya sambil jalan, takut telat"ajak Rendra.


"Hari ini sidangkan"lanjut Rendra mengingatkan.


"Biarin telat, biarin aja nggak lulus"sungut Sinta.


"Heyy, nggak boleh gitu dong, pacar aku harus semangat biar cepet lulus"ucap Rendra menyemangati.


"Kalau aku cepet lulus, berarti cepet juga aku ditunangin"sungut Sinta.


"Udah, yuk masuk, keburu telat"ujar Rendra seraya menuntun Sinta agar segera masuk kedalam mobil.


Dengan wajah kesalnya Sinta masuk kedalam mobil menuruti perkataan pacarnya itu Setelah memastikan Sinta aman, Rendra segera mengitari mobil dengan senyum tipis dibibirnya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2