
Sinta merebahkan tubuhnya yang lelah setelah seharian beraktivitas. Bahkan otaknya pun perlu istirahat setelah mengingat masa dimana sahabat kecilnya harus pergi meninggalannya. Meskipun sesekali Sinta tersenyum kala mengingat kebersamaan mereka, namun dalam hati kecilnya Sinta berharap Rendra menepati janjinya.
"Sudah belasan taun lo nggak kasih kabar. Apa lo masih inget sama janji lo"gumam Sinta seraya mengusap gelang yang dia pakai.
"Tunggu sampai gue lulus, kalau lo nggak datang kesini, gue yang bakal kesana"tekad Sinta.
Sinta segera bangkit menuju meja belajarnya. Dia sudah mulai menyusun skripsinya agar cepat lulus. Judul skripsi yang dia ajukan sudah diterima. Kini Sinta harus menyelesaikan isinya. Sinta fokus pada kegiatannya itu. Hingga tak terasa jam sudah menunjukan pukul setengah 11 malam.
"Pengen susu"gumam Sinta.
Dia bangkit dari kursi dan keluar kamarnya. Keadaan rumah sudah sepi, mungkin penghuni rumah sudah pada tidur. Sinta berjalan menuju dapur dan membuka kulkas mencari susu kotak rasa stoberi kesukaannya.
"Habis"gumam Sinta kesal. Sinta akhirnya memutuskan kembali kekamarnya. Namun bukan untuk tidur. Melainkan mengambil dompet dan ponsel serta jaket. Dia berniat ke minimarket depan komplek rumahnya untuk membeli susu kotak rasa stoberi
Sinta memang suka mengkonsumsi susu. Namun bukan susu kental manis atau susu cair dan sejenisnya. Melainkan susu kotak. Dan itupun harus rasa stoberi. Setelah berjalan beberapa meter dari rumahnya, akhirnya Sinta sampai di depan minimarket.
Sinta bergegas masuk dan mulai menyusuri rak demi rak mencari apa yang dia butuhkan.
"Akhirnya ketemu"gumam Sinta senang.
Dia mengambil beberapa kotak susu kesukaannya dan memasukan kedalam keranjang. Dia juga mengambil beberapa cemilan untuk teman mengerjakan skripsinya. Dirasa sudah cukup, dia bergegas pergi kekasir untuk membayar belanjaannya. Namun belum sempat dia melangkah, suara seseorang membuatnya menghentikan langkahnya.
"Masih suka susu kotak rasa stoberi?"
.
.
.
__ADS_1
Rendra tengah duduk di sebuah cafe dengan laptop yang menyala didepannya. Ditemani secangkir kopi susu dan kentang goreng membuat malamnya terasa nyaman. Sama halnya dengan mahasiswa lainnya, Rendra yang juga sudah semester akhir disibukan dengan skripsinya. Dia bekerja keras siang malam agar bisa menyelesaikannya dengan cepat.
"Maaf mas ,cafe sudah mau tutup"ucap salah satu pelayan cafe itu.
Rendra yang tengah fokus lagsung menoleh kearah pelayan. Diedarkan pandangannya menatap setiap penjuru cafe. Ternyata benar cafe sudah hampir tutup.
"Maaf mbak, saya terlalu fokus sampai nggak tau waktu"ucap Rendra seraya membereskan beberapa buku dan laptopnya.
"Tidak apa apa mas, kalau begitu saya permisi"ucap pelayan itu ramah. Rendra pun mengangguk dan segera pergi kekasir untuk membayar pesanannya.
Rendra segera keluar dari cafe berjalan menuju parkiran untuk mengambil motor. Namun saat hendak menaiki motornya, ponselnya berdering tanda ada pesan masuk. Rendra segera mengecek pesan itu siapa tau penting. Ternyata pesan itu dari adik perempuan Rendra yang nitip dibelikan es krim. Rendra membalas pesan adiknya dan segera melajukan motornya.
Rendra melajukan motornya dengan kecepatan tinggi karena jalanan malam yang lenggang. Meskipun demikian, Rendra tetap mengutamakan keselamatan. Saat hampir sampai di komplek perumahannya, Rendra membelokan motornya keminimarket. Dia tak lupa untuk membelikan pesanan sang adik.
Rendra segera masuk dan membelikan pesanan adiknya. Namun ternyata Rendra juga membeli beberapa cemilan untuk dirinya. Saat Rendra hendak berjalan ke rak cemilan, dia melihat seseorang yang membuatnya tertarik. Diam diam Rendra mengikuti gadis itu yang ternyata juga menuju rak cemilan.
Rendra mengambil beberapa cemilan sambil sesekali melirik gadis yang tak lain adalah Sinta. Dan senyum pun terukir saat Rendra melihat isi keranjang Sinta.
"Masih suka susu kotak rasa stoberi?"tanya Rendra.
.
.
.
Sinta menatap seseorang didepanya dengan tatapan tak terbaca. Dia menelisik setiap jengkal wajah pria yang tak asing baginya. Saat menatap mata pria itu seketika Sinta terpana.
"Rendra"batin Sinta. Namun Sinta menggeleng pelan.
__ADS_1
"Nggak mungkin Rendra disini"gumam Sinta. Sinta ingin beranjak pergi dari hadapan pria ini. Namun pria itu mencekal tangan Sinta yang membuat Sinta kembali menoleh.
"Lepas"dingin Sinta dengan menatapnya tajam.
"Mau kekasirkan? yuk bareng"ucap pria itu lalu menarik tangan Sinta hingga Sinta megikutinya.
Dalam otaknya, Sinta ingin menarik tangannya dan pergi meningalkan pria didepannya itu. Namun entah kenapa, dalam hatinya seakan tak rela meninggalkan pria itu. Sampai dikasir, tangan Sinta masih di genggam oleh pria itu. Sesekali sang pria menoleh dan tersenyum kearah Sinta dan hal itu membuat Sinta terhipnotis.
"Totalnya 128.000"ucap sang kasir.
"Ehh, itu punya saya mbak"ucap Sinta tersadar.
"Sekalian ini aja mbak"sela pria itu seraya menyodorkan 3 lembar uang 50 ribunan.
"Kembaliannya ambil aja"lanjut pria itu yang dibalas ucapan terima kasih oleh sang kasir.
Lagi lagi pria itu menarik tangan Sinta secara tiba tiba dan Sinta pun tak kuasa menolaknya. Hingga sampai parkiran, barulah cekalan tangan itu terlepas. Sinta memperhatikan pria yang tengah memilah milah belanjaannya itu.
"Nih punya lo, jangan lupa stok susu kotak rasa stoberi yang banyak"ucap pria itu.
"Berapa total belanjaan gue? gue ganti"ucap Sinta seraya mengeluarkan uang dari dompetnya.
"Nggak usah"ucap pria itu.
"Ambil aja, gue nggak suka punya hutang, apalagi sama orang yang nggak gue kenal"ucap Sinta memaksa.
"Gue bukan orang yang nggak lo kenal"ucap pria itu menatap Sinta serius. Lagi lagi Sinta terpana dengan tatapan mata itu.
"Namaku Abi, tapi kamu bisa panggil aku Rendra, karena kamu orang spesial buat aku"ucapnya.
__ADS_1
TBC