
Wisnu kembali mengerjakan pekerjaannya yang tertunda selama dia di luar kota. Meskipun Rama menggantikannya selama ini, namun Rama hanya diberi tugas yang ringan ringan saja. Selain mengerjakan tugas yang tertunda, Wisnu juga harus memikirkan masalah yang ada di perusahannya.
Wisnu menghela nafas panjang saat berkas di atas mejanya sudah ia selesaikan semua. Kini Wisnu melepas kacamata yang seharian ini terus bertengger di hidungnya.
"Aku harus lebih teliti"gumam Wisnu.
Wisnu melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ternyata sudah menunjukan pukul 4 sore. Dengan segera Wisnu mengemasi berkas berkas itu dan meninggalkan ruang kerjanya.
"Antar saya pulang"ujarnya pada sang asisten. Sang asisten hanya mengangguk dan bergegas meninggalkan kantor dan mengantarkan bosnya pulang.
Wisnu memejamkan mata dengan punggung yang bersandar disandaran kursi selama dimobil. Tak ada percakapan antara bos dan asistennya itu. Hingga setelah hampir 40 menit, mobil yang ditumpangi Wisnu berhenti di pekarangan rumahnya.
Dengan segera Wisnu turun dari mobil dan menyuruh sang asisten untuk pulang. Wisnu menghela nafas panjang sebelum melangkahkan kakinya. Namun saat Wisnu hendak melangkah, pandangan Wisnu jatuh pada sebuah mobil yang terparkir di pekarangan rumahnya.
"Mobil ini"gumam Wisnu mengingat ingat.
Cukup lama Wisnu mengingat ingat namun belum juga menemukan jawabannya. Hingga akhirnya Wisnu memilih untuk masuk agar aegera mengetahui siapa pemilik mobil itu.
Saat hampir sampai diruang tamu, samar samar Wisnu mendengar sang putri tercinta tengah berbincang dengan seseorang. Merasa penasaran, Wisnu mempercepat langkahnya. Dan betapa terkejutnya Wisnu saat melihat Sinta bersama dengan Rendra tengah berpegangan tangan mesra sambil membicarakan restu.
Mendengar itu Wisnu merasa jantung terpacu lebih cepat. Dia benar benar belum bisa melepaskan perjodohan Rama dan Sinta. Seketika amarah menbuncah pada diri Wisnu.
"SAMPAI KAPAN PUN NGGAK AKAN PERNAH ADA RESTU"ujarnya marah.
.
.
__ADS_1
.
Sinta dan Rendra hanya bisa menundukan kepalanya saat Wisnu menatap keduanya marah. Jantung mereka terpacu lebih cepat dengan keringat membasahi keduanya.
Rendra melepaskan tautan tangannya pada Sinta dan mulai mengatur nafasnya. Di angkatnya kepalanya dan mulai menatap Wisnu. Terlihat jelas kilatan amarah dimata Wisnu.
"Maaf om"ucap Rendra.
"Keluar kamu, pergi dari rumah saya, jangan karena kamu berteman dengan Sinta, saya akan merestui hubungi kalian"ujar Wisnu tegas.
"Saya disini hanya ingin menyampaikan niat baik saya om"ucap Rendra.
"Saya benar benar mencintai Sinta, anak om. Dan saya meminta restu pada om untuk hubungan kami"lanjut Rendra lantang.
"Cihh, jangan membahas restu, sampai kapan pun saya tidak akan memberi restu"marah Wisnu.
Rendra menatap Sinta yang menangis dalam pelukan Dian. Ingin rasanya Rendra memeluk Sinta, namun dia tak ingin menbuat Wisnu semakin marah dan akan menyulitkan dirinya nanti.
"Baik, saya keluar"ujar Rendra.
"Tapi saya akan kembali lagi besok dan seterusnya sampai om memberikan restu kepada saya"lanjut Rendra.
Rendra menatap Sinta yang juga menatapnya sebelum melangkah keluar. Dapat Rendra lihat bahwa Sinta tak ingin dirinya pergi. Rendra tersenyum kecil serata mengangguk kecil sebagai tanda berpamitan.
.
.
__ADS_1
.
"Papa nggak pernah ngertiin Sinta"ujar Sinta menangis sesegukan.
"Papa cuma mau yang terbaik buat kamu"dingin Wisnu.
"Yang terbaik? yang terbaik menurut papa belum tentu terbaik buat Sinta"sinis Sinta.
"Kamu cukup diam dan melakukan apa yang papa perintahkan, jangan membantah"tegas Wisnu segera meninggakkan ruang tamu.
Sepeninggalan Wisnu, Sinta kembali menangis dalam pelukan Dian.
"Papa jahat ma, papa nggak pernah ngertiin aku"ucap Sinta di sela tangisnya.
"Sstt, sudah ya, papa kamu kecapekan, besok kita coba bicara lagi sama pap"usul Dian.
"Kamu percaya sama mama, dengan kalian terus berusaha, papa pasti akan segera luluh"lanjut Dian.
"Sampai kapan ma?"tanya Sinta tak semangat.
"Sabar, pasti ada waktunya"jawab Dian menenangkan.
"Kamu ke kamar, mama mau lihat papa kamu dulu, sepertinya dia sedang ada yang menganggu pikirannya"lanjut Dian.
"Biarkan papa kamu tenang dulu, kalian jalani seperti saja hubungan kalian, mama ada di belakang mu"ucap Dian seraya meninggalkan ruang tamu.
TBC
__ADS_1