
Didalam kamarnya seorang wanita tengah menggerutu. Dengan tangan yang terus memoleskan make up diwajahnya, mulutnya tak henti hentinya berceloteh. Sinta. Dialah orangnya. Sinta masih saja menggerutu saat sang mama memintanya mengenakan dress pilihannya. Bahkan Sinta disuruh berdandan yang cantik.
"Emang siapa sih yang datang sampe harus pake dress segala"gerutu Sinta.
Namun Sinta tetaplah Sinta. Meskipun dia sudah beranjak dewasa, dia tetap menjadi Sinta kecil yang selalu menurut apa kata orang tua meskipun mulutnya terus menggerutu.
Tok tok tok
"Sinta, mama masuk ya"ujar Dian.
"Masuk ma, nggak dikunci"sahut Sinta.
Dian masuk kedalam kamar anaknya untuk memastikan sang anak sudah siap.
"Cantik deh anak mama"puji Dian.
"Nggak usah muji deh ma kalo ujung ujungnya tetep bikin nggak mood"gerutu Sinta.
"Ishh, kamu tu ya"kesal Dian.
"Emang siapa sih ma yang dateng sampe Sinta harus dandan kayak gini"kesal Sinta.
"Nanti juga kamu bakal tau"ucap Dian tersenyum.
"Yang pasti kamu bakal seneng ketemu tamunya"lanjut Dian antusias.
"Ishh, dasar mama"gerutu Sinta.
"Udah ahh, ayo turun, sepertinya mereka sudah sampai"ajak Dian seraya menarik tangan Sinta.
.
.
.
Gani menekan bel rumah Wisnu saat sudah sampai didepan rumah. Tak butuh waktu lama pintu langsung terbuka. Bahkan Wisnu sendiri yang membukakan pintu.
"Aa, Gani lama tak jumpa"sapa Wisnu seraya memeluk Gani sesaat.
"Haha, Wisnu, apa kabar?"tanya Gani.
"Baik baik"jawab Wisnu singkat.
"Mari masuk, kita lanjutkan ngobrol didalam"ajak Wisnu.
Gani pun mengiyakan dan mengajak Reni serta Rendra masuk. Mereka berjalan beriringan hingga sampai diruang tamu Wisnu mempersilahkan tamunya untuk duduk.
"Dimana istri dan anakmu?"tanya Gani.
__ADS_1
"Sebentar lagi turun"ujar Wisnu.
"Apakah dia Rendra?"tanya Wisnu seraya menatap Rendra.
"Iya om, saya Rendra"jawab Rendra tersenyum.
"Ternyata kamu sudah menjadi pria dewasa, pasti Sinta senang bertemu denganmu"ujar Wisnu yang dibalas senyuman oleh Rendra.
Wisnu dan Gani kembali melanjutkan obrolan. Dan sesekali Reni menimpali obrolan kedua pria tersebut. Sedangkan Rendra, dia lebih memilih diam seraya menunggu wanita spesialnya. Semuanya larut dalam kegiatan masing masing. Hingga suara langkah dari tangga membuat semua yang ada diruang tamu mengalihkan pandangannya.
Semua menatap dua wanita beda generasi yang bergandengan tangan menuruni anak tangga. Dian dan Sinta. Dian tersenyum menatap tamunya sudah tiba. Sedangkan Sinta memilih menunduk menatap anak tangga yang cukup menarik baginya. Bahkan Sinta tak tau jika ada seorang pria yang tengah menatapnya penuh damba.
"Reni, apa kabar"sapa Dian seraya melakukan ritual jika wanita bertemu.
"Baik Di"jawab Reni.
"Ini Sinta?"tanya Reni.
"Iya, ini Sinta"jawab Dian tersenyum.
"Astaga, kamu cantik sekali"puji Reni seraya memeluk Sinta sekejap.
"Terima kasih tante"jawab Sinta tersenyum.
"Sinta kamu lupa sama tante?"tanya Reni sedih. Sinta hanya nyengir saja saat ditanya oleh Reni.
"Nggak apa apa, tante maklum, udah lama juga nggak ketemu"ucap Reni tersenyum.
Deg
Jantung Sinta terpacu sangat kecang saat ini.
Rendra?
Seketika Sinta mengedarkan pandangannya. Dan tatapannya tertuju pada pria yang juga menatapnya dengan senyum.
"Jadi tamu mama itu keluarganya Rendra"batin Sinta.
.
.
.
Dimeja makan kedua keluarga itu makan dengan tenang. Sesekali mereka mengobrol akrab saling menanyakan kabar dan berbagi cerita. Namun dari semua orang yang ada disana, ada dua orang yang diam dengan pikiran masing masing. Dialah Sinta dan Rendra.
Keduanya sering kali beradu pandang meskipun Sinta lebih sering memutus pandangannya. Melihat hal itu membuat Rendra semakin menatap Sinta intens. Sedangkan Sinta yang merasa dirinya ditatap pun merasa gugup.
"Eemm, saya sudah selesai, pemisi"pamit Sinta. Semua orang menatap Sinta bingung. Namun mereka para orang tua membiarkan saja, toh biasa anak muda seperti itu. Mereka akan bosan mendengar obrolan para orang tua.
__ADS_1
Melihat Sinta pamit dari meja makan, Rendra pun memilih mengakhiri makannya dan segera menyusul Sinta.
"Saya juga selesai"ucap Rendra.
"Maaf om tante, apa saya boleh menyusul Sinta?"tanya Rendra.
"Boleh Ren, pasti kamu kangen kan sama Sinta"ucap Dian tersenyum. Rendra pun hanya tersenyum dan segera pamit meninggalkan meja makan.
Rendra berjalan mengikuti arah Sinta. Melihat Sinta yang menaiki anak tangga, membuat Rendra yakin jika Sinta pasti akan kekamarnya.
"Sinta"panggil Rendra. Sinta pun menghentikan langkahnya tepat ditengah tengah tangga.
Melihat Sinta berhenti, Rendra segera menyusulnya.
"Lo udah mau tidur?"tanya Rendra.
"Kenapa?"tanya Sinta balik.
"Gue mau ngomong sama lo"ujar Rendra. Sinta membalikan badannya dan menatap Rendra.
"Ditaman aja"ucap Sinta seraya berjalan mendahului Rendra. Rendra pun hanya diam. Dia mengikuti langkah Sinta.
Sesampainya di taman yang ada di pekarangam rumah Sinta, keduanya duduk dibangku yang ada disana. Sinta hanya diam menatap lurus kedepan.
"Sinta"panggil Rendra.
"Soal perjodohan lo sama_"
"Kenapa?"potong Sinta.
"Gue nggak sengaja denger lo berantem sama Rama"ucap Rendra.
"Bukan urusan lo"jawab Sinta mengalihkan pandangannya.
Mendengar jawaban Sinta, Rendra mengerutkan dahinya. Dia bingung kenapa Sinta bersikap seperti ini padanya. Padahal sebelumnya mereka berdua baik baik saja.
"Apa lo bakal terima perjodohan itu?"tanya Rendra tanpa menghiraukan perubahan sikap Sinta.
"Nggak ada alasan buat gue nolak perjodohan itu"jawab Sinta tanpa mengalihkan pandangannya.
"Tapi_"
"Tapi apa?"potong Sinta lagi. Kini wanita itu tengah menatap Rendra intens.
Sebenarnya berat bagi Sinta melupakan Rendra. Namun entah kenapa hanya karena Rendra yang tak peduli padanya saat bertengkar dengan Rama, membuat dirinya seakan sudah tak berarti bagi Rendra.
"Udah selesaikan? gue masuk"ucap Sinta meninggalkan Rendra sendirian di sana.
Rendra menatap Sinta yang kian menjauh. Dirinya tak tau kenapa Sinta bisa berubah seperti itu. Padahal tadi pagi Sinta berangkat kekampus bersamanya.
__ADS_1
TBC