(Bukan)Rama Sinta

(Bukan)Rama Sinta
BAB 18


__ADS_3

Pagi hari Sinta sudah tersenyum lebar dieepan cerminnya. Berkali kali dia memutar badannya pelan seolah memautatkan diri apakah baju yang dia kenakan cocok.


"Aaa, bisa kering gigi gue kalau senyum senyum gini terus"gemas Sinta dengan tingkahnya sendiri.


Hari ini Sinta mengenakan baju pemberian Rendra. Ya ternyata semalam Rendra memberinya satu set baju lengkap dengan jam tangan dan sepatunya. Sungguh hati Sinta seolah meleleh mendapatkan hadiah dari Rendra.


"Huftt, kalem Sinta kalem, jangan grogi, ntar cantiknya ilang"monolog Sinta.


Setelah menghela nafas beberapa kali, Sinta keluar dari kamarnya dan segera bergabung dengan orang tuanya untuk sarapan.


"Pagi pa, ma"sapa Sinta senang.


"Pagi"jawab Dian dan Wisnu.


Sinta segera melahap nasi goreng yang sudah disediakan sang mama. Tentu dengan senang hati Sinta memakannya.


"Kapan sidang skripsi kamu sin?"tanya Wisnu.


"Minggu depan pa"jawab Sinta.


"Selesaikan dengam baik, papa sama om Pandu berencana melangsungkan acara pertunangan kamu dan Rama setelah itu"ucap Wisnu.


"Lho pa, nggak bisa gitu dong"tolak Sinta.


"Kenapa nggak bisa?"tanya Wisnu meremehkan.


"Papa tau sendiri aku nggak suka sama Rama"tolak Sinta selembut mungkin.


"Cinta bisa datang seiring berjalannya waktu"ucap Wisnu.

__ADS_1


"Papa nggak mau tau, selesai dengan skripsi mu, kalian akan bertunangan"ucap Wisnu lalu meninggalkan meja makan.


Sinta hanya bisa menunduk sedih mendengar perkataan sang papa yang jelas jelas bertentangan dengan hatinya. Entah harus dengan cara seperti apa Sinta menolak. Dia benar benar tak tau.


"Sin, kamu lanjutin sarapannya, keburu telat"ucap Dian.


"Sinta kenyang ma, Sinta berangkat"sahut Sinta meninggalkan Dian sendiri.


.


.


.


Rendra masih setia duduk di dalam mobilnya yang berhenti dipinggir jalan. Lebih tepatnya di gang depan rumah Sinta. Ya, Rendra memang berniat mengajak Sinta kuliah bersama. Namun saat Rendra hendak berbelok digang tersebut, Dian yang tak lain mamanya Sinta mengirim pesan jika Wisnu, papa Sinta berniat melangsungkan pertunangan Sinta dan Rama setelah sidang skripsi. Dian juga berpesan agar Rendra tak datang pagi ini karena mood Wisnu sedang berantakan. Takut takut Rendra di marahi habis habisan oleh Wisnu.


Rendra pun menurut saja. Dia juga tau jika Sinta dilarang menggunakan mobil. Karena biasanya Ramalah yang mengantar jemput Sinta. Jadi selain menunggu Sinta, Rendra juga harus mencegat Rama jika tau tau rivalnya itu mau menjemput Sinta.


"Woy, ngapain lo ditengah jalan, cari mati"ucap Rama kesal karena jalannya di halangi.


"Mau kemana lo?"tanya Rendra sinis.


"Bukan urusan lo"jawab Rama tak kalah sinis.


"Jelas kadi urusan gue kalau menyangkut Sinta"ujar Rendra.


"Cih, lo udah kalah selangkah dari gue, jangan ngarep Sinta bakal jadi milik lo"sahut Rama meremehkan.


"Siapa yang kalah? gue?"tanya Rendra meremehkan.

__ADS_1


"Asal lo tau, gue dapet lampu hijau dari tante Dian, dan gue udah lebih dulu masuk di kehidupan Sinta, jadi gue lebih maju selangkah dari lo"lanjut Rendra sinis.


Keduanya saling menatap tajam dalam diam. Seolah mata mereka tengah beradu mencari kemenangan. Hingga tatapan mata Rendra menangkap sosok gadis yang tengah sibuk dengan ponselnya.


"Sinta"panggil Rendra seraya mendekati Sinta.


"Rendra"jawab Sinta tersenyum.


"Sinta"senyum Sinta seketika hilang saat mendengar suara Rama yang ternyata juga ada disana.


"Gue baru mau kerumah lo, tapi di cegat sama nih curut"ucap Rama yang hanya didiamkan oleh Sinta.


"Emm, yuk berangkat, keburu siang"ajak Rama seraya menggandeng Sinta.


Namun siapa sangka, Rendra ternyata juga menggandeng tangan Sinta yang satunya.


"Lepasin tangan Sinta"dingin Rendra.


"Kenapa emang? gue calon tunangan Sinta, gue lebih berhak daripada lo"sinis Rama.


"Lo denger Sinta jawab pertanyaan lo? lo denger Sinta mau berangkat bareng sama lo?"tanya Rendra yang membuat Rama diam. Rendra pun tersenyum sinis melihat Rama yang diam saja.


"Jangan maksa kalau Sinta nggak mau sama lo"ujar Rendra sinis.


"Yuk Sin, berangkat"ajak Rendra seraya menarik Sinta menuju mobilnya.


Sinta pun hanya diam tanpa menolak. Karena sejujurnya dalam hati, Sinta senang saat Rendra terus memperjuangkannya.


"Kalau lo berangkat sama dia, gue bakal aduin sama om Wisnu"ucap Rama lantang.

__ADS_1


TBC


__ADS_2