(Bukan)Rama Sinta

(Bukan)Rama Sinta
BAB 20


__ADS_3

Rama mengemasi buku bukunya dengan santai saat dosen sudah keluar dari kelasnya. Bahkan dia masih sempat bergurau dengan kedua temannya. Namun kegiatan Rana terhenti saat melihat Sinta keluar kelas denga tergesa gesa. Terang saja Rama segera membereskan buku bukunya cepat dan segera menyusul Sinta.


"Gue duluan"pamit Rama dengan berlari meninggalkan kelas.


Rama keluar kelas dan segera menyusul arah Sinta keluar. Rama terus berlari mencari keberadaan Sinta yang dia yakini belum jaub darinya. Benar saja, belum sampai separuh tenaga Rama terkuras, pria itu sudah menemukan Sinta berbelok menuju taman samping kampus.


Dengan segera Rama menyusul langkah Sinta dan segera bersembunyi. Dia ingin mengetahui siapa yang ditemui Sinta disana dan apa yang mereka bicarakan.


Tak selang lama, seorang pria yang sangat Rama kenal datang ketaman itu dan duduk disamping Sinta.


"Abi"gumam Rama. Ya, orang itu adalah Abi alias Rendra.


Rama begitu ingin keluar dan membawa Sinta pergi begitu tau yang datang adalah rivalnya. Namun dirinya juga penasaran apa yang akan mereka bicarakan, Rama hanya bisa menahan kekesalannya.


Mata Rama tajam menatap dua insan yang saling beradu argumen itu. Karena jarak yang tak telalu jauh, jadi Rama bisa mendengarkan obrolan keduanya. Bahkan Rama juga menyaksikan betapa keduanya saling memeluk.


Tak ingin semakin kesal, Rama memilih mengendap endap pergi meninggalkan kedua insan yang tengah berpelukan itu dengan perasaan marah.


"Sialan, ini nggak bisa gue biarin"geram Rama.


"Om Wisnu, gue harus bicara sama beliau"gumam Rama dan segera pergi meninggalkan kampus.


Puas saling memeluk, Rendra dan Sinta saling mengurai pelukan mereka. Kini kedua saling bertatapan dengan senyum dibibir masing masing.


"Jangan nangis lagi ya, aku bakal berjuang demi kamu"ucap Rendra lembut seraya mengusap sisa air mata dipipi Sinta.


"Yuk aku anter pulang"tawar Rendra.


"Ta_tapi Rama"lirih Sinta.


"Kamu cek dulu dikelas masih ada apa nggak, biar aku cek diparkiran"usul Rendra dan diangguki oleh Sinta.


Keduanya meninggalkan taman dan menuju lokasi masing masing. Sinta menuju kelasnya untuk mencari Rama, sedangkan Rendra menuju parkiran memastikan Rama masih dikampus atau tidak.


"Mobilnya udah nggak ada"gumam Rendra saat sampai diparkiran.

__ADS_1


Rendra tersenyum dan berdiri disamping mobilnya menunggu kedatangan Sinta. Tak selang lama Sinta menghampirinya dengan sesekali menoleh kebelakang seolah memastikan sesuatu.


"Yuk pulang"ajak Rendra.


"Tunggu benar, Rama udah pulang?"tanya Sinta ragu.


"Udah, tuh mobilnya udah nggak ada"jawab Rendra.


"Ayo, keburu panas"ucap Rendra dan segera membukakan pintu untuk Sinta.


Setelah Sinta masuk, barulah Rendra memutari mobilnya dan segera duduk dikursi kemudi. Rendra tersenyum melihat Sinta yang duduk disampingnya.


"Makasih udah mau berjuang"ucap Rendra.


"Aku nggak tau apa yang terjadi saat papa tau nanti"keluh Sinta.


"Ssttt, jangan mikirin itu, itu tugas aku buat yakinin papa kamu kalau aku bener bener serius sama kamu"ujar Rendra seraya menggenggam tangan Sinta.


Ditempat lain, tepatnya diperusahaan kontruksi terbesar di ibu kota. Seorang pria muda turun dari mobil dengan tegas. Rama, dia sudah sampai diperusahaan Wisnu setelah tadi dia menelfon ada yang ingin dibicarakan.


Dengan langkah lebar Rama berjalan menuju kantor Wisnu. Beberapa karyawan menatap kagum kearah Rama yang begitu tampan. Mereka sudah tau jika Rama adalah calon menantu bos mereka. Jadi tak ada yang menghalangi oemuda tampan itu masuk.


Rama terus berlajan tanpa menghiraukan tatapan karyawan papa mertuanya itu. Hingga Rama sampai di depan ruangan Wisnu, dia segera mengetuk pintu dan masuk setelahnya.


"Siang om"sapa Rama tersenyym.


"Ooo, Rama, kamu sudah sampai. Duduk dulu"ucap Wisnu seraya mengajak Rama duduk.


Kedua pria beda generasi itu duduk disofa ya g tersedia diruangan Wisnu.


"Ada apa Ram sampai kamu harus datang kekantor saya?"tanya Wisnu.


"Begini om, saya mau pertunangan saya dan Sinta dipercepat"ucap Rama.


"Kamu tenang saja, 3 minggu lagi kalian tunangan"jawab Wisnu.

__ADS_1


"Itu terlalu lama om"keluh Rama.


"Memangnya ada apa? apa yang terjadi?"tamya Wisnu serius.


"Tadi sebelum saya kesini, saya melihat gerak gerik Sinta yang mencurigakan hingga saya mengikutinya diam diam"ujar Rama.


"Setelah saya ikuti ternyata Sinta pergi ketaman samping kampus dan bertemu dengan Abi om"lanjut Rama.


"Abi? siapa dia? pacar Sinta?"tanya Wisnu bingung.


"Ahh, maksud saya Rendra om"jelas Rama.


"Rendra? jadi Sinta masih berhubungan dengan Rendra"geram Wisnu.


Wisnu memang tipe orang tua yang membaskan bergaul dengan siapa saja. Namun jika sudah menyangkut keinginan, Wistu tak bisa mengalah sama sekali. Begitu pula dengan perjodahan ini, Wisnu selalu memaksa Sinta tanpa mempedulikan Sinta suka dengan atau tidak.


"Benar om, bahkan Rendra menghasut Sinta agar Sinta menolak perjodohan ini"kompor Rama.


"Keterlaluan"geram Wisnu.


"Dan tadi pagi om, dengan sengaja Rendra mencegat saya di jalan agar saya nggak bisa jemput Sinta berangkat kampus"ucap Rama semakin memanas.


"Lalu apa kamu menyerah begitu saja dan membiarkan Sinta berangkat dengan Rendra"kesal Wisnu.


"Tidak om, saya melawan Rendra hingga akhirnya Sinta tetap berangkat sama saya"ucap Rama.


"Bagus, kamu harus berusaha buat Sinta cinta sama kamu, bagaimana pun om pasti menjodohkan kalian berdua"ujar Wisnu.


"Saya mengerti om, tapi saya takut jika Rendra terus menghasut Sinta dengan kata katanya hingga membuat Sinta membangkang dan tak menerima perjodohan ini"ucap Rama.


"Biar bagaimana pun Rendra lebih dulu datang dalam kehidupan Sinta om"lanjut Rama mendramatisir.


"Sudah jangan dipikirkan, biar om yang urus itu, kamu berjuang saja untuk cinta Sinta"pungkas Wisnu.


TBC

__ADS_1


__ADS_2